IG. suliani_cucu
Warning 18+
Kekurangan harta membuat Aldo rela menjadi pemuja Nyai Ratu, siluman ular hutan terlarang.
Semua terjadi karena sebuah penolakan yang terjadi saat Aldo ingin meminang kekasih hatinya, pak Didi bukan hanya menolak lamaran dari Aldo. Namun, dia menghina dan mencaci maki Aldo yang memang hanya orang biasa.
Akankah dia mendapatkan kebahagiaan dengan cara sesat yang dia tempuh?
Yuk kepoin kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Ini
Cukup lama Arumi dan juga Aldo bercumbu di atas ranjang, sehingga pada akhirnya Arumi bisa mencapai puncak kenikmatannya.
Arumi sempat menawarkan diri untuk memberikan kepuasan kepada Aldo, sayangnya Aldo sedang tidak menginginkannya.
Dia hanya menggelengkan kepalanya, Arumi sempat tersinggung. Dia takut jika Aldo sudah merasa bosan terhadap dirinya, dia takut Aldo tidak menginginkannya lagi.
Namun, Aldo beralasan jika Arumi sudah terlihat sangat lelah dan kecapean. Jadi, lebih baik Arumi tidur saja kata Aldo.
Arumi yang memang kelelahan, kini terlihat tertidur dengan sangat lelap, sebenarnya Aldo ingin mengantarkan Arumi untuk pulang ke rumahnya.
Namun, Arumi bersikukuh ingin menginap di rumah Aldo. Dia berkata jika dirinya sudah mendapatkan izin dari bapaknya untuk menginap di rumah temannya.
Hal itu sengaja dimanfaatkan oleh Arumi agar dirinya bisa berduaan semalaman penuh dengan kekasih hatinya, dengan lelaki yang sangat dia cintai itu.
"Seharusnya kamu pulang, Sayang. Jika seperti ini, Mas jadi serba salah." Aldo mengecup kening Arumi, kemudian dia menutup tubuh setengah telanjang Arumi dengan selimut.
Lalu, Aldo terlihat turun dari tempat tidurnya. Dia rapikan bajunya, lalu keluar dari kamarnya. Tentu saja tujuan utamanya adalah dia ingin menemui Nyai Ratu, dia ingin tahu apa yang sudah terjadi di kamar belakang.
Dia juga sangat penasaran, apa yang kini sudah terjadi terhadap Meli. Apakah Meli benar-benar sudah menjadi tumbal pertamanya untuk Nyai Ratu?
Aldo melangkahkan kakinya menuju kamar belakang, tiba di kamar belakang dia terlihat ingin mengetuk pintu kamar tersebut.
Namun, dia merasa takut. Karena, Nyai Ratu pernah berpesan jika dia tidak boleh mengganggunya.
Akhirnya Aldo memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju dapur, dia duduk seraya termenung di sana.
Sebenarnya Aldo masih merasa gamang dalam menghadapi kehidupan yang dijalani saat ini, di dalam dirinya seolah ada yang berperang untuk mengatakan jangan mengikuti apa pun yang dikatakan oleh Nyai Ratu.
Namun, di sisi lainnya Aldo seolah bersemangat untuk mengikuti apa pun keinginan dari Nyai Ratu.
Tentu saja agar dirinya mempunyai harta yang banyak dan juga tidak pernah dipandang sebelah mata lagi oleh orang lain.
"Apa kamu menungguku, Aldo?" tanya Nyai Ratu seraya memeluk dan mengusap dada Aldo dari belakang.
Aldo terlihat sangat kaget, bahkan dia hampir saja berteriak. Namun, Nyai Ratu terlihat dengan cepat menarik wajah Aldo dan menyatukan bibirnya.
"Aku sudah selesai dengan Meli, dia sudah aku jadikan budak di istanaku. Sekarang, aku mau kamu." Nyai Ratu menuntun Aldo agar segera masuk ke dalam kamar yang khusus Aldo siapkan untuk dirinya.
Saat tiba di dalam kamar belakang, Aldo terlihat mengedarkan pandangannya. Dia merasa bingung karena tidak ada tubuh Meli di sana.
Bukankah yang pernah dia dengar jika dijadikan tumbal maka hanya jiwanya saja yang ikut ke istana Nyai Ratu, sedangkan raganya akan tetap berada di dunia nyata. Namun, kenapa raga Meli tidak ada?
"Jangan memikirkan Meli, dia sudah aku bereskan. Tugas kamu saat ini adalah memuaskan aku, Aldo," kata Nyai Ratu seraya melucuti pakaian Aldo.
Malam ini kembali Aldo berpeluh dengan Nyai Ratu, dia bahkan rela meninggalkan Arumi sendirian di dalam kamar miliknya.
Pukul tiga pagi pergumulan panas mereka telah selesai, Nyai Ratu pergi meninggalkan Aldo dengan banyak emas di kasur yang mereka jadikan saksi bisu percintaan panas mereka.
