Tristan Emilio, menyimpan dendam atas kematian adiknya. Merencanakan pembalasan dendam dengan menyakiti Gendis Nayaka Putri.
"Kehormatan dibalas kehornatan, nyawa dibalas nyawa," ujar Tristan.
"Lakukan apapun semaumu, lampiaskan dendammu tapi jangan sakiti keluargaku," sahut Naya.
Apakah dendam Tristan akan terbayarkan?
Bagaimana nasib Naya setelah merelakan hidupnya untuk membayar kesalahan sang Kakak?
IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naya Melarikan Diri
“Kamu yakin Nay?” Daru masih berdiri memastikan keputusan adiknya membatalkan rencana pernikahan dengan Tristan. Setelah mengakhiri panggilan telepon dari Naya, Daru langsung pulang dan ternyata Naya sedang membereskan pakaiannya serta perlengkapan yang akan dibawa.
“Yakin Kak, aku nggak bisa hidup dengan pria yang sudah membuat Ibu meninggal.”
“Nay, Tristan memang salah tapi Ibu tiada karena sudah takdir dan garis hidupnya. Kita tidak bisa mengkambing hitamkan orang lain.”
Naya terpaku mendengar Daru bicara dan ada benarnya. Takdir, jodoh dan rezeki memang sudah diatur oleh Tuhan. Tapi Naya menganggap kalau Tristan adalah pengatur semuanya, bagaimana dia menjebak Naya hingga jatuh ke pelukannya termasuk keterlibatan foto-foto itu artinya Tristan ada dibalik kematian Ibunya.
“Kak Daru, apapun alasannya aku tetap ingin batalkan rencana ini. Kak Daru mau temani aku pindah atau tidak?”
“Lalu kamu mau kemana?”
“Yang jelas menjauh dari semua ini.”
“Nay, kita bukan lawan Tristan. Dia bisa menemukanmu, ini hanya soal waktu.”
“Aku tidak peduli, yang jelas saat ini aku ingin pergi.”
Daru menghela nafasnya, entah bagaimana mengatakan pada Naya kalau dia tidak bisa meninggalkan rumah dan usaha yang sedang dijalankan. Karena itu semua peninggalan orang tua mereka.
“Tapi Nay ....”
“Kak Daru, aku hanya minta di antar. Kak Daru bisa kembali lagi ke sini.”
“Mana bisa aku tenang kamu tinggal jauh dari aku Nay. Kita tinggal bersama saja, aku kecolongan sampai kamu hamil begini.”
Naya menghentikan aktivitasnya lalu duduk di tepi ranjang sambil terisak. Daru menyugar rambutnya, bingung dengan bagaimana dia harus bersikap.
“Aku sayang kamu Nay, hanya tidak ingin kamu melewati ini sendirian. Baiklah, aku akan antarkan kamu. Tapi tidak keluar kota, aku tidak mungkin biarkan kamu tinggal jauh dari jangkauanku.”
Sementara itu di restoran, Tristan mulai kesal menunggu kedatangan Naya.
“Ck, kemana dia? Sengaja membuatku menunggu,” ujar Tristan.
Dion yang masih ada bersama Tristan menyarankan agar Tristan menghubungi Naya. Berkali-kali Tristan melakukan panggilan, nomor ponsel Naya tidak aktif.
“Shitt, ada apa dengannya. Jelas-jelas tadi dia mengatakan sudah berangkat.” Tristan pun menghubungi Daru dan yang tidak menjawab panggilannya.
“Ada yang tidak beres, aku harus menemui Naya.” Tristan beranjak meninggalkan restoran tempat janji temu dengan Naya, menuju tempat tinggal perempuan yang sudah membuatnya khawatir dan emosi jiwa.
Sesampainya di kediaman Daru dan Naya, Tristan tidak menemukan aktivitas berarti. Bahkan pagar rumahnya terkunci rapat. Dari salah satu tetangga Daru mendapatkan informasi kalau Daru dan Naya pergi belum lama.
“Kemana mereka, apa yang direncanakan?” gumam Tristan kemudian menghubungi Dion untuk mencari kakak beradik itu.
...***...
“Gimana, kamu suka tempatnya?” tanya Daru. Dia membawa Naya untuk tinggal di apartemen di pinggiran kota. Sengaja menilih lokasi itu, agar Daru menemui Naya tidak sulit karena hanya satu jam perjalanan.
“Memang unitnya tidak terlalu luas, mirip seperti sebuah kamar hotel standard. Tapi cukup nyaman,” seru Daru.
“Hm, aku suka lingkungannya. Tidak masalah Kak,” jawab Naya tidak ingin membebani Daru lebih dari yang sudah dia lakukan.
“Aku sudah kirimkan uang ke rekening kamu, bisa kamu gunakan untuk beberapa hari ke depan. Nanti aku akan ....”
“Kak, ini sudah cukup. Aku masih ada tabungan dan akan cari kerja di daerah sini.”
