Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Hari Pertama
Genki menangis sampai bahunya naik turun.
Keira tetap berjongkok di depannya, membiarkan tangan kecil itu memeluk lehernya. Ia tidak buru-buru melepas. Tidak juga langsung memberi janji yang terlalu besar. Anak kecil mudah mengingat janji, dan Genki, entah kenapa, tampak seperti anak yang menyimpan setiap kalimat orang dewasa di tempat paling dalam.
"Genki," bisiknya pelan. "Dengar Kak Kei sebentar."
"Nggak mau."
"Kalau Genki tidak dengar, nanti Kak Kei bingung harus bagaimana supaya besok bisa datang lagi."
Tangis Genki tersendat.
Rayhan berdiri beberapa langkah dari mereka. Wajahnya tetap tenang, tetapi jari-jarinya menggenggam longgar di sisi tubuh, tanda yang mungkin hanya terlihat karena Keira sedang memperhatikan.
Keira mengusap punggung Genki. "Aku pulang malam ini. Besok pagi aku datang jemput Genki ke TK. Kalau Genki tidur, bangun, mandi, makan, lalu pergi sekolah, waktu akan terasa lebih cepat."
Genki mengangkat wajah. Matanya merah, bulu matanya basah.
"Kalau Genki nggak tidur?"
"Besok tetap pagi, tapi badan Genki capek."
"Kalau Kak Kei lupa?"
Keira mengambil ponselnya, membuka kalender, lalu menunjukkan layar pada Genki. Ia mengetik perlahan: Jemput Genki.
"Lihat. Aku tulis di sini."
Genki menatap layar itu dengan serius. "Ponsel Kak Kei ingat?"
"Ingat."
"Kak Kei juga ingat?"
"Aku juga ingat."
Genki masih ragu. Ia menoleh pada Rayhan. "Papa ingatin Kak Kei."
Rayhan menjawab tanpa jeda, "Papa akan pastikan."
Baru setelah itu pelukan Genki sedikit mengendur.
Keira menahan napas lega. Ia menyeka pipi Genki dengan tisu, lalu berkata, "Sekarang Genki mandi dan makan. Besok kalau Kak Kei datang, Genki harus wangi."
"Wangi kayak cake?"
"Wangi kayak anak rapi."
Genki berpikir sebentar, lalu mengangguk kecil. "Tapi buntalan tidur sama Genki."
Keira tidak tertawa. "Boleh. Buntalan juga istirahat."
Rayhan memanggil pengasuh dengan tatapan. Pengasuh segera mendekat, kali ini lebih pelan. Genki masih menoleh tiga kali sebelum akhirnya mau dibawa mandi. Buntalan kecil tetap ia peluk di dada.
Ketika pintu kamar anak itu tertutup, ruang koridor mendadak sunyi.
"Maaf," kata Rayhan.
Keira menatapnya.
"Untuk tangisnya," lanjut Rayhan. "Dan untuk situasi yang membuat Anda tidak nyaman."
Kalimat itu rapi, formal, tetapi tidak kosong.
Keira menggeleng. "Genki bukan membuat saya tidak nyaman. Dia hanya takut."
Mata Rayhan bergerak sedikit.
"Saya tahu."
Keira ingin bertanya sejak kapan. Sejak kapan anak sekecil itu tidur dengan buntalan lusuh di kamar sebesar itu? Sejak kapan setiap perpisahan terasa seperti ditinggalkan? Tetapi pertanyaan itu bukan haknya. Belum.
Jadi ia hanya berkata, "Besok saya datang pukul tujuh."
"Gio akan mengatur kendaraan."
"Saya bisa datang sendiri."
"Untuk keamanan dan ketepatan waktu, biarkan Gio mengatur. Bukan untuk membatasi Anda."
Keira menimbang. Nada Rayhan tetap seperti perintah, tetapi isinya berusaha memberi ruang. Itu kombinasi yang aneh.
"Baik. Tapi saya tetap ingin tahu jadwalnya jelas."
"Anda akan menerimanya malam ini."
Keira mengangguk. Lalu ia pamit.
Keesokan paginya, mobil Harto datang tepat pukul enam tiga puluh di depan kos Keira.
Keira sudah menunggu. Ia mengenakan blus putih sederhana, celana bahan krem, dan membawa tas kerja. Di ponselnya, jadwal yang dikirim Gio tersusun terlalu detail: jam berangkat, titik jemput, estimasi tiba di TK, nomor guru kelas, nomor pengasuh, nomor Gio, bahkan catatan alergi makanan Genki.
Terlalu rapi.
Tapi untuk seorang anak yang mudah panik, kerapian itu mungkin cara Rayhan menjaga dunia tetap terkendali.