"Aku harus segera kembali ke kamar, agar Arumi tidak curiga." Aldo segera bangun dan langsung mengunci kamar tersebut.
Dia melangkahkan kakinya menuju kamar miliknya, dia merebahkan tubuh lelahnya di samping Arumi. Lalu, dia peluk tubuh Arumi dan memejamkan matanya.
Rasa lelah yang menyerang, membuat Aldo langsung terlelap dalam tidurnya.
*/*
Pukul delapan pagi Arumi terbangun dari tidurnya, dia tersenyum kala melihat wajah Aldo saat matanya terbuka.
Aldo yang sangat kelelahan dan baru tidur pukul tiga pagi, masih terlelap dalam tidurnya. Dia bahkan terlihat begitu pulas dalam tidurnya.
"Padahal tadi malem kamu ngga merawanin aku, tapi tidurnya kaya yang abis main sampai pagi," kata Arumi seraya terkekeh.
Beruntung hari ini Arumi tidak perlu ke Rumah Sakit, karena jadwal dirinya of kerja. Jadi, hari ini dia bisa lebih bersantai.
Andai saja Arumi tahu jika Aldo sudah menjual keperjakaannya, andai saja Arumi tahu jika Aldo sudah menggadaikan imannya. Andai saja Arumi tahu jika tadi malam Aldo sudah tidur dengan siluman ular dan memberikannya seorang tumbal, mungkin Arumi akan lari dari Aldo.
"Aku mandi dulu, Mas." Arumi mengecup bibir Aldo, lalu dia turun dengan perlahan agar dia tidak mengganggu tidur kekasihnya itu.
*/*
Matahari terlihat sudah meninggi, Aldo yang merasa silau karena cahaya matahari yang masuk lewat celah jendela terlihat menggeliatkan tubuhnya.
Dia berusaha untuk membuka matanya yang masih terasa sangat berat, kemudian dia mengedarkan pandangannya.
"Bukankah tadi malam aku tidur dengan Arumi? Kemana dia?" tanya Aldo.
Aldo segera turun dari tempat tidur, dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Lalu, dia segera melakukan ritual mandinya.
Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, karena hanya dalam waktu lima belas menit saja Aldo sudah terlihat selesai dalam melakukan ritual mandinya.
Dia segera keluar dari kamar mandi, lalu memakai pakaian santainya. Untuk sesaat Aldo berdiri di depan cermin, dia mematut dirinya. Mengeringkan dan menyisir rambutnya.
Setelah itu, dia tersenyum dan segera keluar dari kamarnya. Baru saja dia menutup pintu kamarnya, namun dia mencium aroma yang sangat wangi dari arah dapur.
Aldo jadi berpikir, jika Arumi meninggalkan dirinya di kamar sendirian karena wanita itu pergi meninggalkan dirinya untuk memasak.
Benar saja, saat Aldo tiba di dapur, Arumi terlihat sedang menuangkan masakannya ke atas piring. Lalu, dia menatanya di atas meja makan.
"Kamu masak, Yang?" tanya Aldo seraya memeluk perut Arumi dengan erat.
"He'em, aku akan belajar untuk menjadi istri yang baik untuk kamu," kata Arumi.
"Kamu selalu menjadi yang terbaik untuk aku, Yang. Kamu wanita yang paling aku cintai," kata Aldo.
"Terima kasih, Sayang." Arumi berbalik, lalu dia mengalungkan kedua tangannya di leher Aldo.
Arumi menjinjitkan kakinya, lalu dia mengecup bibir Aldo.
"Hari ini aku of, bagaimana kalau kita menikah hari ini saja?" tanya Arumi.
Aldo benar-benar merasa kaget saat mendengar perkataan dari Arumi, dia merasa jika Arumi terlalu tergesa-gesa.
"Tapi, Yang. Kita belum membeli gaun pengantin, aku belum menemui pak ustadz juga," kata Aldo seraya menarik pinggang Arumi.
"Aku punya kenalan ustadz, aku sudah berbicara padanya kemarin. Dia mau menikahkan kita selepas maghrib nanti," kata Arumi.
"Benarkah?" tanya Aldo.
"Ya, sekarang kita makan dulu. Setelah itu, kita langsung membeli gaun pengantin, ke salon untuk make over, terus kita ke rumah pak ustadz," kata Arumi.
"Baiklah, Sayang. Kita lakukan semua yang kamu mau," jawab Aldo.
Arumi terlihat sangat bahagia sekali saat mendengar penuturan dari Aldo, dia sudah tidak sabar untuk menjadi istri Aldo. Walaupun mereka hanya menikah Siri saja.
*
*
Masih Berlanjut....
Jangan bosen-bosen ya, buat ngikutin cerita Aldo yang gila harta ini. Semoga Aldo segera insyaf, ya, guyz....