Nayla Putri Atmaja (21) seorang gadis riang yang tengah menempuh pendidikan di sebuah universitas swasta di kota Jakarta, tak pernah menyangka hidupnya akan serumit ini setelah ia bertemu dengan Bayu Pratama (30). Seorang dosen muda yang mengisi mata kuliah di semester lima. Selain menjadi seorang dosen Bayu merupakan seorang pengusaha muda. Pria yang cukup sukses dan berpendidikan tinggi, namun menyandang status duda beranak satu.
Entah disengaja ataupun tidak pertemuan mereka di kampus menjadi awal kisah cerita mereka dimulai. Hidup Bayu yang semula terlihat begitu datar, kini berubah menjadi sangat menyebalkan ketika takdir mempertemukan dirinya dengan sosok Nayla yang memiliki sikap menjengkelkan, merepotkan, banyak maunya, bicara sembarangan dan blak-blakan. Sangat berbanding terbalik dengan kehidupan Bayu yang terlihat begitu tenang, datar dan tertutup.
Mau tau kelajutan kisah mereka selanjutnya? Yuk simak terus cerita Jodoh Tak Diundang...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JTD Bab 31
Drama suami istri ini pun tak berakhir sampai di sini. Apalagi ketika Nayla berpura-pura menangis, hingga membuat Sultan yang sedang bermain-main di dalam mobil bersama Suster Marni datang menghampiri keduanya.
"Mami, kenapa menangis?" tanya Sultan dengan penasaran menatap kedua orang tuanya, ketika langkah kaki kecilnya menghampiri mereka.
"Tidak apa-apa Sultan, Mami mu itu hanya tak mau dihukum karena sudah bicara sembarangan pada Papi. Sultan tahu sendiri bukan Papi melarang siapapun untuk bicara sembarangan?" jawab Bayu yang di jawab anggukan oleh Sultan. Sultan tahu dan mengingat betul larangan apa saja yang diberikan Bayu padanya.
Sultan terus melangkahkan kaki kecilnya nya lebih dekat lagi dengan Nayla. Ia memegangi jari-jari Nayla dan menatap dalam wajah ibu sambungnya itu dengan mendongakkan kepalanya.
"Mami, jangan menangis lagi oke! Jangan bicara sembarangan, karena Papi tidak suka itu!" ucap Sultan dengan menggemaskan.
Tak mau anak sambungnya terus mendongakkan kepalanya, Nayla segera mensejajarkan dirinya dengan Sultan. Ia berjongkok dan membalas tatapan Sultan dengan tatapan cinta, tak lupa tangannya terus mengelus-elus rambut pendeknya yang berjambul.
"Apa Sultan sangat sayang Mami? Sehingga Sultan tidak mau Mami menangis, betul?" tanya Nayla yang segera dibalas Sultan dengan anggukan kepala.
"Kok hanya mengangguk, mana suaranya anak Mami? Jika Sultan memang benar sayang Mami! Jawablah dengan suara emasnya anak Mami yang ganteng ini! Mami mau denger suara Sultan bolehkan, hum?" pinta Nayla yang tak menghentikan tangannya yang terus membelai rambut Sultan.
"I love you Mami, jangan pergi dan sedih lagi, Mami! Sultan tidak mau melihat Mami bersedih, apalagi dihukum sama Papi. Mami Nayla, Mami ku, Mami Sultan hanya Mami Nayla, tidak boleh ada yang menyakiti Mami apalagi menghukumnya," ucap Sultan dengan suara bergetar dan genangan air mata di kelopak mata indahnya. Sesekali ia menatap tajam Bayu yang berdiri tak jauh dari keberadaan mereka.
Nayla segera menarik tubuh putra sambungnya itu ke dalam pelukannya, " I love you more sayang. Selamanya Sultan akan jadi anak Mami, maafkan Mami yang datang terlambat untukmu sayang,Mami janji tak akan pergi kemana-mana, Papi tak akan menghukum Mami, karena Papi mencintai kita," Nayla berkata di telinga putranya yang tengah menangis dalam pelukannya. Nayla berusaha menenangkan hati anaknya yang sedang tak baik-baik saja karena ulahnya.
