NovelToon NovelToon
Sepatu Lusuh

Sepatu Lusuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:377
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEPATU DARI PASAR LOAK

Sepatu dari pasar loak itu menjadi benda paling mahal yang pernah kami miliki, meskipun kulitnya mengelupas dan baunya seperti gudang lembap. Nira tidak peduli. Ia duduk di lantai sambil mengangkat kedua kakinya, memandang sepatu cokelat kebesaran itu dari berbagai arah.

"Kak, lihat. Aku seperti anak kota," katanya.

Aku hampir tertawa, tetapi urung. Ia mengatakannya dengan sangat bangga. Di buku pelajaran, anak-anak kota selalu digambar memakai sepatu bersih, kaus kaki putih, dan tas punggung yang bagus. Bagi Nira, sepasang sepatu bekas sudah cukup untuk membuatnya merasa dekat dengan dunia itu.

Ayah kemudian bercerita bahwa ia menemukan sepatu itu di sudut paling belakang pasar, bercampur dengan sandal putus dan tas sobek. Pedagang meminta harga yang tidak sanggup dibayarnya. Ayah menawar sambil menunjukkan uang hasil penjualan singkong. Ia pulang tanpa membeli gula, dan berjalan membawa dua bungkusan koran di bawah ketiaknya. Saat itu aku belum tahu bagian cerita tersebut; aku baru mendengarnya dari Ibu bertahun-tahun kemudian.

Sepatuku sendiri berwarna hitam. Mungkin dahulu mengilap, tetapi bagian depannya telah berubah abu-abu. Ada lipatan dalam di dekat jari kaki dan goresan panjang di sisi kanan. Solnya tipis. Ketika kutekan menggunakan ibu jari, bagian tengahnya melengkung seperti daun kering.

"Jangan ditekan begitu," kata Ayah. "Nanti cepat rusak."

Aku segera melepaskan tangan.

Ibu membawa kain basah dan membersihkan kedua pasang sepatu. Debu hitam menempel pada kain. Setelah dibersihkan, warnanya tidak banyak berubah. Namun, Nira tetap tersenyum. Ia membantu Ibu menggosok bagian depan menggunakan sedikit minyak kelapa.

"Kalau diolesi, kelihatan baru," katanya.

"Jangan terlalu banyak," jawab Ibu. "Nanti debu menempel semua."

Pagi itu kami tidak langsung berangkat. Ayah meminta kami mencoba berjalan di halaman terlebih dahulu. Ia ingin memastikan sepatu tidak terlepas di jalan. Kabut masih menutup pohon-pohon di belakang rumah. Tanah dingin dan sedikit basah.

Nira melangkah lebih dahulu. Sepatunya mengeluarkan bunyi berdecit. Pada langkah ketiga, tumit kanannya terangkat. Ia hampir jatuh, tetapi cepat-cepat memegang dinding bambu.

"Aku bisa," katanya sebelum siapa pun menolong.

Ayah menambahkan gumpalan kain di ujung sepatu. Ibu mencari kaus kaki lama milikku dan melipatnya menjadi dua. Setelah itu, sepatu Nira terasa lebih padat. Ia berjalan lagi. Langkahnya masih seperti bebek, tetapi tidak mudah terlepas.

Kemudian giliranku. Sepatu hitam itu terlalu sempit. Setiap kali melangkah, jari kakiku menekan bagian depan. Tumitku seperti digigit. Aku mencoba tidak menunjukkan rasa sakit.

"Bagaimana?" tanya Ayah.

"Enak," jawabku.

Ibu menatapku. Ia selalu tahu ketika aku berbohong, tetapi kali ini ia tidak membantah. Ia hanya membuka tali sepatu, mengendurkannya sedikit, lalu menyelipkan potongan kain tipis di belakang tumit agar kulitku tidak langsung bergesekan.

"Kalau lecet, bilang," katanya.

Aku mengangguk.

Di luar rumah, anak-anak lain mulai lewat menuju kebun. Mereka tidak bersekolah pagi itu karena membantu orang tua memetik kopi. Salah seorang dari mereka, Ranu, berhenti dan melihat kaki kami.

"Wah, sepatu baru," katanya.

Nira segera berdiri lebih tegak. "Dari pasar kecamatan."

"Bekas, ya?"

Senyum Nira sedikit mengecil. Aku ingin menjawab, tetapi Ayah lebih dahulu berkata, "Bekas bukan berarti tidak berguna."

Ranu mengangkat bahu lalu pergi. Aku menatap Ayah. Ia tidak marah. Ia hanya kembali berjongkok dan memeriksa simpul tali sepatu Nira.

Sebelum kami berangkat, Ibu membungkus sepatu dengan daun pisang kering. Rencananya, kami akan memakai sandal di jalan setapak dan baru mengenakan sepatu di dekat sekolah. Namun, sandal Nira benar-benar tidak bisa dipakai lagi. Tali rafianya putus ketika ia baru melangkah keluar rumah.

