Ini novel klasik, ya ...
"Puncak ilmu pedang tertinggi itu bukan terletak ketika kau bisa membelah rambut menjadi tujuh bagian tanpa banyak bergerak. Melainkan terletak saat kau bisa menyatu bersama dengan pedang itu sendiri. Pedang adalah aku, dan aku adalah pedang,"
###
Novel ini menceritakan tentang perjalanan seorang pemuda yang merupakan anak dari pendekar tersohor dalam dunia persilatan.
Pemuda yang dimaksud itu bernama Zhang Fei. Ia adalah anak tunggal dari Zhang Xin. Dalam dunia persilatan, ia mempunyai julukan si Pedang Kilat. Alasan kenapa Zhang Xin diberi julukan seperti itu, tak lain adalah karena ilmu pedangnya sudah mencapai tahap yang sangat tinggi.
Menurut kabar yang tersiar, kalau pedangnya sudah bergerak, maka kecepatannya bisa lebih cepat daripada sambaran kilat.
Sayang sekali, si Pedang Kilat bersama isterinya harus tewas dalam sebuah pertarungan sengit yang melibatkan banyak tokoh-tokoh besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Yu Yuan
"Sekutu Partai Panji Hitam?"
Pemuda itu terkejut. Ia tidak menyangka, ternyata dugaan sebelumnya terbukti benar.
"Ehmm," Yu Yuan mengangguk membenarkan. "Lebih tepatnya, mereka itu adalah kaki tangan Hartawan Wang,"
"Hartawan Wang? Siapa lagi itu?"
Ternyata ada banyak orang yang sudah bersekutu dengan Partai Panji Hitam. Bahkan seorang hartawan pun tidak terkecuali.
Zhang Fei tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Yu Yuan barusan. Namun kembali lagi, mau tidak mau ia harus mempercayainya.
Apalagi ia sendiri tahu bahwa gadis cantik itu tidak sedang berbohong.
"Hartawan Wang adalah orang yang sangat kaya raya. Bisnisnya di mana-mana. Ia bahkan masuk ke dalam daftar orang terkaya di kota Sichuan ini,"
Zhang Fei menganggukkan kepala beberapa kali. Sedikit banyaknya, ia sudah punya gambaran bahwa orang-orang kaya di setiap kota, tujuh puluh persen pasti sudah bersekutu dengan partai aliran sesat itu.
"Lalu, kenapa mereka seperti ingin membunuhmu?"
"Ceritanya cukup panjang,"
Yu Yuan menarik nafas. Setelah merasa tenang, ia segera menceritakan kejadian sebenarnya.
"Hartawan Wang adalah orang suka bertindak semena-mena, ia juga merupakan orang yang doyan bermain wanita. Setiap wanita yang dianggap cantik di matanya, harus bisa dia miliki. Walau dengan cara apapun juga. Kebetulan, dia menginginkan aku untuk dijadikan isteri mudanya,"
"Beberapa hari lalu, dia telah mengutus dua orang kepercayaannya untuk datang berkunjung ke Perguruan Teratai Putih,"
"Tunggu dulu," Zhang Fei memotong gadis itu bercerita. "Apakah kau adalah anak murid dari Perguruan Teratai Putih?" tanyanya memastikan.
"Benar," katanya mengakui. "Aku adalah anak murid dari perguruan kecil itu,"
"Oh, baiklah. Lanjutkan ceritamu,"
Gadis cantik itu setuju. Setelah menarik nafas beberapa kali, ia segera melanjutkan ceritanya yang sempet terpotong itu.
"Kedatangan dua orang kepercayaan Hartawan Wang disambut baik oleh guruku. Hanya saja, niat baik mereka ditolak mentah-mentah. Apalagi semua orang sudah tahu siapa tua bangka bau tanah itu,"
"Setelah kepergian mereka, guru segera menceritakan semua kepadaku. Dan demi kebaikan hidupku, guru pun menyuruh aku untuk segera pergi dari sana. Siapa sangka, ternyata Hartawan Wang belum benar-benar melepaskan aku. Ia bahkan menyuruh empat orang kaki tangannya untuk menangkap hidup-hidup, bahkan kalau mampu membunuh diriku,"
"Biadab!"
Zhang Fei mengepalkan kedua telapak tangannya. Dia yang mendengar ceritanya saja merasa kesal terhadap Hartawan Wang.
Anak muda itu tidak habis pikir, kenapa di muka bumi ini, banyak sekali orang seperti Hartawan Wang?
Apakah mereka pikir, dengan mengandalkan harta, mereka bisa mendapatkan segalanya?
"Sekarang, ke mana tujuanmu?" tanyanya setelah Yu Yuan selesai bercerita.
"Aku tidak tahu. Aku hanya melangkah mengikuti kedua kakiku saja,"
Yu Yuan menghela nafas berat. Wajah yang cantik itu seketika terlihat bingung. Bola mata yang bersinar terang, sekarang tampak redup.
Dia sudah tidak punya sanak keluarga. Sejak kecil, dirinya telah tinggal di Perguruan Teratai Putih dan hidup bersama murid-murid yang lain.
Ia sudah menganggap mereka adalah saudaranya. Telah menganggap guru sebagai ibu kandungnya sendiri.
Sayang sekali, semua kebahagiaan itu harus lenyap karena ulah Hartawan Wang.
