Masuk ke dalam dunia novel seharusnya menjadi impian setiap pembaca. Kecuali jika novel itu adalah "Tears of the Caged Bird"—sebuah kisah dark romance di mana pemeran utamanya adalah Duke sosiopat yang hobi meneror gadis yatim piatu.
Sialnya, itulah nasib Vivienne.
Terbangun sebagai sepupu miskin dari tunangan sang Duke, Vivienne seharusnya hanya menjadi figuran yang diam dan mati muda. Tapi, melihat Freya Lark (si female lead) terus-terusan menangis dan Damian von Hart (si male lead) terus-terusan bertingkah seperti penguntit elit, kesabaran Vivienne habis.
Persetan dengan alur asli!
Jika penulis aslinya ingin drama, Vivienne akan memberinya komedi.
Jika Duke ingin bermain dark romance, Vivienne akan menyiramnya dengan air pel.
"Maaf, Duke. Anda menghalangi jalan saya menuju kebebasan finansial. Tolong minggir, atau saya tagih biaya parkir."
Selamat datang di Hartfield, di mana romansa sudah mati, dan digantikan oleh chaos yang sangat menguntungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diplomasi Makanan
Setelah perdebatan sengit soal "Siapa yang lebih peduli pada Damian", keheningan canggung kembali menyelimuti Ruang Hijau. Nenek Hart terlihat lelah, seolah energi untuk marah-marahnya sudah terkuras habis.
Pelayan dengan cepat mengganti piring-piring teh dan menyajikan baki perak berisi tumpukan scone hangat yang baru dipanggang. Aromanya harum, wangi mentega dan kismis.
"Makanlah," kata Nenek ketus, tapi ada nada menyerah dalam suaranya. "Agar mulutmu berhenti berbicara omong kosong."
Aku menatap scone itu. Secara visual, bentuknya sempurna. Bulat, cokelat keemasan, dan mengkilap. Khas kue bangsawan.
Aku mengambil satu, membelahnya atau setidaknya mencoba membelahnya.
Keras.
Bukan renyah, tapi keras. Seperti mencoba membelah bola bisbol.
Krak!
Akhirnya terbelah juga, tapi remah-remahnya berhamburan kemana-mana seperti ledakan tambang batu. Aku mengoleskan selai stroberi dan krim kental, lalu menggigitnya.
KRETIK!
Bunyi gigiku beradu dengan permukaan kue itu terdengar nyaring di ruangan sunyi itu. Aku mengunyah dengan susah payah. Teksturnya kering, seret, dan rasanya... hambar. Terlalu banyak tepung, kurang gula, dan menteganya terasa seperti lemak sapi yang didinginkan.
Aku menelan paksa, berharap tenggorokanku tidak lecet.
Aku melirik Nenek Hart. Dia juga sedang memegang scone. Dia menggigit kecil, mengunyah pelan dengan ekspresi wajah yang datar, tapi aku bisa melihat kerutan halus di sudut matanya setiap kali dia menelan.
Dia menderita. Jelas.
"Nek," panggilku pelan.
"Apa lagi?"
"Jujur-jujuran yuk. Ini scone apa fosil Dinosaurus?"
Nenek tersedak tehnya. Pelayan di belakangnya langsung sigap menyodorkan serbet.
"Vivienne!" bentak Nenek setelah batuknya reda. "Ini adalah resep asli dari koki pastry yang kami datangkan langsung dari Paris! Namanya Chef Pierre! Dia lulusan terbaik akademi kuliner kerajaan!"
"Kalau dia lulusan terbaik, berarti standar akademinya yang rendah," balasku tanpa rasa takut. "Ini keras banget, Nek. Serius. Kalau dilempar ke dinding, dindingnya yang retak. Nenek nggak sakit gigi makan ginian?"
Wajah Nenek memerah lagi. Dia membuka mulutnya untuk memarahiku, membela kehormatan kokinya. Tapi kemudian, dia menutup mulutnya lagi. Dia menatap scone di tangannya yang baru digigit sedikit.
