NovelToon NovelToon
RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 5
Nama Author: fieThaa

Aleesa Addhitama (20) dan Yansen Geremy (20) tahu bahwa rasa yang mereka miliki itu salah. Kebersamaan mereka sedari kecil membuat Aleesa dan juga Yansen merasa nyaman dan enggan untuk dipisahkan. Walaupun mereka tahu ada dinding yang menjulang memisahkan mereka berdua, yakni sebuah keyakinan.


"Satu kapal dua nahkoda, penumpangnya akan dibawa ke mana?" Begitulah kata sang ayah. Kalimat yang sederhana, tapi menyiratkan arti yang berbeda.


Akankah mereka berjuang untuk mendapatkan restu? Ataukah ada restu lain yang akan mereka dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Diabetes (Terlalu Manis)

Jerome berdecak kesal ketika panggilannya tidak dijawab oleh Aleesa. Dia ingin meminta maaf atas kesalahan Grace kepada Aleesa. Dia sangat tahu Grace sedang dilanda ketakutan luar biasa karena dari semalam ada teror dari seseorang yang mengirimkan kepala ayam yang sudah bau busuk.

"Masih berani mengganggu, kepala kamu bisa saya penggal dengan kejam." Mr. R.

Jerome mengira bahwa ini adalah ulah dari kaki tangan keluarga Aleesa. Dia ingin meminta Aleesa berbicara kepada keluarganya untuk tidak mengganggu Grace lagi. Dia takut psikis Grace terguncang.

Sedari semalam Grace seperti orang ketakutan. Dia tidak mau keluar kamar karena tengah malam ada yang mengantarkan kotak berisi kepala ayam busuk. Alhasil, Jerome mulai mencari tahu orang yang telah mengirimkan kotak misterius tersebut. Apakah Jerome bisa melacaknya dan mengetahui siapa orang di balik peneror Grace?

.

."Aku mencintai kamu, Sa. Jadilah calon istri dan ibu untuk anak-anakku di masa depan."

Aleesa hanya tersenyum dan mengusap lembut wajah Restu. Dia pun menatap dalam ke arah pria yang berada di balik kemudi.

"Jika, kamu mau menunggu silahkan. Aku gak janji tapinya. Lukaku saja masih basah dan aku--"

Sebuah kecupan nan manis Restu berikan di bibir Aleesa. Menyesapnya dengan penuh kelembutan dan membuat Aleesa terdiam. Ibu jadi Restu sudah mengusap lembut bibir Aleesa yang basah.

"Aku akan menunggu kamu sampai kamu bilang cinta sama aku dan mau jadi istri aku." Aleesa terdiam dan matanya sudah berkaca-kaca mendengarnya.

"Aku bahagia kok walaupun hanya jadi selingkuhan kamu karena aku tahu kamu juga memiliki perasaan yang sama ke aku. Hanya saja kamu belum yakin akan perasaan kamu."

Aleesa malah tertawa. Kecantikan Aleesa semakin terpancar ketika tertawa seperti itu. Mata Restu tak berkedip sama sekali.

"Sejak kapan si brandal sebawel ini?" Aleesa menatap ke arah Restu yang juga tengah menatapnya.

"Sejak aku jatuh cinta sama kamu, Aleesa Addhitama."

Aleesa mengecup pipi kanan Restu dengan cepat dan membuat pria itu terdiam seribu bahasa.

"Biar gak bawel dan cepat jalan." Senyum Aleesa begitu manis di mata Restu.

"Yang kirinya belum." Aleesa semakin tertawa dan menggelengkan kepala.

"Cukup yang kanan aja." Restu merengutkan wajahnya dan Aleesa semakin terbahak.

"Aku baru tahu loh kamu itu manja begini." Restu masih terdiam. Dia tengah merajuk bak anak kecil.

