Arumi tercenung, bimbang antara harus mengikuti permintaan seorang sekretaris pribadi dari Andara Group. Atau tetap menjadi budak seumur hidup, untuk tinggal bersama ibu dan saudara tirinya.
Memiliki kemiripan wajah dengan mendiang wanita yang amat di cintai sang pewaris tunggal Andara Group mungkin bisa menjadi sebuah keberuntungan atau mungkin petaka di kemudian hari. Sebab Pria bernama Arga Sanjaya itu menganggapnya sebagai Alicia bukanlah Arumi. Pria arogan yang belum bisa menerima kematian sang kekasih memang tidak pernah kasar padanya. Namun, ia bisa melakukan apapun demi menyingkirkan orang-orang yang berkemungkinan akan melukainya. Lantas, sampai kapan Arum akan berperan sebagai Alicia, melayani sang suami sepenuhnya. Lalu, apakah ia akan tetap selamat saat Arga mulai tersadar bahwa Arumi bukanlah Alicia-nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertolongan tak terduga
Di ruang meeting...
Sekretaris Tomi menerima kabar jika Nona muda menghilang saat membeli sesuatu. Sementara kabar lain masuk dari salah satu manager resto yang ia kenal, jika ia melihat istri Tuan Arga Sanjaya di restoran tersebut tengah makan bersama dua orang wanita.
Namun, dari gerak-geriknya seperti ada yang aneh pada salah satunya. Membuat sang manager resto segera menghubungi Sekretaris Tomi.
"Saat ini Nona Muda sedang di toilet bersama seorang wanita paruh baya. Tinggal wanita muda di meja sendirian," katanya memberi kabar. Sekertaris Tomi menurunkan ponselnya setelah panggilan terputus. Ia melihat foto yang di kirim sang manager resto.
"Dua wanita itu, sedang mencari masalah rupanya!" geram. Ia pun menghubungi ajudannya untuk menemui mereka lebih dulu. Setelahnya kembali masuk ke dalam, mendekati Arga setelah itu membisikkan sesuatu.
Sontak, Arga langsung berdiri. "Hentikan rapatnya, kita tunda besok pagi..."
Bersamaan dengan pria itu yang melangkah keluar. Sekretaris Tomi pun mengangguk pada mereka semua sebelum turut keluar menyusul Sang Presdir Andara Group.
Semua yang ada di sana, menunjukkan respon kebingungan. Ada sesuatu kah? Sebagian besar dari mereka bertanya-tanya. Namun mau bagaimana lagi, mereka pun akhirnya berkemas sebelum keluar dari ruangan meeting tersebut.
Di depan lift, Arga mendorong dada Tomi cukup kencang. Ia tahu, pria itu pasti marah besar padanya.
"Apa saja yang di kerjakan orang-orangmu itu, hah! Kenapa sampai Aliee pergi menemui hama-hama itu, sementara mereka tidak tahu!"
"Maafkan saya, Tuan. Akan saya bereskan setelah ini..." ucapnya sembari menunduk. Lift terbuka, Tomi mempersilahkan Arga duluan untuk masuk, barulah dia setelahnya.
–––
Di depan restoran, mobil yang di kendarai Sekretaris Tomi berhenti tepat di sisi mobil milik Soni.
Buru-buru Arga keluar menghampiri mereka. Tentunya Mama Linda nampak panik, apalagi Tomi. Tidak ada satupun yang berani mengangkat kepalanya. Mereka semua duduk bersimpuh di aspal.
"Dimana istriku?" Tanyanya dengan raut wajah kesal. Namun tidak ada yang berani menjawab satupun. Arga mencengkeram kuat baju Soni. "Mana istriku? jawab atau ku habisi kalian semua!!!!" Mengulangi dengan intonasi yang meluap-luap.
"Di–di hotel Santika, T–Tuan," jawab Soni gemetaran.
"Tuan, lokasinya tidak jauh. Sebaiknya kita langsung ke sana. Karena manajer hotel sudah mengkonfirmasi bahwa Nona muda ada di sana bersama seorang pria."
"Sialan!" Arga melepaskan cengkeramannya lalu buru-buru masuk kedalam mobil.
"Bawa mereka, ke tempat yang sudah ku beritahu," titah Tomi sebelum masuk ke dalam mobilnya. Mereka pun mengiyakan.
.
.
.
Di sisi lain, tepat di sebuah lampu merah. Motor Rayyan berhenti. Sembari menunggu, ia iseng menoleh ke sisi samping. Memandangi orang lalu-lalang di dekat hotel yang tak jauh dari posisinya. Karena memang area perempatan itu cukup dekat dengan hotel Santika.
Ia menghela nafas, menggeser lagi pandangannya. Di lihat sebuah mobil melintas tepat di depannya dan masuk ke dalam hotel tersebut.
Hal yang membuatnya aneh, ia seperti melihat wanita yang familiar di dalamnya.
Wajah itu seperti Arumi... ah, tidak mungkin!
Rayyan buru-buru menggeleng. Akhir-akhir ini ia memang sering memikirkan wanita itu. Jadilah ia berhalusinasi seolah melihat Arumi di dalam mobil tersebut.
Kembali ia iseng menoleh ke bagian pelataran Loby hotel. Di sanalah ia melihat laki-laki yang tidak asing menyerahkan kunci mobil pada seorang petugas valet, tak lama ia mengeluarkan seorang wanita juga.
Tin...! Tin...!
