Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.
Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.
Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan yang tak disengaja
Hanya butuh waktu sepuluh menit bagiku untuk berganti pakaian. Aku memilih mengenakan celana jins biru longgar dan kardigan rajut berwarna kuning kunyit hangat di atas kaos putih polos. Rambut panjangku kuikat asal membentuk cepolan tinggi di atas kepala, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajahku dengan natural. Saat cermin kecil di kamar menunjukkan wajahku yang sudah jauh lebih segar, aku langsung menyambar tas selempang kecilku dan melangkah keluar.
Mas Arkan sudah menungguku di dekat pintu masuk utama. Ia juga sudah mengganti kemeja kerjanya dengan kaos oblong hitam polos berkerah bulat yang mempertegas bahu tegapnya, dipadukan dengan celana jins gelap yang senada.
"Sudah siap?" tanyanya, matanya sempat tertuju pada cepolan rambutku selama beberapa detik sebelum beralih menatap penampilanku secara keseluruhan. "Jauh lebih baik daripada kaos beruang tadi."
"Karin kan emang selalu rapi kalau mau pergi, Mas," sahutku penuh percaya diri sembari memakai sepatu slip-on abu-abu andalanku.
Kami berkendara menggunakan mobil sedan hitam milik Mas Arkan menuju sebuah supermarket besar yang berada di dalam pusat perbelanjaan kelas atas, tidak jauh dari apartemen. Sepanjang perjalanan, lagu instrumental klasik bervolume rendah mengalir tenang dari pemutar musik mobil, menciptakan suasana hangat yang sangat kontras dengan ketegangan kami di kampus siang tadi.
Begitu sampai di supermarket, Mas Arkan langsung mengambil sebuah keranjang belanja beroda besi dan mendorongnya dengan langkah yang santai. Aku berjalan di sebelahnya, memegang selembar kertas kecil berisi daftar kebutuhan dapur yang sempat kutulis cepat sebelum berangkat tadi.
"Kita mulai dari bagian sayuran dan bahan segar dulu," ujar Mas Arkan sembari mengarahkan keranjang belanja kami menuju rak pendingin besar yang dipenuhi berbagai macam sayuran hijau.
Aku terpaku melihat cara Mas Arkan memilih bahan makanan. Ia mengambil seikat brokoli, memperhatikannya dengan sangat jeli dari berbagai sudut, memastikan tidak ada bagian yang menguning, lalu meletakkannya ke dalam keranjang belanja dengan gerakan yang sangat rapi. Hal yang sama ia lakukan saat memilih wortel, tomat, dan jamur kuping segar.
"Mas Arkan beneran kayak ibu-ibu kalau lagi milih sayur ya. Detail banget," celetukku gemas, memperhatikan tangannya yang lincah menimbang seikat bayam.
"Sayuran yang segar menentukan kualitas nutrisi makanan yang akan kita konsumsi, Karin," sahutnya dengan nada serius, persis seperti sedang menjelaskan teori keamanan data di kelas. "Kalau kamu asal ambil yang layu, rasanya akan hambar saat ditumis."
"Iya deh, Pak Dosen yang paling tahu segalanya," gurauku sembari menjulurkan lidah sedikit ke arahnya saat ia sedang tidak melihat.
Kami kemudian bergeser ke lorong bumbu dapur dan makanan instan. Saat melewati deretan rak yang memajang berbagai macam camilan, mataku langsung berbinar cerah melihat jajaran keripik kentang rasa rumput laut kesukaanku yang sedang mengadakan promo beli dua gratis satu.
"Wah, Mas! Ini ada promo keripik kentang kesukaan Karin!" ujarku girang, langsung melangkah mendekati rak yang letaknya agak tinggi di atas kepalaku.
Aku menjinjitkan kedua kaki, meregangkan tangan kananku setinggi mungkin untuk meraih bungkusan keripik kentang yang berada di baris paling belakang rak teratas. Namun, karena tubuhku yang kurang tinggi, jemariku hanya mampu menyentuh ujung kemasannya saja, membuatnya malah terdorong semakin ke dalam.
"Aduh, dikit lagi..." gumamku kesal, masih berusaha menjinjit lebih tinggi lagi hingga tubuhku hampir menempel pada permukaan rak besi.
Tiba-tiba, sebuah kehangatan yang sangat akrab terasa mendekat dari arah belakang tubuhku.