"Pakai sepatunya dari sini saja," kata Ayah.

Ibu tampak ragu. "Jalannya basah."

"Kalau tidak dipakai, dia berjalan tanpa alas."

Aku menawarkan sandal milikku kepada Nira, tetapi ukurannya terlalu besar dan telapaknya pun hampir putus. Akhirnya kami mengenakan sepatu sejak dari rumah. Ayah mengingatkan kami agar tidak menginjak genangan, tidak menendang batu, dan mengangkat kaki tinggi-tinggi di lumpur.

"Kalau basah, jemur dekat tungku. Jangan terlalu dekat api," katanya.

"Kalau kotor?" tanya Nira.

"Bersihkan."

"Kalau talinya lepas?"

"Ikat lagi."

"Kalau rusak?"

Ayah terdiam sejenak. "Kita perbaiki."

Jawaban itu menjadi aturan di rumah kami selama bertahun-tahun. Jika sesuatu rusak, kami tidak langsung menggantinya. Kami menjahit, mengikat, menambal, atau menggunakannya dengan cara berbeda. Baju menjadi lap. Karung menjadi tas. Kaleng susu menjadi tempat menabung. Sepatu yang hampir mati dipaksa hidup kembali.

Kami mulai berjalan. Pada awalnya, aku senang mendengar bunyi sepatu menyentuh tanah. Bunyi itu berbeda dari sandal jepit. Lebih berat dan lebih teratur. Tok, tok, tok. Seolah setiap langkah mengatakan bahwa kami benar-benar anak sekolah.

Nira berjalan di belakangku sambil sesekali memandang kakinya sendiri. Ia hampir menabrak punggungku karena tidak melihat jalan.

"Lihat ke depan," kataku.

"Aku cuma memastikan sepatuku masih ada."

"Sepatu tidak akan lari."

"Bisa saja. Sepatu ini besar."

Kami tertawa. Nira lalu mencoba membuat sepatu itu berbunyi bersamaan dengan langkahku. Ia melangkah terlalu lebar, hampir jatuh, lalu tertawa lagi. Suara tawanya memantul di antara pohon kopi. Untuk beberapa saat, perjalanan terasa ringan. Bahkan udara dingin tidak terlalu mengganggu. Aku membayangkan tiba di sekolah dengan sepatu yang pantas. Tidak ada lagi perintah berdiri di luar barisan. Tidak ada lagi tatapan teman-teman pada kakiku.

Namun, setelah melewati kebun kopi pertama, rasa sakit di tumitku mulai terasa. Setiap langkah membuat kulit bergesekan. Aku memperlambat jalan, tetapi Nira segera menyadarinya.

"Kakak sakit?"

"Tidak."

"Jalannya jadi seperti Mbah Wreda."

Mbah Wreda berjalan pincang karena kaki kirinya pernah tertimpa kayu. Aku mencoba melangkah biasa lagi. Rasa perih semakin kuat, tetapi aku menahannya. Aku tidak ingin Ayah tahu sepatu yang dibelinya terlalu kecil. Aku takut ia akan merasa gagal.

Di tikungan pertama, tanah berubah lebih berbatu. Aku mengingat pesan Ayah dan mengangkat kaki tinggi-tinggi. Sebuah batu kecil masuk ke sela telapak. Aku menghentakkan kaki pelan untuk melepaskannya.

Saat itulah terdengar bunyi kecil dari bawah sepatu kiriku.

Krek.

Aku berhenti.

Nira menabrak punggungku. "Kenapa?"

Aku mengangkat kaki dan memeriksa telapak. Dari luar tidak terlihat apa-apa. Namun, ketika kutekuk sedikit, bagian depan sol membuka selebar kuku. Retakan itu kecil, hampir tidak berarti. Aku meyakinkan diri bahwa sepatu masih kuat.

"Tidak apa-apa," kataku.

"Aku dengar bunyi."

"Ranting."

Nira melihat tanah di sekitar kami. Tidak ada ranting. Hanya batu dan lumpur. Ia menatapku, tetapi tidak bertanya lagi.

Aku kembali berjalan. Bunyi langkah sepatu kiri berubah. Tok pada kaki kanan, lalu tek pada kaki kiri. Tok, tek, tok, tek. Setiap bunyi mengingatkanku pada retakan kecil yang mungkin akan membesar.

Di belakangku, Nira mulai menyanyikan lagu alfabet agar perjalanan tidak terasa panjang. Aku ikut menyebut huruf-hurufnya, meski pikiranku tertinggal pada suara krek tadi. Kami baru berjalan kurang dari satu kilometer. Tahun ajaran masih sangat panjang.

1
Riska Noor
bagus ceritanya, realita di pelosok daerah tertentu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!