Rona gadis cantik yang memiliki keberanian dibanding gadis lain, memilih menikmati hidup damai dan menjalankan usaha yang ditinggalkam kedua orangtuanya. Adakalanya setiap sore ia menikmati pemandangan indah berbukitan di belakang desanya dan menemukan sosok lelaki tampan jatuh tepat pada pelukkannya. Aroma tubuh lelaki itu berhasil memikatnya, dan siapa kah lelaki tersebut? dan apakah yang terjadi padanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Luka
Roda yang berjalan dengan kecepatan yang tidak terlalu kencang itu tiba-tiba saja terlepas dari kunciannya. Suara tembakan panah terdengar, seorang kusir terjatuh dan kuda kereta kuda itu berjalan tanpa ada kendali menabrak ke arah pepohonan.
Kereta kuda tersebut sempat terguling ke kanan dan kekiri.
Rona memeluk Emily dengan erat, dan kedua pelayan itu saling memeluk. Setelah kereta terjatuh menabrak pepohonan. Rona melepas pelukannya, terlihat pakaiannya sobek dan mereka terkunci di dalam kereta kuda. Rona berusaha membuka kuncian pintu tersebut namun tidak bisa.
“Sial kenapa ini macet, aduh!” Rona menatap lengannya terlihat darah mengalir dan bajunya sobek.
Dengan tatapan tegang Rona menatap Emily, gadis itu pingsan dan mengeluarkan darah dari dahinya. Wajahnya tampak pucat dan ia menggoyangkan badan Emily.
“Kakak sadarlah?” Namun gadis itu tidak sadar akibat benturan yang cukup keras padahal Rona sudah memeluknya dan melindunginya.
“Haaa… nona, kepala anda berdarah dan bahu anda.” Tangis Rose berusaha berdiri namun kakinya terkilir.
Rona hanya menatap bahunya dan menyeka darah yang mengalir dari kepalanya. Lalu mendang sekuat tenaga pintu itu.
“Bawa kakak Keluar.” Pintanya Pada Rose.
“Baik nona. Lily bangun Lily.” Teriak Rose sambil memeluk Nona Emily.
“Ah kepalaku.” Lily memegang kepalanya yang sedikit terluka dan tangannya sedikit terkilir.
“Bangunlah ayo bantu nona Emily keluar.” Pintanya dengan nada gemetar.
“Nonaku, keretanya terguling.” Dengan sigap Lily memapah namanya dengan bantuan Rose.
Rona yang sudah berada di luar melihat sekitar, matanya tertuju pada kusir yang tidak jauh dari lokasi kereta kuda menabrak.
“Pak pak bangunlah.” Ucap Rona sambil menggoyangkan tubuh kusir tersebut.
Kusir tersebut terjatuh dan terlihat anak panah menembus lehernya. Darah segar mengalir begitu saja. Rona menatap kedua tangannya dengan sedikit gemetar dan berkeringat, matanya tidak percaya atas apa yang ia lihat. Pandangannya sedikit kacau, aroma darah itu sangat menyengat dan membuatnya pusing.
Bukan karena aroma darah itu saja tapi karena ia juga sedikit banyak kehilangan darah. Mata Rona kembali berkunang-kunang dan ia memegangi kepalanya dalam keadaan tersungkur di tanah, hatinya sakit sekali. Bagaimana bisa kejadian ini terjadi.
Fokusnya yang tadinya hilang kini kembali, terdengar suara peperangan tidak jauh dari sana. Suara hentakkan kaki kuda mendekatinya.
Rona mengambil sapu tangan dari sakunya dan mengikatnya di kepalanya, mengambil sebilah belati yang ia selipkan setiap hari di dalam sepatu bootnya.
Rona berdiri mendekati sumber suara dan bersembunyi di balik pepohonan mengendap-endap dengan perlahan.
“Aku tidak bisa mencium dengan baik. Aroma yang ada disini bercampur bau darah.” Gumam Rona melirik sedikit kedepan.
Sebuah anak panah melesat dan dengan sepontan Rona menghindarinya.
“Hampir saja,” Belum lama Rona menghela nafas seseorang berdiri di atas pohon dengan jubah yang menutupi seluruh wajahnya.
Mata Rona menatap dengan nanarnya, lelaki berjuba itu mengambil anak panah di punggungnya dan segera menembakkan nya ke arah Rona.
Anak panah itu melesat dengan cepatnya, Rona melompat dan menghindarinya. Rona sedikit berguling dan kembali melukai lengan dan pundaknya.
Satu hentakkan anak panah itu kembali lagi meluncur ke arahnya, Namun sebuah tembakan pistol dari jauh terdengar dan mengenai dada kiri lelaki berjubah tersebut.
Lelaki itu sempat terjatuh dan berusaha kabur, Nathan mendekat dan berusaha menempatkan senapan kedua di kepalanya sambil menginjak badan lelaki berkerudung tersebut.
“Kena kau.” Ucap Nathan dengan senyuman diujung bibirnya.
Belum sempat senang, kabut tebal menghampiri mereka. Lelaki yang ada di pijakkan Nathan menghilang, dan Nathan terjatuh. Nathan langsung bangkit melindungi Rona dari gas asap kedua yang mungkin beracun.
“Rona…sial gas asap!!” Teriak Nathan berlari bangkit menarik Rona Pada Pelukannya.
