Daini Hanindiya Putri Sadikin : "Aku tiba-tiba menjadi orang ketiga. Sungguh, ini bukan keinginanku."
Zulfikar Saga Antasena : "Tak pernah terbesit di benakku keinginan untuk mendua. Wanita yang kucintai hanya satu, yaitu ... istriku. Semua ini terjadi di luar kehendakku."
Dewi Laksmi : "Aku akhirnya menerima dia sebagai maduku. Sebenarnya, aku tidak mau dimadu, tapi ... aku terpaksa."
Daini, Zulfikar, Dewi : "Kami ... TERPAKSA BERBAGI RANJANG."
Author : "Siksa derita dan seribu bahagia terpendam dalam sebuah misteri cinta. Banyak manusia yang terbuai oleh cinta, tapi tidak tahu hakikatnya cinta. Terkadang cinta laksana proklamasi, bisa dirasakan dengan mendalam dan seksama, namun dapat hancur dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tidak ada yang memiliki porsi lebih besar dalam hal menjaga hati, karena setiap pasangan memiliki peran yang sama untuk saling menjaga dan saling percaya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Ambu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rakyat Jelata yang Merebut Hati Pangeran dari Tangan Tuan Putri [Visual]
Dewi Laksmi
Aku pergi meninggalkan kafe dengan membawa sejuta luka. Sebuah luka menganga yang entah kapan bisa disembuhkan.
Tadi sebelum wanita itu datang, polisi dan pengacara telah membeberkan fakta mengejutkan yang terjadi pada malam di mana aku ketiduan gara-gara minum obat flu.
Mereka bahkan menunjukkan bukti rekaman CCTV. Saat polisi menjelaskan, dadaku sudah mulai terbakar api kebencian pada wanita itu. Sementara mas Zul hanya diam dan menunduk. Dia benar-benar pengecut ulung. Dia tidak berani mengatakannya sendiri hingga melibatkan pengacara dan polisi.
"Lalu apa yang Anda lalukan di dalam kamar?" tanya polisi pada saat itu.
Percakapan tadi sudah aku rekam semuanya di ponselku dan tidak akan kulupakan seumur hidupku.
Saat ini aku sudah berada di dalam taksi. Untuk sementara waktu, aku mau pulang ke rumah mamaku untuk menenangkan diri. Juga untuk menyusun rencana matang agar aku bisa membalaskan penghinaan ini pada wanita itu juga pada mas Zul.
"A-aku meniduri dia Pak. Karena mabuk, aku mengira jika wanita itu adalah Dewi," jawab Mas Zul kala itu. Dia menjawab dengan tangan gemetar dan wajah memucat.
"Kamu tidak mengenali istrimu sendiri, Mas?!"
Saat itu aku beteriak dan membentaknya. Namun polisi dan pengacaranya selalu melerai dan menahanku.
Kamu benar-benar kejam, Mas. Memangnya hanya kamu yang kaya-raya dan bisa menyewa pengacara?
Papiku bahkan memiliki firma hukum yang menaungi puluhan pengacara kondang. Jika itung-itungan, keluargaku mungkin saja lebih kaya daripada keluarga mas Zul.
"Huuuks," aku terus menangis. Membayangkan wanita itu tidur dengan suamiku hatiku benar-benar sakit hingga ke ubun-ubun dan tulang-belulangku.
"Mbak tidak apa-apa?" tanya supir taksi.
"Bisa diam tidak Pak! Bapak nyetir saja! Gak perlu tanya-tanya!" sentakku.
"Ma-maaf, Mbak."
"Pak Zul sama sekali tidak ada kecurigaan sedikitpun?" tanya polisi. Aku mengingat kembali percakapan itu.
"Ti-tidak Pak. Aku dan Dewi sebelumnya belum pernah melakukan itu. Karena Hanin juga gadis jadi ---."
"Cukup Mas! Tidak perlu dijelaskan lagi! Aku sudah mengerti!"
Tadi aku berusaha keras untuk tetap tegar dan menahan kemarahan itu setidaknya sampai si ja lang itu datang.
"Maaf Bu Dewi, tapi seperti inilah proses penyelidikan. Semuanya harus dijelaskan secara terbuka. Pak Zul, kapan Anda menyadari kalau dia bukan istri Anda?"
"Aku menyadarinya setelah semuanya selesai. Maafkan Mas, Wi."
Lalu dia memegang tanganku. Tangan menjijikkan yang pastinya pernah menyentuh tubuh terluar dan terdalam wanita munafik itu.
Saat itu aku langsung menepis tangannya dan menangis perlahan-lahan. Tak kusangka, ternyata aku bukanlah wanita pertama yang menikmati keperjakaan suamiku sendiri.
