Bertemu setelah berpisah selama bertahun-tahun. Sahabat yang pernah mengisi ruang di hatinya. Pertemuan yang tak di sangka akan membuat jalan baru dalam kehidupannya yang kelam.
Sosok pria inilah yang dulunya membuat Rindu Nyaman.
Setelah mereka bertemu lagi, kini Ardian ingin mendapatkan Cinta Rindu secara utuh. Setelah dia terlambat menyadari cinta itu. Ardian berusaha untuk membuat Rindu kembali jatuh cinta padanya.
Status dan masalah yang berat, membuat Rindu ragu untuk membuka hatinya kembali.
Akankah persahabatan mereka berubah menjadi hubungan Asmara yang indah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MamGemoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama
***
Rindu terdiam cukup lama. Seakan tidak ingin merespon ucapan Ardian. Sudah terlanjur kecewa, hatinya terlanjur terluka.
"Rin …?" tanya Ardian memastikan persetujuan.
Gadis itu menghela napas panjang. "Baiklah," jawab Rindu akhirnya.
Ardian tersenyum senang. Meraih tangan Rindu dan mengecupnya lembut. Dia akan sabar menunggu jawaban dari Rindu.
Setelah putaran terakhir bianglala, mereka pun turun. Langsung menuju pintu keluar dan berjalan ke parkiran. Kali ini Rindu enggan untuk bergandengan.
Ketika mereka sudah duduk di dalam mobil, Ardian mengeluarkan sebuah kotak dari dashboard. Rindu hanya memperhatikan gerak gerik pria itu.
"Ardi itu apa?" Rindu pun penasaran.
Seraya tersenyum Ardian membuka kotak tersebut dan mengeluarkan isinya. Sebuah gelang putih bermotif angka delapan dihiasi dengan berlian. Delapan adalah lambang infinite, angka yang tidak pernah berakhir.
"Aku berharap hubungan kita tidak pernah berakhir." Ardian meraih pergelangan tangan Rindu dan memakaikan gelang itu.
Rindu memandangi pergelangan tangannya, melihat lebih jelas. Gelang itu begitu indah, tanpa dia sadari, genangan air memenuhi pelupuk matanya. Mengingat kembali hari ini adalah pertemuan terakhir mereka. "Ardi maaf, andai saja kamu tidak terlambat menyadari, andai saja rasa sakit ini tidak pernah aku rasakan. Tetapi, kini aku terlanjur menyerah. Maaf." Dia hanya bisa mengungkap semuanya dalam hati.
"Rindu … kamu nangis? Kenapa?"
Sudut matanya diusap dengan cepat. "Nggak, nggak apa-apa kok," jawab Rindu menggeleng. "Aku suka gelangnya. Makasih, Ardi."
"Sesuka itu, sampai buat kamu nangis?" Ardian terkekeh kecil. "Kamu gemesin banget sih … ternyata gini ya, rasanya bahagia saat pemberian kita dihargai?" Hatinya benar-benar berbunga-bunga sekarang.
Rindu diam, berpikir sejenak. "Ardi, boleh aku ngasih sesuatu sebagai balasan?"
"Balasan?"
Rindu langsung mendorong tubuhnya semakin mendekat. Menangkupkan telapak tangannya di kedua pipi Ardian. Mendekatkan wajahnya hingga Ardian tersentak. Perlahan dia mempertemukan bibir mereka. Rasa hangat dan lembut, hingga membuatnya memejamkan mata.
Untuk sesaat Ardian membelalakkan matanya, lalu mulai merespon tindakan yang dilakukan Rindu. Dia mulai memagut lembut hingga mulut mereka sedikit terbuka. Manis dan terasa aroma coklat yang dari pagutan bibir mereka.
Tidak tahukah Rindu, sedari tadi Ardian telah menahan diri untuk tidak bertindak sejauh ini. Namun, Rindu yang memulainya kini. Pria itu tak akan segan lagi. Dengan cepat Ardian memegangi tengkuk Rindu dan memperdalam kecupan itu hingga menjadi sesapan kecil. Rindu beralih mengalungkan lengannya di leher kokoh Ardian.
"Ardi … ini kado perpisahan dariku. Semoga kamu bisa menemukan jawaban apakah kamu benar-benar cinta. Ciuman pertamaku untuk kamu Ardi, cinta pertamaku. Aku harap kamu akan mengingatnya." Ungkap hati Rindu. Sekilas dia pun teringat akan mimpinya saat mencium seorang pria, terasa sama.
Mereka terbuai dalam kelembutan itu hingga sama-sama memejamkan mata. Secara alami mereka semakin terbuai, semakin jauh, semakin dalam. Aliran darah mereka terasa hingga ke ubun-ubun, hati menghangat, jantung berdetak lebih cepat. Semakin cepat temponya, semakin hangat pula terpaan dalam tubuh mereka. Cukup lama mereka menikmati itu, hingga akhirnya Ardian mendorong perlahan dan mengakhiri. Benar, sebelum tindakannya semakin jauh.
