NovelToon NovelToon
Mertua Dan Menantu

Mertua Dan Menantu

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Cinta Terlarang / Romansa / Tamat
Popularitas:401.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: LaQuin

Lyra mencoba untuk bertahan meski ia terluka oleh kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui setelah 6 bulan lamanya. Suami tercinta tega menduakan cintanya dan bermain api dengan Ibunya sendiri.

Rumah Tangga seumur jagung bagai neraka untuk Lyra. Lantas bagaimana ia harus menghadapi situasi ini?

Baca kisahnya yuk readers...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Rindu

Bab 31. Rindu

(POV Author)

Cuaca sedang tidak baik di sekitar bandara Soekarno-Hatta ketika pesawat hendak landing. Teguh dan kedua orang tuanya terpaksa di ajak muter-muter di atas awan sambil menunggu cuasa sedikit membaik. Mengakibatkan kedatangan pesawat delay dari jadwal yang di perkirakan.

Harum masakan menyeruak di area dapur dan sekitarnya. Berkat resep dari si Mbah Gugel, Lyra dan Mita akhirnya selesai mengolah 4 jenis masakan. Tumis daging lada hitam, sayur sop, tempe goreng, serta ikan bakar.

Keduanya tampak puas dengan apa yang sudah mereka kerjakan. Walau sedikit lelah, tapi bagi mereka itu bukanlah apa-apa demi Teguh yang sudah banyak membantu.

"Mandi gih sono, bau Lo dah kek ikan salai. Kalau ada kucing di mari pasti dah di terkam. Lo ma ikan sama baunya." Ejek Mita.

"Dih." Sungut Lyra.

"Gue pulang ya, kunci pintu jangan lupa."

"Iya, bawel ih."

Lyra pun mengunci pintu setelah Mita pamit. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 19.45.

"Bentar lagi Abang datang keknya. Kok Gue deg-degan ya..."

Lyra meraba degup jantungnya yang berdebar-debar. Ia memegang kedua pipinya yang terasa mulai panas. Tidak di pungkiri ada rasa rindu ingin segera bertemu.

"Mandi dulu lah, biar seger."

Lyra mengambil semprotan parfum ruangan untuk mengilang bau masakan agar kembali segar. Setelah itu ia melangkah ke kamarnya untuk membersihkan diri.

Pesawat baru saja landing dan parkir dengan mulus. Teguh dan orang tuanya mengantri turun ketika pintu sudah di buka.

"Mi, anak orang jangan di galakin ya, kasihan." Ujar Teguh membujuk sang Umi.

"Seharusnya kamu Umi sembat pakai sapu. Bawa anak orang kok nggak bilang-bilang sama Umi." Sewot Umi.

"Dadakan Mi, kan tadinya mau nolong. Kasihan kalau sampai di perkaos mana hujan lagi."

"Umi mu nggak akan tega. Kamu sebaiknya nurut saja, Umi pasti sudah memikirkannya masak-masak." Kini sang Abi yang berbicara.

"Iya Bi."

Setelah koper mereka semua sudah di ambil, mereka pun menaiki mobil Teguh, yang sudah ada Pak Benu yang menunggunya.

Lelaki tua itu menyambut Teguh dan keluarga dengan senyum hangatnya.

"Selamat malam Pak Teguh, malam Pak, Bu." Sapa Pak Benu sopan dan ramah.

"Malam, Pak. Lama nunggu ya? Tadi delay."

"Tidak kok Pak. Mau langsung pulang atau mau ada singgah lagi?"

"Langsung pulang aja Pak."

"Baik Pak."

Setelah komando dari Teguh, Pak Benu memasukan koper ke belakang mobil di bantu oleh Teguh. Setelah dipastikan semua penumpang duduk di dengan nyaman, mobil putih itu pun bergerak meninggalkan kawasan bandara.