Dan anehnya, sebenci apapun aku pada mas Zul, aku tetap saja mencintainya. Jika saja perasaan cinta ini dapat kuhapus. Aku ingin segera melenyapkannya saat ini juga.
Sayangnya, aku tidak bisa melakukannya. Aku tetap mencintainya. Bahkan rasa cinta itu tetap sama dan tidak berubah walaupun aku tahu kalau dia telah membohong dan mengkhianatiku.
Ya, aku memang sudah kecanduan tubuhnya dan ketampanannya. Sebelum kita menikah, aku bahkan sering berfantasi sendiri dengan membayangkan wajahnya dan tubuhnya.
"Aaargh!" teriakku. Aku marah pada diriku sendiri.
"Astaghfirullah! Kaget aku, Mbak." Supir taksi sampai mengerem mobilnya.
"Diam Pak! Lanjut saja menyetir!" bentakku.
"Baik, Mbak." Dia garuk-garuk kepala. Mungkin merasa aneh atas sikapku.
"Huks ...."
Aku terisak sambil memandangi potret suamiku. Mungkin bagi orang lain dia biasa saja, tapi bagiku dia sangat memikat.
Sungguh bodoh jika aku membiarkan wanita itu lepas begitu saja dari tanganku. Aku harus membalas rasa sakit hati ini walaupun pada akhirnya aku terpaksa harus berbagi ranjang dengan wanita itu.
Jika mas Zul menceraikannya, masalah ini akan selesai dan aku tidak bisa balas dendam. Lalu tanpa sepengetahuanku mereka bisa saja selingkuh di belakangku.
Tapi dengan mengikat mereka berdua, aku bisa leluasa menghinakan dan menyakiti wanita itu dengan caraku sendiri. Dia harus tahu bagaimana sakitnya dicampakkan oleh seseorang yang dicintai.
Akan kubuat hidupnya tidak tenang dan putus asa. Dia harus merasakan rasa sakit yang kurasakan saat ini.
"Lalu nikah siri itu, ide siapa?" tanya polisi.
"Hanin, Pak. Awalnya, aku ingin memberinya sejumlah uang. Aku juga menawarkan harga yang dia inginkan. Saat itu, aku mengira dia pela cur yang sengaja dikirim untuk menjebakku. Tapi dia menolak semua itu dan mengatakan jika ingin bertanggung jawab maka aku harus menikahinya."
"Kamu bodoh Mas! Harusnya saat itu juga kamu melemparkan uang padanya dan meninggalkannya. Bukan malah disembunyikan di dalam lemari dan bersandiwara saat aku datang!" teriakku.
Malam itu aku ingat benar saat mendengar suara batuk dari dalam lemari. Ternyata, itu suara Daini. Si ja lang masa kini yang berkedok wanita sok suci dan lugu.
"Jika bu Daini hanya ingin dinikahi demi gelar janda, kenapa Anda tidak langsung menceraikannya?"
Pertanyaan pengacara mewakiliku. Aku juga ingin bertanya tentang itu.
"Emm, a-aku ---." Mas Zul gelagapan.
"Gini saja Mas! Apa setelah nikah siri kamu meniduri dia lagi?! Jujur padaku, Mas!"
Saat itu aku tak sabaran karena dia terlihat ragu. Aku jadi yakin pada dugaan Rani jika suamiku sudah termakan guna-guna.
Mas Zul mengangguk pelan. Yang artinya dia mengiyakan dugaanku.
Saat itu, aku langsung lemas. Tubuhku gemetar dan seolah mendengar sambaran petir di malam hari. Pengacara dan polisipun saling berpandangan.
"Huuu, jika kamu menidurinya lagi, berarti kamu juga menginginkan tubuh dia Mas! Jadi selama ini kamu berzina di belakangku Mas?!"
"Bu tenang, Bu."
"Diam kalian semua!"
"Ti-tidak berzina, Wi. Kan Mas dan di-dia sudah menikah," bela mas Zul kala itu.
"Tidak Mas! Aku akan tetap menganggapnya sebagai zina! Kenapa?! Karena kamu menikah tanpa seizinku!" teriakku.
"Maaf Bu Dewi, dalam hal ini Pak Zul benar. Memang bukan termasuk perzinaan," sela pengacara. Malah membela mas Zul.
Polisipun mengangguk membenarkan pernyataan pengacara.
"Huuu, huks. Kenapa kalian semua tidak ada yang membelaku?! Kenapa hukum nikah siri itu terkesan menyudutkanku sebagai istri sahnya?! Ini tidak adil! Aku tidak terima, Mas!"