Sebelum aku sempat menoleh, sebuah lengan kokoh yang dibalut kaos hitam polos terulur dari atas kepalaku dengan sangat mudah. Dada bidang Mas Arkan terasa sangat dekat, hampir menempel sempurna pada punggungku, membuatku seketika menghentikan gerakanku dan menahan napas dengan jantung yang mendadak berdegup kencang tak karuan.
Aroma wangi sabun mandi pinus dan parfum maskulin miliknya menguar begitu nyata di sekelilingku dalam jarak sedekat ini.
Dengan satu gerakan tangan yang sangat mudah dan santai, Mas Arkan mengambil tiga bungkus keripik kentang yang kuincar sejak tadi. Ia tidak langsung menjauhkan tubuhnya; ia menundukkan kepalanya sedikit, menatapku dari samping dengan jarak yang hanya menyisakan beberapa sentimeter saja di antara wajah kami.
"Lain kali, kalau tidak sampai, bilang ke saya, Karin. Jangan memaksakan diri seperti itu," bisiknya dengan suara berat yang sangat lembut tepat di sebelah telingaku, membuat bulu kudukku meremang seketika karena getaran suaranya.
"E-eh... iya, Mas. Terima kasih," jawabku sangat pelan dengan wajah yang mendadak terasa panas luar biasa.
Mas Arkan mundur satu langkah, meletakkan ketiga bungkus keripik kentang tersebut ke dalam keranjang belanja kami dengan ekspresi wajah yang tampak sangat tenang—seolah kejadian barusan sama sekali tidak memengaruhi kerja jantungnya. Namun, saat aku melirik ke arah tangannya yang sedang memegang pegangan besi keranjang, aku bisa melihat jari-jarinya mencengkeram besi itu dengan sedikit lebih erat dari biasanya, dan ada rona merah tipis yang sangat samar menghiasi kedua tulang pipinya yang tegas.
"Aduh, Karin... kenapa jantung kamu jadi makin gak sehat kayak gini sih tiap dekat Mas Arkan?" batinku panik, berusaha keras menyembunyikan wajah merah padamku dengan pura-pura sangat sibuk membaca kembali daftar belanjaan di kertas kecilku malam itu.
Kami melanjutkan langkah menyusuri lorong supermarket menuju area pembayaran. Antrean di kasir malam ini tidak terlalu panjang, hanya ada dua orang di depan kami. Mas Arkan berdiri dengan tenang sembari sesekali merapikan letak barang belanjaan di dalam keranjang besi agar kasir lebih mudah memindai barcodenya nanti.
"Semuanya jadi dua ratus lima puluh ribu rupiah, Kak," ujar mbak kasir dengan ramah setelah selesai memindai barang terakhir, yaitu tiga bungkus keripik kentangku.
Aku buru-buru membuka tas selempangku untuk mengambil dompet, namun sebelum jemariku sempat menyentuh resleting tas, sebuah kartu debit berwarna hitam metalik sudah lebih dulu diangsurkan oleh Mas Arkan ke hadapan kasir.
"Pakai ini saja," ujar Mas Arkan tenang.
"E-eh, Mas! Kan ini ada camilan punya Karin juga, biar Karin bayar sendiri aja camilannya," bisikku canggung, merasa tidak enak hati karena terus-menerus merepotkannya.
Mas Arkan melirikku sekilas sembari memasukkan kembali dompet kulitnya ke dalam saku celana jinsnya setelah transaksi berhasil diproses. "Tidak perlu, Karin. Selama kamu tinggal dengan saya di apartemen ini, semua kebutuhan harian dan makanan kamu adalah tanggung jawab saya. Itu sudah termasuk ke dalam kesepakatan awal kita."
Mbak kasir yang sedang merapikan barang belanjaan kami ke dalam kantong ramah lingkungan besar tampak tersenyum-senyum penuh arti melihat interaksi kami berdua. "Suaminya perhatian banget ya, Kak. Masih muda lagi."
Pipiku seketika mendadak kembali memanas mendengar ucapan mbak kasir tersebut. Aku hanya bisa tersenyum canggung sembari buru-buru meraih kantong belanjaan yang sudah rapi untuk menutupi rasa malu yang luar biasa hebat, sementara Mas Arkan hanya berdeham pendek sekali sebelum menuntun langkahku berjalan keluar dari area supermarket malam itu.