Kisah seorang wanita bernama Kiko, karena trauma masa lalu nya membuat Ia jijik jika di sentuh oleh seorang pria.
Lebih parahnya akan membuat Ia panik, gemetar bahkan Pingsan.
apalagi Pria itu Tampan.
kemudian Ia bertemu dengan seorang Pria Tampan dan anehnya Ia bisa bersentuhan langsung dengannya, Karena hal itu lah yang membuat Kesalah Pahaman ini Terjadi.
Kiko tidak tahu bahwa Pria tersebut adalah Pria mapan, tampan dan berhati dingin. banyak di Gilai oleh banyak kaum hawa.
Pria tersebut tak lain bernama Dion, pengusaha muda sukses yang memiliki kuasa serta segalanya.
ikutilah Kisah mereka, jangan di lewatkan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Besar
"selamat pagi"
Kiko dan Riko memberi salam pada tim karena mereka datang bersama, kemudian mereka menjawab salam kecuali Dewi yang tengah panas karena terbakar kecemburuan.
"uhuu kalian datang bareng, kayanya kencan tadi malam sukses nih", goda Hilda membuat Dewi makin cemburu
"huss tidak kok!", Kiko menyiku Hilda agar diam, "lihat tuh Bu Dewi tatapannya makin tajam padaku!" bisik Kiko meringis
"ha ha tenang saja! dia tak akan berani memarahimu hari ini"
"benarkah? ada apa?"
"Tuan besar Yogi akan datang ke perusahaan ini, jadi Presdir menghimbau agar kita dalam keadaan tenang terkendali. kalau tidak kita akan benar benar....", melakukan gerakan menggorok leher, "kheeek, m a t i"
"aduh", refleks Kiko memegangi lehernya yang masih utuh dengan menelan ludah susah payah, "memangnya Tuan Besar Yogi itu siapa?"
"astaga, itu saja kau tidak tahu", Hilda memutar bola mata nya jengah, "Tuan Besar Yogi itu ayah dari Presdir, dia itu pemilik perusahaan besar farmasi dan mempunyai beberapa rumah sakit besar. mereka berdua memang benar benar Klop, benar benar hebat" Hilda berdecak kagum
"wah sangat hebat ya mereka, seperti apa sih Tuan Besar Yogi itu?"
"dia itu orangnya sangat garang dan juga kejam, kalau tampangnya sih kau bisa lihat sendiri dari Presdir"
"Presdir yang katamu buruk rupa itu?"
Hilda menggangguk membenarkan
"memangnya kau pernah bertemu langsung dengannya?"
"tidak sih, cuma aku hanya dengar dengar saja dari asisten pribadi Presdir"
"oh Tuan Gogo?" tebak Kiko
"kau kenal?" tanya Hilda girang, "begitu tampan kan dia? aduh, aku udah lama naksir dia"
"kau sebaiknya jangan menyukainya", bisik Kiko
"eh kenapa?"
"pokoknya jangan!"
"iya, kenapa?" Hilda kesal karena penasaran
"dia itu tidak menyukai wanita"
****
Huaaachiii, Gogo bersin
siapa sih yang membicarakanku, pikirnya
"bagaimana perkembangan perusahaanmu?" tanya Yogi
"ya seperti papa lihat, perusahaanku masih menjadi perusahaan terbesar nomor satu"
"baguslah, jadi papa tidak perlu khawatir tentangmu"
"percayakan pada saya Tuan", sahut Gogo, "Tuan Dion pasti akan menjalankan bisnisnya dengan baik"
"iya aku percaya padamu Go", Yogi menepuk bahu Gogo bangga, "tapi, bagaimana dengan para wanita?" bisik Yogi membuat Gogo terhentak kaget
"hm soal itu", Gogo mendekatkan diri dan berbisik, "sudah ada wanita yang memikatnya"
"ha ha bagus bagus", Yogi menepuk punggung Gogo dan tertawa senang, "kalau begini aku makin tenang"
"apa sih yang papa dan Gogo bicarakan?" dengus Dion kesal melihat kedua pria didepannya berbicara tanpa dia tahu
"ah itu hal yang tidak perlu kau tahu"
"cih, pasti tentangku lagi!" decih Dion sambil bersindakap memicingkan matanya
"hei hei, kenapa sifatmu tak berubah seperti mamamu? kalau begini sampai kapan kau akan terus seorang diri?"
"oh jadi ini benar tentangku, aku masih belum memikirkan soal wanita. wanita itu hanya merepotkan" ketus Dion
"kau belum tahu yang namanya jatuh cinta, kalau kau sudah merasakannya kau akan menjadi bodoh dan gila" sahut Yogi tertawa
"dih, aku tidak mungkin menjadi orang seperti itu"
"ya ya papa percaya", sahut Yogi tersenyum ada nada sindiran didalamnya, "tapi, kau sekarang tinggal dimana?"
