Devina Stefani Germanotta, wanita yang tengah hamil tua berusia 25 tahun berjalan masuk ke dalam rumah setelah memeriksa kandungannya ke rumah sakit Sejahtera Harapan Bunda.
Wanita itu menyeret dirinya ke rumah sakit, karena suaminya tidak punya waktu untuk mengantar dirinya dengan alasan sibuk mengurus perusahan yang sedang berkembang pesat.
Devina berjalan menuju kamar, karena tubuhnya terasa pegal sekali. Dan ia ingin segera mandi, agar tubuh pegalnya bisa kembali segar.
Baru separuh pintu di buka, Devina malah mendengar suara des*h*n seorang wanita tepat di dalam kamarnya. Ketika ia menghidupkan lampu kamarnya, sontak saja matanya menangkap dua orang berlawanan jenis, sedang bergumul di atas tempat tidur yang biasa ia gunakan untuk berhubungan dengan suaminya.
Namun, kini suaminya menggunakan tempat tidur itu untuk bergumul dengan wanita yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri, yaitu Vindy Bernadette Claudia.
Tapi... untuk mengetahui lebih lanjut, ikutin terus dong alur cer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31.
Sinopsis–31.
Tepat pukul 11 : 30 siang.
Biasanya, inilah waktu yang di manfaatkan seluruh pegawai kantoran untuk bebas melakukan apapun. Termasuk mengambil (jam istirahat), untuk mengisi perut mereka yang lapar. Setelah terlepas dari semua tugas pekerjaan di kantor selama jangka dalam waktu 30 menit.
Begitupun Verlyn dan juga Elvina. Setelah menjalankan kewajiban sebagai atasan dan bawahan. Mereka kini bergegas turun ke lantai bawah untuk mengisi perut, sebelum akhirnya berangkat ke tempat tujuan.
Kini mereka telah sampai, setelah menggunakan lift. Meskipun berbeda. Namun mereka melenggang keluar lift secara bersamaan.
"Selamat... siang, nona?" sapa Elvina sembari membungkukkan badan.
"Siang juga?" jawab Verlyn membalas sapaan sekretarisnya sambil berjalan masuk kantin kantor untuk memesan makanan.
"Kita... makan dulu nona, baru berangkat?" ujar Elvina sambil mengikuti langkah atasannya dari belakang.
"Hmmm!" dehem Verlyn menimpali ucapan sekretarisnya.
"Sesuai... yang aku ucapkan tadi, kita langsung berangkat setelah makan siang? Mobilnya... udah aku panaskan, jadi kita tinggal makan aja? Terus... setelah ini kita langsung jalan, okey" lanjut Verlyn sembari mendudukkan tubuhnya pada kursi depan meja kantin, dan Elvina menganggukkan kepala tanda setuju.
"Mau... makan apa nona, biar sekalian saya pesankan juga?!" tanya Elvina dengan sopan sembari menundukkan kepala menatap lantai.
"Sop iga sapi 1 porsi, dan minumannya es jus jeruk aja?!" pungkas wanita itu memberitahu.
"Oh, ya udah?!" lalu Elvina berjalan perlahan untuk memesan makanan.
"Mbak, mau pesan dong?" ujar Elvina pada si pemilik kantin.
"Iya, mbak Elvina mau pesan apa?" ujar si pemilik kantin malah balik bertanya.
"Mau... pesan Sop iga sapi 1 porsi, dan Nasi nainam chicken charsiu juga 1 porsi. Kalau... Untuk minumannya, pesan es jus jeruk aja mbak dua gelas?!" lanjut Elvina menyebutkan pesanan makanannya pada wanita paruh baya di hadapannya.
"Okey... silahkan duduk dulu mbak, karna pesanan mbak sebentar lagi kami antarkan ke meja anda?!" ujar wanita paruh baya itu mempersilahkan Elvina untuk duduk pada kursi yang telah di sediakan oleh si pemilik kantin.
Wanita itu lalu mengangguk dan tersenyum. Kemudian perlahan berjalan ke arah meja, untuk mencari tempat yang kosong. Namun sayang, pergerakan Elvina malah keduluan teman-teman sekantornya. Masih ada sih meja yang kosong. Tapi siapa yang berani, duduk satu meja dengan wanita yang terkenal dingin dan suka arogan itu.