Di Vila Biru, Genki sudah menunggu di teras.
Seragamnya rapi. Rambutnya disisir belah samping. Sepatunya sudah benar antara kiri dan kanan. Buntalan kecil hari itu tidak di punggung, melainkan dipegang seperti tas rahasia.
"Kak Kei!"
Ia berlari, tetapi berhenti dua langkah sebelum menabrak. Seolah mengingat kata pelan-pelan.
Keira tersenyum. "Wangi."
Genki langsung mengangkat dagu. "Genki mandi."
"Hebat."
Rayhan berdiri di belakangnya, memegang secangkir kopi hitam. "Dia bangun jam lima."
"Genki nunggu," kata Genki cepat.
"Jam lima terlalu pagi."
"Biar Kak Kei nggak hilang."
Keira merasa dadanya menghangat dan nyeri pada saat yang sama.
Perjalanan ke TK berlangsung lebih ringan dari yang ia kira. Genki duduk di car seat, tetapi tubuhnya condong ke arah Keira. Sepanjang jalan ia bercerita tentang guru kelasnya, tentang Darren yang kemarin meminta maaf, tentang krayon merah yang patah, tentang gambar rumah yang menurutnya belum selesai karena belum ada Mama.
Keira mendengarkan semuanya.
Rayhan ikut di mobil pagi itu. Ia duduk di kursi depan, tidak banyak bicara. Sesekali tatapannya terlihat dari kaca spion. Setiap kali Genki tertawa, tatapan itu berubah lebih tenang.
Di depan gerbang TK, Genki masih berat melepas tangan Keira, tetapi ia tidak menangis.
"Kak Kei jemput pulang?"
"Iya."
"Tulis di ponsel?"
Keira menunjukkan layar yang sudah berisi pengingat. "Sudah."
Genki mengaitkan kelingkingnya lagi. "Janji."
"Janji."
Hari itu, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Genki masuk kelas tanpa membawa buntalan kecil melewati pintu. Ia menitipkannya pada Keira.
Benda lusuh itu berada di pangkuan Keira sepanjang perjalanan ke kantor.
Rayhan melihatnya dari kursi depan.
"Dia tidak pernah menitipkan itu kepada siapa pun," katanya.
Keira menunduk pada kain lusuh di pangkuannya. Simpulnya tidak rapi, salah satu sudutnya mulai berbulu.
"Berarti saya harus mengembalikannya tepat waktu."
"Saya tahu Anda akan melakukannya."
Kalimat itu membuat Keira menoleh. Rayhan tidak sedang menatapnya. Wajahnya menghadap jalan, dingin seperti biasa.
Namun entah kenapa, Keira merasa kalimat itu bukan sekadar sopan santun.
Sore harinya, Genki keluar dari kelas dengan gambar baru. Begitu melihat Keira berdiri di gerbang bersama buntalan kecilnya, ia berlari sambil tertawa.
"Kak Kei nggak hilang!"
"Kan sudah janji."
Genki memeluk buntalannya, lalu memeluk Keira. Di belakangnya, guru kelas tersenyum lega.
"Hari ini Genki lebih tenang," kata guru itu. "Biasanya setelah kejadian seperti kemarin, dia rewel seharian. Tapi tadi dia mau ikut aktivitas menggambar."
Genki mengangkat kertasnya. "Ini rumah."
Di gambar itu ada rumah besar, pohon, mobil hitam, Papa, Genki, dan perempuan bergaun putih. Di sudut kertas, ada kotak kecil berwarna cokelat.
"Itu buntalan?" tanya Keira.
Genki mengangguk. "Buntalan juga tinggal di rumah."
Keira tersenyum, tetapi tenggorokannya terasa penuh.
Di seberang jalan, Rayhan menunggu di dekat mobil. Ia mendengar kalimat itu. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap gambar di tangan anaknya.
Lalu ia mengalihkan pandangan pada Keira.
"Malam ini," kata Rayhan setelah mereka masuk mobil, "Gio akan mengirim jadwal besok. Kalau Genki gelisah, bolehkah kami menghubungi Anda sebentar?"
Keira menoleh pada Genki. Anak itu langsung mengangkat wajah, penuh harap.
"Video sebentar saja," kata Keira. "Tapi setelah itu Genki tidur."
"Genki tidur kalau Kak Kei bilang tidur."
Rayhan menghela napas pelan. "Kalau Papa yang bilang?"
Genki memeluk gambarnya. "Papa juga boleh. Tapi Kak Kei dulu."
Keira menahan senyum. Rayhan tidak tersenyum, tetapi dingin di matanya mencair sedikit.
Hari pertama baru selesai.
Tetapi sesuatu di Vila Biru sudah mulai berubah.