"Woy! Jalan woy!" Seru yang di belakang karena lampu sudah berubah hijau, sementara Rayyan masih diam saja. Ia pun buru-buru tancap gas, namun secepatnya belok ke sisi kiri memutuskan untuk masuk kedalam hotel itu setelah meyakinkan jika wanita itu benar-benar Arumi sementara laki-laki yang bersamanya adalah anak yang pernah satu kelas dengannya dulu saat di SMA.
Setelah beberapa menit ia buru-buru masuk ke dalam hotel tersebut. Nampak kebingungan, Rayyan hanya berdiri di tengah-tengah lobby. Menoleh ke kiri dan kanan.
Aku yakin tadi itu Boni, dan Arumi. Pasti ada yang tidak beres. Rayyan membatin. Ia pun memutuskan untuk menghampiri meja resepsionis.
"Permisi, Mbak?"
"Iya, Mas. Ada yang bisa saya bantu?"
"Begini, Mbak ... saya punya teman wanita. Dia baru saja masuk dengan seorang pria. Ciri-ciri wanitanya berambut sedikit pirang, menggelombang dengan pakaian?" Rayan tidak begitu ingat busana apa yang di gunakan Arumi. "ah... laki-lakinya memakai baju baseball dengan topi berwarna hitam. Baru saja dia check-in. Bisa beritahu saya, mereka ada di kamar berapa?"
Wanita itu ingat, belum lama memang ada tamu yang masuk. Ciri-cirinya persis dengan yang di sebutkan. Namun ia tidak bisa memberitahukan itu karena akan menyalahkan SOP yang ada.
"Maaf, Mas. Sesuai SOP, kami tidak bisa asal memberitahukan nomor kamar tamu kami."
"Tapi ini urgent. Tolonglah..."
"Maaf mas kami tidak bisa. Permisi, bisa menyingkir sejenak. Ada tamu lain, Mas..."
"Haaaah...!" Rayyan mendesah gusar. Ia pun menepi.
"Atas nama Arumi? ada Tuan..." ucap resepsionis lain yang sedang menerima telfon dengan suara yang lirih. Namun masih bisa di dengar Rayyan, pria itu pun mendekat kearahnya diam-diam. "Kamar 177, lantai sebelas, Tuan ... baik Tuan."
Kamar 177, lantai sebelas? Tanpa berpikir panjang Rayyan langsung berlari menuju kamar itu. Menekan berkali-kali tombol lift, berharap secepatnya terbuka. Ayo cepatlah...
Tiiiiing... lift terbuka Rayyan pun bergegas masuk.
Setelah keluar dari lift ia buru-buru membaca satu persatu nomor pintunya.
"175, 176, 177..." Rayyan sedikit ragu. Terpekur cukup lama sebab Khawatir salah kamar. Namun akhirnya ia nekad. "Aku akan terima resikonya, jika memang aku salah kamar."
Rayan mundur dua langkah, ia pun mendobrak sekuat tenaga pintu kamar itu.
BRAAAAAAAAAAAKKKK!
Nafasnya nampak tersengal-sengal, mengedarkan pandangannya. Dan tertangkaplah seorang pria tengah duduk di atas ranjang tanpa memakai atasannya.
"Berhenti di situ!" Sergahnya.
"Ka–kau?" Boni langsung melompat dari ranjang itu hendak melarikan diri namun segera di tahan olehnya. Rayyan menarik tangannya lalu membanting tubuh pria itu kebelakang.
"Aaaaaggrrhhh..." Pria itu mengerang merasakan sakit di bagian punggungnya. Tanpa ba-bi-bu, Rayyan langsung menghajar wajah pria itu berkali-kali.
Baaakk! buuuuukkk! baaaaak! buuuuukkk!
"A–ampun, Ray!"
"Brengsek! Apa yang kau lakukan padanya?!"
"aku tidak melakukan apapun! Sumpah!!" Boni menahan tangan Rayyan, sebelum menghajar balik wajah pria itu. Lalu secepat mungkin bangkit untuk melarikan diri.
"Bedebah!!" Kembali berdiri dan berusaha mengejar Boni.
Duaaaaakk!
Bersamaan dengan itu, tubuh pria itu terpental masuk kedalam setelah menerima tendangan keras di bagian dada dari seseorang.
Sama halnya dengan Boni, Rayyan pun terkejut. Ketika melihat tiga orang berpakaian rapi masuk ke dalam kamar itu. Ya, Dialah Arga dan Sekretarisnya yang di temani sang manager hotel.
*semua pria lain yang menyukai akan dianggap lelaki baik2 dan cinta nya dinggap tulus dan harus diperlakukan sangat lembut dan baik2
*sedangkan semua wanita lain yang menyukai sang suami akan dianggap wanita pelakor murahan, menjijikan harus diperlakukan kasar, kejam dan dibinasakan
fakta novel mu cerminan pola pikirmu bagaimana pola pikir mu akan bisa dilihat dari novel mu
sampai disini paham akan
polah pikir bodoh kayak gini akan menunjukkan betapa egoisnya nya kalian
jika ada pria lain yang menyukainya maka dia akan anggap cinta pria itu tulus, dan akan memperlakukan pria itu secara lembut dana akan menolak dan menjelaskan secara lembut
tapi saat ada wanita lain yang menyukai suami otomatis wanita itu adalah wanita murahan, menjijikan pelakor, harus diperlakukan kasar dan harus dibinasakan
dengan pola pikir ini kalian berkarya novel maka jadi novel kayak gini yang begitu lembut memperlakukan pebinor
miris
klu di hati tuan muda cuma Alicia 🥺