"Aisss... Kenapa putraku jadi selemah ini, aku sudah mengajarkannya untuk tidak menjatuhkan air matanya dalam kondisi apapun, karena dia itu seorang Pria, ia harus kuat mengarungi dunia yang sangat kejam ini, tapi ini apa? Nayla hadir merobohkan pondasi kokoh yang ku bangun di diri putra ku," rutuk Bayu di hatinya. Ia seakan tak senang dengan Sultan yang menangis tersedu-sedu hanyut terbawa suasana.
"Mami, Sultan... Bisakah kalian menghentikan drama kalian disini!" pinta Bayu yang sengaja menyenggol bahu Nayla.
Nayla melirik suaminya dengan tatapan tak suka, ia berdiri dengan mengangkat tubuh Sultan untuk menggendongnya.
"Drama kamu bilang, Pih?" tanya Nayla dengan tatapannya yang bersiap bertempur dengan Bayu.
Bagaimana bisa suaminya ini berkata ini adalah sebuah drama. Tak sadarkah dia, jika Sultan ini masih begitu kecil dan masih wajar untuk menangis, terkecuali dia pria bangkotan yang dipenuhi bulu lebat dimana-mana yang menangis, itu mungkin bisa dikatakan tidak wajar. Apalagi Sultan menangis karena sebab yang jelas.
"Iya," jawab Bayu yang tak kalah menatap dirinya dengan tatapan yang sama seperti Nayla.
"Ini bukan teater, bukan pula panggung drama, sepertinya Papi perlu di kuliahin lagi supaya lebih pinter sedikit dalam memahami keadaan," balas Nayla yang membuat Bayu bertambah kesal pada istrinya itu.
"NAYLA, maksud kamu Mas Bodoh hum? Tidak ada Dosen yang bodoh, Nay," pekik Bayu dengan sedikit meremas gemas bahu Nayla.
"Itu tahu, bisa ajah Papi jadi Dosen dengan ijazah yang nembak di kelurahan," celoteh Nayla yang membuat Bayu menarik alisnya ke atas, hingga bola matanya hampir keluar dari cangkangnya.
"Kelurahan itu tidak mencetak ijazah istri ku yang sangat cerdas," balas Bayu dengan kalimat sindirannya. Ia bicara dengan mendekatkan wajahnya dan mengeratkan seluruh gigi-giginya, ia berusaha menahan rasa kesal terhadap istrinya yang selalu bicara ngawur. Sultan yang menangis seketika tersenyum, saat ia melihat mimik wajah sang Papi yang terlihat kesal karena ucapan Maminya itu.
"Papi bawel ah, cepat bayar mobil pilihan aku dan Sultan! Aku dan anakku sudah lapar," Perintah Nayla yang lari dari topik pembicaraan. Nayla berusaha menjauhkan wajahnya dari wajah Bayu, kemudian memilih menatap Sultan yang tengah tersenyum manis melihat mimik wajah papinya yang lucu.
"Abis nangis ketawa, makan gula jawa. Tikitik...kitik...." Goda Nayla seraya menggelitik perut Sultan, hingga ia kegelian dan tertawa terbahak-bahak.
"Mobil yang mana, yang kalian pilih hum?" tanya Bayu yang tak menjauhkan wajahnya sedikitpun dari wajah Nayla. Pertanyaan Bayu tersebut menghentikan aktivitas Naylanyang sedang menggoda putra sambungnya
"Tipe yang ini Pih, tapi warna putih yang kita pilih, sekarang masnya lagi nyiapin semua aksesoris tambahan yang kita mau, tadi kata dia kalau Papi sudah datang, di tunggu dia disana untuk melakukan pembayaran," tunjuk Nayla pada mobil yang ada di hadapannya.
"Ok," jawab Bayu singkat.
Nayla kembali menatap wajah Sultan yang belum melepaskan senyumnya,meskipun ia sudah tak lagi menggelitik putranya itu.
"Anak Mami senyum-senyum terus liatin Papi kenapa, hum? Muka Papi kaya badut mampang ya?" tanya Nayla pada putranya yang seketika membuat Bayu membulatkan matanya dan kembali membuat tawa Sultan pecah. Seenaknya saja istrinya ini menyamakan wajah tampan dirinya dengan badut mapang.