Dia menghela napas panjang. Sangat panjang. Bahunya merosot. Topeng "Grand Duchess yang Sempurna" akhirnya retak sepenuhnya.
"Jujur saja," gumam Nenek pelan, suaranya terdengar sangat lelah. "Gigiku sakit sejak minggu lalu gara-gara roti baguette buatannya."
Aku menahan tawa. "Tuh kan. Kenapa Nenek nggak pecat aja?"
"Tidak semudah itu," keluh Nenek, meletakkan scone batu itu kembali ke piring dengan rasa jijik yang tidak disembunyikan lagi. "Dia rekomendasi dari Duta Besar. Dan dia sangat... sensitif. Kalau dikritik sedikit saja, dia langsung ngambek dan mogok masak. Kemarin aku minta supnya dikurangi garam, dia malah menangis di dapur sambil berteriak 'Seni saya dihina!'."
Aku mendengus. "Oh, tipe diva ya. Koki partsy yang merasa masakannya itu mahakarya, padahal rasanya kayak pakan ternak."
"Tepat sekali!" seru Nenek, matanya berbinar. Sepertinya dia sudah lama menahan unek-unek ini dan tidak punya teman curhat. Karena Bianca pasti cuma bakal bilang 'enak kok' demi sopan santun.
"Dan porsinya!" lanjut Nenek berapi-api. "Dia menyajikan daging steak seukuran koin, lalu dihias dengan saus yang cuma digaris-garis di piring. Katanya itu aesthetic. Aku lapar, Vivienne! Aku ini wanita tua, aku butuh daging, bukan lukisan abstrak di piring!"
"Bener banget, Nek! Tadi pagi juga saya liat Damian cuma dapet dada ayam seiprit. Pantesan dia kurus dan emosian. Kurang gizi itu," kompor-komporin aku.
Nenek mengangguk setuju. "Damian memang jadi lebih sering marah-marah sejak koki ini datang. Mungkin karena lapar."
Kami berdua terdiam sejenak, merenungi nasib perut kami yang disandera oleh koki Perancis baperan.
"Nek, mau saya kasih resep nggak?" tawarku tiba-tiba.
"Resep kampungmu lagi?" tanya Nenek skeptis, tapi kali ini ada nada penasaran.
"Bukan sembarang kampung. Ini resep Scone Anti-Gigi-Palsu-Copot," promosi ku. "Rahasia nya cuma satu: Jangan pelit mentega, dan ganti sebagian susu pake buttermilk atau yogurt. Hasilnya bakal lembut, fluffy, dan wangi."
Nenek mencondongkan tubuhnya. "Yogurt? Dalam adonan kue?"
"Iya. Asam dari yogurt bikin baking soda-nya bereaksi lebih heboh, jadi kuenya ngembang maksimal. Chef Pierre pasti nggak tau trik ini karena dia terlalu sibuk ngehias piring pake pinset."
Nenek tertawa. Tawa yang asli, bukan tawa sinis. Suaranya serak tapi renyah.
"Kau benar. Dia memang punya pinset khusus untuk menaruh daun parsley," kata Nenek sambil menggelengkan kepala.
"Nanti saya tulisin resepnya. Nenek kasih ke asisten koki aja diem-diem. Bilang aja ini resep rahasia keluarga Hart yang baru ditemuin di gudang. Biar si Pierre nggak tersinggung."
Nenek menatapku lama. Senyum kecil tersungging di bibirnya yang keriput.
"Kau licik juga ya, Nak."
"Harus, Nek. Di dunia ini kalau nggak licik, kita makan batu," jawabku sambil menunjuk scone keras itu.
Nenek mengambil cangkir tehnya lagi, menyesapnya dengan nikmat. Suasana di Ruang Hijau yang tadinya sedingin kutub utara kini terasa hangat.
"Baiklah," kata Nenek. "Tuliskan resep itu. Dan... resep biskuit yang tadi kau sebutkan juga. Kalau rasanya enak, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk tidak mengusirmu hari ini."