Daripada cari penyakit, lebih baik mundur secara baik-baik. Yang pernah mengalami, pasti trauma. Dan itulah yang selalu di tanamkan oleh mereka ketika, berdekatan dengan wanita itu. Tak terkecuali dengan Elvina yang hampir setiap hari, menerima perlakuan buruk oleh atasannya. Sekaligus menyandang status sebagai mantan teman sekolahnya.
"Hai... Elvina ngapain bengong, ayo sini duduk? Sebentar... lagi pesanannya datang, kamu malah berdiri di situ?!" tegur Verlyn langsung membuyarkan lamunan sekretarisnya.
"I—iya nona?!" Elvina yang terkejut, terbata-bata menyahut, dan perlahan duduk satu meja dengan atasannya.
"Mungkin... kepala wanita ini pernah terbentur, makanya dia... rada-rada(linglung). Tapi... untung ajalah kalau begitu, aku jadi bisa berna— "
PLAK.
"Auukh!"
"Ngapain... bengong, nih makanannya udah datang?!"
Satu jitakkan mengenai dahi wanita itu. Verlyn merasa kesal lantaran Elvina terus-terusan melamun, hingga tidak sadar jikalau pesanan makanannya sudah tersaji semua di meja makan.
"I—iya nona, maaf?!" ujar Elvina sembari mengelus dahinya yang terasa sakit.
Meskipun jitakkan atasannya tidak terlalu keras. Namun Elvina tetap merasakan sakit di bagian sana. Hingga membuat wanita itu meringis kesakitan, di setiap kali ia mengelus dahinya yang sakit.
"Melamun... terus, apa sih yang kamu pikirkan?!" Verlyn mulai menyantap Sop iga sapi pesanannya sambil bertanya, dan juga sekali-kali menyeruput es jus jeruknya.
"Lamunin... kamu, bos galak bin arogan?! " umpat Elvina dalam hati sambil mengunyah makanan yang sudah ia sendokkan ke dalam mulut.
"Hmm... hmmm, melamun lagi kan?!" Verlyn lagi-lagi berdengus kesal, lantaran Elvina menanggapi ucapan atasannya dengan lamunannya terus-terusan.
"Ma—maaf nona, se—kali lagi saya mi—minta maaf?!" ucap Elvina semakin terbata-bata, dengan ekspresi ketakutan.
"Bukan... ucapan maaf yang ingin aku dengar, El... vina...! Tapi, jawaban! Apa... sih yang selalu bikin kamu melamun, terus-terusan?!"
Pada akhirnya, wanita itu kembali bersuara tinggi pada sekretarisnya. Wanita itu marah sambil melontarkan pertanyaan penuh penekanannya dengan ekspresi tatapan dingin dan tajam.
"A—i—itu, anu. Hmmm," lirik Elvina semakin gelagapan.
"A m A m, apa!" tegas Verlyn kembali bertanya sambil menyenderkan tubuhnya pada kursi yang didudukinya.
"Itu... aku cuma punya masalah keluarga yang belum terselesaikan, nona? Makanya.. sampai sekarang, saya masih suka ke pikiran?!" elak Elvina secepat kilat langsung menjawab pertanyaan atasannya dengan ekspresi wajah penuh tekanan batin.
"Oh... masalah, pribadi?!" ucap wanita itu sambil menghembuskan nafasnya secara perlahan, lalu kembali menyendok kan Sop iga sapi itu ke dalam mulutnya. Begitupun Elvina hanya mengangguk menanggapi ucapan atasannya, lalu kembali mengunyah Nasi nainam chicken charsiu itu ke dalam mulutnya setelah menyendok nya.
"Tapi... El, kalau boleh aku saranin ya? Masalah... pribadi macam itu, sebaiknya jangan di bawa-bawa ke kantor? Aku teman mu? Kalau... kamu ada masalah jangan sungkan-sungkan untuk cerita, okey? Karna... siapa tahu aku bisa, membantu?!" lanjut Verlyn berusaha untuk memahami, sambil memberi saran kepada temannya agar beban pikirannya sedikit berkurang ketika sudah bercerita.
"Elleh... sok-sokan membantu, padahal dia sendiri yang sering menindas aku? Katanya... teman, tapi kok arogan banget?!"
