follow IG : loneliest.7
DALAM TAHAP REVISI!!
"Bu, dia Daddy kami?"
"bu-"
"Yes, I am your Dad. Kemari lah"
kedua anak kecil itu melangkah mendekati lelaki dewasa berperawakan bak dewa kegelapan di depan sana. Lelaki itu menyambut dengan hangat pelukan anak anak nya. Dia tersenyum iblis saat melihat wajah pias wanita masa lalu nya yang begitu handal melarikan diri
Bantu kasi bintang penilaian di pojok atas episode ,like dan Vote ya 🙏🙏 terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tu es belle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
My Ex- part 31
Tuan Muda kedua Benedict itu duduk dengan tenang dan anggun di kursi makan, tanpa menghiraukan tatapan tajam seorang anak lelaki di sebelah kiri lelaki itu. Dia dengan gerakan pelan mengunyah salad buah buatan Lyn. Sedangkan wanita yang akan menjadi calon mertua Tuan Muda itu nampak tersenyum manis,dia tau jika baru saja ada badai didalam kamar Lyn, yang di sebabkan oleh Tuan Muda Aryasatya Blade Benedict. Nampak dari cara Lyn berjalan sedikit kepayahan,bahkan beberapa kali wajah anak perempuan nya itu seperti meringis kecil. Evan adalah anak yang bermata jeli dia sedari tadi telah mengamati setiap gerakan sang Ibu, tanpa ragu dia berkata seperti kalimat tuduhan pada Tuan Muda Arya "Apa yang Paman lakukan pada Mommy?"
Arya mengernyit, maksud anak itu apa? Memangnya Lyn kenapa?
Dengan singkat dan tanpa keraguan Tuan Muda bersuara "Tidak ada, memangnya apa?"
Evan berkata kembali "Paman jangan berbohong. Mommy terlihat kesakitan sejak tadi "
Oh, Tuan Muda baru paham sekarang. Dia melihat ke arah Lyn yang tertunduk dengan wajah merah padam. Senyum miring tercetak pada bibir Tuan Muda kemudian dia mengatakan pada Evan "Ibu kalian kelelahan makanya terlihat sakit, benarkan mommy?"
Dengan sengaja dia menambahkan panggilan mommy di belakang nama Lyn. Wanita itu mendongak mata kucing nya tampak mendelik ke arah Tuan Muda Arya ,tatapan itu seakan berkata 'jaga ucapanmu,Jerk'
Arya terlihat senang melihat wajah panik Lyn. Saat akan bersuara tapi Evan sudah lebih dulu bertanya "Memang nya Mommy ngapain kok sampai kesakitan begitu?"
Rasanya sang Ibu ingin menenggelamkan diri sampai rasa nyeri di sekujur tubuhnya hilang. Dia kebingungan beberapa kali tergagap menjawab pertanyaan sang anak. Jessika mengambil alih, sang nenek Evan itu pun bersuara "Nak, Ibu baru saja membongkar gudang di bantu oleh Paman makanya Ibu kesakitan. Seperti nya Ibu kalian tertimpa kardus"
Iya,kardus bernyawa yang sangat berat batin Lyn
dengan senyum menampilkan deretan gigi yang rapi Lyn memandang Evan
"i-iya. Nenek benar "
Tuan Muda sebagai pelaku diam-diam tersenyum tipis. Dia tahu anak nya sangat cerdas dan tidak bisa di bodohi semudah itu, benar saja Evan kembali bersuara
"Memangnya kardus nya isi apa sampai mommy meringis dan berjalan dengan kaki terbuka lebar?"
Klenting..... Sendok di tangan Lyn terjatuh, bagaimana bisa anak sulung nya begitu jeli memperhatikan cara berjalan sang Ibu? Jessica bahkan tersedak air minum ketika mendengar suara cucu lelaki nya, hanya Tuan Muda yang tertawa menggelegar membuat Evan memandang sengit ke arah Tuan Muda Benedict itu.
"Su-sudah ,abang makan saja. Kenapa banyak tanya?" Lyn sangat kesal, dia malu sekali
"Lihat, Ev saja makan dengan tenang" sambung Lyn lagi
Ev adalah anak perempuan yang sensitif pada banyak hal, hanya saja dia memang tenang dan cuek pada lingkungan. Bahkan Ev hanya menoleh kesana-kemari saat semua orang sibuk berbincang tentang cara berjalan Lyn. Jessica sudah tidak tahan lagi, dia izin terlebih dahulu dan naik ke lantai atas dimana kamarnya berada. Di ruang makan seketika semua menjadi hening, mereka melanjutkan makan dengan tenang. Wajah Arya tampak berseri-seri disore hari ini, beberapa kali bibir tipis nya menyunggingkan senyum manis
"Paman kenapa sih, senyum terus?" tanya Ev
Arya merubah mimik wajah nya agar terlihat dingin kemudian dia berkata pada Ev "Paman senang bisa makan dengan kalian"
"oh begitu "
Arya lanjut bertanya "Apa boleh Paman sering makan disini "
"TIDAK "
"Boleh"
Dua suara melawan satu suara dari Ev tentu saja seperti bumerang. Arya tidak mempermasalahkannya ,lagi pula bukankah dia sudah mendapat izin dari Ibu Jessica. Lalu apalagi? Arya hanya perlu sedikit memaksa Lyn agar mereka lekas menikah, tanpa ada penghalang apapun. Masalah Evan akan Arya pikirkan nanti, bagaimana pun bocah kecil itu sangat menyayangi Lyn. Jika Arya bisa membahagiakan Lyn maka di pastikan Evan akan setuju dengan pernikahan mereka