NovelToon NovelToon
Fajar Di Gerbang Hijau

Fajar Di Gerbang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Cahaya dari Dasar Telaga

Pagi itu, mentari menyapa dengan malu-malu, menyelinap melalui celah dedaunan di luar jendela kelas. Namun, di dalam ruangan, suasana terasa jauh lebih terang, seolah-olah ada binar baru yang menyelimuti Eko. Ia melangkah masuk dengan derap yang lebih ringan dari biasanya, langsung menuju kursinya di barisan tengah. Riuh rendah percakapan teman-temannya segera mereda ketika Bu Widya, guru Fisika mereka yang energik, memasuki ruangan.

“Selamat pagi, Anak-anak!” sapa Bu Widya dengan senyum lebar. Sorot matanya yang cerdas menyapu seluruh penjuru kelas. “Hari ini kita akan melanjutkan pembahasan mengenai gaya dan tarikan. Ada yang masih ingat apa itu Hukum Newton Kedua?”

Beberapa tangan terangkat ragu, namun Eko hanya terdiam. Meskipun semalam ia telah berusaha keras mempelajari materi tersebut, rumus-rumus dan konsep abstrak itu masih terasa asing di benaknya. Sejenak, rasa cemas merayapi hatinya; ia takut kembali tertinggal jauh di belakang teman-temannya.

Bu Widya mulai menjelaskan dengan detail. Ia menggunakan analogi sederhana yang mudah dicerna, mengilustrasikan bagaimana gaya memengaruhi gerakan benda mulai dari bola yang dilempar hingga mobil yang melaju kencang. Perlahan, benang-benang pemahaman mulai terjalin di kepala Eko. Setiap penjelasan Bu Widya seolah membuka gerbang baru dalam pikirannya. Kerutan di dahi Eko mengendur, digantikan oleh tatapan fokus yang tajam.

Ketika Bu Widya memberikan soal latihan di papan tulis, tanpa sadar Eko mengangkat tangannya dengan mantap. “Saya, Bu!”

Bisikan-bisikan kecil terdengar di antara teman-temannya. Maklum, selama ini Eko dikenal sebagai murid yang kerap kesulitan dalam pelajaran berhitung. Namun, Bu Widya tetap tersenyum dan mempersilakan Eko maju.

Dengan langkah pasti, Eko meraih spidol. Tangannya bergerak lincah menuliskan variabel, menghitung angka, dan akhirnya menuliskan jawaban akhir dengan tegas. Ruangan seketika hening. Mata Bu Widya membulat sedikit sebelum senyumnya semakin lebar.

“Benar sekali, Eko! Jawabanmu sempurna!” puji Bu Widya yang segera disambut tepuk tangan riuh. “Bagus sekali, Nak. Kamu benar-benar sudah menguasai materi ini.”

Wajah Eko merona tipis, namun ada kebanggaan yang membuncah di dadanya. Begitu pelajaran usai, teman-temannya segera mengerubungi mejanya.

“Eko, bagaimana bisa kamu paham secepat ini?” tanya Rina, teman sebangkunya, dengan mata berbinar. “Ajari kami, dong!”

Eko tersenyum tulus, merasa dihargai. “Tentu saja! Nanti sepulang sekolah, kita belajar bersama di perpustakaan, ya?”

Di saat Eko menemukan kembali semangat belajarnya, jauh di dalam hutan belantara yang rimbun, Jaya dan Valaria sedang berjuang dengan cara mereka sendiri. Mereka berjalan membelah semak belukar yang basah oleh embun pagi. Sinar matahari berusaha menembus kanopi pepohonan yang rapat, menciptakan bintik-bintik cahaya yang menari-nari di atas lantai hutan. Aroma tanah basah dan harum dedaunan kering memenuhi indra penciuman mereka.

“Kita harus segera menemukan cara, Valaria,” kata Jaya, suaranya sarat akan kecemasan. Langkahnya terburu-buru, matanya memindai sekeliling seolah mencari solusi di balik setiap batang pohon. “Waktu terus berjalan, dan kita butuh uang secepatnya.”

Valaria berjalan di sampingnya dengan langkah yang tetap tenang dan teratur. Ia mengenakan pakaian praktis untuk menjelajah, rambut panjangnya diikat rapi agar tidak mengganggu pergerakan. Ketenangan wajahnya sangat kontras dengan kegelisahan Jaya.

“Tenang saja, Jaya,” jawab Valaria lembut namun penuh keyakinan. “Setiap masalah pasti membawa solusinya sendiri.”

Jaya menoleh, menatap gadis di sampingnya dengan pandangan bingung. “Kenapa kamu tampak sangat berbeda, Valaria? Kamu bukan lagi gadis yang dulu aku kenal.”

Valaria hanya tersenyum tipis sebuah senyum misterius yang seolah menyimpan ribuan rahasia. Tatapannya kemudian terpaku pada sebuah gerakan kecil di balik semak-semak. Seekor ayam liar sedang sibuk mencari makan di sana. Jaya, yang mengikuti arah pandang Valaria, segera menyadari peluang tersebut.

“Ayam liar!” bisik Jaya, semangatnya kembali berkobar.

Dengan sigap, mereka menyusun rencana. Mereka mengumpulkan ranting, tali dari akar tumbuhan, dan beberapa helai daun lebar. Dalam waktu singkat, beberapa perangkap sederhana telah terpasang dengan rapi, tersamarkan dengan sempurna di antara rimbunnya vegetasi.

Setelah selesai, mereka melanjutkan perjalanan lebih dalam ke jantung hutan. Pohon-pohon di sana semakin menjulang tinggi dengan batang yang diselimuti lumut hijau. Udara terasa lebih lembap dan sejuk. Suara serangga dan kicauan burung menciptakan simfoni alam yang menenangkan, sejenak menjauhkan mereka dari beban dunia luar.

