Kesalahan yang dilakukan Azalea Calista membuat suaminya kecewa dan berakhir ingin menceraikannya. Namun demi cinta yang tumbuh di hati Alea, dia bertekad untuk mengejar kembali cinta sang suami.
Sayangnya Alea harus kehilangan Fathan karena laki-laki itu pergi tanpa berpamitan. Hingga suatu hari, keduanya kembali dipertemukan dalam keadaan berbeda.
Akankah mereka kembali bersama atau justru memilih saling melepaskan bersama pasangan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 - sisi lain Silvi
"Pah ini ..."
Andre menampar istrinya tidak terima sang putri disakiti, padahal dia belum tahu kejadiannya seperti apa namun yang ia lihat Anita mendorong kuat tubuh Silvi.
Plak!
"KETERLALUAN KAMU! Dia anakku beraninya kamu menyiksa dia, hah!" sentaknya seraya berjongkok meraih Silvi dalam dekapannya.
Reaksi Anita kecewa, kesekian kalinya suaminya tidak mendengarkan penjelasan dia dulu dan lebih mengutamakan tangan. Padahal ini kali pertama dia tak sengaja menyakiti Silvi dan itu demi menyelamatkan dirinya sendiri.
"Anakmu lebih dulu menc3kik aku pah, aku cuman melindungi diri dari serangan dia," balas Anita membela dirinya sendiri.
"Bohong Pah, hiks hiks mama menyiksa aku, mama mau memukul aku karena aku gak sengaja memecahkan guci," sahut Silvi memeluk erat papanya berbohong demi dirinya sendiri.
Anita melotot tak percaya. "Jangan bohong kamu Silvi, justru kamu yang datang-datang menghancurkan barang-barang rumah, mama tidak pernah punya niat menyiksa kamu, justru kamu yang mau membunuh mama dengan cara menc3kik mama."
"Cukup! Aku gak percaya sama kamu Anita, aku lebih percaya anakku dibandingkan kamu. Ayo Silvi, bangunlah."
"Pah percaya sama aku, dia ..."
"DIAM! ATAU KAMU PERGI DARI SINI!"
Deg.
Langkah Anita terhenti menatap kecewa sama perbuatan suami dan putri sambungnya.
Andre mengajak Silvi masuk ke dalam, membawanya ke dapur.
"Ceritakan sama papa apa yang terjadi sebenarnya?"
Mereka duduk di meja makan, sebagai seorang ayah merasa sakit melihat putranya seperti ini. Apapun yang bisa membuat Silvi bahagia akan dia lakukan, Silvi satu-satunya keluarga yang dia punya sekarang.
Wajah sok polos itu menangis tersedu-sedu, bercerita memutar balikan fakta tentang kejadian tadi di mall.
"Perempuan itu tiba-tiba menampar aku Pah, mengatai aku murahan, ngatain aku pelakor di depan banyak orang. Menyebutku perebut suami orang padahal aku tidak mengenalnya, lihat ini pah, pipi aku merah ditampar olehnya. Rambutku juga di tarik kebelakang bahkan tubuhku juga di dorong sampai aku terjatuh. Saat pulang mama memarahi aku dan memintaku melepaskan Fathan, mama juga dorong aku sampai aku tak sengaja nyenggol guci dan tangan aku terluka gini karena dua wanita jahat itu Pah, hiks hiks."
Tangan Silvi memang terluka tapi itu karena ulahnya sendiri bukan orang lain, tapi dia malah menuduh orang lain atas segala kejadian yang dialaminya. Sandiwara luar biasa yang sering dia lakukan demi mendapat perhatian dan empati papanya.
"Kurang ajar, berani sekali dia menyakitimu, siapa dia? Dimana rumahnya? Ini tidak bisa dibiarkan, dia harus dipidanakan atas kasus kekerasan sama kamu."
"Aku gak tahu Pah, yang aku tahu dia nunjukin foto Fathan. Pah, tolong aku, papa sayang kan sama aku?" Silvi meraih tangan papanya memohon supaya bisa dibantu.
"Tentu, papa akan lakukan apapun demi kamu."
********
Tempat lain.
"Ini kasus 3 tahun lalu dan kejadiannya sudah lama, saya tidak yakin cctv di sekitar masih jalan, terlebih tempat kejadiannya tergolong sepi penduduk tapi saya akan usahakan untuk bisa menemukan bukti kuat tentang kejadian 3 tahun lalu," tutur pria paruh baya tegas dengan pakaian formal menambah karismatik penampilannya.
