Up setiap hari
Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.
Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.
Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.
Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.
Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8: Sang Predator
Waktu: 13:00 PM
Markas Besar Blake Group, London
Berada di dalam gedung pencakar langit Blake Group sama seperti masuk ke dalam wilayah predator yang tak tertembus.
Semuanya berlapis kaca gelap, baja, dan marmer hitam. Tidak ada yang berani berbicara keras di lorong, dan setiap karyawan berjalan dengan langkah cepat serta pandangan lurus ke depan.
Di lantai paling atas, di dalam ruang kantor CEO yang luas dan dingin, Neo Hayes Blake duduk di balik meja kerja mahoninya yang besar.
Ruangan itu dipenuhi oleh aroma maskulin yang mengintimidasi perpaduan Dark Musk, Leather, dan Bergamot yang selalu berhasil membuat siapa pun yang masuk merasa tercekik oleh otoritas pria itu.
Pintu ruangan diketuk dua kali, dan Liam melangkah masuk membawa sebuah nampan perak berisi makan siang.
"Makan siang Anda, Tuan Blake," Liam meletakkan nampan itu di meja bundar di sudut ruangan.
"Steak tenderloin dengan puree kentang dan asparagus. Sesuai instruksi Anda, koki telah memastikan panci dan peralatan masaknya belum pernah digunakan untuk menyentuh seafood jenis apa pun. Bahkan sausnya dibuat murni dari kaldu tulang sapi yang dimasak semalaman."
Neo mendengus pelan, matanya masih fokus pada laporan keuangan di layar tabletnya.
"Bagus. Jika aku mencium bau amis udang atau ikan sekecil apa pun di gedung ini, seluruh departemen dapur akan kehilangan pekerjaan mereka hari ini juga."
Pria beraura gelap itu berdiri, mengancingkan jas charcoal-nya, lalu berjalan menuju meja makan. Namun, gerakannya terhenti.
Tatapannya tertuju pada sebuah map hitam tipis yang diletakkan Liam di ujung mejanya.
"Apa itu?" tanya Neo datar.
Liam segera mengambil map itu. "Ini laporan hasil penyelidikan pagi tadi di The Grand Savoy, Tuan. Seperti yang Anda duga, yang menghubungi media secara anonim adalah nomor prabayar sekali pakai yang dilacak berada di sekitar kediaman keluarga Rosewood. Kemungkinan besar ini adalah skema internal keluarga mereka."
Neo mengambil map itu dengan kasar. Matanya yang gelap, sedingin obsidian, menyapu rentetan informasi tersebut.
Keluarga Rosewood memang penuh dengan tikus yang saling menggigit ekor. Hal itu tidak mengejutkannya. Yang mengejutkannya adalah lembar kedua dari dokumen tersebut.
Itu adalah sebuah tangkapan layar dari kamera CCTV di Basement 2 hotel pagi tadi.
Kualitasnya sedikit berbayang, tapi masih cukup jelas untuk memperlihatkan sosok pelayan kebersihan dengan pakaian kebesaran, mendorong kereta dorong ke arah pintu keluar.
Awalnya, Neo tidak melihat ada yang aneh. Namun, mata elangnya yang terbiasa menangkap detail mikroskopis menangkap satu kejanggalan fatal.
Pelayan itu tidak memakai sepatu. Kakinya telanjang, kotor, dan ukurannya terlalu kecil untuk ukuran celana yang ia kenakan.
Postur bahunya saat ia mencoba menundukkan wajah di bawah topi visor hitam... itu bukan postur seorang pelayan yang membungkuk karena lelah bekerja.
Itu adalah postur seseorang yang sengaja menyusutkan diri untuk bersembunyi.
"Pukul berapa kamera ini merekam staf kebersihan tersebut keluar dari basement?" suara Neo berubah lebih rendah, serak, dan berbahaya.
Liam memeriksa catatannya. "Pukul 07:35 AM, Tuan. Hanya berselang sepuluh menit setelah kita mendobrak masuk ke Suite Timur."
Keheningan total menyelimuti ruang kantor CEO itu.