Rona tang kala itu tidak bisa berkata-kata dan tak mengerti dengan hal apa yang terjadi hanya memeluk erat belatinya.
“Siap mereka kabur.” Tukas kesal Nathan.
Ekspresi yang tidak pernah Nathan tunjukkan, seolah mata Rona menatap seseorang yang berbeda. Lelaki yang ia kenali itu berbeda dengan lelaki yang selama ini ia lihat.
Nathan masih berlari memeluk Rona, kaki jenjang lelaki itu berlari sangat cepat. Hingga mereka sampai dekat kereta kuda yang terjatuh tersebut. Terlihat Emily masih pingsan ditemani dengan dua pelayan tersbeut. Nathan menurunkan Rona dengan hati-hati.
“Kakak… kakak?” Panggil Rona. Gadis itu masih pingsan.
Nathan mengoyakkan sedikit gaun gadis itu dan membalut kepalanya dengan perlahan.
Suara hentakkan kaki kuda mendekati mereka, seseorang yang dikenali Nathan turund ari kuda.
“Maaf tuan, kami kehilangan mereka.” Seorang pengawal itu menundukkan kepalanya.
“Baiklah, untuk saat ini kita harus kembali.” Nathan membawa tubuh Emily keatas kuda.
“Nathan?” Mata Rona masih tertuju pada Nathan dan Emily.
“Kita pulang dulu, setelah dirumahkan kita bahas. Yang terpenting sekarang Emily. Dia pasti lebih terkejut karena pingsan. Hiyaaa!” Nathan menghempaskan tali kudanya dan berlari menjauh menuju rumah.
Rona tidak bisa berkata-kata atau bertanya lebih jauh, keselamatan kakaknya nomor satu banginya. Emily memiliki tubuh yang kurang sehat sedari kecil, segalanya Bagi Rona maupun Nathan saat ini adalah Prioritas.
“Nona ini kuda anda. Saya akan membawa pelayan tersebut.” Pengawal tersebut menyerahkan kuda Rona.
Rona langsung naik ke kudanya, dia hanya ingin langsung pulang. Rona menatap Rose dan menariknya agar pulang bersamanya.
Pengawal Nathan menunggangi kuda bersama Lily pelayan Emily.
“Nona perlahan saja. Saya akan mengawal anda sampai kediaman White.” Ucap pengawal itu yang mengejar Rona dengan kudanya.
Dalam hati dan pikiran Rona ia tidak bisa lagi memikirkan kejadian yang terjadi barusan. Kejadian yang sangat cepat, bahkan ia sempat merasakan firasat buruk pun saat kereta kuda itu sebelum terbalik. Rona menghela nafas panjang, pinggangnya dipeluk erat nan gemetar dari gadis pelayan di belakangnya.
“Tenanglah Rose kita tidak akan jatuh lagi.” Rona menenangkan Rose yang sama terkejutnya dengan dirinya.
“Saya tidak apa nona.” Tangan Rose masih gemetar hebat.
Nathan yang sampai terlebih dahulu ke kediaman menghebohkan kepala pelayan dan beberapa pelayan disana.
“Tolong antar saya ke kamar Emily.” Pintanya sambil menggendong gadis itu.
“Baik tuan ke arah sini.” Ucap kepala pelayan menunjukkan arah.
Nathan mengikuti langkah kaki kepala pelayan tersebut yang berlari kecil.
“Saya akan menyiapkan air hangat dan memanggil dokter.” Setelah membuka pintu kamar ia pergi.
Nathan langsung masuk dan merebahkan tubuh Emily perlahan. Nathan tersungkur di lantai sambil memegang tangan Emily.
“Padahal aku sudah berusaha melindungi kalian tetap saja kalian celaka.” Gumam Nathan menyesal sambil memegang tangan gadis itu.
Hentakkan kaki itu berlari tegas ke arah kamar Emily bersama Dengan Pelayan Emily yang membawa air kompresan yang diberikan kepala pelayan.
“Nona??” Lily membasuh wajah Emily perlahan.
Wajah cantik nan teduh Emily bagaikan putri tidur yang tak pernah kelihatan lelah.
“Kesini dokter.” Ucap Rona mengantarkan dokter itu ke kamar Emily.
Mata Rona menatap Nathan yang tersungkur memegangi tangan Emily.
Nathan menyikir dari sana dan membiarkan dokter memeriksa Emily.
“Lukanya tidak terlalu parah dia hanya syok. Saya sudah meresepkan obat dan meminumkannya obat. Besok pagi ia akan sadar.” Dokter itu selesai memeriksa Emily.
“Terimakasih dokt.” Ucap bersama Nathan dan Rona.
“Baiklah saya undur diri dahulu.” Ucap dokter keluarga tersebut.
Nathan menatap Rona yang penuh luka, namun gadis itu tak pernah mengeluh sakit ataupun merasa pemah atas keadaan saat ini.
“Semuanya keluar.” Pinta Rona. Pelayan Emily keluar dari sana, terlihat Rose di ujung pintu.
“Maaf nona, saya sudah menyiapkan air mandi anda dan setelah itu saya akan mengobati anda dikamar.” Ucap Rose lalu keluar bersama Lily dan menutup pintu itu rapat-rapat.
Rona duduk di kasur Emily dan memandangi wajah kakaknya tersebut dan mendongak ke arah Nathan dengan wajah serius, alis Rona naik satu keatas.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Rona dengan nada tajam menatap Nathan.