Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.
Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.
Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.
Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 : Perhatian Dokter Arga
Beberapa saat kemudian...
Pintu mobil tertutup perlahan.
Buk...
Arga memutar kunci kontak, tetapi ia tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia membiarkan mesin menyala, memberi waktu agar Winarsih sedikit menenangkan diri.
Di dalam mobil, suasana begitu hening. Winarsih duduk menundukkan kepala. Kedua tangannya menggenggam erat amplop cokelat yang kini sudah sedikit kusut. Air mata terus mengalir tanpa mampu ia bendung.
Isaknya terdengar lirih, namun cukup untuk membuat hati siapa pun yang mendengarnya ikut terasa sesak. Arga melirik sekilas ke arahnya, ia tidak segera bertanya. Menurutnya, saat ini Winarsih lebih membutuhkan seseorang yang mau menemaninya dalam diam daripada memaksanya berbicara.
Beberapa menit berlalu.
Tangis Winarsih justru semakin pecah. "Kenapa..." bisiknya dengan suara serak. "Kenapa Mas Benni tega melakukan ini kepada saya, Dok?"
Arga tetap diam, membiarkannya melanjutkan.
"Saya hanya ingin mendengar penjelasan langsung darinya." Winarsih mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Kalau memang benar Mas Benni sudah tidak menginginkan saya lagi... saya hanya ingin mendengar langsung dari mulut Mas Benni sendiri."
Dadanya kembali berguncang menahan tangis. "Saya tidak pernah meminta dia kembali kepada saya. Saya juga tidak pernah berniat memaksa." Ia menunduk semakin dalam. "Saya cuma ingin tahu... apa salah saya."
Suara itu terdengar begitu rapuh hingga membuat Arga menarik napas panjang. Dengan tenang ia mengambil kotak tisu yang berada di dekat tuas persneling, lalu meletakkannya di pangkuan Winarsih.
"Mbak... tisunya."
Winarsih mengangguk kecil. "Terima kasih, Dok."
Ia mengambil beberapa lembar tisu lalu mengusap wajahnya yang basah.
Arga baru membuka suara beberapa saat kemudian. "Mbak Winarsih."
Winarsih hanya menatap Arga dengan mata yang masih basah.
"Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Mbak dan Mas Benni."
Winarsih kembali menundukkan kepala.
"Karena itu saya tidak ingin menyimpulkan apa pun." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Tapi satu hal yang saya yakin... kalau memang Mbak ingin mencari kebenaran, jangan sampai Mbak kehilangan harga diri."
Winarsih terdiam.
"Mbak sudah berusaha datang dengan baik-baik. Mbak juga sudah meminta dengan sopan." Arga menatap lurus ke depan. "Kalau tetap diperlakukan seperti tadi, memaksa bertahan di sana hanya akan membuat Mbak semakin terluka."
Air mata Winarsih kembali mengalir. "Saya... saya hanya tidak ingin semuanya berakhir dengan kesalahpahaman, Dok."
"Saya paham." Arga mengangguk pelan. "Dan saya akan membantu Mbak sebisa saya."
Winarsih menatap Arga dengan mata sembap. "Dokter... benar mau membantu saya?"
"Tentu." Jawaban Arga singkat, tetapi terdengar mantap. "Kalau memang Mas Benni belum bisa dihubungi melalui Bu Sulastri, kita cari cara lain."
"Kita?"
Arga tersenyum tipis. "Iya. Saya tidak bisa menjanjikan hasilnya. Tapi saya akan berusaha membantu Mbak mencari jalan untuk menghubungi Mas Benni secara baik-baik."
Mendengar ucapan itu, Winarsih kembali menitikkan air mata. Namun kali ini, air mata itu bukan hanya karena kesedihan. Di tengah rasa putus asa yang sejak tadi menghimpit dadanya, akhirnya ada seseorang yang bersedia mempercayainya tanpa menghakimi dan tanpa meminta apa pun sebagai balasan.
Arga kemudian menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan rumah Sulastri. Di kaca spion, rumah yang sedang direnovasi itu semakin lama semakin menjauh.
Sementara di dalam hati Winarsih, masih tersimpan satu harapan yang belum padam. "Mas Benni... semoga masih ada kesempatan bagiku untuk menjelaskan semuanya."
