Dilamar di hari pernikahan temannya, disaksikan ribuan pasang mata. Anggun merasa dia adalah orang yang paling bahagia di dunia ini kala itu. Namun sayangnya, siapa yang menyangka kalau rumah tangga mereka akan terancam oleh kedatangan orang ketika pilihan dari keluarga kandung yang tidak suka dengan kehadiran Anggun sebagai menantu keluarga mereka.
Akankah Anggun bisa tetap bertahan setelah badai besar itu datang? Bagaimana sikap Dion sang suami saat dihadapkan dengan kedatangan orang ketiga yang orang tua kandungnya pilihkan? Ikuti kisah mereka di sini yah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part *31
Tidak bisa berucap apa-apa. Dion yang tidak mengerti hanya bisa memasang wajah polos dengan seribu tanda tanya. Karena bi Ina terus saja ngoceh tanpa membiarkan Dion berucap terlebih dahulu.
"Non Anggun sudah banyak melewatkan masa sulit selama tuan muda tinggalkan. Sejujurnya, bibi juga tidak ingin menyalahkan tuan muda. Tapi semua ini ... sungguh membuat bibi merasa kesal."
"Tunggu, Bik! Tolong katakan padaku sebenarnya apa masalah dari semua ini? Aku sungguh tidak paham ke mana arah pembicaraan bibi ini berjalan."
Tidak menjawab dengan kata-kata. Bi Ina langsung menyodorkan ponsel Anggun yang sempat dia bawa sebelum mereka ke rumah sakit.
"Ponsel? Inikan ponsel ponsel Anggun, bik? Ada apa dengan ponsel ini?"
"Buka dan lihat saja, tuan muda. Polanya masih sama dengan yang dulu."
Dion terdiam. Dia tatap wajah bi Ina sesaat. Wanita paruh baya itu terlihat sangat kecewa dari wajahnya saat ini.
Dion yang merasa kalau ada hal besar yang sedang disembunyikan dalam ponsel itu, tidak ingin membuang waktu lagi. Dia langsung menggeser layar gawai persegi panjang itu dengan lincah.
Saat kunci terbuka, tampilan yang langsung muncul tentu saja pesan foto yang Sisil kirimkan sebelumnya. Karena layar ponsel itu masih tidak ada yang menyentuhnya setelah bi Ina melihat sebelumnya.
Dion kaget bukan kepalang. Sampai-sampai, dia tidak bisa bernapas dengan baik ketika matanya melihat foto tersebut.
"In--ini ... ini foto aku tadi malam?"
Dion berucap tanpa sadar. Dia yang kaget, reflek mengucapkan kata-kata itu saat dia lihat bajunya yang ada di atas ranjang. Tanpa dia pikir terlebih dahulu, kalau kata-kata yang dia ucapkan itu langsung membuat orang yang mendengar percaya dengan apa yang ada di dalam foto tersebut.
Seperti yang terjadi dengan bi Ina saat ini. Dia yang mendengarkan ucapan itu langsung membulatkan matanya dengan perasaan marah.
Awalnya, bi Ina masih berharap kalau foto yang ada di dalam sana bukanlah Dion. Melainkan, hanya editan belaka. Dengan begitu, dia merasa tidak salah telah membela Dion sejak awal.
Tapi sayangnya, kata-kata itu membuat bi Ina sangat menyesal. Dia bahkan terlalu malu untuk berhadapan dengan Anggun sekarang.
"Jadi benar, tuan muda telah melakukan hubungan tidak senonoh dengan perempuan itu? Ya Tuhan ... aku sebagai pengasuh mu, sungguh tidak percaya dengan hal ini, tuan muda. Aku sungguh menyesal sekarang. Aku .... "
"Bi Ina dengar dulu. Aku belum selesai bicara, bik. Foto itu menang aku, tapi aku tidak melakukan hal yang tidak baik dengan dia. Aku masih tidak mengkhianati Anggun sebagai istriku, bik."
"Siapa yang akan percaya dengan apa yang tuan muda katakan ini, tuan muda? Jangankan non Anggun sebagai istri. Bibi saja sudah mulai tidak yakin dengan tuan muda saat ini."
"Ya ampun, Bik. Bibi tahu aku, bukan? Kamu sudah merawat aku sejak kecil dengan mama. Aku yakin kalau bibi pasti tahu seperti apa aku, bik."
"Tuan muda .... "
Ucapan bi Ina langsung tertahan saat pintu ruangan tersebut terbuka. Dion yang cemas, langsung menghampiri dokter yang baru saja muncul dari balik pintu tersebut.
"Bagaimana dengan keadaan istri saya, Dok? Apa dia baik-baik saja? Kenapa dengan dia? Apa penyebab istri saya pingsan tadi."
"Pertanyaan anda akan saya jawab di ruangan saya. Saya tunggu anda di ruangan sebelah, mas."
"Baik, Dok. Saya akan ke sana sebentar lagi. Tapi, tolong izinkan saya bertemu dengan istri saya di dalam. Sebentar saja, Dok. Bolehkah?"