"Huuu, aku bahkan mengeringkan rambut basahmu saat kamu pulang tengah malam. Apa rambut kamu basah gara-gara tidur dengan dia?!"
Saat aku menanyakan itu mas Zul tidak menjawab. Dia hanya menunduk.
"Diam berati ya!" sentakku.
Jujur, aku bukanlah wanita baik. Aku tidak mungkin memaafkan begitu saja pengkhiatan mas Zul dan wanita itu.
Jika mas Zul mengakui menidurinya lagi, itu artinya si Daini juga tak menolak suamiku.
Beraninya wanita itu tidur dengan pria yang jelas-jelas telah beristri. Jikapun wanita itu berdalih karena mas Zul sudah menjadi suaminya, aku tetap tidak akan menerima alasan itu.
Tidak akan!!
Dan saat wanita itu datang, lalu mereka berpandangan, jelas sekali jika di mata mereka ada benih-benih cinta. Kenyataan itu membuatku semakin terluka.
Sakiiit, sakit sekali.
Kenapa bukan aku yang kamu cintai, Mas? Apa selama ini kamu hanya berpura-pura manis di hadapanku? Senyummu, belaianmu, sikap manismu, dan panggilan 'cinta' itu, apa hanya sebuah kepalsuan? Kamu tak bisa termaafkan mas.
Jadi seperti itulah alasan kenapa aku memutuskan untuk menerima dia sebagai maduku.
Karena hanya dengan cara ini aku bisa balas dendam. Aku akan membuka topeng kemunafikannya secara pelan-pelan. Aku akan menguliti keburukannya hingga dia merasa malu dan hina.
Aku juga sempat memotret wajahnya saat dia datang. Tepatnya sebelum aku menguyur wajah dan penampilan sok sucinya itu dengan jus jeruk.
Setahuku dia tidak bercadar, tapi entah kenapa tadi dia memakai cadar. Mungkin sengaja agar kesannya di hadapan polisi dan pengacara jadi lebih baik jika dibandingkan denganku.
"Cuih." Aku meludahi layar ponselku.
Teramat penasaran dengan wajah asli wanita ini jika cadarnya dibuka. Atau jika dia kutelan jangi, apakah memang lebih seksi daripada tubuhku?
Ini adalah fotoku dan mas Zul sebelum wanita itu datang. Kami terlihat serasi dan bahagia. Walaupun saat itu aku masih meragukan perasaan mas Zul, tapi kehangatan sikapnya sudah cukup membuatku bahagia.
Dan aku ingat jika foto ini diambil setelah aku dan mas Zul pulang dari Bandung. Itu artinya dia sudah menikah dan meniduri wanita itu. Jelas sekali jika tatapan mas Zul padaku tak hangat lagi. Dia seperti terpaksa dan tertekan saat menatapku. Sekarang aku baru menyadarinya.
Bukan salahku jika aku ingin balas dendam. Sebab wanita itulah yang terlebih dahulu bermain api.
Dan kamu mas Zul, kelak akan merasakan penyesalan yang teramat sangat menyakitkan karena telah berani berbohong dan mengkhianati seorang Dewi Laksmi.
"Mbak, di sini 'kan? tanya pak supir.
"Oh, ya Pak. Terima kasih. Ambil semuanya." Aku bergegas.
Aku turun dari taksi di depan sebuah rumah yang sebenarnya bukan rumahku. Aku sengaja turun di sini agar identitasku sebagat putri salah satu konglomerat ternama di negeri ini tidak membuat pak supir syok.
"Terima kasih, Mbak," serunya.
Matanya masih membelalak dengan uang yang kuberikan. Dan aku tak sabar ingin segera menyumpal mulut wanita itu dengan uang-uangku.
.
Sebelum ke rumahku, aku duduk dulu di bangku taman. Aku menatap sang rembulan dengan deraian air mata.
Aku tak akan menceritakan masalah ini pada pami dan mami. Akan kubiarkan mas Zul stres dan tertekan karena mau tidak mau dia harus mengungkap kenyataan ini pada keluargaku dan keluarga besarnya.
"Rasakan kamu Mas! Aku memang tidak akan melepaskanmu, namun aku juga tidak akan membiarkan kamu hidup bahagia dengan wanita munafik itu!" gumamku.
"Kamu boleh saja tidak mencintaiku, tapi saat kamu berani mengkhianatiku, itu artinya kamu telah menabuh genderang perang denganku dan keluargaku."
"Mari kita buktikan, siapa sebenarnya pemeran utamanya. Kamu dan wanita itu? Atau aku dan kamu?" Aku bergumam seorang diri bak orang gila.
