NovelToon NovelToon
Suamiku yang "Gila" Ternyata CEO Dingin

Suamiku yang "Gila" Ternyata CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Identitas Tersembunyi / Psikopat itu cintaku / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6: Panggil Aku Kakak Ipar

"Koh Rey sudah tidur. Ada apa, Bran?"

Wajah Brandon berubah sebelum ia sempat menjawab.

Hanya satu panggilan itu, Koh Rey, sudah cukup untuk mengingatkan posisi mereka sekarang. Reynard adalah kakaknya. Keira adalah istri Reynard. Dan Brandon, pria yang dua hari lalu masih dijadwalkan berdiri di altar bersama Keira, malam ini hanya seorang adik ipar yang datang membawa koper.

Tangannya yang menggenggam gagang koper mengencang.

"Aku cuma mengantar barangmu," katanya akhirnya.

"Terima kasih. Taruh di sini."

Keira mengulurkan tangan untuk mengambil koper, tetapi Brandon tidak segera melepasnya. Ia menatap wajah Keira, mencari sesuatu yang dulu mudah ia temukan. Kelembutan. Kegugupan. Sisa kebiasaan mencintai.

Ia tidak menemukan apa pun.

"Keira, kita perlu bicara."

"Tidak ada yang perlu dibicarakan malam ini."

"Aku tahu aku salah." Brandon melangkah setengah masuk ke teras. "Aku sudah minta maaf. Aku juga sudah kena marah Papa. Semua orang menatapku seperti aku penjahat."

Keira memiringkan kepala. "Kamu ingin aku menghiburmu?"

Brandon tercekat. "Bukan begitu."

"Lalu?"

Ia menelan ludah. "Aku hanya ingin kamu tahu, antara aku dan Celine itu tidak sesederhana yang kamu pikir. Aku bingung. Aku merasa tertekan oleh pernikahan kita. Semua orang terus membicarakan aliansi keluarga, saham, nama baik. Celine ada di sana saat aku merasa..."

"Kesepian?"

Brandon diam. Kata itu terdengar buruk setelah keluar dari mulut Keira.

"Menarik," lanjut Keira. "Kamu kesepian, jadi kamu masuk kamar dengan adikku. Aku dikhianati, jadi aku menikah dengan kakakmu. Sepertinya semua orang memang punya cara masing-masing untuk mengatasi tekanan."

"Jangan samakan."

"Aku tidak menyamakan. Aku hanya menunjukkan mana tindakan yang punya akibat."

Brandon menatapnya dengan mata memerah. "Kamu sengaja memilih Koh Rey untuk menghukumku."

"Mungkin." Keira mengambil koper dari tangannya dengan satu tarikan. "Tapi setidaknya hukumannya sah."

Dari celah pintu kamar, sebuah titik merah kecil pada kamera tersembunyi menyala tanpa suara.

Di dalam, Reynard duduk di kursi rodanya, tidak tidur sama sekali. Layar tablet kecil di pangkuannya menampilkan teras Pavilion. Wajah polosnya hilang. Matanya dingin saat Brandon berdiri terlalu dekat dengan Keira.

Brandon menahan koper agar tidak lepas. "Keira, aku masih peduli padamu."

Keira menatap tangan Brandon yang masih menggenggam gagang koper. "Lepaskan."

"Dengarkan aku dulu."

"Lepaskan, Bran."

"Aku tahu kamu marah, tapi menikah dengan Koh Rey bukan jawaban. Kamu tidak tahu hidup bersama orang seperti dia akan seperti apa. Dia tidak bisa melindungimu. Dia bahkan tidak bisa..."

Keira menarik koper kuat-kuat. Brandon refleks meraih lengannya.

Gerakan itu terjadi cepat.

Keira memutar pergelangan tangan, menggeser posisi kaki, lalu melepaskan cengkeraman Brandon dengan teknik sederhana yang ia pelajari bertahun-tahun lalu. Tubuh Brandon terdorong mundur. Ia hampir kehilangan keseimbangan dan menabrak pot kering di samping teras.

Brandon menatapnya kaget.

Keira tidak terlihat puas. Ia justru semakin dingin.

"Sekarang aku kakak iparmu. Bersikaplah yang pantas."

Kalimat itu lebih tajam daripada tamparan.

Di layar tablet, tangan Reynard yang memegang Rubik berhenti. Sudut bibirnya naik tipis, tetapi matanya masih tertuju pada Brandon.

Brandon berdiri tegak dengan wajah memerah. "Kamu berubah."

"Akhirnya kamu sadar."

"Keira..."