"Silahkan, Mas. Saya bisa menunggu." Dokter tersebut berucap dengan ramah. Dengan senyum manis di bibirnya.
"Terima kasih banyak, Dok."
Dokter itu kembali mengukir senyum sambil menganggukkan kepalanya. Selanjutnya, dokter tersebut langsung pergi meninggalkan kamar itu, dan Dion langsung masuk ke dalam.
Di dalam ruangan, terlihat Anggun yang masih terbaring lemah sambil memegang kepalanya. Dion yang berniat menjelaskan, langsung menghampiri Anggun dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Gun. Aku minta maaf. Apa yang terjadi itu .... "
"Tidak perlu kamu jelaskan lagi, kak Dion. Aku tidak ingin bicara dengan kamu lagi soalnya. Aku ingin, kita bercerai saja."
"Anggun."
"Tolong ceraikan aku sekarang juga. Atau jika tidak, aku sendiri yang akan menggugat cerai kamu secepatnya, kak Dion."
Anggun bicara dengan nada tegas sekarang. Baru pertama kali dia begitu tegas dengan Dion. Selama hubungan pernikahan yang sudah dia lalui, dia selalu bicara dengan hati yang berat. Tapi untuk kali ini, dia bicara dengan hati yang terasa tanpa beban sedikitpun.
"Beri aku kesempatan sedikit saja, Gun. Tolong dengarkan penjelasan aku. Semua yang terjadi dengan kita ini hanya salah paham saja. Aku ...."
"Salah paham? Semua yang sudah aku lalui sendirian selama ini itu hanya salah paham saja, kak Dion? Kamu memang orang yang luar biasa."
"Aku istri kamu. Tapi, kita berjauhan selama berbulan-bukan. Kamu pulang setelah dua bulan tidak pernah menampakkan dirimu di depan aku. Tapi, setelah pulang hanya tinggal dalam hitungan jam. Aku masih bertahan dengan itu meski rasanya sungguh sakit. Aku Kamu anggap sampah saat berada di rumah sakit. Dan ... masih banyak kesalahan yang lainnya yang sudah kamu lakukan. Apa semua itu hanya salah paham saja? Sungguh, aku tidak kuat lagi."
"Anggun. Aku tahu aku salah. Tapi tolong, dengarkan penjelasan ku kali ini saja. Setelah kamu mendengarkan semua penjelasan dari aku, maka aku siap menerima semua keputusan kamu. Apapun itu, Gun."
"Terlambat, kak Dion. Sudah terlambat untuk menjelaskan padaku. Karena hati ini sudah mati untuk kamu. Perasaan ini sudah mati rasa, tidak bisa bertahan lagi walau seperti apapun penjelasan yang kamu buat."
"Anggun. Tolong .... "
Belum sempat Anggun menjawab, seorang suster datang menghampiri mereka. Tentu saja pembicaraan itu langsung terhenti seketika.
"Maaf mbak, mas. Dokter mengatakan kalau dia ada urusan lain. Dia meminta kalian segera ke ruangan nya sekarang juga agar dia bisa menjelaskan kondisi dari mbak Anggun. Silahkan!"
"Baiklah. Saya akan ke sana sekarang," ucap Dion dengan wajah dan nada kesal.
"Dokter bilang, mbak Anggun di minta ikut jika sudah kuat untuk berjalan. Karena apa yang akan dokter jelaskan ini juga penting untuk mbak dengarkan."
"Apa mbak sudah kuat dan bisa ikut masuk ke ruangan dokter saat ini, mbak?"
"Saya ... baiklah. Saya bisa ikut ke ruangan dokter untuk mendengar penjelasan."
"Baguslah kalau begitu. Mari kita ke sama sekarang."
"Baik." Keduanya berucap serentak.
Dion yang merasa cemas akan keadaan Anggun, bersiap-siap untuk membantu istrinya. Tapi sayang, bantuan yang siap dia berikan, langsung di tolak Anggun dengan cepat.
Hati, jika sudah tersakiti, masalahnya akan sangat rumit. Seperti itu juga Anggun saat ini. Karena rasa sakit, dia merasa begitu jijik dengan suaminya sendiri.
padahal tadi emosiku
sudah mengebuh_gebuh
sangat halal untuk di binasakan...
bakalan aku buat acara syukuran
besar_besaran😤
bangunkan sisi gelap
dan tujukan taring mu
SIALANG....
bangun dan buat perhitungan
BINATAN...
anak yg kau kandun mati sia² karna kegoisan mertua gila mu itu
jangan di biarka lolos begitu saja
PENGECUT🤬🤬🤬
iiihhsss emosi kali...
1- minta pengertian istri mu
2-nikahi si lonton itu
3-berakting sebaik mungking selama beberapa bulang...
4-Lumpuh kan mereka seumur hidup
percayalah gk ada lagi yg berani mengamcam😃
tapi kasian
si anggun yg tersiksa secara fisik dan bating
*SU
SETANG IBLIS 😤😤😤