Perlahan, sudut bibir Neo tertarik ke atas. Namun itu bukanlah senyuman yang hangat, melainkan seringai predator yang baru saja menyadari bahwa mangsanya lolos dari jebakan dengan cara yang brilian.
"Tinggalkan makan siangku, Liam. Aku mendadak kehilangan nafsu makan," gumam Neo, matanya tak lepas dari foto buram di kertas itu.
"Tapi Tuan, Anda belum sarapan dengan benar pagi tadi"
"Aku bilang tinggalkan!" potong Neo tajam.
Aura membunuh di ruangan itu langsung naik drastis. Liam segera menunduk dan mundur keluar dari ruangan tanpa berani membantah lagi.
Setelah pintu tertutup rapat, Neo berjalan perlahan menuju jendela kaca setinggi langit-langit yang menghadap ke lanskap kota London. Ia melipat kedua tangannya di belakang punggung.
Pikirannya, yang biasanya dipenuhi oleh angka, akuisisi saham, dan intrik bisnis, secara aneh terdistraksi oleh satu wajah.
Wajah berantakan tanpa riasan di balik pintu hotel pagi tadi. Mata monolid yang menatapnya dengan nyalang, marah, dan penuh perhitungan.
Wanita itu membodohiku, batin Neo.
Stella Rosewood tidak menguap ke udara. Dia tidak menghilang karena sihir.
Wanita yang selama bertahun-tahun merengek di belakangnya seperti lintah bodoh itu, dalam waktu kurang dari lima belas menit dan di bawah tekanan puluhan wartawan, berhasil mencuri seragam pelayan, menyusup turun lewat lift servis tepat di bawah hidung pengawal terbaik Neo, dan melenggang keluar tanpa sepatu di tengah dinginnya aspal London.
Ini mustahil.
Stella yang ia kenal tidak memiliki kapasitas otak untuk melakukan manuver semacam itu.
Stella yang ia kenal akan berteriak histeris jika kukunya patah, boro-boro berlari tanpa alas kaki di area bongkar muat sampah.
Entah ada yang salah dengan kepalanya, atau Stella selama ini menyembunyikan sisi lain yang sangat gelap dan cerdik.
Dan entah mengapa, memori tentang aroma pagi tadi kembali terlintas di indra penciuman Neo.
Wangi bersih, menenangkan, seperti White Tea dan sentuhan Peony. Sangat kontras dengan parfum murahan yang biasanya membuat Neo muak.
Rahang Neo mengeras. Ia tidak menyukai hal-hal yang tidak bisa ia kontrol, dan ia sangat benci pada anomali.
Stella Rosewood tiba-tiba menjadi sebuah anomali besar di dalam radar sempurnanya.
Neo berbalik, menekan tombol interkom di mejanya. "Liam."
"Ya, Tuan Blake?" sahut suara dari mesin itu.
"Kerahkan divisi intelijen kita. Jangan gunakan orang biasa. Aku ingin tahu di mana Stella Rosewood berada saat ini, apa pun yang ia lakukan, dan dengan siapa ia berhubungan. Jangan sampai jejaknya lepas."
"B-baik, Tuan. Tapi keluarga Rosewood sendiri sudah menyatakan bahwa Nona Stella hilang dan"
"Persetan dengan narasi murahan keluarga Rosewood," desis Neo dingin, matanya berkilat berbahaya. "Wanita itu tidak hilang, Liam. Dia sedang bersembunyi. Dan aku pastikan, aku akan mengulitinya sendiri begitu aku menemukannya."
Di apartemen usangnya yang jauh dari pusat kota London, Stella bersin dengan sangat keras sampai ia tersedak keripik kentangnya sendiri.
"Kau jorok sekali! Aku baru saja bilang kau terlihat modis!" omel Vix yang melayang menjauh dengan jijik.
Stella mengusap hidungnya sambil mendengus. "Ada yang sedang membicarakanku di suatu tempat. Pasti Chloe atau Tuan Pria Arogan itu. Sudahlah, ayo kita keluar dan cari makan enak. Otak cegilku butuh asupan nutrisi untuk merencanakan kehancuran mereka besok."
To be Continued