NovelToon NovelToon
SANG PEMBURU KEGELAPAN

SANG PEMBURU KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: AL

Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!

Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!

Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPK 13

"Untuk apa, Paman?" tanya Arya. Tatapannya mengandung pertanyaan besar yang mengorganisir keraguan di pikirannya.

"Hahaha ... Kenapa kau bersikap seolah-olah aku akan menjebakmu?" Jaya menepuk pelan bahu Arya sebelum kembali berkata, "Sudahlah, ikut saja denganku! Paduka raja bukan seekor Harimau yang akan memakanmu."

Dengan sedikit perasaan was-was, Arya mengikuti kemauan Jaya. Dia berjalan mengekor ayunan tegap langkah kaki penasihat istana itu hingga sampai di pintu sebuah ruangan.

Dua orang prajurit yang berjaga langsung menghaturkan sembah hormat ketika melihat kedatangan Jaya. Penasihat istana itu mengulum senyum lalu mengangguk membalas hormat kedua prajurit itu.

"Kau tunggu di sini! Aku akan masuk sebentar," ucap Jaya. Lelaki berusia lebih dari setengah abad itu berjalan masuk ke dalam ruangan.

Arya mengangguk sebelum melangkah mendekati sebuah kursi yang tidak jauh dari pintu tersebut. Untuk mengusir rasa bosan dan lelah yang menghajar fisik serta pikirannya habis-habisan, Arya menyenandungkan melodi irama tak bertuan lewat siulannya yang bisa membuat pekak telinga para pendengarnya.

Kedua prajurit penjaga itu bahkan sampai memejamkan matanya untuk mengusir paksa melodi sumbang siulan Arya yang menerobos gendang telinga mereka. Baru kali ini mereka berdua mendengar ada siulan yang tak berirama sama sekali.

Cukup lama Jaya berada di dalam ruangan tersebut. Arya mulai tidak sabar dan ingin pergi dari tempat itu. Rasa lelah dan keringat yang mulai mengering, membuat tubuhnya terasa lengket dan baunya sedikit menyengat. Satu hal yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah ingin berendam di dalam bak berisi air hangat yang dipenuhi bunga berwarna warni.

"Lihatlah pemuda itu, dia sepertinya sudah gila tersenyum sendiri seperti itu!" bisik seorang prajurit penjaga kepada temannya. Lirikan matanya tertuju pada Arya yang tampak duduk santai dengan melodi sumbang yang terus mengalir keluar dari bibirnya dan kedua mata terpejam.

"Jaga bicaramu! Bagaimanapun juga di tadi bersama Tuan Jaya. Kalau kau dilaporkan kepada beliau, hukuman berat pasti akan menderamu," balas temannya mengingatkan.

"Dia tidak akan mendengarkan ucapanku."

Pembicaraan itu tiba-tiba terhenti setelah Jaya keluar dari dalam ruangan dan berjalan mendekati Arya.

"Kenapa lama sekali, Paman? Aku sampai tertidur dan bermimpi ada seekor monyet yang mencoba mengajak manusia berbicara. Untungnya manusia itu sadar dan tidak menanggapi ucapan si monyet."

Jaya mengernyitkan dahinya. Dia tidak paham jika ucapan Arya itu dimaksudkan untuk menyindir dua orang prajurit penjaga pintu.

Beda sikap ditunjukkan kedua prajurit tersebut, mereka saling berpandangan tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari bibir Arya. Lutut gemetar dan butiran keringat sebesar upil kodok mulai bermunculan di dahi keduanya.

"Tadi aku menunggu Paduka raja berganti pakaian. Kini beliau sudah menantimu di dalam."

Arya bangkit berdiri dan berjalan mengikuti Langkah Jaya. Ketika melewati dua prajurit penjaga, Arya menatap salah satu penjaga lalu memberi isyarat menggorok leher dengan jarinya.

Suara ludah yang tertelan berulang kali terdengar dari kerongkongan prajurit tersebut. Rasa ketakutan akan datangnya hukuman berat benar-benar melanda pikirannya. Tak pernah dia menduga jika sosok pemuda yang dibicarakannya itu bisa mendengar bisikannya kepada temannya.

