NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10.Rahasia mulai terungkap.

Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa hening namun penuh dengan beban pikiran yang tak terucapkan. Sekar sesekali melirik ke arah Raisa yang menatap kosong ke luar jendela, berusaha memecah keheningan dengan menceritakan hal-hal ringan tentang keindahan hutan yang mereka lewati, namun tak satu pun kata yang benar-benar masuk ke telinga Raisa. Pikiran gadis itu sudah tertambat sepenuhnya pada satu nama yang terus berputar tak henti di kepalanya: Arya. Nama yang selalu disebut dengan penuh rasa hormat, namun tak pernah ada satu orang pun yang berani menjelaskan siapa sosok itu sebenarnya.

Tak sanggup lagi menahan rasa penasaran yang semakin meluap, Raisa akhirnya memberanikan diri membuka suara dengan nada serius yang tak bisa ditawar lagi. “Sekar, boleh aku bertanya sesuatu yang sangat penting bagiku?”

Sekar menoleh sekilas, lalu kembali memusatkan perhatiannya pada jalanan berkelok yang licin sisa hujan tadi pagi. “Tentu saja, Nona. Apa saja yang ingin Nona ketahui? Saya akan berusaha menjawab sejauh kemampuan saya.”

“Tentang Arya,” jawab Raisa tegas, matanya menatap tajam ke arah pelayan setianya. “Siapa sebenarnya dia? Kenapa kakekku, Pak Munir, dan semua orang di desa selalu menyebut namanya dengan penuh penghormatan seolah dia penguasa di sini, tapi tak satu pun yang berani menjelaskan jati dirinya? Dan kenapa dia harus tinggal terisolasi di lantai dua yang dilarang keras untuk didekati? Apa rahasia besar yang disembunyikan di balik semua ini?”

Wajah Sekar seketika berubah pucat pasi, jari-jarinya yang memegang setir mencengkeram kuat hingga buku jarinya memutih. Gadis itu menelan ludah dengan susah payah, tampak berjuang mengatur napas sebelum akhirnya menjawab dengan suara bergetar seolah ketakutan luar biasa. “Saya... saya sungguh tidak tahu banyak hal itu, Nona. Tuan Raden hanya berpesan berulang kali kepada kami semua untuk hormati Tuan Arya, jangan pernah mengganggu ketenangan beliau, dan jangan pernah mencoba mencari tahu hal-hal yang bukan hak kami ketahui. Itu saja... itu saja yang saya perintahkan untuk saya tahu. Selebihnya saya tidak berani bertanya lebih jauh, apalagi mendengar penjelasan yang tak semestinya saya dengar.”

Raisa menghela napas panjang mendengar jawaban yang samar itu. Dari raut wajah yang penuh ketakutan dan nada bicara yang gemetar, Raisa bisa menyimpulkan satu hal dengan pasti yaitu Sekar memang tidak mengetahui kebenaran sepenuhnya, atau lebih tepatnya ia sengaja dijauhkan dari rahasia itu demi keselamatannya sendiri. Berarti satu-satunya tempat di mana ia bisa menemukan jawaban yang utuh dan jujur bukanlah dari mulut orang lain, melainkan dari dalam rumah besar ini sendiri—tempat di mana kakeknya menyimpan seluruh jejak sejarah dan rahasia terbesar keluarganya. “Baiklah, aku mengerti,” ucapnya pelan kembali menatap pepohonan yang berlalu-lalang. “Tapi ketidaktahuan kalian bukan berarti aku harus diam saja. Aku adalah cucu kandungnya, dan berhak mengetahui segala hal tentang keluargaku.”

Tak lama kemudian, mobil putih antik itu kembali melaju perlahan memasuki halaman rumah yang megah dan sunyi senyap. Sekar memarkirkan kendaraan dengan hati-hati, sementara dari balik kegelapan lantai dua yang hanya diterangi cahaya remang, sosok yang tak terlihat mata biasa kembali melesat masuk ke ruang pribadinya secepat kilatan api, disambut oleh Jatmika yang sudah menunggu dengan sikap penuh hormat.

“Nona Raisa telah pulang dengan selamat, Tuan. Namun ada perubahan besar pada perasaannya,” lapor Jatmika berbisik rendah.

“Aku sudah merasakannya sejak tadi,” jawab Arya singkat, matanya menatap tajam ke arah jendela yang menghadap ke halaman depan. “Rasa penasarannya kini telah berubah menjadi tekad yang kuat, bercampur dengan kemarahan yang tak lagi bisa ditahan.”