Aku lantas mengusap airmataku sambil menarik napas.
Pertarungan akan segera dimulai! Macan betina siap menerkam siapapun yang berani mengusiknya!
Besar sekali nyali kamu Mas! Mungkin kamu sudah lupa jika kasus perceraian mamamu dan papamu pernah mengguncang publik dan hampir saja membuat mamamu mati.
Dulu, papa Aksa Adiwangsa Antasena yaitu papanya mas Zul dan mami Elok Yuze Shaosheng pernah becerai. Namun mereka rujuk kembali setelah mami Elok sakit keras dan gosipnya pernah melakukan percobaan bunuh diri akibat perceraian itu.
Mas Zul tak sadar jika sedikit saja kesalahan yang ia lakukan akan berdampak buruk pada dirinya dan seluruh keluarganya.
Kita lihat saja nanti!
Siapa yang akan dibela oleh papa dan mamamu?! Kamu atau aku? Atau mungkin wanita munafik itu?
Tidak, tidak mungkin wanita itu!
Kini aku melangkah percaya diri menuju istanaku. Istana yang selalu memanjakanku dengan kemewahan dan kebahagiaan.
Lalu kamu, Daini! Beraninya rakyat jelata seperti kamu mengusik kebahagiaan tuan putri dengan merebut pangeran impianku.
...🍒🍒🍒...
Zulfikar Saga Antasena
"Hanin ...."
Aku mengulurkan tangan, namun dia tak menoleh dan tetap pergi. Ingin aku mengejar dan memeluknya. Namun aku sadar jika dia pasti sakit hati atas sikap pengecutku. Ya, aku memang pengecut. Aku mengakui itu.
Aku meminum jus jeruk dalam satu kali tegukan. Andai tidak diharamkan, mungkin aku sudah memesan minuman beralkohol untuk sejenak melupakan kegundahanku.
Tidak, aku tidak bisa tetap di sini seorang diri. Aku harus segera pergi dari tempat ini. Aku beranjak.
Dan aku terbayang kembali penampilan memukau Hanin pada malam ini. Aku tidak menyangka jika dia akan memakai cadar. Cara memakai cadarnya memang belum sempurna. Tapi itu sudah cukup membuatku terkejut dan semakin terpesona.
Aku berjalan ke parkiran sambil melamun.
Harus ke mana aku pulang malam ini?
.
Di dalam mobil aku kembali merenung. Hanin pasti kecewa atas sikapku. Polisi dan pengacarakupun pasti kecewa.
Tapi mereka tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini.
Sebenarnya ... aku jadi pengecut dan penakut seperti ini gara-gara perselisihan dan perceraian kedua orang tuaku. Ya, mereka memang sudah rujuk dan kembali bersama.
Faktanya, aku telah melewati masa-masa sulit saat papa menceraikan mama gara-gara hal sepele. Saat itu, mama begitu menderita dan tertekan hingga jatuh sakit. Aku bahkan pernah tiga kali menggagalkan mama dalam upaya percobaan bunuh diri.
Sebagai seorang anak, siapa sih yang tega melihat mamanya menderita? Aku tahu papa sangat tegas terhadap mama. Aku juga tahu kalau mama sangat mencintai papa. Alasan itulah yang membuatku tak bisa tegas pada Dewi dan tetap mengikuti keinginannya.
Alasannya karena aku takut Dewi sakit hati dan nekad melakukan hal-hal buruk seperti yang pernah dilakukan oleh mamaku. Dulu, mama bahkan sering memarahiku dan memukul kakiku saat ia merasa jika sikapku mirip dengan papa.
Aku tidak tahu kenapa mama dan papa bisa menikah.
Apakah mereka juga dijodohkan seperti aku dan Dewi?
Yang aku tahu mereka saling mencintai. Buktinya, dari menikah dengan papa, mama bisa melahirkan aku dan kakak.
"Hanin ...." Lagi, aku menyebut namanya.
Benar, menjatuhkan cerai untuk Hanin memang mudah. Tapi jika aku tidak mengikuti kehendak Dewi, aku takut Dewi benar-benar membuktikan ucapannya dengan menyakiti Hanin.
"Dewi itu ambisius." Aku tahu dia seperti itu dari teman-temannya.
Aku lalu menelepon Dewi, namun dia tak mengangkat. Saat aku tanya pada bang Radit, Dewi juga belum pulang ke rumah.
Aku melajukan kemudi tanpa tujuan. Mungkin lebih baik jika mengelilingi kota Jakarta hingga terbit fajar. Atau aku akan tidur di mobil saja kalau aku kelelahan.