Arya terkekeh pelan sambil terus melangkah masuk. Pandangannya melihat seorang lelaki yang sedang mencari sesuatu di sebuah lemari kayu besar.

"Paduka, ini pemuda yang hamba maksudkan," ucap Jaya dengan sopan.

Raja Gajayana membalikkan badannya. Pandangan matanya langsung beradu dengan tatapan mata Arya yang tertuju kepadanya.

"Arya!" Raja Gajayana berseru sedikit keras.

"Hormat hamba, Paduka." Arya tersenyum masam tanpa gairah. Tak pernah ada dalam dugaannya akan bertemu kembali dengan Raja Gajayana setelah dia meninggalkan perguruan

Jaya terheran-heran sembari mengangguk kepalanya yang tidak gatal. Maksud hati ingin memberi kejutan kepada Raja Gajayana, tapi nyatanya mereka sudah saling mengenal.

"Paduka sudah mengenal Arya?"

"Bukan hanya kenal dia, bahkan ayahnya pun aku sangat mengenalnya," jawab Raja Gajayana.

Arya sedikit ternganga mendengar pengakuan Raja Gajayana. Bagaimana mungkin ayahnya yang berada jauh di puncak gunung Rinjani bisa mengenal Raja Gajayana?

Jaya pun menunjukkan sikap serupa, benaknya dipenuhi pertanyaan tentang siapa sebenarnya Arya.

"Aku tidak bisa mengatakan siapa Arya sebenarnya, karena itu adalah sebuah amanah. Jadi kau tidak perlu bertanya lagi siapa orang tua Arya, sebab kau pun pasti juga mengenalnya," sambung Raja Gajayana.

Jaya semakin dibuat penasaran. Tapi dia tidak punya keberanian untuk kembali bertanya. "Hamba sudah paham, Paduka."

"Kau boleh pergi dulu. Aku mau berbicara dengan Arya!"

"Hamba laksanakan titah, Paduka." Jaya membungkuk memberi hormat, sebelum mengayunkan langkahnya keluar dari ruangan.

Sebuah pertanyaan besar menjejali pikiran Jaya, dia masih terngiang ucapan Raja Gajayana yang mengatakan jika penguasa kerajaan Kanjuruhan itu pun mengenal siapa ayahnya Arya. Tapi semakin dia berusaha mengingatnya, tak ada sosok lain yang diingatnya selain orang-orang yang ada di dalam istana.

"Kenapa kau tidak bilang jika Ranu adalah ayahmu?" tanya Raja Gajayana. Senyum tipis tidak terlepas sedikitpun dari lelaki tua yang fisiknya masih sekira Ukuran usia setengah abad.

"Hamba tidak perlu menonjolkan siapa orang tua hamba, Paduka. Ayah dan ibu sudah memutuskan mengundurkan diri dari dunia persilatan, jadi hamba yang berkewajiban untuk meneruskan langkah perjuangan ayah dan ibu yang terhenti. Tapi bagaimana ceritanya Paduka bisa mengenal kedua orang tua hamba?"

"Ceritanya panjang, Arya. Aku mengenal ayahmu sebelum dia menikah dengan ibumu. Sama sepertimu, ayahmu juga tidak suka dengan adanya ketidakadilan di depan matanya. Bahkan waktu itu ayahmu bersama pamanmu Mahesa, membongkar keculasan para pejabat yang ada di istana ini."

"Paman Mahesa? Kenapa ayah tidak pernah bercerita tentang perjalanan hidupnya?" tanya Arya.

Raja Gajayana mengangkat kedua alisnya lalu menarik nafas panjang sebelum menghembuskannya perlahan. "Mungkin ayahmu ingin agar kau bisa mandiri, Arya. Jika Ranu menceritakan kenal ini kenal itu, dia takut kau akan bergantung kepada orang-orang yang dikenalnya. Ngomong-ngomong di mana kedua orang tuamu sekarang tinggal?"

