NovelToon NovelToon
Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Dokter Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Harem
Popularitas:87.3k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

"Kalian ribut apa?"

Suara Maya datang dari arah pintu kaca. Ia baru selesai berganti pakaian renang hitam dengan potongan berani, rambut panjangnya disampirkan ke satu bahu, dan langkahnya masih membawa wangi parfum yang sulit diabaikan. Namun begitu melihat Arka berlutut di samping Bianca dengan tangan menekan titik di dekat dada wanita itu, senyum di wajah Maya langsung membeku.

Beberapa perempuan di tepi kolam seperti menemukan penyelamat.

"Kak Maya, sepupumu gila!"

"Dia memegang Bianca waktu Bianca pingsan!"

"Dia bilang kalau kami menghalangi, Bianca bisa mati. Siapa yang bicara seperti itu?"

Liana menunjuk Arka dengan wajah antara marah dan cemas. "Aku tahu sepupu Kak Maya lumayan tampan, tapi kalau caranya begini, ini sudah kriminal."

Maya menatap Arka. Ada kilatan marah di matanya. Ia memang menyuruh Arka mendekati Bianca, tetapi bukan berarti menyuruh laki-laki itu langsung menyentuh wanita paling berharga di lingkaran mereka di depan semua orang.

"Arka," katanya dingin, "apa yang kamu lakukan?"

Arka tidak menoleh. Jarinya tetap menekan titik yang sama, sementara tenaga hangat dari warisan Hantala mengalir perlahan ke tubuh Bianca. Kulit Bianca dingin seperti habis ditarik dari air es. Napasnya tipis, kelopak matanya bergetar, tetapi tubuhnya tidak bisa bergerak.

"Menyelamatkan dia," jawab Arka.

"Dengan cara seperti itu?"

"Kalau aku berhenti sekarang, kalian akan punya masalah jauh lebih besar daripada rasa tersinggung."

Liana hampir maju lagi, tetapi Maya mengangkat tangan. Meski kesal, ia bukan orang bodoh. Wajah Bianca terlalu pucat untuk dianggap drama biasa. Arka juga tidak terlihat seperti laki-laki yang sedang mengambil kesempatan. Ada ketegangan di rahangnya, keringat tipis di pelipisnya, dan sorot mata yang terlalu fokus.

Beberapa detik kemudian, tubuh Bianca tiba-tiba menarik napas panjang.

Wanita itu membuka mata.

"Bianca!" Liana langsung berjongkok. "Kamu dengar aku?"

Bianca tidak langsung menjawab. Ia menatap langit di atas kolam, lalu memejamkan mata sebentar seperti baru keluar dari mimpi buruk. Saat membuka mata lagi, pandangannya jatuh pada Arka.

"Dia benar," ucap Bianca lirih.

Semua orang terdiam.

Maya mendekat. "Apa maksudmu?"

"Aku sadar." Suara Bianca masih lemah, tetapi jelas. "Aku mendengar kalian. Aku ingin bicara, ingin bergerak, tapi tubuhku seperti dikunci dari dalam."

Liana menutup mulut. Beberapa wanita yang tadi memaki Arka langsung saling menatap dengan wajah pucat.

Arka menarik tangannya dan membantu Bianca duduk di kursi santai. Saat tangannya menyentuh bahu Bianca, wanita itu tidak menepis. Ia justru menatapnya dengan perhatian yang lebih tajam dari sebelumnya.

"Kamu tahu apa yang terjadi padaku?" tanya Bianca.

"Ini bukan pingsan biasa. Ada hawa dingin dan racun yang menumpuk. Tubuhmu hanya terlihat sehat dari luar."

Bianca memegang handuk di dada. Air masih menetes dari rambutnya ke leher, tetapi sorot matanya sudah kembali menjadi milik seorang pemilik perusahaan, bukan pasien yang baru ketakutan.

"Kamu bisa mengobati?"

"Bisa."

"Berapa?"

Maya langsung melirik Arka, memberi isyarat keras agar ia jangan bicara sembarangan. Kesempatan seperti ini seharusnya dipakai untuk menanam hubungan, bukan membuka harga seperti tukang servis.

Arka pura-pura tidak melihat.

"Rp200 juta," katanya.

Maya hampir menggigit lidah sendiri.

Liana melongo. "Sepupu, kamu menagih langsung di pinggir kolam?"

Arka menatap Bianca. "Kalau sembuh, bayar. Kalau tidak, tidak perlu."

Bianca diam beberapa saat, lalu berkata, "Rp400 juta. Tapi kamu selesaikan sampai akar masalahnya."

Kali ini Arka yang menahan napas.

Rp400 juta.

Hanya beberapa hari lalu, uang Rp30 juta terasa seperti sesuatu yang harus dikejar dengan kerja sampai tulang hampir patah. Sekarang angka Rp400 juta keluar dari bibir Bianca seperti orang memesan makan malam.

