"Kamu jadilah ayah dari anakku," ucap Dinia pada stafnya Taran.
🍁🍁🍁
Dinia Kenan, Direktur dari DW Fashion menolak untuk menikah. Hingga dia tanpa sengaja menemukan bayi lelaki yang terbuang. Dinia putuskan membesarkan bayi lelaki itu yang dia beri nama Ditrian.
Dinia mengakui kalau Ditrian adalah anak kandungnya karena tak ingin terpisah dengan anak itu. Hingga waktu berlalu, orang-orang mulai curiga dengan status Dinia yang seorang wanita lajang.
Saingan bisnisnya pun memanfaatkan masalah itu sebagai skandal untuk menghancurkan bisnis Dinia. Untuk menjawab rasa penasaran itu, Dinia meminta salah satu staf kepercayaannya menjadi ayah dari anaknya, Ditrian. Pria bernama Taran yang masa lalunya menjadi misteri.
Meski demi itu semua, Dinia harus pura-pura menikah dengan Taran. Terlebih Taran sangat menyayangi Ditrian seperti anak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elara-murako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Siapa aku?
Taran keluar dari rumah. Ini waktu dia libur. Meski begitu, Ditrian masih saja mengikuti. Anak itu tidak mau meski ibunya mengimingi untuk jalan-jalan ke Playground paling besar di Heren. Jawaban Ditrian selalu uni.
"Ian anak ekelusip. Masa bagi main cama olang. Ogah, Ma!" tolaknya.
Dinia tentu merasa sangat sedih melihat anaknya digendong Taran pergi. "Jaga dili, Ma. Gak lindu Ian. Udah gede Mama. Bisa jaga dili," pesan anak itu.
"Ditrian, bukannya kamu yang butuh perlindungan?" Dinia protes. Wanita itu hanya bisa melambaikan tangan dengan lemas.
"Sabar, Nona. Tuan Ditrian pergi dengan Tuan Taran. Saya yakin semua akan baik-baik saja," saran seorang pelayan.
"Justru karena dia pergi dengan Taran, aku jadi takut. Makin lama Ditrian malah lebih suka dengan Taran dibandingkan denganku." Kecemburuan seorang ibu wajar saja terjadi.
Sedang Ditrian kini duduk di jok depan dengan Taran. Anak itu menyanyi sepanjang jalan. Liriknya selalu berubah setiap dia melihat sesuatu yang menarik minat.
"Ian haus. Minum mana?" tanya Ditrian mengulurkan tangan.
Taran raih tas Ditrian yang ada di atas dashboard lalu berikan botol minuman pada anak itu. Benar saja, Ditrian meneguknya hingga habis.
"Tuan kalau minum bisa sebanya itu, ya? Seperti ikan paus saja," ucap Sanchez memberikan komentarnya. Sayang, dia lupa kalau Ditrian adalah anaknya Dinia. Meski bukan kandung, pola asuh lebih mendominasi.
"Saces, paus bukan ikan. Tulus, Ian gateng gini tega kali Sacen jelek-jelek milip paus!" Ditrian mengomel.
"Sanchez hanya bisa nyengir kuda."
Mereka tiba di atas gunung. Taran dan teman staf khusus lainnya akan bersepeda berkeliling gunung. Tentu saja Ditrian akan ditempatkan di kursi khusus agar bisa dibawa. Meski Taran harus membawa sepeda pelan-pelan.
Turun di vila itu, Ditrian menarik napas. "Segel, Talan. Kayak liat Ian gini ya?" tanya Ditrian.
"Iya. Kalau lihat kamu ingin tertawa, jadi sangat segar," jawab Taran, tidak ingin menyakiti hati anak itu.
Mereka istirahat sejenak. Duduk di teras mereka nikmati minuman dingin dan camilan manis.
"Kalian sudah dengar kabar terbaru? Katanya mobil favorit kita ngeluarin tipe baru. Kecepatannya luar biasa. Aku harap perusahaan beli itu untuk dinas kita," ucap Goul.
"Jangan mimpi. Kecuali Sanchez, aku yakin yang lain tidak akan diberikan. Mereka bisa bangkrut kalau kita terus diistimewakan. Lagipula, karena Chairman diganti, staf Tuan Ernesto banyak yang dialihkan. Masih bisa kerja saja untung," kilah Kendrick.
"Iya juga. Resesi benar-benar membuat banyak yang kehilangan pekerjaan. Aku yakin yang ingin menggantikan kita banyak. Karena itu lebih baik kerja dengan baik," saran Sanchez.
Goul menepuk bahu Taran. "Apa kamu udah nyaman banget jadi ayahnya?" Pria itu menunjuk Ditrian yang tengah berlarian di lapangan.
"Memang kenapa. Dia anak yang baik," jawab Taran.
"Aku dengar katanya kemarin teman satu sekolah kamu datang?" Sanchez pura-pura bertanya. Padahal dia tahu apa yang Dinia lakukan pada perempuan itu.
