NovelToon NovelToon
PANTASKAH AKU BAHAGIA

PANTASKAH AKU BAHAGIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: yunie Afifa ayu anggareni

Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia

"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: GARIS FINISH DAN AWAL BARU

Enam bulan telah berlalu sejak skandal di kantin sekolah. Suasana SMA Merdeka hari ini penuh dengan bunga dan tawa. Hari ini adalah hari wisuda.

Alsya berdiri di depan cermin besar di ruang ganti sekolah, mengenakan kebaya biru muda yang sederhana namun elegan. Rambutnya yang dulu sering dia gunakan untuk bersembunyi di balik tudung, kini disanggul rapi, menonjolkan wajahnya yang bersinar penuh percaya diri.

"Loe cantik banget, Sya," suara itu datang dari Eliza.

Eliza berdiri di ambang pintu. Dia tidak lagi mengenakan riasan tebal atau ekspresi angkuh. Skorsing satu bulan dan kehilangan status sosialnya ternyata menjadi titik balik yang dia butuhkan. Dia tampak lebih tenang, meskipun ada sedikit kesedihan di matanya.

"Makasih, El," Alsya tersenyum tulus. "Loe juga. Gimana persiapan kuliah di Bandung?"

"Gue bakal coba hidup mandiri kayak loe," sahut Eliza. "Papa setuju gue ambil psikologi. Mungkin biar gue bisa paham kenapa dulu gue sejahat itu sama kembaran gue sendiri."

Alsya mendekat dan menggenggam tangan Eliza. "Masa lalu udah lewat, El. Kita mulai dari nol lagi ya?"

Eliza mengangguk, matanya berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, dua saudara kembar ini benar-benar terhubung sebagai keluarga.

Di lapangan upacara, pengumuman kelulusan dimulai. Nama Alsya Anantara dipanggil sebagai salah satu lulusan dengan nilai seni tertinggi dan telah diterima di Fakultas Seni Rupa melalui jalur prestasi. Papa Saga dan Mama Luna bertepuk tangan paling keras dari kursi undangan, mata mereka berkaca-kaca bangga.

Namun, saat nama Samudera Pratama dipanggil, suasana menjadi lebih emosional. Samudera berjalan naik ke panggung dengan langkah tegap. Dia bukan lagi "berandalan" yang ditakuti; dia adalah simbol perjuangan. Dia berhasil lulus dengan nilai yang sangat baik sambil bekerja paruh waktu di bengkel dan membantu pengobatan Rian.

Setelah upacara selesai, Samudera mencari Alsya di antara kerumunan. Dia menemukan gadis itu sedang berdiri di bawah pohon beringin tempat mereka sering bicara.

"Tebak siapa yang dapet sertifikat mekanik terbaik dari balai latihan?" Samudera memamerkan map cokelatnya.

Alsya tertawa dan langsung memeluknya. "Gue selalu tahu loe bisa, Sam!"

"Sya, gue punya sesuatu buat loe." Samudera merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kunci kecil yang digantungi gantungan kunci berbentuk palet lukis. "Ini kunci studio kecil di deket kampus baru loe nanti. Kak Arka dan gue udah nyicil sewa tempat itu selama setahun ke depan supaya loe punya tempat buat melukis dengan tenang."

Alsya menutup mulutnya tak percaya. "Sam... loe nabung buat ini?"

"Semua hasil lembur gue di bengkel, Sya. Gue mau loe jadi pelukis hebat. Dunia harus lihat warna yang selama ini loe sembunyiin."

Alsya menangis haru, bukan karena sedih, tapi karena merasa sangat dicintai. Di kejauhan, Rian yang sudah bisa berjalan menggunakan kruk melambaikan tangan ke arah mereka, didampingi Arka yang tampak bangga.

Papa Saga dan Mama Luna berjalan mendekat. Kali ini, Saga tidak lagi menatap Samudera dengan dingin. Dia menepuk bahu Samudera.

"Jaga putri saya baik-baik di kota orang nanti, Sam. Kalau motor kamu mogok di jalan, telepon saya, biar saya kirim montir terbaik," canda Saga, yang disambut tawa oleh semua orang.

Matahari sore mulai terbenam, menyinari lapangan sekolah yang menjadi saksi bisu perjalanan mereka. Dari rahasia yang menyesakkan, hingga kebebasan yang membebaskan.

"Kita berhasil, Sam," bisik Alsya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Samudera.

"Bukan cuma berhasil lulus, Sya. Kita berhasil menang atas ketakutan kita sendiri."

Mereka menatap masa depan yang membentang luas. Perjalanan mereka mungkin tidak akan selalu mudah, tapi mereka tahu, selama mereka saling memiliki, tidak ada badai yang tidak bisa mereka lewati.

Sebuah akhir yang manis untuk perjalanan panjang.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!