...🍒🍒🍒...
Entah berapa lama aku berkeliling. Yang jelas, aku sudah melewati Senayan, Kota Tua, Monas, Atrium, Ancol, stasiun Tanah Abang dan sekitarnya.
Lalu aku memutar lagi hingga spontan menghentikan mobilku saat berada di kawasan apartemen milik Hanin. Aku membuka kaca mobil dan menengadahkan kepala menatap ke atas sana. Ke unit tertinggi yang aku belikan untuk Hanin.
"Sayang ... kamu sedang apa?" gumamku.
Aku ingin menemuinya dan mencurahkan segenap kegundahan ini. Tapi aku malu. Aku bahkan tidak berani meneleponnya ataupun mengirimnya pesan.
Aku terus menatap unitnya hingga lampunya padam. Namun tiba-tiba lampunya menyala lagi. Ini sudah tengah malam.
Apa dia belum tidur?
Aku tahu jika dia baru bisa tidur kalau lampunya diremangkan atau dimatikan. Dan aku terkejut saat tiba-tiba ada pesan darinya. Dari Hanin.
"Hanin?"
"Assalmu'alaikuum, Pak Zulfikar, mohon maaf menganggu. Sungguh, pesan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan permasalahan kita."
"Aku hanya ingin bertanya. Apa di jam segini masih ada yang jualan kerak telur?"
Aku melongo, bahkan mengucek mataku dan membaca ulang pesan itu untuk memastikan kalau aku tidak salah baca.
"Kalau Bapak tahu tempatnya, cepat beritahu aku. Tadi sudah telepon kak Listi tapi tak diangkat."
Kerak telur adalah makanan asli daerah Jakarta, dengan bahan-bahan beras ketan, putih telur ayam atau bebek, ebi yang disangrai kering dan ditambah bawang merah goreng. Lalu diberi bumbu yang dihaluskan berupa kelapa sangrai, cabai merah, kencur, jahe, merica butiran, garam dan gula pasir.
"Kok bisa dia mau kerak telur malam-malam begini?"
Aku menautkan alis. Lalu aku meneleponnya. Seperti kata Hanin, telepon inipun tidak ada hubungannya dengan permasalahan kita.
"Halo ... a-aku tahu tempatnya." Bohong, karena sebenarnya aku juga tidak tahu.
"Di mana, Pak?" tanyanya.
"Emm, a-aku saja yang carikan. Kamu tunggu ya," jawabku. Lalu mengakhiri panggilan sebelum dia mengatakan apapun.
Ya ampun, kok aneh sekali permintaan Hanin ini.
Kalau sore-sore, sebenarnya di sekitaran daerah inipun kerak telur mudah ditemukan. Tapi di jam segini, jangankan kerak telur, aku bahkan tidak menemukan manusia sepotongpun kecuali beberapa kendaraan yang melintas.
Lalu aku melihat kerumunan pengamen. Kalau aku bertanya, salah satu dari mereka mungkin saja tahu.
"Permisi, Bang."
"Ya, Mas."
Syukurlah mereka ramah. Soalnya ada yang bertato dan bertindik di hidung dan telinganya. Aku jadi sedikit takut. Padahal mereka belum tentu jahat.
"Ada yang tahu gak, yang masih jualan kerak telur di jam segini di daerah mana ya?" tanyaku.
"Wah, susah Mas kalau di daerah sini, kalau di pasar malam atau di pameran-pameran kecil yang di pinggir jalan itu mungkin masih ada."
"Istrinya lagi ngidam ya Mas?" tuduh salah satu dari mereka.
Deg, aku terhenyak.
Ngidam? A-apa mungkin ....
"Te-terima kasih, Mas. Aku mau cari pasar malam."
Aku langsung tancap gas. Tanganku yang memegang setir tremor. Jantungku berdebar-debar. Hatiku mencelos.
"Hanindiya ...."
Mataku berkaca-kaca. Apa yang dikatakan pengamen itu belum jelas kebenarannya. Tapi dengan mendengarnya saja aku sudah bahagia dan hampir tak percaya.
...~Tbc~...
apakah a' abil dan neng listrik sudah punya momongan???
rindu manja nya,rindu tegas & galak nya makasih nyai...udah mengobati kerinduan ini 🤭🤭🤭🤭
Aku msh ter-hanin2 & ter-listi2.
Keknya seru Listi di bikin episode tersendiri.
Tengkyu tuk karya nyai yg wuapik ini.
Bukan skedar halu tp banyak pembelajaran yg ga menggurui dlm bersikap sesuai keimanan kita..
lav yu thor, Semangaattt..