“Kerja? Kamu sedang hamil Nay, jangan buat aku semakin khawatir,” keluh Daru benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Naya.
“Kak Daru tenang saja, aku tidak akan bekerja berat. Kalau hanya diam di apartemen aku pasti jenuh.”
“Ya sudahlah. Ayo kita ke lihat unit tempat tinggalmu,” ajak Daru sambil menyeret koper Naya.
Setelah memastikan Naya aman dan nyaman, bahkan Daru sempat membelikan stok makanan untuk Naya sebelum dia pulang.
“Loundry tidak jauh dari resepsionis, kamu tanya saja. Baiknya jangan setia hari mencuci,” pesan Daru. “Sofa itu terlihat nyaman tapi jangan tidur di sofa. Kalau ada masalah dengan toiletnya atau hal lain kamu hubungi teknisi gedung. Ini sudah lengkap kontak daruratnya,” seru Daru menjelaskan semua hal pada Naya.
“Kakak pulang malam ini?” tanya Naya yang duduk di tepi ranjang.
“Hm, Tristan pasti mencari kita. Kalau aku tidak pulang, dia menduga kalau kita kabur. Entah apa yang akan dia lakukan kalau tahu kamu melarikan diri begini.”
“Maafkan aku Kak, karena aku kakak jadi susah.”
Daru mengusap kepala Naya, “Kamu adikku dan sudah sepantasnya hidupmu bergantung kepadaku. Jaga diri baik-baik, hubungi aku kalau ada apa-apa. Secepatnya aku akan kemari lagi.”
Naya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Mengantarkan Daru sampai pintu dan berpesan agar Daru berhati-hati. Naya mengganti pakaiannya dengan piyama kemudian berbaring di ranjang. Agak sulit baginya menyesuaikan diri di tempat baru, tapi pendiriannya untuk pergi dari Tristan sudah sangat kuat.
Tristan menugaskan orang untuk mengawasi kediaman Daru dan Naya. Saat Daru sudah kembali ke rumah, kabar itu pun sampai pada Tristan.
Tristan tiba di kediaman Daru pagi sekali. Sudah tidak sabar ingin menemui Naya karena sejak kemarin, keberadaan Naya tidak jelas.
Pintu akhirnya dibuka oleh Daru dengan wajah berantakan khas bangun tidur.
“Dimana Naya? Kenapa tidak bisa dihubungi?” tanya Tristan.
Daru menghela nafasnya.
“Dia pergi.”
“Maksudnya?”
“Aku pikir kamu cukup cerdas tapi ternyata bodoh. Pergi artinya tidak ada di sini.”
Tristan mengusap wajahnya menekan ego agar tetap sabar dan waras menghadapi Daru.
“Aku tidak mengerti, apa kalian sedang mempermainkanku?”
“Tidak ada yang mempermainkanmu Tristan. Naya pergi, dia marah dan kecewa saat tahu kalau foto-foto yang menyebabkan Ibu shock lalu terkena serangan jantung ternyata dikirimkan oleh kalian.”
“Hei, itu terjadi saat kita masih berseteru. Tidak ada yang menduga akan seperti ini, karena tujuannya jelas hanya untuk menekan kamu dan melibatkan Naya akan semua ini.”
“Naya tidak ingin hidup dengan pria yang mengingatkan selalu pada kematian Ibu. Aku harap kamu mengerti akan hal itu.”
“Shitt, Daru jangan buat aku nekat. Naya sedang mengandung anakku, katakan dimana dia berada?”
“Carilah sendiri, aku sudah berjanji tidak akan mengatakan dimana Naya berada. Sebagai Kakak, aku hanya ingin dia bahagia. Kalau menikah denganmu hanya akan membuatnya tersiksa, aku tidak bisa biarkan itu terjadi.”
Tristan terkekeh. “Apa kalian benar-benar menguji kesabaranku. Aku bisa menemukannya tapi itu perlu waktu, ingat Daru aku masih punya bukti dari kejahatanmu. Jangan sampai semua itu berpindah ke tangan pengacaraku lalu menjadi sebuah laporan.”
“Aku tidak takut dengan ancamanmu, hal ini hanya akan membuat Naya semakin membencimu,” ungkap Daru tanpa rasa takut.
Tristan menyentuh dagunya kemudian menunjuk wajah Daru. “Sebaiknya aku segera menemukan Naya atau kita akan kembali berseteru.”
\=\=\=\= Hai ada rekomendasi karya dari temanku, menarik banget ceritanya. Mampir yuks !
gentala & ajeng
kerennnnnnnn lahhhhh pkknya
tristan²... kamu kan blum tau crta aslinya gmn, main bales dendam aja, hati² besok nyesel aja, tau rasa deh
Naya gak ada salah apapun. Sheryl juga salah karena gak bisa jaga diri.
pengecut kau... semoga kau bucin sama naya