Uhuk Uhuk
Dion tersedak mendengar pertanyaan mendadak dari papanya, membuat Yogi semakin terkekeh melihat kelakuan anaknya yang tak jujur.
"apa papa sudah tahu?" tanya Dion
"tahu apa?", Yogi pura pura bingung, "papa sudah lama tak bertemu denganmu jadi papa kira kau tak lagi tinggal dikota ini"
"ya mana mungkinlah pa, Dion kan harus ke kantor untuk bekerja"
"ya mungkin saja, pasalnya kau beberapa bulan terakhir tidak masuk kerja dan baru aktif kembali minggu minggu ini"
Dion makin tersedak mendengar perkataan papanya telak, karena Yogi tak akan tinggal diam untuk tidak menyelidiki perkembangan tentang anak tunggalnya ini.
"kau perlu hati hati saja dan menjaga diri, musuhmu masih mengawasimu" ucap Yogi menepuk bahu Dion yang masih tersedak
"iya pa" jawab Dion
"kalau begitu papa pamit dulu, mama mu mengajak papa untuk pergi liburan ke Eropa jadi untuk perusahaan papa. kau yang mengurusnya sementara" ucap Yogi sebelum pergi meninggalkan ruangan.
"arghhh, aku sudah menduganya", Dion kesal, "papa kesini bukan hanya untuk membicarakan hal pribadi denganku tapi juga merepotkanku huh" gumam Dion kesal
****
"Nona Kiko, bisa ikut saya sebentar?" pinta Gogo membuat pandangan mata orang dalam ruangan tertuju padanya
"ah iya bisa", segera Kiko beranjak dari tempat kerjanya dan mengikuti Gogo.
lain hal Hilda yang kaget terkagum kagum melihat pesona Gogo yang tiba tiba bersedia datang karuang divisi umum yang sebelumnya tak pernah dia injakkan kaki.
"wah tampannya" gumam Hilda sembari menggigit jemarinya
"cih, dasar perempuan jalang! bisa bisanya dia kenal dengan sekretaris Presdir" dengus Dewi semakin kesal.
"ngapain Tuan Gogo memanggil Kiko?" tanya Riko penasaran pada Hilda yang masih melongo
"aku juga tidak tahu, tapi mereka saling kenal. mungkin ada sesuatu yang penting"
"oh begitu" Riko merasa begitu aneh
****
"kita mau kemana?" tanya Kiko penasaran di dalam lift
"sudah ikuti saja! ada seseorang yang ingin bertemu denganmu"
duh, siapa ya? kenapa aku jadi tidak tenang begini. apa karena menyiram Bu Dewi kemarin ya.
Kiko gelisah tidak tenang.
"kau jangan berpikiran yang bukan bukan", tebak Gogo melihat tingkah Kiko, "bukan sesuatu yang buruk kok"
"ah, sukurlah", mendengarnya Kiko lega dan mengusap dada.
hanya beberapa menit pintu lift berdeting dan terbuka, langsung tertuju pada pintu serta ruangan besar dan ada seorang pria paruh baya berbadan tegap sedang duduk memberi senyum ramah pada keduanya.
"silahkan duduk!" Yogi mempersilahkan duduk
sedangkan Gogo langsung undur diri.
"terimakasih", Kiko membungkuk memberi hormat lalu Ia duduk walau masih gugup
"jangan gugup, santai saja!" pinta Yogi tersenyum, "kau pasti bertanya tanya kenapa aku memanggilmu?"
"ah iya benar", Kiko mengangguk, "apa saya melakukan kesalahan?"
"ha ha kau memang gadis yang polos dan lucu sekali", Yogi tertawa, "pantas saja anakku menyukaimu"
"maaf, saya tidak mengerti apa yang sedang Anda bicarakan" Kiko menggaruk tengkuknya gugup
"ah begini, apa kedua orangtuamu masih ada?"
"mereka sudah tidak ada", jawab Kiko sedih
"maaf jika aku menanyakan hal ini", Yogi turut sedih, "mereka berdua dulu adalah sahabat baik istriku dan juga teman baikku. sayangnya kita belum sempat bertemu kembali"
"jadi Tuan mengenal kedua orang tua saya?" Kiko kaget seakan tak percaya
"iya benar, aku banyak berhutang budi pada kedua orangtua mu jadi...", Yogi memberi kartu nama, "kalau kau menginginkan sesuatu apapun itu, jangan sungkan untuk menghubungiku"
"baik Tuan, terimakasih atas niat baik Anda" Kiko membungkuk memberi hormat
"aku pamit dulu tidak bisa berlama lama dan....." Yogi mendekatkan diri lalu berbisik, "kau harus hati hati dengan pria yang sedang tinggal dirumahmu" bisik Yogi sebelum melangkah pergi sambil menahan tawa
"eh?"
****