Gibran Satya Dinarta, putra tunggal dari pebisnis ternama Asia, Satya Dinarta dan Ranti Dinarta. Gibran merupakan seorang CEO muda di perusahaan GS Group milik keluarganya.
Berbeda dengan CEO yang lain, otak Gibran agak sedikit geser karena sikapnya yang koplak dan somplak.
Dia rapat menggunakan celana boxer, menghadiri pesta pernikahan dengan sandal jepit, dan masih banyak lagi jal konyol dalam dirinya.
Suatu hari dia dipertemukan dengan seorang gadis cantik bernama Jasmine yang terlihat somplak padahal sifat aslinya sangat dingin dan anggun.
Jasmine bersikap somplak hanya untuk menutupi rasa sakitnya yang berasal dari keluarganya.
Bagaimana jika Gibran jatuh cinta dengan Jasmine? Penasarankan silakan baca..
Alur cerita ini sedikit lambat, jadi jika tidak langsung ke inti, itu adalah faktor kesengajaan.
ig. Karlina_sulaiman
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karlina Sulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSJC : Chapter 31
Setelah bergumam sendiri dengan bayangannya, Gibran keluar dari toilet dan saat kakinya melangkah melewati toilet wanita, samar-samar Gibran mendengar suara orang menangis, dan suara itu adalah suara wanita.
"Telinga gue nggak salah dengar kan ini? Tapi apa benar ada cewek nangis di dalam toilet, kalau gue masuk nanti gue bisa dihajar sama cewek-cewek tapi kalau nggak masuk gue penasirun, eh penasaran." Gibran terlihat bingung, dia bolak-balik melihat keadaan di sekitar yang tidak terlalu rame.
Suara tangisan itu terdengar semakin keras dan menyayat hati siapa saja yang mendengarnya. Gibran terlihat masih ragu untuk mengecek keadaan di dalam, tapi rasa penasarannya semakin besar hingga membuat Gibran melupakan rasa malunya untuk masuk ke dalam toilet wanita.
Saat kaki Gibran hampir sampai pintu masuk, seseorang menabrak tubuhnya sampai mereka berdua sama-sama jatuh terduduk di lantai. Mata Gibran melihat siapa yang menabraknya dan seketika itu pula dahi Gibran berkerut dalam saat mengenal orang yang menabrak dirinya.
"Ja-" Ucapkan Gibran terpotong karena wanita itu dengan cepat menyela ucapannya.
"Maaf, aku tidak sengaja," wanita itu segera berdiri dan berlari meninggalkan Gibran yang masih terduduk di lantai. Hati Gibran rasanya mencelus saat wajah wanita yang menabrak dirinya tadi sangat dia kenal.
"Kenapa dia bisa ada di sini? Bukankah dia berada di Amerika?" Gibran masih bertanya-tanya kenapa wanita itu bisa berada di rumah sakit di Indonesia.
"Tuan, kenapa duduk di lantai? Mari saya bantu berdiri!" Beberapa perawat wanita menawarkan diri untuk membantu Gibran berdiri.
Gibran yang merasa malu segera berdiri saat melihat beberapa perawat wanita tersenyum dan menawarkan bantuan padanya, wajah Gibran memerah layaknya kepiting rebus karena kedapatan duduk di depan toilet wanita.
"Tidak perlu, Sus. Saya bisa berdiri sendiri, lihat sudah berdiri, kan?" Gibran tersenyum walau dirinya benar-benar merasa malu saat ini.
Perawat wanita yang melihat itu hanya tersenyum simpul kemudian pamit dan berjalan masuk ke dalam toilet.
"Lebih baik gue pergi dari sini, gue lihat keadaan Bayu saja." Gibran akhirnya pergi dari toilet dan dengan langkah cepat dia menuju ke ruangan tempat di mana Bayu dirawat.
Beberapa saat setelah Gibran pergi, Jasmine keluar dari toilet dengan mata yang sembab dan bengkak karena terlalu lama menangis. Jasmine bingung bagaimana dia akan pulang saat dia ingat kalau yang mengajak dia ke rumah sakit itu Gibran.
"Gue malu kalau pulang dengan kondisi gue yang seperti ini, andai saja gue punya lampu Aladin pasti gue udah nyuruh jin lampu buat bawa terbang gue pakai karpet ajaib." Jasmine menyandarkan tubuhnya di tembok dekat toilet, dia memejamkan matanya dengan pikiran yang bercabang dan tidak berujung.
"Mel, ngapain Lo di sini?" tanya Airin saat melihat Jasmine di depan toilet. Jasmine yang sangat mengenal suara Airin langsung mendongakkan kepalanya dan tersenyum pada Airin.
"Nggak ngapa-ngapain. Lo sendiri ngapain di sini?" tanya Jasmine pada Airin tapi tidak dijawab oleh Airin. Airin malah fokus melihat penampilan Jasmine yang acak-acakkan seperti tidak pernah merawat diri.