"Dih, dia mah marah beneran." Lagi-lagi Restu masih terdiam. Aleesa menghembuskan napas kasar dan dia pun ikut terdiam. Tetiba kepalanya pusing. Dia menyandarkan tubuhnya di jok mobil dengan mata terpejam untuk sesaat.

Aleesa merasakan tangannya ada yang menggenggam. Perlahan dia membuka mata dan ternyata Restu sudah menggenggam tangannya.

"Katanya marah," sindir Aleesa.

"Aku gak bisa marah sama kamu." Aleesa pun tersenyum dibuatnya.

"Jangan terlalu manis, nanti aku diabetes." Restu malah tertawa dan tak segan dia mengecup punggung tangan Aleesa. Wanita di sampingnya itupun diam saja menandakan bahwa Aleesa memiliki perasaan yang sama. Namun, dia masih terjebak dalam perasaan sama pada dua laki-laki yang berbeda.

Restu baru saja menyalakan mesin mobil, ponselnya malah berdering. Aleesa mencoba untuk tidak ingin tahu walaupun di dalam hatinya dia sangat ingin tahu.

"Dari Madam." Tanpa ditanya Restu sudah memberitahu Aleesa. "Aku jawab, ya." Aleesa mengangguk. Namun, tangan Restu masih menggenggam erat tangan Aleesa.

"Iya, Madam."

Aleesa hanya terdiam dengan wajah yang menatap ke arah jendela mobil. Usapan lembut di punggung tangannya membuat Aleesa menoleh.

"Permen." Restu berucap tanpa suara. Aleesa ingin melepaskan genggaman tangan Restu, tapi tidak dia ijinkan. Wajah Aleesa sudah merengut dan membuat Restu tersenyum.

"Iya, Madam. Saya akan ke sana sekarang. Saya juga masih d rumah." Kini, Aleesa menatap lekat ke arah Restu.

...

"Baik, Madam."

Ponsel pun Restu letakkan kembali di tas kecil miliknya yang di sana ada ponsel Aleesa.

"Harus kerja?" Restu menggeleng.

"Lalu?"

"Kita ke rumah Madam dulu." Aleesa terkejut mendengarnya. Apalagi Restu sudah menyalakan kembali mesin mobil dan melajukannya menuju rumah Zenith.

Aleesa nampak gelisah, tapi tangan Restu tak sama sekali melepaskan tangan Aleesa.

"Aku di sini saja, ya." Aleesa berkata setelah mobil berhenti di rumah yang sangat besar.

"Kamu ikut ke dalam."

"Tapi, Kak--" Restu sudah memasangkan masker di wajah Aleesa menandakan Aleesa tidak bisa menolak.

"Aku takut ganggu."

"Enggak ganggu, Sa," balas Restu. "Ada aku. Aku akan terus menggenggam tangan kamu dan ketika kamu takut, peluklah pinggang aku. Aku akan senantiasa menjaga kamu dan melindungi kamu."

Setiap kalimat yang terlontar dari mulut Restu selalu mampu menghipnotisnya. Restu mengecup kening Aleesa sangat dalam seakan memberikan ketenangan untuknya.

Restu menggenggam erat tangan Aleesa. Perempuan yang dibawa Restu pun sudah menggunakan masker juga topi sama seperti dirinya karena dia tidak ingin para anak buahnya melihat kecantikan Aleesa. Terlebih, ada anak buahnya yang beberapa hari lalu ingin mendekati Aleesa.

Tangan Aleesa semakin kuat menggenggam tangan Restu. Pria itu mengerti dan segera merengkuh pinggang Aleesa hingga tubuh mereka semakin menempel. Aleesa sedikit gugup. Dia takut dengan sosok yang Restu panggil madam.

Pintu sudah terbuka, ketiga anak buah Restu pun memberi hormat dengan sopan. Dia tak mempermasalahkan jika ketika dia kembali bekerja semuanya akan menggunjing dirinya.

