NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Pewaris Dingin

Istri Kontrak Sang Pewaris Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika / CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fabdul

​Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.

​Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.

​Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.

​Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?

​Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Demi Ibu dan Adik-Adik

Aira menatap tanda tangannya di atas kertas bermeterai. Setelah Devan membubuhkan tanda tangan, Arga merapikan dokumen itu dan menyimpannya ke dalam map kulit hitam.

"Selesai," ujar Devan sambil berdiri.

Ia merapikan jas abu-abunya, lalu menatap Aira.

"Besok pagi, ambulans akan membawa ibumu ke rumah sakit. Biaya pengobatan dan perawatannya sudah kuurus."

Aira mengangguk lega. "Terima kasih, Tuan."

"Besok sore, setelah urusan rumah sakit selesai, kau harus siap berangkat ke Jakarta. Kita akan mengurus pernikahan dan pencatatan sipil lusa."

Aira mengangkat wajahnya. "Apa saya tidak bisa tinggal lebih lama untuk menemani Ibu?"

"Aku sudah menyiapkan dua perawat untuk menjaganya. Kau tidak perlu mengkhawatirkan perawatannya."

"Tapi, saya ingin berada di samping Ibu."

Devan menatapnya datar. "Aku sudah mengatur semuanya. Jangan membuat rencana ini berubah."

Aira terdiam. Ia masih ingin menemani ibunya, tetapi ia sadar bahwa dirinya sudah terikat dalam perjanjian dengan pria di hadapannya.

"Baik, Tuan. Saya akan siap besok sore."

Devan mengangguk singkat, lalu berjalan menuju pintu. Arga menyusul setelah berpamitan kepada Aira.

Tak lama kemudian, sedan hitam mereka meninggalkan halaman rumah.

Aira masih berdiri di depan pintu ketika Ratih menghampirinya.

"Kak, tadi pria berjas itu bilang apa? Kenapa Kakak harus ikut dia ke Jakarta besok?"

Aira mengajak adiknya itu untuk duduk di ruang tengah. Bima dan Maya ikut mendekat.

"Kakak mendapat pekerjaan di Jakarta. Besok sore, Kakak harus berangkat setelah memastikan Ibu sudah dibawa ke rumah sakit."

Ratih mengerutkan kening. "Memangnya Kakak akan bekerja apa di sana?"

"Belum bisa Kakak ceritakan semuanya sekarang. Yang penting, pekerjaan ini bisa membantu biaya pengobatan Ibu dan kebutuhan kalian."

Ratih menunduk. "Sekarang Kakak juga harus pergi. Padahal Ayah sudah tidak ada di rumah. Kalau Kakak pergi, siapa yang akan membantu kita?"

Aira menggenggam tangan adiknya.

"Justru karena keadaan kita seperti ini, Kakak harus berusaha mencari jalan keluar."

"Tapi, Kak, kenapa Ayah sampai membuat kita mengalami semua ini?"

Aira terdiam sejenak. Ia pun masih kecewa dengan ayahnya, tetapi tidak ingin adiknya terus memikirkan hal itu.

"Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, Ratih. Sekarang, kita harus berusaha memperbaiki keadaan."

Ratih mengangguk pelan.

"Kakak hanya ingin Ibu mendapatkan pengobatan yang layak dan kalian tetap bisa sekolah. Selama Kakak pergi, kamu bantu menjaga Bima dan Maya, ya."

"Iya, Kak."

Bima yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara.

"Kalau Kakak pergi, siapa yang mengurus sanggar?"

"Untuk sementara, sanggar akan diurus Paman dan Bibi. Nanti Kakak akan memberi tahu mereka," jawab Aira.

"Lalu, siapa yang menjaga kita kalau Ibu dirawat di rumah sakit?" tanya Bima.

Aira menggenggam tangan Ratih.

"Kakak minta kamu membantu menjaga Bima dan Maya selama Kakak pergi, ya, Ratih. Kalau ada apa-apa, kalian bisa meminta bantuan Paman dan Bibi."

"Iya, Kak. Ratih akan menjaga mereka."

Aira tersenyum tipis, lalu mengusap kepala Bima.

Maya lalu menarik ujung baju Aira.

"Kak, nanti Maya tidur sama siapa?"

Aira tersenyum, lalu merangkul tubuh mungil adiknya.

