Adara hamil, sialnya ia tidak tahu ia hamil anak siapa. Yang ia ingat terakhir kali hanyalah dirinya terbangun dalam keadaan telanjang bulat bersama dengan empat sahabat laki laki nya yang juga tidak mengenakan pakaian apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theshittyqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA PULUH SATU
“Lihat mereka, kemana mana bersama. Tapi masih saja tidak mau menikah.” Sabrina menggelengkan kepala nya bingung, ia melirik ke sebelah nya dimana Clara berdiri. Clara juga memandang kearah yang sama, kearah Adara dan Markus yang sedang bermain dengan Cherryl.
“Aku yakin anak ku masih mencintai anak mu, ah tidak. Si bodoh itu sangat sangat mencintai anak mu, anak mu saja yang sok jual mahal.”
Clara mengerutkan alisnya, namun ia tidak membalas perkataan Sabrina. Ia setuju dengan perkataan Sabrina.
Ini sudah 6 bulan lama nya sejak Markus kembali, dan hubungan antara Markus dan Adara juga membaik dengan keberadaan Cherryl.
Cherryl juga sudah sering mengatakan ia ingin Mama dan Papa nya bersama namun Markus dan Adara selalu saja diam membeku tiap kali Cherryl mengatakan hal itu.
“Sifat keras kepala Adara sepertinya menurun dariku, dulu juga aku tidak mudah luluh jatuh ke pelukan Damian.” Clara tersenyum mengingat kenangan masa lalu nya, jika di ingat ingat rasanya seperti sinetron saja.
“Ku rasa sifat Markus juga menurun dari ku. Hanya mencintai orang yang sama, dan tidak akan bisa membuka hati kepada orang lain. Dan kami juga sama sama bodoh, dulu aku bodoh melampiaskan kekecewaan ku kepada Markus. Padahal anak itu tidak salah apa apa.” Sabrina mengusap sudut mata nya yang berair, ia hampir menangis lagi.
“Sudahlah.. kita tidak perlu membahas masa lalu. Bagaimana pun itu masalah pasti akan ada, tidak ada hidup yang selalu lurus tanpa liku. Yang perlu kita lakukan adalah fokus ke depan dan berhati hati agar kita tidak tergelincir dan jatuh di jalan hidup ini. Kita menoleh kebelakang hanya untuk pembelajaran, menyesali nya sudah tidak ada artinya.”
Sabrina melirik Clara dengan alis berkerut. “Sejak kapan kau jadi bijak begini?”
Clara tertawa dan Sabrina ikut tertawa. Tawa mereka membuat Markus dan Adara menoleh kebingungan.
“Sejak kapan mereka dekat?” tanya Markus melirik ke arah Adara.
Adara mengangkat bahu nya pertanda ia tidak tahu, kedua nenek nenek itu agak sulit di tebak memang.
***
“Aku merasakan ada hal yang tidak beres.” Adara memasang wajah serius, ia terus menatap kearah Cherryl yang sibuk berbisik bisik dengan kedua nenek nya itu.
“Ada apa?” Markus tiba tiba muncul, bertanya dan mengikuti arah pandang Adara. “Aku tidak melihat ada hal yang aneh.”
“Kau tidak bisa lihat? Mereka berbisik bisik, pasti ada sesuatu yang mereka rencana kan.”
Markus tertawa mendengar perkataan Adara, “Hei mereka hanya bermain, kau saja yang terlalu berpikiran negatif.”
Adara memegang leher nya, berpikir apakah benar ia saja yang terlalu berpikir kejauhan?
***
Cherryl menganggukkan kepalanya mengerti, tak lupa ia mengacungkan ibu jari kecil nya. Ia sudah siap untuk menjalankan rencana yang telah ia susun bersama kedua nenek nya.
Cherryl sengaja berpamitan untuk bermain di rumah temannya. Beberapa menit kemudian Cherryl pulang sembari menangis tersedu sedu, membuat Adara dan Markus panik dan segera menghampiri Cherryl.
“Kenapa sayang hm?” Adara menangkup pipi Cherryl, menghapus air mata putri nya itu.
“Apa ada yang bersikap jahat pada mu?” tanya Markus agak emosi, ia paling tidak suka jika ada yang menyakiti putri kesayangannya itu. “Cerita sama Papa sayang..”
