Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Alya tidak pulang ke rumah Wiratama.
Ia meminta sopir berhenti di sebuah kafe kecil dekat jalan utama, lalu berpindah ke mobil lain yang sudah disiapkan Rafi. Sepuluh menit kemudian, mobil keluarga yang tadi menjemputnya tetap melaju ke rumah seolah ia masih di dalam.
Rafi duduk di balik kemudi.
"Tim pertama sudah menuju Kaliurang. Tim kedua berangkat dari Yogyakarta. Eyang aman untuk saat ini."
"Untuk saat ini tidak cukup."
"Aku tahu."
Alya membuka laptop di pangkuannya. Ia memindai foto yang dikirim, memperbesar pantulan kaca jendela rumah Eyang. Ada bayangan motor, sebagian plat nomor, dan warna jaket pengambil foto.
Rafi melirik layar. "Bisa dilacak?"
"Bisa."
"Aku suka jawaban itu."
"Jangan terlalu sering menyukainya."
Dalam dua puluh menit, Alya menemukan motor itu disewa dari tempat rental kecil dekat Sleman. Penyewanya menggunakan KTP palsu, tetapi kamera kasir menangkap wajahnya. Rafi mengirim foto wajah itu ke jaringan lamanya.
Jawaban datang lebih cepat dari dugaan.
Orang itu bukan anak buah Santoso.
Ia pernah bekerja sebagai petugas keamanan lepas untuk acara keluarga Wiratama.
Alya menatap nama itu.
"Maya," kata Rafi.
"Atau Dinda."
"Dinda berani sejauh itu?"
"Orang yang takut kehilangan tempat bisa melakukan banyak hal."
Alya mengirim pesan pada Raka.
Aku tidak pulang dulu. Ada ancaman ke Eyang. Jangan bilang Papa.
Raka langsung menelepon.
Alya menolak panggilan dan mengetik:
Jangan telepon. Baca saja.
Balasan Raka muncul:
Siapa?
Belum pasti.
Aku ke Kaliurang.
Tidak. Mas ke rumah. Perhatikan Maya dan Dinda. Lihat siapa yang panik saat tahu aku tidak pulang.
Raka hanya membalas satu kata:
Baik.
Malam itu, rumah Wiratama panik lagi.
Alya tahu dari pesan Raka. Maya marah karena Alya tidak pulang. Baskara menganggapnya mencari perhatian. Dinda diam terlalu lama. Ketika Raka menyebut Eyang Laras mungkin dalam bahaya, Maya langsung berkata bahwa Alya terlalu dramatis.
Reaksi itu dicatat.
Pukul sembilan malam, Rafi menerima kabar dari tim di Kaliurang. Seorang pria mencoba mendekati rumah Eyang lewat kebun belakang. Ia ditangkap sebelum masuk halaman. Di ponselnya ada pesan singkat berisi instruksi: cukup foto, jangan sentuh dulu.
Jangan sentuh dulu.
Artinya ada tahap berikutnya.
Alya meminta rekaman interogasi dikirim. Pria itu gemetar, mengaku hanya disuruh mengambil foto dan mengirim paket. Ia tidak tahu nama pemberi perintah, tetapi uang muka dikirim dari rekening perusahaan kecil.
Perusahaan itu terhubung dengan salah satu yayasan sosial Maya.
Rafi menutup laptop. "Cukup?"
"Untuk menyerang Maya? Cukup."
"Kamu akan pulang?"
"Belum."
"Lalu?"
"Besok ada gala sekolah. Maya dan Dinda pasti ingin aku datang. Aku akan datang."
Rafi mengerutkan kening. "Setelah ancaman ke Eyang?"
"Justru setelah itu."
Gala tahunan SMA Cakrawala diadakan di ballroom hotel bintang lima. Acara itu gabungan penggalangan dana, pameran prestasi, dan ajang keluarga kaya menunjukkan siapa yang lebih dekat dengan siapa.
Alya datang bersama Raka.
Keputusan itu membuat banyak orang berbisik. Raka yang sempat dibekukan dari proyek justru muncul mendampingi adik barunya. Dinda datang bersama Maya dan Baskara, wajahnya tersenyum tetapi matanya tidak berhenti mengikuti Alya.
Rafi masuk sebagai staf keamanan tambahan yang disewa Raka.
Kesha menghampiri Alya begitu melihatnya. "Kamu benar-benar datang. Aku kira setelah semua drama, kamu akan menghilang."
"Aku tidak suka melewatkan pertunjukan."
"Pertunjukan siapa?"
Alya menatap panggung.
Di sana, Dinda bersiap membawakan sambutan sebagai ketua acara sosial siswa. Gaunnya putih, rambutnya disanggul lembut, wajahnya seperti malaikat kecil yang akan bicara tentang kepedulian.