"Sama Kak Ratih, ya. Maya harus jadi anak manis dan tidak boleh rewel."

Maya mengangguk sebelum memeluk Aira erat. Aira membalas pelukan itu.

Aira kemudian meminta Ratih menjaga Bima dan Maya sebentar. Sementara ia pergi ke rumah Paman dan Bibinya yang tidak jauh dari rumah mereka.

Setelah duduk bersama Paman dan Bibi, Aira menyampaikan bahwa dirinya harus berangkat ke Jakarta keesokan sore juga menjelaskan bahwa ibunya akan menjalani perawatan di rumah sakit kota.

"Kalau begitu, siapa yang akan mengurus sanggar selama kamu pergi?" tanya Bibi.

"Itulah yang ingin Aira bicarakan. Aira ingin meminta bantuan Paman dan Bibi untuk mengurus sanggar sementara waktu. Aira belum tahu kapan bisa pulang."

Paman mengangguk. "Kamu tidak perlu khawatir soal sanggar. Biar Paman dan Bibi yang mengurusnya."

Aira terdiam sejenak sebelum kembali berbicara.

"Aira juga titip Ratih, Bima, dan Maya. Selama Aira pergi, Aira berharap Paman dan Bibi bisa sesekali melihat keadaan mereka."

"Tentu, Ra. Kamu tenang saja. Kami akan membantu menjaga mereka," jawab Bibi.

"Terima kasih, Paman, Bibi. Aira benar-benar terbantu."

Setelah berbincang sebentar, Aira berpamitan dan kembali ke rumah. Malam semakin larut. Aira kemudian masuk ke kamar ibunya.

Wanita itu masih terbaring lemah di ranjang. Aira duduk di sampingnya, lalu menggenggam tangannya.

"Ibu, besok Ibu akan dibawa ke rumah sakit yang lebih bagus," katanya pelan. "Ibu harus semangat, ya. Aira ingin Ibu sembuh."

Aira mengusap punggung tangan ibunya.

"Besok sore, Aira harus pergi ke Jakarta, Bu."

Ia menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Aira ingin menemani Ibu lebih lama. Tapi, Aira juga ingin Ibu mendapatkan pengobatan yang layak."

Air mata Aira jatuh membasahi tangan ibunya. Ia segera mengusapnya, lalu kembali menggenggam tangan wanita itu.

Beberapa saat kemudian, Aira menyandarkan kepalanya di tepi ranjang. Ia belum tahu seperti apa kehidupannya nanti di Jakarta. Yang ia tahu, ia harus pergi demi pengobatan ibunya dan masa depan adik-adiknya.

Bersambung...

1
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Muft Smoker
Devan gengsi ny msh Segede Bulan ,,
Ariany Sudjana
Devan sudah ada hati sama Aira, cuma masih Denial dengan perasaannya sendiri
Jesselyn Runtuwene
lanjut 👍
Jesselyn Runtuwene
lanjut
fabdul
Luar Biasa
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Jesselyn Runtuwene
ijin promosi novel juga Judul Sang Pemain ( yang awalnya tidak suka bermain bola menjadi pemain profesional ) mampir yuk
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Jesselyn Runtuwene
semoga saja Clara tidak menimbulkan masalah
Muft Smoker
Clara mungkin tenang dlm setiap obrolan ,, dan semoga akan ttap seperti tu ,, jgn prnh merusak rumah tangga prempuan lain ,, dan Devan harus selalu bisa mengambil sikap tegas ,,
Ariany Sudjana
kamu harus tegas Devan, jangan sampai si pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan aira, apalagi mama kamu kelihatan sekali masih berharap Clara yang jadi istri kamu, hanya karena pertimbangan sama-sama keluarga konglomerat
Jesselyn Runtuwene
semoga Clara tidak menjadi masalah bagi Devan
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Anvika
Ratih berhenti sejenak, keknya lebih bagus diganti napas Ratih tercekat.
fabdul: siap kak makasih ya atas masukannya, nanti aku baca kembali bab ini sebelum revisinya 😊
total 1 replies
Anvika
Mampir kak
Anvika
Lanjut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,

semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,
Muft Smoker: ok siap kak ,,
semangat trus /Grin/
total 2 replies
Muft Smoker
waah nyari masalah aj niih siapa pun org ny😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!