NovelToon NovelToon
Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

"Nggak bisa."

Dua kata itu meluncur dari mulut Akram dengan nada mutlak, dingin, dan mematikan. Wajahnya sedatar papan tulis, namun di balik itu, otaknya sedang memutar alarm darurat sekencang-kencangnya.

Bastian yang masih berdiri di bawah panggung dengan senyum sumringah, seketika menurunkan mapnya. Wajahnya berubah kecewa. "Lho? Kenapa, Kram? Tante Jihan aja tadi di telepon seneng banget denger temen-temen OSIS lo mau main. Katanya, 'Wah, kebetulan banget, Tante besok pesenin katering sekalian biar kalian nggak kelaparan pas lembur'." Bastian menirukan nada suara mamanya Akram dengan sangat menyebalkan.

Akram memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Nyokap bener-bener lupa kalau gue lagi 'dipingit' sama anak macan ini di sana?!

"Apartemen gue berantakan, Bas. Gue belum beres-beres," kilah Akram, berusaha terdengar masuk akal.

"Alah, lo kan perfeksionis, mana mungkin tempat lo berantakan lebih dari sehari," potong Bastian santai. "Lagian kita kan ke sana mau numpang ngerjain proposal, bukan mau inspeksi kebersihan. Kalau kotor, nanti kita yang sapuin deh. Setuju kan, Guys?"

Beberapa anggota OSIS yang berdiri di ambang pintu aula serempak mengangguk antusias.

Di belakang Akram, Almeera merasa jiwanya baru saja melayang meninggalkan tubuhnya. Menginap? Anggota OSIS? Di tempat di mana setengah dari lemari pakaiannya berisi baju-baju tidur bergambar kartun dan alat skincare merah mudanya berjejer di kamar mandi?

"Kram..." bisik Almeera pelan dari balik set drumnya. Suaranya bergetar menahan panik. "Jangan sampai."

Akram menoleh sedikit, menangkap sorot horor di mata cokelat istrinya. Ia membuang napas kasar, kembali menatap Bastian. "Gue lagi nggak enak badan. Lo semua mau ketularan radang?"

"Heera bilang radang lo udah mendingan setelah makan sup iga semalam!" balas Bastian dengan ceria, seolah telah berhasil mematahkan semua argumen mematikan sang Ketua OSIS.

Skakmat. Akram tidak punya alasan logis lagi tanpa terlihat mencurigakan.

Nino yang sejak tadi menonton perdebatan itu, tiba-tiba menepuk bahu Akram dengan santai. "Udahlah, Kram, terima nasib aja jadi Ketos. Semangat ya lemburnya! Yuk, Al, kita lanjut check sound."

Mendengar nama Almeera disebut, Akram menoleh cepat. Sebuah ide gila tapi masuk akal melintas di kepalanya. "Kalian hari Sabtu besok ada jadwal latihan juga, kan?"

Nino mengernyit. "Ada. Siang sampai sore di garasinya Darren. Kenapa? Lo mau nyewa kita buat ngehibur lo yang lagi lembur?"

"Nggak," jawab Akram cepat. Ia menatap Almeera lekat-lekat. "Gue cuma mau mastiin, besok lo semua sibuk dan nggak ada yang tiba-tiba nongol bikin repot."

Almeera membalas tatapan Akram. Di balik kalimat ketus cowok itu, Almeera bisa membaca sebuah instruksi tak kasatmata: Besok lo cabut dari pagi, jangan sampai ada di apartemen.

Almeera menelan ludah, mengangguk sekilas. Ia pura-pura sibuk membetulkan letak cymbal-nya. "G-gue besok latihan full dari pagi sampai malam! Nggak bakal gue gangguin acara lembur sok penting kalian!"

Bastian tertawa. "Aman! Kalau gitu fix ya, Kram! Besok jam tiga sore, pasukan OSIS meluncur ke apartemen lo! Siapin mental!"