Ardian melekatkan kening dan hidung mereka. Melihat secara intens kedua bola mata gadis itu. Tatapan yang bersinar terang, penuh gejolak. Napas mereka saling memburu. Meraup sebanyak-banyaknya udara di sekitar.
"Apa ini pertama kali untukmu?" tanya Ardian dalam seruan napas berat. Rindu menjawab dengan anggukan kecil. "Terima kasih … ini juga pertama kali untukku." Akunya seraya tersenyum.
"Benarkah?" tanya Rindu lirih. Ada perasaan senang saat mendengarnya. Ternyata Ardian belum melakukan hal itu dengan Dania.
Ardian mengangguk. "Apakah sekarang kita resmi pacaran?" tanyanya kemudian.
"Tidak," jawab Rindu cepat.
Hal itu sontak membuat Ardian mendorong tubuh mereka. "Lalu, apa artinya yang tadi?"
"Tidak ada, aku hanya ingin membalas hadiah pemberianmu," ujar Rindu berkilah.
Ardian menaikkan sebelah alisnya. "Oke, nggak apa-apa … aku akan tunggu jawabanmu tiga hari lagi," ucapnya seraya mengecup kening Rindu mesra.
Sekuat hati Rindu berusaha menahan cairan yang akan keluar dari sudut matanya. "Selamat tinggal Ardi, Cinta pertamaku," batinnya. Rindu menganggap ciuman itu adalah salam perpisahan mereka.
Namun, berbeda dengan Ardian. Dia tampak sangat bahagia, senyumannya mengembang hingga melengkung indah. "Tiga hari, tidak akan lama lagi." pikir Ardian. Tanpa dia tau bahwa hari ini adalah perpisahan mereka.
Sepanjang perjalan pulang Rindu memejamkan mata, pura-pura tidur untuk menutupi kesedihannya. Ardian membiarkan, berpikir mungkin gadis itu sangat kelelahan.
***
Tiga hari kemudian. Pagi-pagi sekali Ardian pun datang ke rumah Rindu. Namun, pagar rumah itu terkunci menandakan mereka semua sedang keluar. Kemudian Ardian memutuskan untuk ke Studio tempat biasa Rindu latihan. Sesampainya disana Ardian langsung menuju ruangan Momo Band. Tetapi, hanya Teo, Dian, Dimas dan Bram yang ada di sana.
"Haii, gaes … kalian sedang apa?" tanya Ardian karena melihat mereka sedang mengemas peralatan. "Rindu dimana?" Tujuan utamanya datang memang menanyakan gadis yang sangat dia rindukan saat ini.
Namun, wajah kaget teman-temannya, membuat Ardian mengerutkan kening. Sisa anggota band itu saling berpandangan. Pertanyaan itu terdengar aneh bagi mereka, tidak mungkin Ardian tidak tahu sama sekali.
"Ardi … Lo sama sekali nggak tau?" tanya Dian kemudian.
"Tau apa?" Ardian tampak bingung.
Mereka pun serentak menghentikan kegiatan berkemas. Menatap Ardian dengan cara yang sama, kasihan.
"Apa maksud tatapan itu? Sesuatu terjadi dengan Rindu?" tanya Ardian mulai panik.
Dian menghela napas panjang, mencoba untuk menjelaskan. "Pagi tadi kami semua dari rumah Rindu, mengucapkan salam perpisahan. Kami pikir lo mungkin akan langsung ke bandara," tuturnya lirih.
"Bandara? Maksudnya apa?" Ardian melirik satu persatu temannya.
"Ardi … jadwal keberangkatan Rindu pagi ini." Dimas akhirnya ikut menjawab.
"Apa apaan ini? Berangkat kemana? Rindu pergi kemana?" Suara Ardian mulai meninggi.
"Kami nggak tau. Rindu kekeh nggak mau ngasih tau tujuannya, jadwal penerbagan, info no penerbangan. Bahkan dia menolak kami antar ke bandara," ucap Dian lagi.
"Apa maksud semua ini? Kenapa satupun dari kalian nggak ada yang bilang!" Ardian mulai hilang kendali, emosi, marah.
"Gue pikir lo udah tau langsung dari Rindu, Ardi," jawab Dian membela diri.
Ardian mulai kalut, mengeluarkan ponsel, mencoba menghubungi Rindu. Namun, nomor Rindu tidak aktif. Ardian berteriak mengamuk memukul permukaan dinding studio itu hingga membekas merah. Kulit tangannya berdarah. Membuat semua teman-temannya terkejut, juga prihatin dengan keadaan Ardian. Dimas pun maju untuk menenangkan.
"Gue harus susul dia sekarang!" Ardian tak dapat menahan lagi amarahnya, dia langsung berlari keluar ruangan.
Seketika itu, Dimas, Dian, Teo dan Bram ikut panik. Sesuatu bisa saja terjadi, melihat betapa marahnya Ardian saat ini. Mereka pun segera berlari menyusul.
***
aku tunggu kelanjutannya....
☺️
Bagus.. mudah di pahami...
juga menyentuh...
. selalu semangat untuk kakak author....
semoga karyamu semakin berjaya,...
💪💪💪💪☺️☺️
..