Keesokan paginya berjalan begitu tenang di permukaan. Setelah menyelesaikan sarapan sederhana namun lezat, Raisa duduk santai di ruang keluarga yang luas dan mewah, memegang secangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap dan sepiring biskuit renyah di sampingnya. Di hadapannya, televisi layar lebar yang sebesar layar bioskop memutar film komedi lama yang sempat membuatnya tertawa terbahak-bahak sejenak melupakan segala beban pikiran yang membebani dadanya. Namun ketenangan itu tak bertahan lama, terpecah saat Sekar datang menghampiri dengan langkah ringan dan sopan.

“Maaf mengganggu waktu santai Nona. Izinkan saya pergi sebentar ke pasar desa. Ternyata ada satu jenis bumbu yang tadi saya beli salah jenisnya, takutnya mengganggu rasa masakan Nona, jadi saya ingin segera menukarnya sekarang juga,” ucap Sekar meminta izin dengan sopan.

“Tentu saja, pergilah. Hati-hati di jalan, jangan terburu-buru,” jawab Raisa santai sambil tersenyum tipis.

Suara deru mesin mobil terdengar perlahan menjauh dari halaman belakang, meninggalkan rumah besar itu kembali sunyi senyap seolah tak berpenghuni. Hanya terdengar suara sapu lidi yang beradu dengan tanah halaman depan, dilakukan oleh Pak Budi yang setia merawat tempat itu setiap hari. Kini benar-benar sendirian Raisa di dalam rumah itu, dan di saat itulah tekadnya kembali menguat sepenuhnya. Ia tahu ini adalah waktu yang tepat untuk mencari tahu kebenaran yang selama ini tertutup rapat oleh semua orang.

Langkah kakinya ringan namun mantap, bergema pelan di lantai marmer dingin saat ia melangkah menuju ruang kerja pribadi mendiang kakeknya yang terletak di sayap kanan rumah. Pintu kayu besar berukir naga itu terbuka sedikit, menyisakan celah gelap yang seolah mengundang untuk masuk. Dengan napas yang ditarik dalam-dalam, Raisa mendorong pintu itu perlahan, lalu menyalakan lampu utama yang tergantung di tengah ruangan. Cahaya kuning hangat seketika menerangi isi ruangan itu, dan Raisa terpukau tak percaya. Ruangan ini bukan sekadar tempat bekerja seperti pada umumnya, melainkan sebuah museum sejarah yang utuh dan terawat dengan sangat baik. Dinding-dindingnya dipenuhi rak buku raksasa yang menjulang hingga ke langit-langit tinggi, memuat catatan tertulis sejak zaman penjajahan Belanda, masa pendudukan Jepang, hingga masa kemerdekaan. Kertas-kertas yang sudah menguning dan rapuh dimakan usia pun masih tersusun rapi di dalam map kulit yang sudah berkerut, begitu pula lukisan-lukisan antik yang menggambarkan sosok leluhur keluarganya dengan wajah yang penuh wibawa.

“Di sini... pasti di sini aku menemukan jawaban yang selama ini dicari semua orang tapi tak berani diungkap,” bisiknya pelan sambil menyusuri setiap baris rak buku dengan teliti.

Tangannya berhenti pada sebuah buku tebal bersampul kulit hitam legam yang sudah mengelupas di beberapa bagian sudutnya, bertuliskan nama “Keluarga Margono” dengan tinta emas yang sudah mulai pudar warnanya. Ia mengangkat buku itu yang terasa sangat berat seolah memuat ribuan tahun perjalanan sejarah, lalu membawanya kembali ke ruang keluarga untuk dibaca dengan tenang. Ia menutup kembali pintu ruang kerja itu perlahan seolah takut mengganggu kesunyian yang ada di dalamnya, lalu duduk kembali di sofa empuk sambil mulai membalik halaman demi halaman buku tua itu dengan hati-hati.