Akram hanya bisa memejamkan mata, merutuki nasibnya yang entah kenapa selalu terasa seperti dark komedi sejak ia menandatangani buku nikah.

Jumat Malam, Pukul 20.00 WIB.

"Singkirin kutang pink lo dari sofa, Almeera! Lo mau Bastian besok jantungan lihat beginian?!"

Suara bariton Akram menggelegar di ruang tamu apartemen. Cowok itu sedang memegang vacuum cleaner, kemejanya sudah basah oleh keringat, dan rambutnya berantakan.

"Itu bukan kutang, itu bralette! Beda, cowok udik!" balas Almeera tak kalah nyaring. Ia berlari keluar dari kamar mandi sambil membawa keranjang kecil berisi botol-botol skincare-nya. Rambutnya diikat cepol berantakan, wajahnya mengkilap karena peluh. "Dan lo nggak usah protes, boxer lo yang gambar SpongeBob juga masih nyangkut di jemuran balkon! Buruan ambil!"

Malam ini, apartemen 2507 berubah menjadi zona perang. Operasi Sapu Bersih resmi dimulai.

Sejak pulang sekolah, mereka berdua bekerja layaknya tim forensik yang sedang menghilangkan barang bukti dari tempat kejadian perkara. Tidak boleh ada satu pun barang feminin, atau apa pun yang mengindikasikan keberadaan perempuan di dalam apartemen ini.

Akram berlari ke balkon, menyambar jemurannya dengan wajah memerah menahan malu, lalu melemparnya ke dalam keranjang cucian di sudut kamar.

"Semua sepatu lo, masukin ke dalam koper!" perintah Akram sambil menunjuk deretan sneakers warna-warni Almeera di rak depan. "Gue nggak mau Heera curiga lihat sepatu ukuran 38 di rak gue."

"Iya, iya bawel!" Almeera berjongkok, dengan kasar menjejalkan sepatu-sepatunya ke dalam koper besarnya. "Ini gara-gara nyokap lo yang terlalu friendly tahu nggak?! Kalau aja dia—"

"Jangan bawa-bawa nyokap gue. Lo kan bisa aja kabur nginep di rumah orang tua lo weekend ini," potong Akram sambil menyemprotkan pengharum ruangan beraroma mint ke seluruh penjuru ruang tamu, menutupi sisa-sisa aroma stroberi Almeera.

"Lo pikir gue nggak mau pulang?!" omel Almeera, mengunci kopernya dengan hentakan keras. "Nyokap bokap gue lagi ke luar kota ngurusin bisnis Papa! Rumah dikunci, kuncinya dibawa Bi Ijah mudik! Gue mau tidur di mana?! Di pos satpam komplek?!"

Akram mengusap wajahnya frustrasi. "Terus besok lo mau ke mana setelah latihan band selesai?"

"Gue bakal ngendon di markas band sampai malam, terus kalau mereka udah bubar... ya gue balik ke sini lah. Gue tidur di kamar, kalian kan bisa rapat di ruang tamu," jawab Almeera enteng, sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa yang sudah steril dari barang-barangnya.

"Gila lo. Gimana kalau ada yang mau ke kamar mandi? Kamar mandi luar rusak flush-nya dari tadi siang, gue belum sempet manggil teknisi. Otomatis mereka bakal pakai kamar mandi di dalam kamar gue!" Akram berdiri berkacak pinggang di depan Almeera.

Mata Almeera membelalak. "Hah?! Terus gue harus sembunyi di mana kalau gue balik pas mereka masih di sini?!"

"Makanya, lo balik ke sini pas mereka udah pada tidur. Kuncinya, besok lo cabut jam dua belas siang sebelum mereka datang, bawa koper lo ini, taro di bagasi mobil Darren kek, atau di mana kek. Kamar gue kunci rapat-rapat. Mereka nggak boleh ada yang masuk kamar. Titik."