Bayu dengan sekejap mata langsung menarik dagu Nayla hingga wajah istrinya itu menoleh padanya, dan....
Cup! Cup! [Berkali-kali Bayu mendaratkan bibirnya di bibir istrinya itu].
Bayu mencium bibir istrinya dengan tak tahu malu di depan sang putra yang melihatnya malah tambah tertawa geli.
"Lagi Pih, lagi... Supaya Mami diam terus saja dicium seperti Oppa hukum Omma!" pinta Sultan yang makin membuat Bayu terus mengecup bibir istrinya itu.
"Mmmmm... Udah, malu Pih," pinta Nayla yang kemudian menggigit bibir Bayu agar menghentikan aksinya.
"Awww..." Rintih Bayu.
"Rasain! Makanya tahu tempat. Sekarang cepat bayar Pih! Biar kita bisa cepat pulang," titah Nayla yang menatap wajah meringis Bayu yang merasa kesakitan.
"Ok," jawab Bayu sambil memegangi bibirnya yang sakit kerena di gigit Nayla. Bayu pun beranjak pergi meninggalkan tempat itu, di ikuti Nayla yang tak juga menurunkan Sultan dalam gendongannya.
Selesai membeli mobil ketiganya pulang ke kediaman mereka. Sesampainya di rumah Bayu langsung masuk ke ruang kerjanya, sedangkan Nayla ikut masuk ke dalam kamar Sultan bersama Sultan dan Suster Marni, ia belajar mengurusi Sultan untuk berganti baju dan menemani putranya itu untuk tidur siang. Suster Marni, mulai hari ini merasa tugasnya diringankan dengan hadirnya Nayla sebagai ibu sambung dari Sultan.
Dua jam lamanya Nayla tertidur di kamar Sultan, ia terbangun dan segera bangkit dari pembaringannya.
"Enak banget ternyata jadi ibu ya, nikmatin banget moment emas ini yang gak akan keulang lagi, bodoh banget tuh orang ninggalin mereka demi cinta lama yang belum kelar, awas ajah kalau nanti dia balik lagi dan ambil mereka dari gue, gak akan gue biarin, kecuali dia datang dengan niat membesarkan Sultan bersama-sama, masih bisa gue mengerti, karena bagaimana pun dia itu ibu kandungnya," ucap Nayla yang menatap damai putranya yang sedang tertidur nyenyak itu.
Sebelum meninggalkan kamar putranya, Nayla menyempatkan waktu untuk mencium kening putranya itu.
"Bobo yang nyenyak sayang, Mami mau masak makan malam untuk kita dulu ya," ucap Nayla ketika ia sudah selesai mengecup pipi putranya. Tak ada jawaban dari putranya yang masih tertidur pulas itu.
Dengan langkah hati-hati Nayla keluar dari kamar Sultan. Nayla pergi ke dapur untuk memasak seorang diri tanpa dibantu Bi Darmi ataupun Suster Marni, karena kebetulan hari ini Bi Darmi sudah pulang dan Suster Marni sesang beristirahat di kamarnya.
Nayla bertempur dengan peralatan dapur sejam lamanya, untuk menyiapkan makan malam sederhana yang akan disantap keluarga kecilnya malam ini dan juga Suster Marni tentunya. Hanya ada sop bakso, ayam goreng dan tempe goreng yang ia hidangkan di atas meja makan, tak lupa sambal tomat yang terakhir ia buat, menjadi satu menu pelengkap dan penambah cita rasa masakan Nayla untuk makan malam, malam ini.
Ketika semuanya sudah siap, Nayla di bantu Suster Marni membangunkan Sultan dan memandikan putranya itu. Sambil menunggu waktu makan malam, Sultan di biarkan bermain dengan mainannya di ruang keluarga. Abaikan kondisi ruang keluarga yang saat ini sudah napak berantakan layaknya kapal pecah, dengan mainan Sultan yang berserakan dimana-mana.
Marah? Tentu tidak, Nayla malah suka dengan apa yang dilakukan Sultan, karena apa yang dilakukan Sultan persis seperti dirinya saat kecil dulu.
emang bener-bner si Nayla