NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.

Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.

Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.

Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.

Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.

Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Rasa Dingin

"Aku tidak pernah mencintaimu, Shaquena."

Suara Sebastian tetap datar, seolah kalimat yang baru saja keluar dari bibirnya tak lebih penting daripada membahas cuaca.

Jari-jari besar itu mencengkeram pergelangan tangan Shaquena. Dingin. Tulang kecil wanita itu berderak pelan akibat cengkeramannya. Sebastian bahkan tak mengernyit. Seolah yang berdiri di hadapannya bukan istrinya, melainkan sampah yang ingin segera disingkirkan.

"Tidak pernah."

Satu dorongan keras mendarat telak di bahu Shaquena. Tepat di bibir tangga marmer lantai dua.

Keseimbangan Shaquena hancur seketika. Kakinya tergelincir di atas lantai licin. Udara kosong menyapu punggungnya saat gravitasi menarik paksa tubuhnya ke bawah. Mulutnya terbuka lebar, tapi tak ada suara yang keluar.

Bunyi hantaman terdengar tak lama setelahnya.

Punggung Shaquena membentur sudut tajam anak tangga pertama. Terdengar bunyi retakan keras. Tulang rusuknya patah, menusuk organ di baliknya. Tubuhnya terpelanting ke bawah tanpa kendali. Benturan keras bertubi-tubi meremukkan bahu, mematahkan lutut, dan menghancurkan lehernya dalam hitungan detik.

Rasa dingin dari lantai marmer menembus pori-pori kulit. Darah pekat mengalir deras dari pelipis, menutupi separuh pandangannya.

Di batas kesadarannya yang kian menipis, sepasang sepatu kulit mengilap terlihat di anak tangga teratas. Sebastian berdiri diam di sana. Menonton tubuh istrinya hancur dalam genangan darah tanpa niat turun membantu.

Gelap menyergap total.

Saat matanya terbuka lagi, tubuh Shaquena langsung tersentak bangun. Napas pertamanya terdengar serak, seolah paru-parunya baru diizinkan kembali bekerja.

Cahaya matahari pagi menusuk tajam ke retina melalui celah gorden linen putih. Aroma lavender memenuhi rongga hidungnya, perlahan mengusir anyir darah pekat yang sejak tadi seperti mencekik lehernya.

Ia refleks meremas seprai katun tebal di bawah tubuh. Bersih. Hangat. Kering.

Dinding krem dan meja rias berukir itu tak berubah sedikit pun. Ini kamar masa kecilnya di kediaman utama keluarga Mahardika.

Shaquena menendang selimut tebal itu menjauh. Kaki telanjangnya menyentuh lantai parket yang memancarkan suhu hangat. Ia melangkah mundur tergesa hingga punggungnya menabrak keras pintu lemari pakaian.

Ia mengangkat kedua tangan. Kulitnya mulus tanpa kerutan, bersih dari luka gores sekecil apa pun. Ia mencengkeram pergelangan tangan kirinya. Denyut nadinya berdetak normal melawan kulit. Ia masih bisa merekam jelas rasa dingin dari cengkeraman tangan Sebastian, tapi sekarang pergelangannya putih bersih. Tidak ada memar kebiruan akibat tekanan.

Satu nama menghantam kepalanya tiba-tiba.

Samuel.

Nama itu membuatnya membeku. Ia lupa cara bernapas.

Jika takdir membawanya mengulang waktu, di mana anaknya sekarang?

Shaquena menerjang pintu kamar, memutar kenop kuningan itu dengan kasar. Lorong lantai dua rumah keluarganya masih sunyi senyap. Ia mengabaikan kakinya yang telanjang dan berlari kencang menuju kamar di sebelah kanan.

Pintu didorong paksa hingga gagang kayunya membentur dinding berpelitur.

Kosong.

Udara pengap menyambut wajahnya. Tidak ada kasur kecil berseprai pahlawan super. Tidak ada aroma khas sampo bayi rasa stroberi. Ruangan itu hanya berisi tumpukan kardus cokelat dan kursi tua berpenutup kain putih kusam.

Lutut Shaquena kehilangan tenaga. Ia jatuh terduduk di ambang pintu, menahan berat badan di atas lantai kayu.

"Samuel," bisiknya parau.

Kenyataan menamparnya telak. Samuel belum terlahir ke dunia ini. Putranya belum ada. Zoya dan bayi kecilnya, Sherina, juga ikut menghilang, dihapus bersih dari garis waktu.

Tangan kecil yang selalu mengusap air matanya kini lenyap tak berbekas.

Shaquena menekan dahi ke bingkai pintu kayu. Jemarinya mengepal kuat hingga kuku menancap di telapak tangan.