"Beliau berdua tinggal di atas gunung Rinjani, Paduka. Katanya di sana jauh lebih tenang dari pada di daratan Jawadwipa ini," jawab Arya.

Raja Gajayana memejamkan matanya untuk sesaat. Dia membayangkan saat ini yang berbicara dengannya adalah Ranu. Menurutnya, dari cara bertutur dan sikap Arya yang sopan, sangat persis dengan sikap yang ditunjukkan Ranu kepadanya.

"Kau tunggu di sini sebentar dan jangan kemana-mana!"

Raja Gajayana beranjak keluar dari ruangan tersebut tanpa menunggu Arya membalas ucapannya.

Tak lama kemudian, pintu yang tadinya tertutup secara perlahan terbuka kembali. Raja Gajayana memasuki ruangan tersebut bersama Putri Citra yang mengekor di belakangnya.

Gadis cantik itu tersenyum lebar melihat Arya yang ternyata sudah berada di istana Kanjuruhan. Bibirnya merah merona, merekah indah terbalut senyuman manis yang menawan hati nan begitu menggoda.

Namun tiba-tiba paras cantiknya berubah begitu cepat dan memancarkan kemarahan yang teramat sangat.

"Kenapa waktu itu kau kabur dari perguruan?"

Arya terhenyak tak bisa bicara. Dia terkejut dan terheran-heran dengan perubahan yang terlihat di raut wajah gadis cantik tersebut.

Raja Gajayana sendiri juga heran kenapa tiba-tiba putrinya marah kepada Arya, padahal selama ini watak putrinya itu tidak seperti yang ditunjukkannya saat ini. Pikirannya sedikit berkelana dan bertanya-tanya, apakah putrinya itu sedang mengalami yang namanya cinta pada pandangan pertama, seperti masa mudanya yang langsung jatuh cinta kepada istrinya ketika mereka bertemu di saat dia mulai mendirikan kerajaan Kanjuruhan.

Berbeda dengan raja lainnya yang biasanya beristri putri dari kerajaan lain, istrinya_Dewi Setrawati adalah anak pribumi desa Kanjuruhan yang akhirnya nama desa itu diambil untuk menjadi nama kerajaan. (Cek Google)

Entah kenapa Arya begitu kikuk menghadapi kemarahan Putri Citra yang tiba-tiba terarah kepadanya. Pemuda berambut kemerahan itu menunduk dan tidak berani menatap wajah gadis cantik yang tiba tiba saja berubah bengis selayaknya raja hutan.

"A-anu ... itu kemarin ..." Arya tergagap menjawab pertanyaan Putri Citra.

"Kenapa kau memarahi Arya, Putriku? Bukankah malah seharusnya kau berterima kasih kepadanya karena telah menyelamatkanmu?" tanya Raja Gajayana tiba-tiba.

Putri Citra seperti tersadar dari mimpi buruk. Raut wajah gadis cantik itu seketika bersemu merah menahan rasa malu. Dia sadar tidak seharusnya memarahi Arya sebegitu rupa hingga membuat pemuda itu kebingungan.

"Maaf, Arya. Aku telah salah memarahimu. Tidak seharusnya aku berbuat demikian," ucapnya lirih sambil menahan malu, takut ayahnya mengetahui perasaan apa yang ada di dalam hatinya.

Arya menghela nafas lega. Dia tidak perlu lagi repot-repot berpikir untuk menjawab pertanyaan Putri Citra.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, meski aku tidak tahu apa alasan Gusti Putri memarahi aku," jawab Arya.

Rona merah di kulit mulus wajah Putri Citra semakin kentara. Dia sendiri tidak paham dengan apa yang ada di dalam pikirannya. Namun ada satu rasa yang dirasakannya saat ini, dia tidak ingin jauh dari pemuda yang telah menyelamatkan hidup dan masa depannya.

Tidak ingin lebih merasa malu lagi, Putri Citra tiba-tiba berpamitan dan keluar dari ruangan itu tanpa menunggu barang sebentar saja.

1
anggita
like👍, 2x☝☝iklan. untuk dukung novel laga nusantara
anggita
bocah kuckuk🤔🤭😅
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
🚬🗿☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!