Isinya menceritakan masa lalu yang kelam dan penuh misteri. Diceritakan bahwa berabad-abad silam, terjadi kebakaran dahsyat yang melahap habis seluruh wilayah Kerajaan Kepatihan beserta seluruh penghuninya. Hanya satu orang leluhur keluarga Margono—kakek buyut Raisa—yang selamat dari peristiwa mengerikan itu, ditemukan dalam keadaan kritis dan dirawat oleh seorang pria misterius bernama Arya Wiraraja. Ternyata, setiap keturunan Margono memiliki takdir yang tidak dimiliki manusia biasa, mereka ditakdirkan sebagai wadah penyimpanan inti kekuatan sakti yang tersisa dan menjaga keseimbangan alam di wilayah yang telah musnah itu. Selama ada keturunan yang memegang kekuatan itu, mereka tidak akan bisa mati atau terluka parah, dan luka apa pun akan sembuh seketika dalam sekejap mata. Namun kekuatan agung itu hanya akan berpindah ke keturunan berikutnya saat ia menginjak usia tepat tujuh belas tahun. Saat itulah pemegang sebelumnya akan kembali menjadi manusia biasa, menua, dan meninggal secara wajar seperti manusia pada umumnya.

Raisa menutup buku itu dengan kasar hingga menimbulkan bunyi dentuman pelan, napasnya memburu menahan emosi yang meluap-luap bercampur kebingungan yang mendalam. “Jadi begini ceritanya... saat aku menginjak usia tujuh belas tahun kemarin, kekuatan itu berpindah dari kakekku kepadaku! Itulah sebabnya kakek kembali menjadi manusia biasa, menua, dan akhirnya meninggal! Dan kalau begitu... aku juga harus memiliki keturunan agar siklus ini terus berlanjut? Atau aku akan terjebak selamanya dengan kekuatan ini tanpa bisa mati?” serunya penuh kemarahan yang tak lagi bisa dibendung. “Cerita macam apa ini?! Kenapa harus aku? Bukankah kakek masih punya kerabat jauh yang lain? Kenapa beban takdir yang tak masuk akal ini harus jatuh tepat ke pundakku yang tidak tahu apa-apa tentang dunia gaib dan kekuatan sakti macam ini?!”

Di lantai dua yang sunyi, Arya dan Jatmika terus mengamati setiap gerak-gerik Raisa lewat pantulan cermin gaib yang memantulkan segala kejadian di bawah tanpa terlihat dari luar. Jatmika mengerutkan kening melihat kemarahan yang meluap-luap dari gadis itu.

“Sepertinya Nona Raisa sedang sangat marah dan kecewa sekali, Tuan. Apakah aku harus menjelaskan semuanya sekarang?” tanya Jatmika penuh kekhawatiran.

“Aku tahu,” jawab Arya datar namun nada bicaranya menyiratkan rasa iba yang mendalam yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. “Namun itulah takdir yang sudah tertulis sejak leluhur pertama mereka menjalin perjanjian. Tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang mampu mengubahnya.”

Belum sempat Arya melanjutkan pikirannya, langkah kaki Raisa terdengar memanjat tangga dengan hentakan yang keras, berat, dan penuh kemarahan yang meledak-ledak.

“Arya! Keluar kau sekarang juga!” bentaknya dengan suara menggelegar memecah keheningan lantai dua yang biasanya sunyi. “Aku tidak peduli kau siapa! Hantu, jin, makhluk halus, atau apa pun itu! Keluar dan jelaskan semua rahasia ini padaku sekarang! Jika kau tidak mau keluar sendiri, jangan salahkan aku jika lantai dua ini akan kucabik-cabik hingga rata dengan tanah! Kita bisa tinggal bersama di satu kamar jika kau memang begitu pengecut untuk menampakkan diri! Cepat keluar sekarang!”

Mendengar tantangan yang begitu berani dan menghina tuannya, Jatmika yang sejak tadi sudah menahan kesal langsung melangkah maju dengan niat memberi pelajaran yang pantas bagi gadis itu. Sebelum Arya sempat menahannya atau melarang, Jatmika sudah berubah wujud menjadi aslinya. Di tengah kegelapan lorong yang remang, terdengar suara gesekan sisik yang kasar bergesekan dengan dinding batu yang dingin, mendekat perlahan namun pasti ke arah Raisa yang berdiri tegak menantang kegelapan.

Raisa meraih sebuah guci keramik besar bermotif naga yang tergeletak di meja sudut lorong, mengangkatnya tinggi-tinggi dengan tangan yang gemetar bukan karena takut, melainkan karena amarah yang meluap. “Jangan hanya bersembunyi di balik bayangan dan mencoba menakutiku! Ayo keluar jika kau benar-benar pria yang berani menghadapi konsekuensi perjanjianmu!”