Mobil SUV abu-abu metalik itu melaju perlahan meninggalkan rumah Sulastri. Suasana di dalam mobil kembali hening. Hanya suara mesin dan embusan pendingin udara yang terdengar mengisi ruang di antara mereka.
Winarsih masih memeluk tas kainnya erat. Sesekali ia mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipinya.
Arga tetap fokus mengemudi. Beberapa saat kemudian, ia memecah keheningan.
"Mbak Winarsih."
"Iya, Dok?" jawab Winarsih lirih.
"Tadi Mbak bilang hanya ingin berbicara langsung dengan Mas Benni."
Winarsih mengangguk pelan. "Iya, Dok. Saya hanya ingin mendengar langsung darinya. Kalau memang Mas Benni sudah tidak menginginkan saya... saya akan menerimanya."
Arga menganggukkan kepala. "Kalau begitu, mungkin masih ada cara."
Winarsih menoleh dengan cepat. "Cara?"
"Saya punya beberapa teman dan rekan kerja yang sekarang bertugas di Jepang. Ada yang bekerja di rumah sakit, ada juga yang membantu mengurus tenaga kerja Indonesia di sana."
Mata Winarsih mulai berbinar meski masih dipenuhi air mata. "Benarkah, Dok?"
"Kalau Mbak bisa memberikan identitas Mas Benni selengkap mungkin, saya akan mencoba meminta bantuan mereka untuk mencari informasi kontak yang bisa dihubungi."
Winarsih langsung mengusap air matanya. "Saya ingat nama lengkap suami saya, Dok."
"Siapa?"
"Benni Ardiansyah."
Arga mengangguk pelan sambil mengingat nama itu. "Ada informasi lain? Misalnya nama perusahaan tempatnya bekerja atau daerah tempat tinggalnya di Jepang?"
Winarsih menggeleng pelan. "Saya tidak tahu, Dok. Selama ini semua kabar selalu melalui Bu Sulastri. Saya tidak pernah diberi alamat ataupun nomor telepon Mas Benni."
Arga menarik napas pelan. "Tidak apa-apa. Nama lengkap sudah bisa menjadi awal. Nanti saya coba menghubungi teman-teman saya. Mudah-mudahan mereka bisa membantu mendapatkan nomor telepon atau setidaknya informasi tempat Mas Benni bekerja."
Mata Winarsih kembali berkaca-kaca. "Dokter... terima kasih banyak."
Arga tersenyum tipis. "Jangan berterima kasih dulu. Saya belum tentu berhasil."
"Tapi Dokter sudah mau membantu saya. Itu saja saya sudah sangat bersyukur."
Arga hanya mengangguk kecil.
Mobil terus melaju melewati hamparan sawah yang mulai diterpa sinar matahari pagi. Tak lama kemudian, bangunan Pabrik Roti Juragan Warso mulai terlihat dari kejauhan.
"Mbak kerjakan." ujar Arga.
Winarsih tersentak. Ia hampir lupa kalau pagi itu masih harus bekerja. "Iya, Dok."
Beberapa menit kemudian...
Mobil berhenti di depan gerbang pabrik. Arga turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Winarsih.
"Hati-hati, Mbak."
"Terima kasih."
Winarsih melangkah turun. Sebelum masuk ke area pabrik, ia sempat menoleh ke arah Arga. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan.
"Kenapa Dokter begitu baik kepada saya? Kenapa Dokter bisa datang tepat di rumah Bu Sulastri?"
Namun melihat Arga yang sesekali melirik jam tangannya, Winarsih mengurungkan niatnya bertanya.
Arga tersenyum ramah. "Mbak kerja saja dulu. Nanti saya kabari kalau sudah mendapat informasi dari teman saya."
"Iya, Dok."
Winarsih membungkukkan badan sedikit sebagai tanda hormat. "Terima kasih."
Arga hanya mengangguk, lalu kembali masuk ke dalam mobilnya.
Brumm...
SUV abu-abu metalik itu perlahan meninggalkan halaman Pabrik Roti Juragan Warso menuju Puskesmas Sekar Sari.
Sementara Winarsih berdiri beberapa saat memandangi mobil yang semakin menjauh. Di dalam hatinya muncul sebuah pertanyaan yang belum sempat ia ucapkan.
"Mengapa Dokter Arga begitu tulus menolongku, padahal kami baru saling mengenal?"
Pertanyaan itu terus berputar di benaknya saat ia melangkah masuk ke dalam pabrik.