Almeera mendesah panjang, menatap sekeliling ruang tamu yang kini terlihat sangat maskulin. Benar-benar mencerminkan apartemen cowok single maskulin. Tidak ada lagi bantal berbulu milik Almeera, tidak ada selimut peach, tidak ada mug keramik bergambar kucing. Semua sudah dievakuasi ke dalam kamar tidur.

"Oke," Almeera menyetujui dengan lesu. "Jam dua belas siang gue cabut."

Akram ikut duduk di ujung sofa, merebahkan kepalanya ke sandaran. Napasnya terengah. Mereka berdua terdiam, menikmati keheningan setelah dua jam penuh berteriak dan bersih-bersih.

Almeera menoleh sedikit, menatap profil samping wajah Akram. Keringat menetes dari pelipis cowok itu, mengalir turun ke rahangnya yang tegas, lalu menghilang di balik kerah kaosnya. Entah kenapa, pemandangan itu membuat perut Almeera kembali bergejolak aneh.

Sadar sedang ditatap, Akram menoleh, menangkap basah mata cokelat Almeera.

"Kenapa ngelihatin gue kayak gitu?" goda Akram, suaranya merendah, senyum tipisnya kembali menghiasi wajah lelahnya. "Terpesona lihat gue keringetan habis beres-beres rumah? Udah kayak suami idaman belum?"

Wajah Almeera langsung memanas. Ia buru-buru membuang muka, meraih bantal sofa dan memeluknya erat-erat sebagai tameng. "Idih! Suami idaman dari Hong Kong! Keringat lo bau aspal!"

Akram terkekeh. Tawa beratnya menggetarkan sofa, membuat Almeera semakin salah tingkah.

Malam itu, mereka tertidur karena kelelahan ekstrim. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tinggal di sana, 'Tembok Berlin' yang memisahkan mereka di tengah ranjang tidak berdiri tegak. Bantal-bantal itu berantakan karena dijadikan senjata saat berebut selimut, menyisakan jarak di antara mereka yang tanpa sadar... semakin menipis.

Sabtu Siang. Pukul 11.30 WIB.

Hujan turun dengan sangat lebat di Jakarta Selatan, disertai petir yang menyambar-nyambar.

Almeera sedang duduk di sofa sambil memakan semangkuk keripik kentang. Ia mengenakan kaos kebesaran berwarna abu-abu yang bahunya melorot sebelah, dipadukan dengan celana pendek santai. Rambutnya dicepol ke atas dengan messy bun.

Di kamarnya, Akram sedang bersiap-siap, baru saja selesai mandi dan sedang mencari kemeja kasualnya. Rencananya, jam dua belas siang nanti Akram akan mengantar Almeera ke stasiun MRT terdekat sebelum anak-anak OSIS datang jam tiga sore.

"Kram! Hujannya deres banget, jalanan depan apartemen banjir genangan tuh!" seru Almeera dari ruang tamu, melirik ke arah jendela kaca besar. "Gue pesen taksi online aja ya, nggak usah lo anterin! Takut basah kuyup!"

"Tunggu redaan dikit, Al!" sahut Akram dari dalam kamar.

Ting tong!

Suara bel pintu apartemen tiba-tiba berbunyi.

Almeera mengunyah keripiknya dengan santai. "Kram! Ada paket lo kali tuh! Biar gue yang bukain dari intercom!"

"Nggak usah dibuka! Biarin aja di depan pintu!" teriak Akram.

Namun, Almeera yang terlanjur penasaran sudah berdiri dan berjalan mendekati layar intercom. Ia menekan tombol 'view'.

Detik berikutnya, mangkuk keripik di tangan Almeera meluncur bebas ke lantai.

PRANG!

Keripik kentang berhamburan di atas lantai marmer. Tubuh Almeera membeku sepenuhnya.

Di layar intercom, terlihat lima orang remaja berseragam bebas, mengenakan jas hujan dan payung yang basah kuyup. Bastian memegang dua kantong besar berisi camilan, sementara Heera berdiri di sebelahnya sambil membawa sekotak pizza. Tiga anggota OSIS lainnya sibuk merapikan rambut mereka yang basah.