"Saya mohon bantuannya Pak, ini demi kelangsungan hidup dan mati keluarga saya. Apapun akan saya lakukan asalkan kasus itu bisa di buka kembali dan memberikan petunjuk bahwa ibu saya tidak salah," balas Fathan berharap pria di depannya bisa membantu mengatasi masalahnya sekarang.
"Iya Pak, soal bayaran bapak tenang saja, saya yang akan bayar bapak," timpal Aldi.
Pria di depannya tersenyum menatap silih berganti keduanya. "Tidak usah lagian sudah tugas saya membantu sesama manusia yang membutuhkan."
"Tapi Pak, anda bekerja dan saya harus membayar yang anda kerjakan," kata Aldi lagi merasa heran sama penolakan dari pengacara di depannya.
Setahu Aldi pria itu pengacara handal yang mampu memecahkan masalah kliennya, bayarannya pun tidak main-main cukup mahal.
Lagi-lagi pria di depannya tersenyum. "Saya tahu, tapi ada seseorang yang sudah membayar saya untuk menangani kasus Fathan."
"Seseorang? Siapa pak?" tanya Fathan kaget sekaligus penasaran mengenai sosok yang sudah berbaik hati mau membantunya.
"Maaf saya tidak bisa menyebutnya, ini sudah menjadi kesepakatan kita berdua sampai semuanya jelas dan ibumu dinyatakan tidak bersalah."
Meski Fathan dan Aldi membujuk nyatanya orang itu tidak berkenan memberitahukan orangnya siapa, itu pula yang membuat Fathan penasaran.
*********
Satu permasalahan mulai bisa dipecahkan dengan adanya bantuan pengacara, kini Fathan lumayan lebih tenang meski tetap ada kekhawatiran terhadap hasilnya, tapi ia percaya ibunya tidak salah dan bukan pelaku yang sebenarnya.
Setelah bertemu dan berbincang mengenai rencana ke depannya, Fathan pun memutuskan pulang ke rumah namun baru saja tiba dia di kagetkan sama teriakan ibunya.
"Jangan ambil barang-barang saya! Turunkan!" pekiknya menghalangi langkah beberapa orang yang hendak keluar membawa tv dan kulkas.
Deg.
"Ibu!" Dengan tergesa ia turun dari motor berlari ke dalam rumah. "Ada apa ini?"
Mereka menoleh termasuk Andre.
"Ini dia bilang keroknya. Saya akan mengambil beberapa isi dari dalam rumah ini sebagai ganti rugi atas rasa sakit yang dialami anak saya. Semua yang saya ambil saat ini tidak sebanding dengan pengeluaran yang saya berikan pada kalian. Kalian bawa barang-barangnya!"
Tiga orang yang ditugaskan mengangguk kemudian keluar membawanya dan tidak bisa Fathan cegah.
"Tapi gak harus gini juga pak Andre, gak harus mengambil isi rumah saya, ini namanya pemerasan, perampokan," balas Bu Rima kesal.
"Om saya memang salah tapi tidak harus mengobrak-abrik isi rumah saya juga."
"Justru karena saya masih punya kebaikan untuk tidak melaporkan kalian terutama kamu Fathan. Wanita gila datang membawa anaknya dan menyakiti anak saya, saya tidak terima itu dan kedatangan saya kesini mau tau dimana alamat rumahnya?"
Dahi Fathan mengernyit memikirkan siapa sosok yang disebutkan, matanya terbelalak mengetahui sosoknya. "Maksud Om?"
"Wanita gila itu sudah menampar dan mempermalukan anak saya, dimana rumah dia hah? Saya harus kasih dia pelajaran pada siapa dia berbuat ulah."
"Saya tidak tahu yang dimaksud Om, lebih baik pergi dari rumah saya sebelum saya lapor polisi!" tegas Fathan sambil menunjukan ponselnya hendak menghubungi polisi.
"Ok, kali ini saya pergi tapi saya tidak akan diam saja sampai saya menemukan dan memberikan wanita gila itu pelajaran!" balas Pak Andre tegas kemudian pergi dari sana.
"Fathan."
"Bu, aku harus ketemu Alea. Aku pergi dulu."
******
"Iya tunggu sebentar!" ujar Alea mendengar pintu rumah terus di ketuk.
Baru selesai menemani Azka tidur siang tak lama kemudian ada yang bertamu ke rumahnya, sedangkan Gavin belum balik dari tempat kerjanya.
Ceklek.
"Alea, kenapa kamu menyakiti Silvi?"