Elvina merasa tergelitik oleh ucapan temannya, lalu ia pun kembali mengumpat dalam hati mendengar kata-kata itu keluar dari mulut atasannya.
"Udah, jangan terlalu di pikiran. Habiskan makananmu, aku tunggu kamu di mobil?!"
Verlyn bangkit dari tempat duduknya sambil menepuk pundak temannya, ia melenggang pergi menuju kasir untuk membayar makanan yang telah ia pesan.
"Berapa semuanya mbak Ningsih?!" ujar Verlyn pada si pemilik kantin yang ternyata bernama mbak Ningsih.
"Hmmm... siapa, ya?!"
Bukannya langsung memberitahu, eh... mbak Ningsih itu malah balik bertanya sambil menatap bingung wajah wanita di hadapannya.
"Aku... pegawai baru di perusahaan ini, mbak Ningsih? Hmmm... bisa langsung di sebut aja gak berapa harga semua makanan yang barusan teman saya pesan? Di sana... tadi saya makan sama wanita itu, kalau gak salah namanya mbak Elvina?!" ujar Verlyn panjang lebar sambil berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah, lantaran kesal mendengar pertanyaan wanita paruh baya itu.
Daripada masalah tambah ruyam, Verlyn pun terpaksa berbasa-basi dengan pertanyaan si pemilik kantin itu.
"Semuanya—"
"Nih... uang 300 ratus ribu, ambil aja kembalikannya?!" potong Verlyn langsung melenggang pergi, setelah meletakkan uang tiga ratusan nya di meja kasir si pemilik kantin itu.
"Menjengkelkan?!" umpat Verlyn setelah sampai dan masuk ke dalam mobil.
Sedangkan di sisi lain. Masih ada si pemilik kantin yang bergelayut dengan pikirannya sendiri, setelah melihat wanita yang melenggang pergi dari hadapannya, dengan ekspresi kesal.
"Wanita... itu, tidak terlihat seperti pegawai kantoran baru? Barang-barang... dan pakaian yang di kenakan nya, terlihat brendit dan mahal semua? Cara... berjalannya, terlihat anggun seka—"
"Mbak? Mbak Ningsih?!"
"I—iya?"
"Lamunin... siapa mbak, lihatin siapa sih di sana?!"
Hingga akhirnya Elvina membuyarkan lamunan si pemilik kantin itu. Elvina bertanya sambil menggoyang-goyangkan tubuh wanita paruh baya itu.
"Itu....?"
"O wallah... mbak Ningsih, jadi ikutan bingung aku mbak? Jadi... berapa yang harus saya bayar, harga makanan tadi berapa semuanya mbak Ningsih?!" tanya Elvina sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menatap ekspresi bodoh si pemilik kantin.
"Su—sudah di bayar?" lirih si pemilik kantin menjawab dengan ekspresi wajah masih terlihat bingung.
"Hah?" Elvina yang merasa kurang jelas mendengar pun kembali bertanya kepada si pemilik kantin yang sedang duduk di depan meja kasirnya.
"Sudah... di bayar semua tadi sama wanita yang barusan pergi keluar, mbak Elvina?!" jelas si pemilik kantin memberitahu, setelah kesadarannya kembali stabil.
"Wanita... siapa mbak, Ningsih?!" tanya Elvina mengerutkan kening sembari menatap keluar kantin.
"Yang... barusan makan sama mbak Elvina, nih duitnya masih mbak Ningsih pegang?!" sarkas si pemilik kantin sambil memperlihatkan uang tiga ratusan itu kepada wanita di hadapannya.
"Oh... ya udah mbak Ningsih, aku pergi dulu kalau begitu?!" timpal Elvina dan perlahan melangkah pergi dari hadapan wanita paruh baya itu.
"Mood... wanita itu, benar-benar sulit di tebak? Kadang-kadang... suka marah-marah, kadang-kadang juga suka sok-sok baik? Ruwet-ruwet, kalau mikirin dia?! " gerutu Elvina melenggang pergi keluar menuju ke tempat, mobil itu sedang di parkir.
Bersambung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
Nah guys, untuk hari ini cukup sekian dulu cerita dari author. dan nantikan episode selanjutnya yang nantinya akan semakin seru dan menarik, oke👍👍
See you again thanks for watching 🙏🙏🙏