Mereka datang tiga jam lebih awal.

"AKRAM!!!" jerit Almeera melengking, suaranya pecah saking paniknya.

Pintu kamar terbuka dengan kasar. Akram berlari keluar. Cowok itu belum selesai berpakaian. Ia hanya mengenakan celana jeans, sementara bagian atas tubuhnya masih bertelanjang dada, otot perut dan dadanya terlihat jelas dengan tetesan air yang belum sepenuhnya kering.

"Ada apa?! Kenapa keripik berserakan?!" Akram menatap lantai yang kotor, lalu menatap Almeera yang sedang menunjuk layar intercom dengan tangan gemetar sehebat gempa bumi.

Akram menoleh ke layar. Matanya membelalak sempurna. Darahnya seakan tersedot habis ke dasar bumi.

Dari speaker intercom, suara Bastian terdengar cempreng dan penuh semangat.

"Surprise!!! Bos Ketos, buka pintunya woi! Di luar badai! Kita dateng lebih awal nih bawa bala bantuan makanan dan PS5! Buka dong!"

Akram dan Almeera saling berpandangan. Keduanya tampak seperti orang yang baru saja divonis hukuman mati.

"Gue bilang juga apa! Temen-temen lo itu nggak ada yang waras!" desis Almeera panik, melompat-lompat kecil di tempat. "Gue gimana ini, Akram?! Baju gue begini! Gue belum ganti baju!"

Otak Akram bekerja dengan kecepatan turbo. Ia menyambar lengan Almeera dengan cepat.

"Masuk. Kamar. Sekarang." Akram menarik Almeera, setengah menyeret cewek itu ke arah kamar.

"Tapi gue nggak bisa keluar dong?! Koper gue gimana?!" Almeera meronta, meski kakinya tetap mengikuti langkah panjang Akram.

"Gue yang urus! Lo kunci pintunya dari dalem, jangan bersuara, jangan nyalain musik, jangan batuk! Kalau perlu, lo jangan napas!" Akram mendorong Almeera masuk ke dalam kamar tidur.

"Baju lo pakai dulu, sinting!" seru Almeera sambil melempar sebuah kaos hitam yang tergeletak di ujung kasur, tepat ke wajah Akram.

"Iya! Ingat, Al, jangan keluar apa pun yang terjadi!" Akram menatap mata Almeera dengan sangat serius. "Gue janji bakal bikin mereka sibuk di luar."

Almeera menelan ludah, mengangguk cepat. "O-oke."

BAM!

Pintu kamar ditutup dan dikunci dari dalam.

Di luar, Akram buru-buru memakai kaos hitamnya secara asal. Ia mengambil sapu dan serokan dengan kecepatan kilat, menyapu keripik kentang yang tumpah ke dalam tempat sampah, lalu menetralkan ekspresi wajahnya. Sambil mengacak rambutnya agar terlihat seperti orang yang baru bangun tidur, Akram berjalan santai menuju pintu utama dan membukanya.

"Woy! Lama banget lo bukanya! Kedinginan kita di lorong!" protes Bastian sambil menerobos masuk, diikuti anggota OSIS yang lain.

"Gue baru selesai mandi, Bas. Lo pada bilang jam tiga, ngapain jam segini udah nongol?" gerutu Akram, berusaha terdengar natural meski jantungnya masih berdebar kencang.

Heera masuk dengan anggun, meletakkan kotak pizza di meja pantry. Matanya menyapu seisi ruangan. "Gila, Kram, apartemen lo rapi banget ternyata! Wangi mint lagi. Nggak kayak kos-kosan anak cowok pada umumnya."

"Gue kan perfeksionis, Ra," kilah Akram singkat, mengiring mereka menuju ruang tamu.

"Eh, kamar lo mana, Kram? Gue mau naruh tas nih, berat isinya proposal kepsek," salah satu anggota OSIS bernama Dika melangkah menuju lorong pendek yang mengarah langsung ke pintu kamar tempat Almeera bersembunyi.