"Oh iya, katanya dia diberikan pekerjaan oleh Dinia. Di mana itu?" tanya Taran penasaran.
"Di luar kota," jawab Sanchez dengan wajah datar seakan tidak melakukan sesuatu yang salah. Padahal Betty diberikan pekerjaan di salah satu rumah kediaman Kenan, Vila yang terpencil dan jarang dikunjungi.
"Syukurlah. Aku pikir dengan sikap seperti itu, Dinia tidak akan memberikan ampunan. Dia memang baik," puji Taran.
"Jadi sekarang manggilnya Dinia?" Goul menyikut lengan Taran.
"Aku berusaha profesional." Taran menyipitkan mata.
"Papa, Ian kena ini." Ditrian datang memperlihatkan sebuah bunga yang sudah layu.
"Kenapa memang?"
"Ian gak cungaja. Napa bunga mati. Ian sedih kali." Tiba-tiba saja Ditrian menangis.
"Itu bukan peliharaan orang lain. Kamu tidak perlu takut dimarahi," timpal Taran.
Sedetik kemudian Ditrian tersenyum. "Oke gak apa. Ian main lagi."
"Aku pikir dia menangis karena tidak tega. Rupanya gak tega sama diri sendiri," komentar Sanchez.
"Apa yang ingin kamu harapkan dari Ditrian. Dia ini bentuk kecilnya Nona Dinia."
Taran tadinya sangat senang bersepeda dengan Ian. Keliling gunung sekitar sini, mencari mata air dan merasakan oksigen dari pohon-pohon cemara.
Hingga tiba di salah satu lapangan di atas gunung, Taran mendengar percakapan Sanchez dengan Dinia.
"Baik, Nona. Akan saya minta siapkan hidangan untuk Tuan Kris. Apa dia datang dengan Nyonya Lavender?" Sanchez masih saja direpotkan meski sedang liburan. Pria itu menahan sepeda dengan salah satu kakinya.
"Segera."
Taran dekati Sanchez yang baru selesai menelepon. "Ada apa?"
"Tuan Sulivan ingin bertemu dengan Nona. Rencananya akan di kantor. Tapi, pria itu meminta di ruangan lebih pribadi. Mungkin mau membicarakan perasaan mereka," jelas Sanchez.
Taran membalikkan sepeda. Dia langsung mengebut hingga Ditrian berseru senang. "Napa tadi gak gini? Tulus, teljang angina!" Ditrian sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.
Perjalanan panjang yang harusnya ditempuh dengan mobil, Taran lakukan dengan sepeda. Sebelum masuk jalan bebas hambatan, Taran pesan taksi. "Napa kita cini?"
"Kita harus menyelamatkan Mama," jawab Taran.
Tekadnya sudah sangat bulat hingga pria itu tiba di tujuan. Iya, Kris dan Dinia akan bertemu di rumah. Taran turunkan Ditrian di depan pintu. "Miss, bawa Tuan ke kamar," titah Taran.
Ditrian berkacak pinggang. "Ian mau libul napa puang agi! Talan tidak pengetian!" omel Ditrian. Dia masuk kamar dengan kaki yang dihentakkan.
Taran buka pintu ruang kerja Dinia. Perempuan itu tengah duduk saling berhadapan dengan Kris.
"Apa maksud Anda ke sini? Sebelumnya kita sudah sepakat. Kenapa Anda bertemu dengan dia lagi?" tegur Taran.
"Kamu kenapa? Datang tiba-tiba marah," tanya Dinia.
Taran mendekat, dia pegang tangan Dinia. "Apa pantas kamu bertemu dengan lelaki saat suamimu tidak ada?" tegur Taran.
"Tapi kamu tidak perlu berlebihan seperti itu!" tegas Dinia.
"Bukan aku, tapi kamu! Jangan bertindak bodoh. Kalau istrinya tahu, kamu yang disalahkan!" Taran memelototi Dinia.
"Iya, aku salah! Justru aku ingin meluruskan semuanya." Dinia beralasan.
"Masuk kamar kamu!" Taran menarik tangan Dinia.
"Tunggu, jangan kasar padanya!" Kris menghadang Taran.
"Anda bukan siapa-siapa yang berani mengatur istriku!" Taran memberikan penegasan.
"Oke. Anggap begitu, tapi aku ke sini dengan izin Dinia."
"Aku kepala keluarga di sini! Hanya izinku yang bisa Anda gunakan secara sah. Jadi, silakan pergi dari sini sebelum Nyonya Lavender tahu dan mempersulit hidup Dinia!" usir Taran.
Kris terdiam lama. Dia sadar apa yang Taran lakukan benar. Lavender pasti tidak akan diam. Pria itu akhirnya pergi.
"Kenapa kamu kayak gini?" tegur Dinia.
"Aku lakukan ini demi kamu. Bukan karena aku!"
"Iya, kenapa? Siapa kamu di hidupku?" Dinia kembali bertanya.
. d luar galak d dalamnya keras... wah... takut ngajak debatnya juga..🤭😁😁