Menempuh perjalanan hampir 2 jam lamanya dengan hiruk pikuk kota Jakarta, mereka pun tiba di Apartemen Teguh yang tinggi menjulang dengan 20 lantai unit.

Mobil di parkirkan di baseman. Teguh meregangkan sedikit badannya begitu turun. Lalu ia kembali membantu Pak Benu mengeluarkan koper-koper tadi.

"Makasih Pak, di jemput apa naik taxi?" Tanya Teguh.

"Naik taxi Pak. Kebetulan anak saya lagi kurang enak badan." Jawab Pak Benu.

"Sudah pesan?"

"Sudah Pak. Tinggal menunggu datang."

Teguh mengangguk paham. Kemudian ia mendekat kepada Pak Benu, lalu meraih tangan keriput itu dan meletakkan 300 ribu di tangan paruh baya itu.

"Buat ongkos. Hati-hati ya Pak, dan terima kasih."

"Saya yang terima kasih kepada Pak Teguh."

Teguh tersenyum. "Saya tinggal masuk ya Pak."

"Ya Pak, silahkan."

Teguh menyeret kopernya dan milik sang Umi. Mereka bertiga pun masuk left dan menuju Unit lantai 4.

"Unitnya sudah beres Guh?"

"Sudah Mi, tadi pagi sudah di bersihkan tinggal pakai. Umi mau ke tempat Teguh dulu atau langsung ke Apartemen Umi?"

"Umi mau ketemu yang namanya Lyra dulu."

Teguh mengangguk, meski salivanya sulit untuk di telan.

Mereka tiba di unit Apartemen Teguh. Unit Apartemen Umi dan Abinya yang di sewakan Roy, tepat bersebelahan dengan Teguh setelahnya.

Pintu Apartemen terbuka. Tampaklah sosok Lyra yang mengenakan daster bunga-bunga lengan 7/8 menjuntai ke lantai.

Umi sangat mengenali daster itu. Daster itu adalah baju-baju dagangannya yang ia jual di Makassar. Wanita paruh baya itu tersenyum. Di matanya Lyra tampak manis dengan daster itu.

"Assalamualaikum Cil..."

"Assalamualaikum..."

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..."

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, masuk Bang..., Umi, Abi..." Ucap Lyra menjawab ke tiga salam untuknya.

"Kamu Lyra?" Tanya Umi.

"Iya saya Lyra, Umi."

Lyra meraih tangan Umi dan menciumnya dengan takjim. Namun tidak dengan Abi yang hanya mengatubkan kedua tangannya. Lyra paham arti itu yang bukan muhrimnya. Sehingga ia tidak merasa tersinggung dan tetap tersenyum karena sang Abi pun demikian.

"Kamu masak?" Tanya Umi langsung menuju dapur.

"Iya Umi. Nggak tahu cocok apa nggak dengan selera Umi, Abi juga Abang." Ujar Lyra.

"Enak ini kayaknya. Kita makan dulu yuk, Umi laper." Ajak Umi pada semua.

Secara hati Lyra sedikit tenang dan mulai menghangat melihat Umi yang sangat antusias dengan masakannya. Dengan senang hati Lyra piring dan bantu sang Umi yang menyiapkan minuman.

Makan malam yang sedikit terlambat itu begitu hangat bagi Lyra. Tidak seperti kesannya pada sang Umi beberapa waktu yang lalu. Umi ternyata tidak seperti apa yang di pikiran olehnya. Dalam bayangan Lyra, sosok Umi adalah wanita yang galak.

"Kamu masak sendiri?"

"Eh, iya Umi." Jawab Lyra sedikit gelagapan karena tersadar dari lamunannya.

"Enak, kamu pandai memasak." Puji Umi.

Lyra menarik napas lega. Pujian itu tidak pernah ia harapkan nyatanya ia dengar dan membuatnya lebih tenang dan percaya diri.

"Wah, tahu gitu Abang minta masakin aja tiap hari Cil."