"Dika, stop!" Akram berseru agak keras, refleks merentangkan tangannya menghalangi langkah Dika.

Semua mata menoleh ke arah Akram. Hening sejenak.

Akram berdeham, menormalkan suaranya. "Kamar gue privasi. Nggak ada yang boleh masuk, apalagi naruh barang basah dari luar. Taruh tas lo semua di sudut sofa sana. Area lembur kita cuma di ruang tamu dan meja makan."

Dika mengangguk kikuk. "O-oh, sori, Kram. Paham, paham."

Bastian tertawa memecah suasana. "Biasa, Bos kita ini kan wilayah kekuasaannya sakral. Ya udah, bongkar PS5-nya! Sambil nunggu hujan reda, kita main FIFA dulu baru lanjut revisi!"

Akram membuang napas pelan tanpa kentara. Ia melirik sekilas ke arah pintu kayunya yang tertutup rapat. Satu krisis terlewati, batinnya.

Namun, di dalam kamar, Almeera sedang mengalami krisisnya sendiri. Ia duduk di atas kasur, memeluk lututnya dalam gelap karena ia tidak berani menyalakan lampu. Telinganya menempel pada dinding, mencoba mendengarkan percakapan dari luar.

Hujan di luar semakin deras, petir menyambar, dan ia terjebak di dalam kamar ini entah sampai jam berapa. Perutnya mulai keroncongan karena keripik kentangnya tadi gagal masuk ke perut.

Tiba-tiba, sayup-sayup terdengar suara Heera dari balik pintu, sangat dekat.

"Kram, kamar mandi luarnya mampet ya? Kok di-flush nggak bisa? Gue numpang pipis di kamar mandi dalem kamar lo ya?"

Jantung Almeera berhenti seketika. Matanya membelalak ngeri menatap gagang pintu kamarnya yang tiba-tiba berputar.

Krek. Krek.

Ada yang mencoba membuka pintu dari luar.

1
Aidil Kenzie Zie
kok Shopia tau tentang Riwayat Bluetooth di Apartemennya mereka 🤔🤔kan dia bukan anak Osis🤔🤔🤔
Enz99
bagus
Aidil Kenzie Zie
kok bisa Shopia masuk ke apartemen mereka 🤔🤔
Moora: Jawabannya ada di bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si Reyhan gangguin aja 🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
maaf tor Almeera sama Akram kelas berapa y
Aidil Kenzie Zie: oalah kirain kls 12 jadi kan nggak perlu lama backstreet nya 🤣🤣🥰🥰
total 2 replies
Aidil Kenzie Zie
ngaku nggak ya🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
akhirnya semua kupu-kupu 🦋🦋 terbang dari jantung 💓💓 mereka 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
dig dig dig dig apa Akram akhirnya keceplosan bilang kalau Almeera istrinya 🤔🤔🤔🤔🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
si mbak mantan sok berkuasa 😏😏
Aidil Kenzie Zie
si Mama gimana sih 😡😡 pengen hub anaknya terbongkar apa nggak sadar kalo Akram udah nikah dan tinggal disana sama istrinya 🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
si Shopia udah dibilangin nyokap Al ganti parfum loundry masih aja kepo🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
si mama kok ember sich 🤭🤭🤭
Dara Sari
blm menarik banget alur cerita nya masih sedikit kaku dan kurang greget...maaf yaa Thor sedikit keritik semoga BS lbh baik kedepannya...
Moora: Makasiih tapi loh ya koreksiny... "gue suka gaya lo". Hehe jdi pelajaran kedepanny buat aku... 😊 makasiih
total 1 replies
Khusnul Khotimah
💪💪baru baca lihat bab terakhir dulu KLO menarik lanjut
Aidil Kenzie Zie
udah ngaku aja lagi PDKT 🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
jantung mereka langsung dig dug dig dig🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
siap -siap makin panas dingin Akram
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!