Langkah mereka terhenti di tepian sebuah danau kecil. Airnya begitu jernih, memantulkan birunya langit dan hijaunya pepohonan. Di permukaannya, bunga-bunga liar berwarna-warni tumbuh subur, menarik perhatian kupu-kupu yang beterbangan.

Tanpa membuang waktu, Jaya menanggalkan alas kakinya dan menceburkan diri ke dalam danau. Air yang dingin menyegarkan tubuhnya yang gerah. Ia mulai menyelam, mencoba mencari ikan atau kerang yang bisa dibawa pulang. Sementara itu, Valaria berjalan menyusuri tepian danau, matanya menjelajahi setiap detail tumbuhan yang mengapung.

Pandangannya tertumbuk pada sekumpulan tanaman indah dengan daun lebar yang mengapung di permukaan air. Di antara daun-daun itu, bermunculan bunga-bunga cantik berwarna merah muda dan putih.

"Teratai," gumam Valaria dengan mata berbinar.

Tanpa ragu, ia mulai memanen bagian-bagian tanaman tersebut. Dengan hati-hati, ia mencabut akar teratai dari lumpur di dasar danau. Akar berbentuk silinder panjang itu dibersihkannya hingga memperlihatkan ruas-ruas yang unik. Ia juga memetik batang, daun hijau yang lebar, bunga yang mekar sempurna, hingga biji teratai yang tersembunyi di dalam polongnya.

Jaya muncul dari permukaan air dengan tangan kosong. Ia melihat Valaria sedang sibuk dengan tumpukan tanaman aneh. “Apa itu, Valaria? Memangnya tanaman itu bisa dimakan?” tanyanya ragu.

Valaria tersenyum bangga. “Tentu saja bisa. Ini teratai, Jaya. Manfaatnya luar biasa banyak. Mau aku tunjukkan cara mengolahnya nanti?”

“Memang bisa jadi masakan apa?” tanya Jaya, mulai tertarik meskipun masih sedikit sangsi.

Valaria menjelaskan dengan antusias, layaknya seorang ahli botani. “Akar teratai ini, atau yang biasa disebut Lotus Root, adalah bagian yang paling istimewa. Kalau diiris, ada pola lubang-lubang indah di dalamnya. Rasanya sedikit manis dan renyah jika mentah, tapi kalau dimasak, teksturnya akan lembut seperti kentang namun tetap sedikit kenyal.”

Jaya mendengarkan dengan saksama. Rasa penasaran kini sepenuhnya menggeser keraguannya.

“Bisa ditumis, dijadikan bahan sup, atau diiris tipis-tipis lalu digoreng menjadi keripik yang renyah,” lanjut Valaria. “Akar ini kaya akan serat, vitamin C, dan zat besi. Sangat bagus untuk kesehatan jantung dan pencernaan.”

Ia kemudian menunjukkan polong biji teratai. “Dan ini bijinya. Rasanya seperti kacang. Kalau masih muda, rasanya manis dan lembut. Bisa dijadikan camilan, bubur manis, bahkan dibuat menjadi pasta untuk isian kue. Biji ini juga bisa membantu orang yang susah tidur atau insomnia.”

Jaya menatap Valaria dengan rasa kagum yang mendalam. Ia tidak menyangka gadis itu memiliki pengetahuan seluas itu tentang kekayaan tersembunyi di hutan. Selama ini, ia hanya melihat Valaria sebagai gadis ceria, namun kini ia melihat sisi lain yang penuh kebijaksanaan dan kecerdasan.

“Kamu tahu banyak sekali, Valaria,” kata Jaya tulus.

Valaria tersenyum misterius. “Alam ini menyimpan banyak rahasia, Jaya. Kita hanya perlu meluangkan waktu untuk mengenalnya lebih dekat.”

Mereka pun bergegas pulang membawa hasil temuan mereka. Langkah kaki Valaria terasa ringan, sementara Jaya, meski masih memikul beban kegelisahan, kini merasakan secercah harapan baru. Harapan itu tumbuh dari akar-akar teratai yang mereka bawa sebuah simbol bahwa di tengah air yang berlumpur sekalipun, sesuatu yang indah dan bermanfaat bisa tumbuh dengan sempurna.

Hari itu, Eko menemukan cahaya di dalam dirinya di bangku sekolah, sementara Jaya dan Valaria menemukan cahaya di tengah belantara. Sebuah cahaya dari teratai yang menjanjikan jalan keluar dari kegelapan nasib mereka.

1
lin sya
ya smga aj kebaikan valaria suatu saat gk dibls air tuba sm laksmin tkutnya pas ekonomi dia dan kluarga nya terangkat krn rasa kemanusian gk bikin nimbulin sft iri lgi dimasa depan, krn perjuangan valaria buat bikin byk usaha itu proses nya panjang, smgat Thor 👍💪
Moh Rifti
next
Wanita Aries
makin seru thor
Wanita Aries
kyknya buat kentang mustofa aja valeria kn jaman itu blm byk tau😁
Wanita Aries
bukannya ria udh tau kl itu suruhan laksmin ya
Dewiendahsetiowati
semoga Laksmin cepat dapat karma
Moh Rifti
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Wanita Aries
bagus ria lawan dgn gebrakan lain ke laksmin
Lili Inggrid
semangat
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir kak
Moh Rifti
up
Wanita Aries
lhoo kok gaje harusnya dendam ke damian lah bukan ke valeria
Wanita Aries
makin seruuuu
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
semangat terus thor
Wanita Aries
wahhh makin sukses ria
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
gak bosen bacanya
Wanita Aries
suka ceritanya
Wanita Aries
keren thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!