Restu dan Aleesa sudah berada di ruang tamu. Tangan Aleesa terasa dingin. Perasaannya berbeda, dia seperti akan bertemu dengan orang spesial. Dadanya pun berdetak tak karuhan.

"Jangan tegang, Lovely. Madam baik kok." Aleesa hanya mengangguk kecil. Restu kembali meraih tangan Aleesa. Mengusapnya dengan lembut.

Zenith sudah menyapa Restu dan dengan sopan Restu berdiri dan memberi hormat tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Aleesa.

Mata Aleesa memicing ketika dia tidak asing pada wanita di depannya. Beberapa hari lalu dia pernah bertemu dengan wanita tersebut.

"Buka masker kamu, Lovely."

Perlakuan lembut Restu membuat Zenith tersenyum simpul. Wanita yang Restu kejar adalah wanita yang sangat beruntung. Ketika masker dibuka, Zenith sedikit terkejut.

"Kamu 'kan yang di rumah sakit itu?" Restu sedikit bingung. Dia menatap ke arah Zenith dan Aleesa bergantian.

"Iya, Tante." Aleesa mencium tangan Zenith dengan sangat sopan membuat Zenith merasakan desiran yang hebat.

"Dia yang sedang kamu perjuangkan, Mr. R?" tanya Zenith.

"Iya." Restu menjawab dengan begitu lantang dan tegas. Wajah Aleesa bersemu.

"Saya akan memberikan restu seratus persen," ujar Zenith. Restu hanya tersenyum sedangkan Aleesa hanya membeku. Tanpa malu Restu meraih tangan Aleesa lagi dan menggenggamnya untuk kesekian kali.

Restu dan Zenith mulai berbicara hal serius. Aleesa hanya mendengarkan saja. Tangannya pun masih berada di genggaman Restu.

"Setelah kamu kembali dari cuti, kita langsung berangkat ke Jerman."

"Jangan!"

Tiba-tiba Aleesa sedikit berteriak dan membuat Zenith serta Restu terkejut.

"Lovely."

Mata Aleesa sudah nanar. Dia menggeleng pelan ke arah Restu.

"Jangan pergi, aku mohon." Bulir bening sudah menetes dan membuat Restu segera memeluk tubuh Aleesa.

"Ada apa dengan kamu, Lovely?"

"Jangan pergi." Tangan Aleesa semakin erat memeluk tubuh Restu. "Aku mohon, Jangan. Aku gak mau kehilangan Kakak."

...***To Be Continue***...

Pengen tahu, aku UP 2 bab langsung. Komennya bakalan banyak gak?

Yang kemarin pada pengen dobel UP aku kasih malam ini.

1
Wulan
baru baca dah mewek 😭😭
Yayu Rulia
ceritanya seru dan bagus...
Yayu Rulia
tak pernah bosan membacany wlwpn berulang kali..
kalea rizuky
uda tua gatel
Elly Setia Ningsih
Luar biasa
Elly Setia Ningsih
kim je ha 😍
zoel
/Good//Good//Good//Good//Good/
Venny Merliana
ganteng Ersan
Ocanya gava
Luar biasa
Yus Nita
perang Saudara bakal di mulai
itu maka ny abang Dengan gak suka sama syafa. dia biang masalah dari dua saudara yg harmamonis
Yus Nita
waduuoohhh. gawat
di mana abang Dengan lg sakit, di situ pula si Mami mau lahiran
Yus Nita
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Shy/
Yus Nita
Sultan mah bebas...
Yus Nita
Bhamidun noh si mamud 😁😁😁
Yus Nita
apa yg di tanam itu lah yg di tuai
Yus Nita
pen rasa ngerokok Ginjal si Aleeyaa
Yus Nita
maka ny klu cinta pkk mata, biar bisa ngeliat, jangan pkk nafsu. bego kan j adi ny
Yus Nita
tajam bah...
Yus Nita
mampos lo satria..
brandalan lo lawan.
senggol.. bacok lah 😃😃😃
Yus Nita
kasihan dech lo...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!