Setelah suaminya meninggal, Rania menikah dengan kakak iparnya, Shaka. Cinta yang sudah tumbuh dan semakin subur, seperti sebuah pohon. Semakin tinggi semakin kencang angin mengguncang.
Shaka dipaksa menikahi Aina atas permintaan Ibunya secara diam-diam. Lantas, bagaimana Rania menyikapi pernikahan siri suaminya? Mampukah Rania bertahan atau memilih pergi dan mencari ketenangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asa bening, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Steve ketemu?
Sejak kejadian kekerasan itu, Rania mantap untuk menggugat cerai Morgan. Keluarga mendukung penuh keputusan Rania. Sedangkan Tuan Harsa dan Nyonya Marsya, hanya bisa memahami keadaan. Di mana, putranya memang benar-benar salah.
Morgan sering menyendiri dan lebih sering merasakan sakit luar biasa di kepalanya akibat terlalu keras memikirkan keputusan Rania yang hendak menceraikannya.
Seperti pagi ini, Morgan tiba-tiba mendadak pingsan di dalam kamar mandi. Saat itu, Morgan yang hendak mencuci muka, tiba-tiba merasakan sakit yang amat luar biasa.
Dan orang pertama yang melihat pingsannya Morgan adalah, Shaka. Morgan langsung dibawa oleh Shaka ke rumah sakit terdekat, untuk mendapatkan penanganan pertama.
Tak lupa, Shaka menghubungi orang tuanya, dan Rania yang masih sebagai istrinya.
Tak lama kemudian, Rania telah sampai di rumah sakit terlebih dahulu sebelum Tuan Harsa dan Nyonya Marsya. Dan hal mengejutkan bagi Shaka adalah, Rania datang membawa kelinci yang sangat tidak asing baginya.
"Kak, bagaimana keadaan Morgan?" tanya Rania. Tangannya masih setia mengelus kepala kelincinya itu.
"Masih ditangani Dokter, Nia. Kurasa, ini adalah efek perceraian itu, keadaan Morgan memburuk." ucap Shaka datar. Meski hatinya ingin sekali menggendong kelinci yang sangat dirindukannya itu, Shaka tetap lebih mengedepankan kondisi adiknya.
Kelinci urusan belakangan. Yang terpenting, Steve berada di tangan orang yang tepat.
Berbeda dengan Shaka, Rania merasakan perubahan yang ada dalam diri Shaka. Pasalnya, sejak kejadian di depan rumah Fatma, Shaka menjadi lebih dingin dan cuek dengannya. Namun, Rania tidak ingin terlalu memikirkan hal itu. Tak terlalu penting pikirnya.
Rania memutuskan duduk di kursi tunggu sambil memangku Rara, sesekali menciumnya. Dan beberapa saat kemudian, Tuan Harsa dan Nyonya Marsya tiba di rumah sakit.
"Shaka, bagaimana keadaan Morgan, Nak? Apa yang terjadi?" tanya Nyonya Marsya dengan suara bergetar menahan tangis.
"Aku belum tahu, Ma. Dokter belum kunjung keluar," jawab Shaka.
Nyonya Marsya berpindah mendekati Rania.
"Ran, tolong. Jangan ceraikan Morgan. Berat baginya tanpamu, Rania," isak Nyonya Marsya.
"Maaf, Ma. Aku sudah memberi kesempatan kedua untuk Morgan. Tapi, lagi-lagi dia melakukan kekerasan terhadapku," ucap Rania jujur.
"Tapi, bagaimana jika kondisi Morgan memburuk karena hal ini, Ran?" tanya Tuan Harsa.
"Maaf, Pa. Akupun berhak bahagia. Jika Morgan hanya terlalu posesif, mungkin aku masih bisa menerima. Tapi, jika sudah ringan tangan, apa Papa tetap akan mendukung Morgan? Jika iya, maka Papa juga mendukung Morgan menyakiti perempuan bukan?" tanya Rania sambil memeluk Rara erat, karena gugup dan takut. Tuan Harsa terdiam.
Dan hal itu tak luput dari penglihatan Shaka.
"Baiklah jika itu keputusanmu. Tapi, jika sampai terjadi sesuatu dengan Morgan, kamulah orang pertama yang akan kami salahkan," ucap Nyonya Marsya mengancam.
"Benar kata Morgan, kamu itu nggak punya harga diri. Menggoda dua bersaudara sekaligus!" seru Nyonya Marsya. "Tadinya, aku berusaha untuk memahami keadaanmu. Akupun tak ingin memiliki suami ringan tangan. Tapi setelah melihat egomu yang terlalu tinggi, aku jadi semakin yakin bahwa kamu memang perempuan murahan!" sentak Nyonya Marsya lagi.
"Cukup, Ma! Dalam hal ini, Rania benar. Dia memiliki hak untuk memilih jalan kebahagiaannya sendiri. Jangan memaksa Rania untuk terjatuh di lubang yang sama. Pernikahan memang sakral, setiap orang ingin menikah hanya satu kali seumur hidup. Tapi jika terus tersakiti, perlukah kita bertahan yang sudah jelas hanya akan menyiksa diri?" ucap Tuan Harsa tegas.
"Jangan membuat keributan di sini, Ma. Orang-orang pasti terganggu," Shaka menarik Mamanya agar menjauh dari Rania.
Rania hanya terdiam dan memeluk Rara dengan erat. Air matanya, Rania melarang tegas untuk tidak keluar di situasi seperti ini.
"Hey! Jangan takut, Ra. Ini sudah biasa aku alami. Kamu harus terbiasa dengan keadaan ini, oke," ucap Rania lirih kepada Rara yang bersembunyi di dadanya.
"Ra? Apa Steve telah berubah nama? Atau dia bukan Steve-ku?" tanya Shaka dalam hati.
TBC 🥰
Aslan itu kk laki atau perempuan sih ?
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
Maaf, ya! Mungkin di ceritaku yg ini, alur masih berantakan.
Tapi kalau kalian masih bersedia mendukung author, imigrasi yuk ke novel Pria Kedua
Ketemu sama Nitara Ranting Impian! Si Wanita malang telah bersuami pria tak berhati.