Safia hampir kehilangan kehormatan hanya karena percaya pada lelaki. Kejadian itu menjadi tamparan keras agar Safia berubah jauh lebih baik. Perempuan itu memutuskan berhijab dan fokus memperbaiki diri.
Mengingat manager lama tim keuangan sudah pensiun, pihak perusahaan mengirimkan manager baru yang ditarik dari kantor cabang. Akhmar, pemuda yang sangat menghormati wanita. Bekerja keras untuk kesembuhan sang ibu yang terkena penyakit gagal ginjal. Akhmar bekerja sebagai atasan Safia, mereka sering terlibat interaksi. Terlebih sikap Akhmar yang tegas dan disiplin, sedangkan Safia sering ceroboh dan pelupa.
Bisakah keduanya damai dalam satu atap ketika bekerja?
Bagaimana Safia bisa tahan dengan kedisiplinan dan sikap tegas Akhmar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayo, masuk!
Makan malam dengan tim pun tiba. Safia dan karyawan lain duduk bersama sambil membahas hal-hal menyenangkan. Terutama pada perempuan yang pastinya menggosipkan Pak Akhmar.
"Kamu yang sering dekat banget sama Pak Akhmar. Yakin nggak jatuh cinta sama dia, Fa?" tanya Maria. Semua karyawan tahu jika Safia itu sering dipanggil ke ruangan Pak Akhmar. Mungkin memang tentang pekerjaan, tetapi terkadang dengan waktu cukup lama.
Safia sedang membalikkan daging, melirik Maria. "Astagfirullah, Mar. Aku nggak ada niatan jatuh cinta sama atasan sendiri. Lagian kalau dipikir-pikir, Pak Akhmar itu menyebalkan. Ini pendapatku, ya." Safia tidak pernah mengubah pendapatnya sejak dulu.
Doni tersedak. "Kalau lelaki setampan Pak Akhmar aja disebut menyebalkan, terus seperti aku ini gimana?" Lelaki itu menunjuk dirinya sendiri.
Lily yang duduk di samping Doni tertawa kencang. "Palingan juga disebut penggombal." Suara tawa Lily begitu renyah dan penuh kegembiraan.
Doni melirik sinis Lily. "Kamu tuh tukang ngerayu laki-laki!' Meledek balik Lily.
Maria lebih fokus pada Safia. "Fia, aku beneran, lho!" Suaranya mendadak sedikit kecil. Safia menatapnya. "Kamu sama sekali nggak berdebar kalau dekat sama Pak Akhmar?"
Safia menggelengkan kepala cepat. "Nggak!" Kedua tangannya menyilang juga.
Maria diam. Mengamati Safia, kemudian mengambil segelas teh manis miliknya. Makan malam dengan tim ini cukup menghabiskan waktu sekitar satu jam. Lalu, mereka membubarkan diri satu per-satu, begitu pun dengan Safia. Kendaraan roda empat miliknya pun meluncur bebas dari parkiran kedai bertemakan outdoor tersebut. Di sana banyak sekali pengunjung yang datang dengan keluarga ataupun kerabat, bahkan pasangan. Harganya cukup relatif murah dengan berbagai pilihan menu. Cukup pas untuk kantong karyawan yang tidak terlalu tebal seperti seorang atasan.
Udara malam begitu terasa masuk mobil karena Safia membiarkan jendelanya turun. Sengaja melakukannya agar bisa menikmati. Sesekali melirik ke samping, memperhatikan sekitar.
Baru saja berjalan sekitar lima menit, mendadak mobil berwarna hitam itu mogok di sisi jalan. Safia turun, memeriksa apa yang terjadi dan menemukan satu kendala. "Astagfirullah, kenapa di waktu sekarang?" Ekor mata kanan Safia menelusuri sekitar. Keadaanya memang ramai, tetapi tidak ada yang bisa dimintai pertolongan. Wanita itu melirik arloji di tangan, pukul sembilan.
Safia kembali ke mobil, berniat menghubungi montir langganan. Barangkali bisa diajak bekerja sama. Selayaknya skenario yang sudah diatur oleh sutradara handal, ponsel Safia pun ditemukan dalam keadaan mati tak berdaya. Helaan napas perempuan itu terdengar jelas, pasrah. "Bagaimana ini?" Rasanya tidak mungkin mendorong. Ini mobil, bukan motor. Terlebih tidak ada bengkel mobil yang buka selarut ini.
Setengah jam dalam kebimbangan, tiba-tiba sebuah mobil hitam yang dikenalnya berhenti tepat di depan mobil Safia. Akhmar pun turun dari sana dengan menggunakan pakaian biasa saja. Celana training berwarna hitam serta kaos biru muda polos berlengan pendek. Dari penampilannya itu, Safia bisa menebak jika Akhmar sudah pulang ke rumah.
"Assalamualaikum." Akhmar menghampiri dan menyapa Safia.
"Wa'alaikum salam," jawab Safia.
"Ada apa dengan mobilmu?" Dari kejauhan saja, siapa pun yang melihat akan tahu jika Safia sedang kesulitan dengan kendaraan beroda empat itu.
Sejujurnya Safia lelah bertemu Akhmar. Bosan, tepatnya. Namun, ia tetap menjelaskan akar masalah.
Akhmar mengecek sendiri, benar masalahnya di sana. "Kamu mungkin perlu bantuan montir." Lelaki itu memasukan satu tangan ke saku celana traning. "Apa ada yang bisa dihubungi?"
Safia menggelengkan kepala cepat. "Hp saya mati, Pak."
Akhmar bergeming. Tanpa diminta mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. "Ada mobil mogok di jalan Kusuma. Saya akan kirim plat nomornya dan foto mobil. Tolong diperbaiki, nanti saya ambil sendiri ke sana." Kemudian, Akhmar menutup telepon. Menatap Safia. "Ayo, masuk!"
Otomatis Safia mundur dua langkah. "Masuk ke mana, Pak?"
Tatapan Akhmar tajam. Lelaki itu menyunggingkan senyuman kecil. "Terserah kamu mau ke mana, saya ikuti."
Kerjaan siapa la ini?(ya Author laa🤭🤣)🙏
Buat Babangku mumet aja...
Lanjutttt Kak Semungut!!🥰💪
Dengar gak???😂😂🤣
Sing sabar yoooo
Lanjutttt kak.....😘🥰💪
akhirnya up lagi😍 next
Kpn up nya nih???
Kangen Akhmar.....
Jgn marah marah mulu..
Nnti cpt tuiirrrr.. 😊💪
Akhmar terlalu dalam.....🤔🤕
Lanjuttttt Thor 💪🏃
La
MaasyaAllah Akhmar...
Gentle Kerreeenn......
😍😍🌹💪