"Siap, Bos."
Kami menghabiskan sisa waktu minum teh bukan dengan membahas etiket atau silsilah keluarga, tapi dengan bergosip tentang betapa konyolnya topi koki Pierre dan betapa menyedihkannya menu makan malam kemarin.
Untuk pertama kalinya sejak aku datang ke dunia novel ini, aku merasa punya sekutu yang real. Nenek Hart mungkin galak, kuno, dan sombong. Tapi di balik itu semua, dia cuma nenek-nenek kesepian yang rindu makanan enak dan teman ngobrol yang nggak munafik.
Dan yang paling penting: Dia pemegang kekuasaan tertinggi di rumah ini. Kalau aku bisa memegang perutnya (lewat resep), aku bisa memegang hatinya. Dan kalau aku memegang hatinya, Damian nggak bakal berani macem-macem sama aku.
Diplomasi Makanan: Sukses Besar.
****
Sore itu, ketika aku keluar dari Ruang Hijau, Marie sudah menunggu di depan pintu dengan wajah pucat pasi. Dia memegang sapu tangan, siap menghapus air mataku. Atau darahku, kalau Nenek memutuskan untuk memukulku dengan tongkat.
"Nona!" pekik Marie tertahan. Dia memeriksa wajahku dengan panik. "Nona baik-baik saja? Grand Duchess tidak membentak? Tidak melempar vas bunga?"
Aku tersenyum lebar, senyum penuh kemenangan.
"Nggak, Marie. Grand Duchess malah minta resep scone kampung," jawabku santai sambil membetulkan letak topi bulu merakku.
Marie melongo. "Resep... scone?"
"Yap. Dan mulai besok, kau harus ke dapur dan pastikan mereka pakai yogurt, bukan susu basi."
Saat kami berjalan menyusuri koridor panjang untuk kembali ke kamar, aku berpapasan dengan kepala pelayan Sebastian. Pria tua itu biasanya menatapku seperti menatap kotoran di sepatu. Tapi hari ini, dia membungkuk hormat padaku. Sedikit lebih dalam dari biasanya.
"Nona Vivienne," sapanya. "Grand Duchess berpesan, jika Nona ingin menggunakan perpustakaan utama, silakan saja. Kuncinya sudah saya siapkan."
Aku berhenti berjalan. Perpustakaan utama? Itu wilayah terlarang bagi tamu biasa. Hanya keluarga inti Hart yang boleh masuk.
"Serius, Pak?"
"Grand Duchess berkata..." Sebastian berdeham pelan, menirukan suara Nenek, "'Gadis itu perlu membaca buku resep yang lebih banyak. Biarkan dia masuk'."
Aku tertawa kecil. "Terima kasih, Pak Sebastian. Sampaikan salam sayang saya pada Grand Duchess."
Begitu Sebastian pergi, aku menyandarkan punggung ke dinding marmer.
Gencatan senjata telah resmi dimulai.
Nenek Hart tidak lagi melihatku sebagai "sepupu miskin yang mengganggu". Dia melihatku sebagai "sumber hiburan eksotis" dan "penyelamat lidah". Posisiku naik tingkat. Dari 'Hama' menjadi 'Badut Peliharaan Favorit'.
Dan sejujurnya? Aku tidak keberatan.
Menjadi badut peliharaan Nenek Hart berarti aku punya perlindungan mutlak di rumah ini. Damian mungkin Duke, tapi di rumah ini, Nenek adalah Ratu.
"Satu langkah lagi," gumamku sambil menatap langit-langit Hartfield yang tinggi. "Sekarang tinggal ngurus pesta dansa."
Aku melirik Marie yang masih terlihat bingung.
"Ayo, Marie. Kita harus istirahat. Besok kita punya misi besar: Menghancurkan reputasi Damian di depan publik."
Dan dengan langkah ringan, aku berjalan menuju kamar, siap menyambut kekacauan berikutnya.