Yu Yuan tahu, tujuan gurunya menyuruh dia pergi adalah untuk kebaikannya sendiri.
Karena itulah ia tidak benci atau marah kepadanya.
Pendekar wanita itu justru sangat benci kepada Hartawan Wang. Karena ulahnya itulah, ia harus pergi dari 'rumahnya' selama ini. Karena ulah tua bangka itulah dia harus berpisah dengan keluarganya.
Hartawan Wang telah menghancurkan kebahagiaan hidupnya. Maka dari itu, Yu Yuan telah bersumpah bahwa dia akan membunuhnya.
Namun sayang sekali, ia tidak punya kekuatan yang cukup untuk mengakhiri hidup orang tua itu.
Selain berusaha menambah dan menyempurnakan ilmu yang sudah dimiliki, memangnya apalagi yang dapat ia lakukan sekarang?
Sementara itu, setelah mendengar cerita singkat barusan, Zhang Fei jadi merasa prihatin terhadap nasib Yu Yuan.
Ia teringat akan nasib hidupnya sendiri.
"Hemm, kau tenang saja. Sekarang, lebih baik kita kembali saja ke Perguruan Teratai Putih," ucapnya kemudian.
"Kembali?" Yu Yuan mengerutkan kening. Dia tidak menyangka anak muda itu akan berkata seperti barusan.
"Benar, Perguruan Teratai Putih adalah rumahmu. Di sana juga terdapat keluargamu. Jadi aku pikir, lebih baik kau kembali saja ke sana,"
"Tapi kalau aku kembali, mereka pasti akan terancam bahaya karena kehadiranku. Aku tidak mau sesuatu buruk menimpa mereka. Aku tidak mau," ujarnya seraya menggelengkan kepala.
Yu Yuan tidak mau terlalu mengambil resiko. Apalagi resiko yang akan terjadi nanti tidaklah main-main.
"Kau tenang saja. Soal Hartawan Wang, biar aku yang urus,"
"Tunggu dulu, apa yang akan kau lakukan?"
"Itu urusanku. Sekarang, aku hanya meminta supaya kau menuruti perkataanku,"
Gadis cantik itu tidak bicara lagi. Dia segera termenung dengan pikiran dan perasaan yang berkecamuk. Di satu sisi dia ingin kembali, tapi di sisi lain ia juga tidak mau membahayakan Perguruan Teratai Putih.
"Jangan khawatir. Percayalah kepadaku, aku akan memberikan pelajaran kepada orang tua itu," kata Zhang Fei berusaha meyakinkan.
"Memangnya, kau sanggup melakukan hal tersebut?"
"Kalau tidak dicoba, bagaimana bisa tahu?"
Suasana di sana langsung hening. Yu Yuan sedang memikirkan keputusan mana yang harus dia ambil. Sedangkan Zhang Fei sendiri saat ini sedang memikirkan rencananya untuk membasmi orang-orang seperti Hartawan Wang.
"Hemm, baiklah," Yu Yuan bicara lagi setelah sekian lama terdiam. "Aku akan menuruti perkataanmu, aku akan kembali ke Perguruan Teratai Putih,"
Entah kenapa, meskipun dirinya baru pertama kali bertemu dengan Zhang Fei, tapi hatinya merasa sangat yakin terhadap anak muda itu.
Ia percaya penuh bahwa apa yang dikatakan olehnya bukan omong kosong. Yu Yuan yakin bahwa Zhang Fei mampu membuktikan ucapannya.
"Bagus sekali. Kalau begitu, sekarang juga mari kita kembali ke perguruanmu,"
Dia langsung bangkit berdiri diikuti oleh Yu Yuan.
"Apakah Perguruan Teratai Putih jauh dari sini?"
"Tidak. Hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit saja, kita sudah tiba di sana,"
"Baiklah. Sekarang juga ayo kita berangkat,"
Kedua muda-mudi itu kemudian bersiap-siap. Setelah selesai, mereka langsung meninggalkan hutan itu.
Karena mereka adalah orang-orang persilatan, maka tentu saja keduanya langsung menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Dua bayangan manusia melesat bagaikan kilat menyambar bumi. Mereka berlari secara beriringan. Keduanya tidak pernah berhenti.
Karena telah menggunakan kemampuannya masing-masing, maka waktu yang ditempuh pun bisa lebih cepat dari seharusnya.
Siang harinya, setelah matahari lewat sedikit dari atas kepala, Zhang Fei dan Yu Yuan telah tiba di tempat tujuannya.
Sekarang mereka sedang berjalan di sebuah jalanan pinggir kota. Keadaan di sana sama seperti di tempat-tempat sebelumnya yang pernah dilewati oleh Zhang Fei.
Kemiskinan di mana-mana. Banyak pengemis-pengemis di setiap penjuru kota. Di samping itu, ada pula beberapa pedagang yang sedang duduk sambil terkantuk-kantuk karena menunggu pelanggannya.
kok br sadar
seorang pemimpin persilatan mudah di bohongin..
ap mmg d buat sprt itu agar crita d buat lbh panjang elisodeny..?
la ini seh mnjd ketua, semua lgkh hrs d pikirkan, utk kbaikan brsama..
😄😄
yg bnr dunk critanya
harusnya tidak ada yg mengeroyok..
hrsnya 1 lawan 1..?