"Dia," kata Alya.
Kesha tersenyum lebar. "Aku ambil popcorn imajiner dulu."
Acara dimulai. Kepala sekolah bicara, sponsor bicara, lalu Dinda naik ke panggung. Tepuk tangan terdengar hangat.
Dinda berbicara tentang empati, keluarga, dan pentingnya membantu orang-orang yang tidak seberuntung mereka. Suaranya lembut. Beberapa orang tua mengangguk bangga. Maya tampak hampir menangis.
Alya mendengarkan sampai akhir.
Saat Dinda turun panggung, pembawa acara memanggil Alya.
"Selanjutnya, kami mengundang Alya Wiratama sebagai siswa baru sekaligus perwakilan keluarga sponsor untuk menyampaikan beberapa kata."
Raka menegang. "Ini tidak ada di susunan."
Alya tersenyum. "Aku tahu."
Maya ingin membuatnya bicara mendadak di depan banyak orang, berharap ia kacau. Atau mungkin ada rencana lain setelah ia naik panggung.
Alya berdiri.
Rafi bergerak sedikit mengikuti dari sisi ruangan.
Di panggung, lampu terasa panas. Alya memegang mikrofon, menatap hadirin.
"Selamat malam. Saya Alya Wiratama."
Bisikan terdengar.
"Saya baru bergabung di SMA Cakrawala. Jadi mungkin belum pantas bicara panjang tentang sekolah ini. Tapi tadi saya mendengar banyak tentang empati."
Dinda yang baru turun panggung berhenti.
"Empati bukan kata yang kita ucapkan saat semua orang melihat. Empati adalah apa yang kita lakukan ketika korban tidak punya kuasa, ketika orang tua di desa difoto diam-diam, ketika seseorang diancam agar diam."
Maya langsung berdiri.
Baskara menatap Alya dengan wajah gelap.
Alya melanjutkan, "Karena itu, malam ini saya ingin mengumumkan bahwa donasi keluarga Maheswari, atas nama mendiang ibu saya, akan diberikan langsung kepada klinik bantuan hukum dan medis untuk korban kekerasan."
Ruang ballroom hening.
Lalu layar di belakang Alya menyala.
Seharusnya layar menampilkan logo yayasan Maya.
Namun yang muncul adalah rekening perusahaan kecil yang membayar pengintai rumah Eyang, alur transfer dana, dan foto pria yang ditangkap di Kaliurang.
Maya membeku.
Dinda menutup mulut.
Raka menatap layar, lalu menatap Alya. Ia akhirnya mengerti mengapa Alya datang.
Alya berkata, "Saya berharap tidak ada lagi orang yang memakai kata keluarga untuk menakut-nakuti orang tua yang tidak bersalah."
Keributan pecah.
Maya berusaha naik ke panggung, tetapi Rafi sudah berdiri di bawah tangga.
"Minggir," bisik Maya.
Rafi menjawab datar, "Tidak."
Baskara datang dari sisi lain. "Alya, turun sekarang."
Alya mematikan mikrofon.
"Papa mau membahas ini di rumah, atau di depan semua orang?"
Baskara menatap layar, wajahnya berubah-ubah.
Jika ia membela Maya, ia ikut terseret. Jika ia memarahi Alya, semua orang akan makin curiga.
Akhirnya ia berkata pelan, "Turun."
Alya turun.
Di bawah panggung, Dinda menatapnya dengan mata merah.
"Kakak menghancurkan Mama."
Alya menjawab, "Mama yang mengirim orang ke rumah Eyang."
"Dia hanya ingin membuat Kakak berhenti."
"Dengan mengancam orang tua?"
Dinda tidak bisa menjawab.
Alya mendekat satu langkah. "Kalau kamu masih berdiri di belakangnya setelah ini, jangan bilang kamu tidak punya pilihan."
Dinda menangis. Namun kali ini, tidak banyak orang yang menghampirinya.
Karena di layar, bukti masih menyala.
Dan semua orang sedang melihat.
Di sudut ballroom, Kesha mengangkat gelas jusnya ke arah Alya seperti memberi salam kemenangan. Alya hanya melirik sebentar, tetapi cukup untuk membuat Kesha tersenyum puas. Siswa-siswa yang tadi biasa mengelilingi Dinda kini terpecah; sebagian masih mendekati Dinda, sebagian lain mulai menjauh karena takut ikut terseret.
Maya akhirnya dibawa Baskara keluar dari ballroom. Wajahnya putih, tetapi matanya masih mencari cara untuk membalik keadaan. Alya mengenal tatapan itu. Maya belum selesai.
Raka berdiri di samping Alya. "Kamu sadar ini akan jadi perang terbuka?"
Alya menatap layar yang mulai dimatikan panitia.
"Dari awal memang perang, Mas. Mereka hanya baru sadar."
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