“Adam Pa.. tadi Adam bilang kalau semalam Adam tidur sama Mama dan Papa nya. Cherryl bilang Cherryl juga mau, terus Adam bilang gak bisa. Karna Mama dan Papa tidak menikah.” Cherryl menjelaskan masih dengan air mata berlinang, “Kenapa Mama dan Papa tidak menikah?”
Adara terdiam, itu pertanyaan yang sulit untuk Adara jawab. Meskipun ia menjawab pertanyaan itu Cherryl tidak akan mengerti.
“Cherryl mau Mama dan Papa sama sama, Cherryl gak mau tidur bergilir lagi. Hari ini sama Mama, besok sama Papa. Cherryl mau nya sama sama. Kenapa teman Cherryl bisa tapi Cherryl tidak bisa?”
Hati Adara sakit mendengar putri nya mengatakan hal seperti itu, bukan hanya Adara. Markus pun merasakan hal yang sama. Lebih tepatnya Markus yang lebih paham dengan perasaan Cherryl karna dulu Markus pernah ada di posisi seperti itu. Iri kepada teman temannya.
“Sudahlah.. kenapa kalian tidak menikah saja. Resmi kan hubungan kalian, kalian sudah seperti pasangan suami istri kemana mana bersama, menjaga Cherryl bersama. Apa sulitnya menikah? Jangan beralasan kalau kalian tidak punya rasa satu sama lain. Sudah jelas terlihat kalau kalian saling sayang satu sama lain.” Sabrina menyeletuk disambut anggukan dari Clara.
“Jika memang kalian punya perasaan lebih satu sama lain kenapa terus menunda nunda? Apa harus menunggu Cherryl dewasa lebih dulu baru kalian memutuskan untuk menikah?” kali ini Clara yang akan suara.
Cherryl menatap Markus dan Adara bergantian. “Kalau begitu Mama dan Papa menikah saja seperti Mama dan Papa nya Adam!”
Usulan Cherryl tersebut membuat Adara dan Markus membeku, saling menatap sejenak sebelum akhirnya membuang pandangan masing masing ke arah lain.
Markus sendiri merasa senang dengan permintaan Cherryl, tapi Markus tidak tahu dengan perasaan Adara. Markus tidak ingin memaksa, meski ia benar benar ingin menikahi Adara sekalipun.
“Kenapa tidak menjawab? Apa Mama benci Papa dan Papa benci Mama?” suara Cherryl bergetar, kembali membuat kedua orangtuanya nya itu tidak tega.
Adara membuang harga dirinya yang tinggi itu, ia memeluk Cherryl dan menepuk nepuk punggung Cherryl. “Iya sayang, Mama dan Papa akan menikah. Cherryl jangan bersedih lagi.”
***
“Apa kau serius dengan perkataan mu sebelum nya?” Markus bertanya kepada Adara setelah Cherryl pergi ke kamar nya, kini tinggal mereka berdua.
“Iya. Apa kau tidak mau menikah dengan ku?”
Markus menggelengkan kepalanya, “Bukan begitu, tapi kita tidak perlu menikah jika kau terpaksa. Cherryl mengatakan hal seperti itu karena dia masih kecil jad—”
“Kau seharusnya tahu betul posisi Cherryl seperti apa kan? Aku tidak ingin Cherryl merasakan apa yang dulu kau rasakan. Di kucilkan teman teman nya. Tapi di samping itu juga, aku dulu pernah memiliki perasaan lebih terhadap mu, mungkin tidak akan sulit untuk membuat perasaan itu kembali ada atau memang sebenarnya perasaan itu sampai sekarang masih ada hanya saja aku terus menangkisnya dan tidak mau menerima kenyataan. Tapi sekarang bukan saatnya untuk bersikap seperti anak kecil lagi.”
Markus mengangguk paham. Ia maju selangkah dan memeluk Adara. “Baiklah, aku akan berusaha keras untuk membuat mu kembali memiliki perasaan itu atau jika kau memang sudah memiliki nya maka aku akan membuat nya semakin besar, sebesar aku mencintai mu.” Markus mengecup puncak kepala Adara lembut.
Sementara itu Cherryl mengintip dari kejauhan bersama kedua neneknya.
“Apa Cherryl berhasil Oma?”
“Berhasil seratus persen sayang.”
sukses
semangat
mksh