Jika ia meninggalkan Sebastian, Samuel tak akan pernah lahir. Jika ia menikah lagi, bocah itu akan kembali tumbuh di neraka yang sama.

"Maafkan mama, Sayang," bisik Shaquena ke arah ruangan berdebu itu. Suaranya serak, tapi ketegasannya telah kembali.

Ia berdiri. Air mata terakhir jatuh ke lantai kayu.

Cukup.

Kali ini, yang akan hancur adalah Sebastian.

Shaquena memutar tubuhnya, berjalan kembali menyusuri lorong menuju kamar. Langkahnya berhenti tepat di depan meja rias kayu jati. Ia menatap lekat pantulan dirinya di cermin oval.

Wajah di cermin itu masih berusia dua puluh dua tahun. Mata yang dulu penuh harap kini menyimpan sesuatu yang berbeda.

Ia membuka beberapa kancing piyama, menarik kain itu turun menampakkan bahu kirinya. Kulitnya halus bersih. Di kehidupan sebelumnya, bahu dan punggung itu penuh bekas luka. Sekarang, kulitnya utuh tanpa cacat.

Matanya menajam, mengunci bayangan di cermin. Ia menolak menjadi korban untuk kedua kalinya.

Pandangannya beralih pada maneken di sudut kamar. Benda kayu itu memamerkan gaun putih gading berbahan sutra impor.

Shaquena melangkah pasti mendekati maneken tersebut. Jemarinya mencengkeram gaun itu. Satu sentakan, dan kain sutra itu melorot dari maneken dan jatuh ke lantai.

Tanpa ragu sedetik pun, Shaquena melangkah maju, menginjak tumpukan kain tersebut, bunyi gemeretak patahan kristal Swarovski terdengar jelas saat kristal itu bergesekan dengan lantai kayu.

Hari ini Sebastian akan melamarnya di depan puluhan tamu, karena lamaran ini sekaligus peresmian kerja sama bisnis dua konglomerasi yang akan diumumkan ke publik.

Bibir Shaquena terangkat membentuk senyum dingin. Ia akan mempermalukan pria brengsek itu tepat di puncak arogansinya hari ini juga.

Suara langkah kaki tergesa memecah keheningan rumah dari arah tangga. Bunyi hak sepatu beradu keras dengan lantai keramik melesat cepat menuju kamarnya.

Ketukan keras terdengar dua kali. Gagang pintu berputar kasar dan terbuka lebar.

Ibunya berdiri di ambang pintu dengan napas naik turun. Rambutnya disanggul rapi. Wajah elegan yang dibalut riasan sempurna dan kebaya hijau botol itu memancarkan kepanikan luar biasa.

Matanya merekam sosok wanita yang di kehidupan lalu mati menahan sakit di dasar jurang. Kakinya nyaris bergerak. Jemarinya bahkan sudah terangkat setengah, sebelum akhirnya kembali mengepal di sisi tubuh.

Mata sang ibu melebar tajam melihat Shaquena masih memakai pakaian tidur kusut. Pandangannya merayap turun ke lantai, menatap ngeri pada gaun pertunangan mahal yang kini kotor terinjak telapak kaki putrinya.

"Astaga, Shaquena!" Wajah ibunya memucat pasi.

Wanita paruh baya itu melangkah masuk tergesa, langsung menarik lengan piyama putrinya, memaksa Shaquena bergeser dari atas gaun itu.

"Keluarga Mahendra sudah datang lengkap. Sebastian sudah menunggumu di ruang tamu bawah. Apa yang kamu lakukan dengan gaunmu, hah?!"

1
watno antonio
lanjut thor
Carisoy
Baca nti ajh tunggu kalau sudah selesai revisi deh👍
DdCantik
Emang bisaan bikin cerita seru, jadi si shqena paling udah gila, mantaplah ayok lanjut
DdCantik
Semangat 💪💪💪💪
Fahreziy
👣👣👣
falea sezi
jd saquena uda gila kali q 😓
falea sezi
baru aja baca😕 uda nyesek😓 air mata keluar sendiir😓
DdCantik
ribet banget jadi orang kaya🤭
Pratiwiajah
kaya gini palingan beneran ada di Konoha sini ya????🤭
Pratiwiajah
ok Fik aku benci si basbas ini
Pratiwiajah
tragis bgt/Sob/
NolaRona
up🙏
Betharia Anggita Dominique
thor, bikin cerita mesti sadis👍
Betharia Anggita Dominique
bagussss👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
wih, kaga bisa bayangin begimana jadi shaqena duh
Betharia Anggita Dominique
keluarga lucknut
Jitison
ditunggu 🙏
Jitison
kasihan skali
Carisoy
lanjutkan yu
DdCantik
makin seru👍👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!