Cincin tunangan tertinggal di jari manis wanita asing? Kok bisa? Ya bisa buktinya
Alhan mengalami hal itu karena ulahnya sendiri. Ironisnya dia tidak tahu nama dan alamat rumah wanita itu apalagi nomor hapenya. Siapakah sebenarnya wanita itu? Bisakah ia bertemu wanita asing itu lagi ? Dan bagaimana Alhan melamar kekasihnya kalau cincinnya saja tidak ada? Simak terus kisahnya. Happy reading!❣️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 Akhirnya tahu
Ayah Danu yang duduk di kursi roda menatap tajam putri sulungnya. Ibunya hanya mengelus bahu suaminya untuk menenangkan hatinya agar bersabar dalam menyikapi persoalan yang menimpa putri sulungnya itu.
"Ayah ibu kalian belum tidur? Maaf aku baru pulang" Nurmala menghampiri kedua orang tuanya.
Dia meraih tangan ibunya hendak menciumnya. Namun ibunya menepis tangannya begitu juga ketika Nurmala meraih tangan sang ayah hendak menciumnya, ayah nya pun melakukan hal yang sama seperti ibunya. Nurmala tidak mengerti sikap orang tuanya yang berbeda dengan kebiasaan sehari-hari, ada apa sebenarnya dengan mereka, mengapa mereka semarah itu kepada Nurmala? Nurmala hanya menduga-duga tanpa bisa menjawab yang sebenarnya.
Hatinya terkoyak ketika orang tuanya bersikap seperti itu. Akhir-akhir ini ia lebih sensitif mungkin karena pengaruh kehamilan.
Mendapat perlakuan seperti itu Nurmala mundur 2 langkah.
"Apa itu?" Dagu ayahnya menunjuk plastik kresek putih yang tersimpan manis dipojok dekat meja televisi.
Perlahan kepala Nurmala menengok ke belakang dan hanya melihat satu plastik yang membuatnya kaget luar biasa. Ia lupa tidak menyembunyikan barang yang ia beli. Seperti anak kecil yang ketahuan mencuri makanan, Nurmala menjadi gugup.
"Ambil!" seru ayahnya pelan. Nurmala bergeming. Karena tidak ada respon dari putrinya, ayahnya mengulang perintahnya dengan mata yang tajam dan suara yang cukup keras membuat Nurmala terhenyak.
"AMBIL!" Mata Nurmala menatap ibunya dan mendapat anggukan dari ibunya sebuah tanda agar Nurmala segera mengambil plastik itu. Nurmala mengambil plastik itu dengan gemetar, air mata yang ia tahan hampir saja jatuh sekali kedip. Nurmala perlahan memberikan plastik itu dengan ragu. Ayahnya mengambil plastik dengan kasar. Lalu melempar isi dari plastik yang ia pegang. Begitu syok ketika mendapati sekardus susu rasa vanila untuk ibu hamil. Begitu pun ibunya menutup mulutnya dengan telapak tangannya tidak percaya dengan situasi yang ada di hadapannya. Putri sulung yang seharusnya jadi panutan untuk kedua adiknya kandas tak bersisa.
Nurmala sudah memporak-poranda hati kedua orangtuanya, mencoreng nama keluarganya. Orang tua yang selama ini mendidiknya dengan ilmu agama yang cukup merasa gagal karena perlakuan anak di luar batas. Nurmala tak kuasa menatap mata kedua orang tuanya, ia hanya bergeming.
Ayahnya menatap nanar kardus yang ia pegang. Lalu matanya menyorot tajam. Ingin rasanya menampar putrinya itu kalau saja ia bisa berdiri.
"Lihat mata ayah! Apa salah ayah dan ibu sampai kamu nekat melakukan perbuatan laknat itu, APA!" Ayahnya begitu murka. Ibu hanya menitikkan air mata dengan kekecewaan. Tangannya terus mengusap bahu suaminya untuk menenangkannya.
"Sudah yah, sabar. Biarkan ibu yang urus semuanya." ujar ibu lembut karena khawatir kesehatan ayah menjadi menurun karena situasi ini.
"Tidak biar aku yang menyelesaikan permasalahan anak gak tahu diri ini sampai selesai" Ayahnya menggeleng pelan.
"Aaaayah mmmaaf aku minta maaf yah, aku khilaf melakukan itu. Kami terpaksa melakukannya hanya karena ingin mendapat restu dari orang tua Herdi."
"Oh ya? Lihat hasilnya seperti ini. Dasar anak bo***. Apa gunanya ayah menyekolahkanmu sampai sarjana? Kalau bertindak itu harus mikir pake otak bukan pake perasaan. Kapan kamu melakukan hubungan terlarang itu?" Diam sejenak. Hening.
"Saat aaayah sedang dirawat di rumah sakit. Kami melakukannya setelah mengantar ayah ke
rumah sakit. Maaf ayah aku minta maaf aku menyesal. Tapi Herdi janji akan menikahi ku sebelum anak ini lahir karena ia pun tak ingin anak ini lahir tanpa ayah" Nurmala bersimpuh pada ayahnya. Memohon agar dimaafkan. Ayahnya menahan tangis.
"Jadi kalian melakukan perbuatan itu saat ayahmu sakit Nur....? Kamu terlalu Nur. Apa salah ayah dan ibu padamu Nur sehingga kamu tega melakukan itu semua. Kamu tahu bagaimana ayahmu akan mempertanggungjawabkan semua pada Tuhannya? Ini berat Nur. Apa kamu tidak pernah berpikir, apa kamu tidak ingat sebelum melakukan itu ada dua malaikat yang menyaksikan perbuatanmu. Kamu tidak malu saat melakukan itu? Nur apapun keputusan ayahmu nanti itu suatu bentuk hukuman untuk mendidikmu bahwa dosa yang kamu lakukan itu tidak lah main-main." Ibunya lebih tenang berbicara pada Nurmala. Sementara ayahnya masih diam menahan kemarahan.
Ia sudah membicarakan permasalahan ini pada isterinya setelah ia mengetahui kecurigaan dari adiknya yang secara langsung melihat Nurmala dan Hendri berada di poli kandungan sedang menunggu antrian. Mereka tidak mengetahui keberadaan pamannya yang sedang berobat di klinik itu juga. Sebagai bukti pamannya mengambil foto Nurmala yang sedang bersandar di bahu Herdi. Ia ingin menunjukkan foto itu pada kakaknya agar kakaknya bisa bersikap. Walau bagaimanapun juga ini menyangkut harga diri keluarga.