"Ehem!" Dehem Umi dan akhirnya membuat Teguh berhenti bicara dan melanjutkan makan malamnya.

"Malam ini, Umi akan tidur dengan Lyra. Kamu sana Abi." Ujar Umi.

Tidak ada yang memprotes keputusan Umi. Semua hanya mendengarkan dan melanjutkan makan malam mereka hingga selesai.

Selesai makan, Umi membersihkan diri dikamar yang Lyra tempati, sedangkan Abi di kamar Teguh. Tinggal menyisakan Teguh dan Lyra di ruang tamu. Mereka tampak terlibat obrolan yang cukup serius.

"Abang khawatir kamu di datangi dia lagi. Besok kamu akan di antar dan di jemput saja ya. Abang janji akan secepatnya mencari siapa pengacara yang mengurus wasiat mendiang Papa mu. Tapi lebih baik, kamu secepatnya urus perceraian dulu, Abang bantu."

"Iya Bang. Aku nggak mau terikat hubungan lagi dengan laki-laki itu."

"Abang bukan ingin menyuruhmu melakukan perceraian. Tapi kalau nggak ada lagi kebaikan dalam hubungan pernikahan itu, sebaiknya diakhir saja."

"Iya Bang, aku tahu. Ini memang keinginanku untuk berpisah."

Teguh mengangguk.

"Istirahat lah, Umi pasti menunggu di kamar." Ujar Teguh.

Lyra mengangguk.

Mereka berdua pun beranjak untuk masuk ke kamar masing-masing. Namun saat Lyra hendak memutar knop pintu, Teguh memanggilnya.

"Cil..."

Lyra menoleh. Sesaat keduanya saling pandang penuh arti.

"Abang kangen..."

Seketika wajah Lyra bersemu merah, ia hanya bisa menunduk dan langsung masuk ke kamar begitu pintu berhasil di buka.

Bersambung...

1
Ulfayanty Syamsu Rajalia
tolol nangis aj trus sampai kiamat bego banget si knp gk manggil warga bego
Deuis Hilmatussa'dah
Kecewa
Deuis Hilmatussa'dah
Buruk
74 Jameela
manusia berhati iblis tuuh andi😠
74 Jameela
lyra...cemungut yooooo..
hempaskn para bunga bangkai itu
74 Jameela
kyok jallang dech jd ny si clara..
maksain diri amiiiittttt
74 Jameela
waduh..gaswat..
salah sangka..tiwas berbunga hati tryt berbunga bangkai
74 Jameela
Luar biasa
74 Jameela
kaget aq
Vindy swecut
uuwwooowww/Gosh//Gosh//Gosh/
Vindy swecut
sumpah ngakak banget...lucu banget si onta timur ini...gemes deh/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ristieriswanharti
terbangun haus air minum lewat depan kamar mamah dapur suara desahan miling 😂
Sivia
/Facepalm/
Akbar Razaq
Rasain di culik bener bener ya gak bs di bilangin di cemasin orang gak bs jaga diri juga tapi ngeyel sukurin.
Akbar Razaq
mendadak minta di kawinin gatal ya...urusan aja lo gak bs apa apa klo gak ada temem sama teguh.duh lemot amat ya Si Lyra gemes deh
Akbar Razaq
untung ketemu orang baik klo enggak habis lo.agak kesal sih sama Lyra yg agak.bodoh juga.
Akbar Razaq
Nah kenapa gak sekalian.lo undang orang orang buat lihat secara life kelakuan mereka.li bodoh juga sih
Akbar Razaq
Bodoh.mereka jadi hati hatikan??
harus nya selidiki diam diam saat mereka mengira kamu gak curiga klo gini kan mereka waspada dasar. Polos apa goblok. gregeten akunya 😄
Akbar Razaq
Beneran Lyra mmg terlalu polos harusnya di selidiki mana ada maling yg ngaku.dodol?
Akbar Razaq
Ya ampun ternyata othor belum kasih jalan smua ini blum terkuak.😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!