Tiba-tiba dari kegelapan pekat itu muncul kepala raksasa seekor ular putih yang besarnya dua kali lipat dari tubuh manusia dewasa, mulutnya terbuka lebar memperlihatkan taring tajam yang berkilau seakan siap menelan gadis itu bulat-bulat dalam sekejap. Raisa terbelalak kaget, jeritan ketakutan hampir lolos dari kerongkongannya, namun refleksnya lebih cepat—ia mengayunkan guci itu sekuat tenaga tepat menghantam kepala makhluk itu hingga terdengar bunyi benturan keras.

Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, Raisa berbalik badan hendak lari turun secepat mungkin, namun tiba-tiba ia menabrak sesuatu yang keras, kokoh, dan hangat persis di belakangnya. Ia mendongak tergesa-gesa, dan di sana berdiri sosok pria yang selama ini ia cari namun tak pernah ia temui wajahnya. Dalam keadaan panik, bingung, dan emosi yang tak terkendali, tangan Raisa bergerak sendiri mendaratkan tamparan keras yang melengking di pipi pria itu hingga membuat kepala Arya terayun ke samping.

“Kau... kau pengecut brengsek!” teriaknya histeris, lalu berbalik kembali dan berlari sekuat tenaga menuruni tangga menuju kamarnya sambil terus terisak campur aduk antara takut dan marah.

Begitu masuk ke dalam kamar, Raisa langsung mengunci pintu dengan tangan gemetar hebat, lalu menyandar punggungnya di balik pintu sambil menangis sejadi-jadinya. “Rumah ini benar-benar neraka berhantu! Aku tidak bisa tinggal di sini selamanya bersama makhluk aneh dan tak masuk akal seperti kalian! Aku harus pergi... aku harus pergi sekarang!”

Dengan tangan yang masih gemetar, ia segera meraih koper besar yang baru saja ia beli kemarin, mengisinya dengan pakaian dan barang-barang miliknya secepat mungkin tanpa memilah apa saja yang masuk. Namun saat ia hendak membuka pintu untuk melarikan diri, gagang pintu itu terasa terkunci rapat seolah dilas tembaga yang tak bisa digerakkan sedikit pun. Ia berlari ke arah jendela besar yang menghadap ke halaman depan, namun jendela itu pun tak mau terbuka meski sudah didorong sekuat tenaga. Dari balik kaca bening, ia melihat Pak Budi yang sedang menyapu halaman dengan tenang, ia berteriak memanggil nama pria itu sekuat tenaga sambil melambaikan tangan, namun tak ada satu pun suara yang keluar dari mulutnya seakan ada penghalang tak kasat mata yang menahan suaranya agar tak terdengar ke luar.

Di luar kamar, Arya berdiri diam menahan perih di pipinya yang merah bekas tamparan, namun tak ada sedikit pun kemarahan yang terlukis di wajahnya yang tenang. “Jatmika,” ucapnya pelan namun tegas.

“Siap, Tuan,” jawab Jatmika yang sudah kembali wujud manusia dengan wajah penuh penyesalan.

“Buatlah penghalang pelindung agar suara apa pun dari dalam kamar itu tidak terdengar ke luar. Dan pastikan tidak ada satu pun makhluk atau manusia yang mampu membuka pintu itu selain dengan izinku secara langsung,” perintah Arya dengan nada yang tak bisa dibantah.

“Baik, Tuan. Segera saya laksanakan.”

Di dalam kamar, Raisa semakin panik dan tak berdaya. Ia memukul-mukul pintu dengan tangan, bahu, hingga bahunya terasa perih, mencoba mendobraknya sekuat tenaga, namun pintu itu tetap tak bergerak sedikit pun. Hingga akhirnya ia meraih kursi meja rias yang berat, hendak menghantam kaca jendela itu hingga pecah. Namun tepat saat ia mengangkat kursi itu tinggi-tinggi, lampu-lampu di kamar itu berkedip mati hidup berulang kali dengan cepat dan tak menentu, membuatnya tersentak kaget dan refleks menjatuhkan kembali kursi itu ke lantai dengan bunyi dentuman keras. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, jantungnya berdegup kencang seolah mau meledak. Ia sadar sepenuhnya... ia telah terjebak di dalam sini, terkurung dalam rumah yang menyimpan ribuan rahasia kelam, bersama makhluk yang tak pernah ia bayangkan ada di dunia ini.

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!