Maya segera merangkul lengan Arka dan tersenyum pada Bianca. "Bianca, tidak usah bicara uang. Dia sepupuku. Menolong temanku sendiri masak harus..."

Arka menarik lengannya dari Maya.

"Ada aturan," ucapnya. "Ilmu tidak diberikan kosong, pengobatan tidak mengetuk pintu orang yang tidak meminta. Uang itu bukan sekadar upah, tapi tanda kesungguhan. Kalau aturan dirusak, hasilnya juga tidak bersih."

Maya menatapnya seperti ingin menenggelamkannya ke kolam.

Namun Bianca justru tersenyum tipis. "Aku lebih suka orang yang menetapkan aturan sejak awal."

Maya terdiam. Ia tidak bisa membantah tanpa terlihat memaksa.

Arka mengangguk. "Kalau begitu, jawab satu hal. Belakangan ini ada orang memberi kamu patung kayu? Mungkin patung perempuan, rubah, atau benda yang kamu letakkan di tempat khusus."

Wajah Bianca berubah.

Liana langsung melihat ke arah Bianca. "Patung rubah itu?"

Bianca berdiri perlahan. "Ikut aku."

Mereka masuk ke ruang kerja di lantai dua. Di atas meja kecil berlapis kain merah, berdiri patung kayu berbentuk perempuan berekor rubah. Di depannya ada tempat dupa, bunga kering, dan beberapa kertas doa. Benda itu terlihat indah, tetapi bagi Arka, hawa dinginnya begitu jelas sampai kulit tengkuknya terasa ditusuk.

"Seorang senior dari dunia hiburan memberikannya," kata Bianca. "Katanya bisa menjaga rezeki dan membuat bisnis semakin lancar."

"Sejak itu kamu lebih sering pusing, dada berat, dan tubuh kadang mati rasa?"

Bianca menoleh. "Kamu tahu sampai sejauh itu?"

"Kayunya bermasalah. Dupa yang kamu pakai juga bermasalah. Dipisah, mungkin hanya membuat badan tidak enak. Dipakai setiap hari, racunnya menumpuk."

Maya ikut masuk dan memeriksa patung itu. "Siapa yang mengirim?"

"Seseorang yang pernah meminta kontrak endorsement dan kutolak," jawab Bianca dingin.

Liana mengumpat pelan. "Dunia hiburan memang tidak pernah kehabisan orang busuk."

Arka menunjuk patung. "Pecahkan."

Bianca tidak ragu. Ia mengangkat patung itu dan membantingnya ke lantai.

Prak.

Patung itu retak dan pecah. Dari bagian tengahnya, sebuah biji keras sebesar ibu jari menggelinding keluar.

Liana langsung mundur. "Astaga, benar ada isinya."

Maya menatap Arka dengan sorot baru. Kesal masih ada, tetapi kini bercampur rasa waspada yang lebih dalam.

Bianca mengambil biji itu dengan tisu. "Apa ini?"

"Penawarnya. Racun kayu diperlambat oleh benda itu. Cuci bersih, rendam di air hangat, lalu minum airnya."

"Hanya itu?"

"Masih perlu akupunktur untuk mengeluarkan sisa hawa dingin."

Bianca mengangguk. "Lakukan."

Arka baru saja hendak menjelaskan, tetapi lidahnya tergelincir karena pikirannya masih memikirkan titik jarum dan aliran qi.

"Setelah minum airnya, aku perlu menusukmu beberapa kali."

Ruangan hening.

Liana perlahan menoleh ke Arka, matanya membulat. Maya menutup mata sebentar. Bianca yang biasanya tenang pun menatap Arka dengan ekspresi sulit dijelaskan.

Arka sadar satu detik terlambat.

"Maksudku," katanya cepat, "menusuk jarum."

Liana langsung tertawa sampai memegang perut.

Bianca memalingkan wajah, tetapi ujung telinganya memerah.

1
Sampe Batara
bagus menarik untuk dibaca
Don Juan
Lanjut Thor
Sampe Batara
👍 menarik untuk dibaca
Ismed Aidil
sudah 3 hari gak bisa lanjutan cerita, ya saya hapus aja aplikasi ini ! kecewa banget !
Jefry Maarebia
kalau di baca enak alur ceritanya ,aku puas membacanya ,lanjut..bosku.......
Ismed Aidil
mantap...lanjut thor !
Ismed Aidil
wau seru banget
Don Juan
Mantap thor👍
Ismed Aidil
lanjut cerita
Eva Rosita
up yg banyak and tiap hari ya thor💪
Ismed Aidil
seru sekali cerita nya
Don Juan
Good job Thor
Ismed Aidil
tambah seru !
Dian Purnomo
lanjut thor
Dian Purnomo
tnkyu thor
Don Juan
Terima kasih updatenya thor👍
Don Juan
Ditunggu kelanjutan ceritanya thor👍
Don Juan
Good job
Ismed Aidil
seru, lanjut !
Ismed Aidil
seru banget ! lanjut !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!