"Ya Tuhan, Mel. Kok penampilan Lo jadi kaya gini? Tadi Lo pergi dari rumah udah cantik bagaikan bidadari keluar dari empang, sekarang Lo malah kaya nenek sihir kecebur di got." Airin masih mengamati penampilan Jasmine mulai dari rambut sampai ujung kaki, ke rambut lagi dan seterusnya.
"Lo ngapain di sini?" Jasmine bertanya lagi dan tidak peduli dengan perkataan Airin yang mengoreksi penampilan dirinya saat ini.
"Periksa, badan gue agak nggak enakan jadi gue pergi aja ke sini buat cek kesehatan," jawab Airin sambil mendengus kesal. Bagaimana dia tidak kesal kalau pertanyaan yang dia tanyakan tidak ada satu pun yang dijawab Jasmine.
"Kok Lo bisa tahu kalau ini gue?" tanya Jasmine lagi.
"Tadi dari kejauhan gue lihat Lo, awalnya gue nggak yakin kalau ini Lo, tapi setelah gue ke sini mendekat, ternyata beneran Lo." Airin menjawab dengan jujur.
"Oh." Jasmine menjawab dengan singkat.
"Mel, Lo habis nangis, kan?" Airin menatap tajam mata Jasmine ketika sahabatnya itu menjawab dengan gelengan kepala.
Jasmine yang ditatap tajam sahabatnya hanya bisa menunduk karena untuk menjelaskan pun rasanya tidak sanggup. Sudah cukup Jasmine menyusahkan Airin dan dia tidak mau membuat Airin merasakan apa yang dia rasakan.
"Gue juga yang bodoh. Jelas-jelas mata Lo bengkak tapi gue masih tanya apa Lo nangis. Jawabannya pasti iya dan gue tahu Lo nggak mau ngaku karena nggak mau gue terlibat, kan?" Airin tersenyum hambar, dia sangat mengenal Jasmine, cukup mudah untuk Airin mengerti kebohongan Jasmine atau mengerti ketika Jasmine menyembunyikan sesuatu darinya.
"Iya, Lo emang bodoh." Jasmine menutup mulutnya menahan tawa karena dia kembali mendapat tatapan tajam dari Airin.
"Gue bodoh ketularan, Lo." Airin menjitak dahi Jasmine lalu memeluk sahabatnya itu dengan perasaan persahabatan yang kuat.
"Pulang, yuk!" ajak Jasmine menarik tangan Airin pergi dari toilet.
"Gue belum periksa," ucap Airin sehingga Jasmine berhenti dan berbalik menatapnya.
"Gue temenin, Lo periksa!" Jasmine kembali menarik tangan Airin dan menuju ke tempat pemeriksaan.
Airin menjitak kepala Jasmine saat sahabatnya itu menariknya ke depan ruangan dokter psikolog. "Gue nggak ada gangguan psikis, Mel." Airin terlihat sangat kesal karena ulah Jasmine.
"Kan tadi Lo ngaku kalau Lo gila, hahaha." Jasmine tertawa terbahak-bahak sedangkan Airin menatap Jasmine datar.
Airin pergi meninggalkan Jasmine untuk menemui dokter yang biasa memeriksanya, kebetulan dokter tersebut sepupu Airin jadi cukup mudah untuk Airin membuat janji dengannya.
"Airin, gue ikut." Jasmine berlari mengejar Airin, Airin yang belum sampai di ruangan menoleh ke arah Jasmine lalu menyuruh Jasmine untuk. berhenti.
"Berhenti! Jangan ikut gue, Lo nggak malu kalau menemani gue dengan penampilan Lo yang sudah lebih seram dari nenek lampir?" ucap Airin membuat Jasmine melihat sendiri bagaimana penampilan dirinya yang sangat tidak baik.
"Iya deh gue nggak ikut, Lo bawa uang nggak?" tanya Jasmine sambil tersenyum menyebalkan.
"Gue bawa uang, pasti Lo mau minta, kan?" Airin sangat paham dengan tatapan Jasmine ketika meminta uang.
"Iya, uang gue nggak cukup buat naik taksi." Jasmine menengadahkan tangannya untuk menerima uang dari Airin.
Airin merogoh tasnya, membuat Jasmine tersenyum lebar karena mengira kalau Airin akan mengambil uang. Namun ternyata dugaan Jasmine salah saat yang diterima di tangannya bukanlah uang tapi sisir dan lipstik.
"Mending Lo ke toilet, sisiran biar rambut Lo rapi dan pakai lipstik ini biar bibir Lo nggak pucat, gue cuma sebentar ketemu sama dokter jadi kita pulangnya bareng aja." Airin mengedipkan satu matanya dan masuk ke ruangan sepupunya, sedangkan Jasmine, dia menatap dua benda yang berada di tangannya lalu membuang napas kasar.
***
Bersambung ...
Ceritanya jangan terlalu banyak nyelenehnya, lebih baik diselang seling biar dapat feelnya. Kalau diterima ya, kalau nggak juga nggak pa"...🤭🤭🤭