"Pulang." Keira menaruh koper di belakang kakinya. "Kalau besok kamu masih ingin membawa alasan, simpan untuk Celine. Dia lebih suka mendengar cerita yang membuat dirinya terlihat seperti korban."

Brandon seperti ingin membalas, tetapi dari arah bangunan utama terdengar suara langkah pelayan. Ia menahan diri, merapikan kemejanya, lalu berkata pelan, "Kamu akan menyesal."

"Aku sudah pernah menyesal karena memilihmu." Keira menutup pintu setengah. "Tidak akan dua kali."

Pintu tertutup.

Keira berdiri beberapa detik di baliknya. Napasnya tidak berat, tetapi pundaknya terasa kaku. Ia tidak sedih. Bukan lagi. Hanya ada rasa lelah melihat orang yang pernah ia percaya ternyata begitu dangkal saat kehilangan kendali.

Di luar, langkah Brandon menjauh dengan bunyi kasar di lantai batu. Keira tidak mengejarnya. Ia malah menunduk melihat bekas merah tipis di lengannya, tempat jari Brandon tadi menekan terlalu keras.

Bekas itu kecil, tetapi cukup untuk mengingatkannya bahwa rasa bersalah pria itu masih lebih besar daripada rasa hormatnya.

Di kamar, layar tablet memperbesar gambar lengannya.

Tatapan Reynard berhenti di bekas merah itu. Jari-jarinya mengusap sisi Rubik satu kali, pelan, nyaris lembut. Lalu ia mengetuk layar dan mematikan suara dari kamera teras. Brandon sudah pergi, tetapi nama itu tersimpan di kepalanya seperti jarum kecil.

Brandon masih merasa berhak menyentuh Keira.

Tidak apa-apa.

Orang yang terlalu yakin pada haknya biasanya paling mudah dibuat kehilangan semuanya.

"Kei?"

Suara pelan itu datang dari kamar.

Keira menoleh dan melihat Reynard muncul di ambang pintu, rambutnya masih kering, wajahnya tampak mengantuk. Ia memeluk Rubik di dada.

"Bangun?" tanya Keira.

"Berisik."

"Maaf. Aku akan bicara lebih pelan."

Reynard menatap koper putih itu, lalu pintu. "Brandon?"

"Iya. Mengantar koper."

"Tidak suka."

Keira hampir tersenyum. "Aku juga tidak suka."

Reynard memutar kursi rodanya masuk kembali ke kamar, tetapi ketika Keira mengangkat selimut untuk kembali ke sofa, ia berhenti.

"Kei tidur di luar?"

"Iya. Sofa memang keras, tapi cukup."

"Tidak mau."

Keira mengira ia tidak suka ditemani. "Tenang saja, aku tidak akan masuk kamarmu."

Reynard menggeleng. Bibirnya mengerucut, ekspresi yang sejak siang sudah mulai ia pakai sebagai senjata. "Sofa luar jauh. Gelap."

"Aku tidak takut gelap."

"Rey takut."

Keira terdiam.

Ia menatap ruangan kusam itu, jendela yang menghadap tembok, lampu kecil yang berkedip sesekali. Untuk orang yang sejak lama dikurung di bangunan ini, gelap mungkin bukan hanya soal lampu.

"Kalau begitu aku tidur di sofa kamar," katanya akhirnya. "Aku tidak akan mengganggumu."

Reynard menatap kasur besar itu. "Kasur besar."

"Untukmu."

"Kei kecil. Ambil sedikit saja."

Keira tertawa pelan. "Kamu baru saja mengusirku dengan cara paling tidak konsisten."

Reynard menunduk, terlihat tersinggung. "Kei jahat."

Entah kenapa, kalimat itu membuat dada Keira lebih lunak. Ia menarik sofa kecil dekat jendela kamar, membentangkan selimut, lalu duduk. "Begini saja. Aku tidur di sini. Kalau kamu takut, panggil aku."

Reynard tampak puas, tetapi masih mempertahankan wajah murung. "Jangan pergi."

"Aku tidak pergi."

Malam makin dalam. Setelah beberapa saat, Keira mendengar suara air dari kamar mandi. Reynard masuk dengan bantuan pelayan pria yang kemudian segera keluar. Ketika pintu kamar mandi terbuka lagi, Reynard muncul dengan rambut basah, handuk kecil di bahu, dan wajah kesal.

Keira refleks mengambil hair dryer dari meja rias.

Reynard melihat benda itu. Matanya berubah tajam sepersekian detik, lalu ia meraih hair dryer lebih dulu, seperti hendak melemparnya.

"Rey!"

1
aku
bro rey apa yg di belakang layar nnti jd pendampingmu key 😁😃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!