Aira adalah istri yang hanya Ibrahim manfaatkan untuk melampiaskan hasratnya. Terlebih Aira yang lugu lebih mudah untuk di tipu.
Hingga waktu berlalu dengan banyak peristiwa terjadi, benarkah tidak ada cinta di hati Ibra untuk Aira?
Benarkah hanya istri pertamanya cinta Ibrahim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IPH BAB 31 - Penyesalan
Hari itu juga bik Sumi dan Yusuf datang ke rumah sakit. Bersama seorang supir dan membawakan beberapa barang untuk Nyonya Aira dan tuan Ibrahim.
Box bayi Yusuf pun sudah disediakan di sana oleh Ibrahim, bersebelahan dengan ranjang Aira.
Melihat sikap Ibrahim yang begitu perhatian dan selalu berucap dengan suaranya yang lembut membuat Aira merasa bahagia dan takut sekaligus.
Namun Aira selalu mencoba berpikir yang baik, berhusnuzon pada sang suami.
"Aku suapi ya, waktunya kamu makan siang," ucap Ibrahim, ia mendekati Aira yang sedang menggendong Yusuf di atas pangkuannya. Aira tetap berada di atas ranjang, bedrest sesuai anjuran dokter Liana.
Aira hanya diam, menjawab ucapan sang suami dengan anggukan kecil dan senyum di bibirnya.
Lalu membuka mulut saat Ibrahim mulai menyuapinya makanan.
"Mas juga makan," ucap Aira dan Ibrahim pun mengangguk. Mereka makan sepiring berdua dengan satu sendok yang sama.
Bik Sumi yang melihat pemandangan indah itu pun tersenyum. Masih diantara percaya dan tidak, setelah Nyonya Aira jatuh sakit tuannya itu langsung berubah se drastis ini.
Bik Sumi jadi bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi? apa yang dialami oleh nyonya Aira sampai tuan Ibrahim berubah se drastis ini?
Apa iya Nyonya Aira hanya kelelahan? tapi kenapa dokter Liana meminta Nyonya Aira untuk bedrest?
Bik Sumi terus membatin banyak pertanyaan. Namun satupun tak ada yang bisa ia temukan sendiri jawabannya.
Akhirnya bik Sumi memutuskan untuk nanti bertanya pada pak Basir. Bik Sumi harus menanyakan itu untuk tau apa alasan berubahnya sang Tuan. Bukan apa-apa, bik Sumi hanya tidak ingin tuan Ibrahim kembali memberi harapan palsu pada sang Nyonya. Hingga membuat sang Nyonya nya kembali terluka.
Sepiring nasi itu habis dan bik Sumi langsung mengambilnya. Bik Sumi juga menyajikan segelas besar berisi air putih.
Ibrahim bahkan membersihkan bibir sang istri menggunakan ibu jarinya setelah Aira selesai minum.
Lalu mengambil Yusuf di gendongan sang istri dan membiarkan Aira beristirahat.
Sambil menggendong Yusuf, ada setetes air bening yang mengalir disudut mata Ibrahim. Dengan cepat pula ia menghapus air mata itu bahkan memutar tubuhnya agar Aira tak bisa melihat.
Perasaan bersalah itu kembali Ibrahim rasakan, mengingat ia telah membunuh anaknya sendiri. Seorang janin yang bahkan belum sempat berkembang, hidup dan bertemu dengan ayah dan ibunya.
Astagfirulahalazim, batin Ibrahim terus beristighfar agar hatinya sedikit lega.
Setelah membuat Yusuf tidur di dalam gendongannya, Ibrahim pun melaksanakan shalat zuhur. Shalat yang ia lakukan atas keinginannya sendiri, bukan karena perintah Aira selama ini..
Aira yang melihat itupun merasakan perasaan menghangat di hatinya. Berulang kali ia bahkan bersyukur atas perubahan sang suami.
"Tidurlah," pinta Ibrahim, sehabis shalat ia menghampiri sang istri dan duduk disisi ranjang.
"Mas tidak ingin tidur bersamaku? Mas terlihat sangat lelah," jawab Aira.
Raut wajah Ibrahim memang nampak jelas begitu lelah, bahkan matanya nampak sayu.
"Kamu mengizinkannya? aku tidur di sampingmu?" tanya Ibrahim, ia menatap Aira dengan tatapan yang dalam, namun Aira pun tak bisa mengartikan itu tatapan apa, seolah itu adalah tatapan iba dan penyesalan.
Bahkan sangat aneh sekali saat mendengar Ibrahim meminta izin untuk tidur di sampingnya? Hal sesepele itu kini Ibrahim meminta izin, padahal selama ini Ibrahim selalu berbuat semaunya.
Sesaat keduanya hanya saling tatap, sampai akhirnya Aira menganggukkan kepalanya, lalu sedikit bergeser untuk memberi ruang sang suami tidur di sampingnya.
Ibrahim naik, menarik selimut dan membawa sang istri ke dalam dekapannya.
"Tidurlah," ucap Ibrahim sekali lagi, kini ia mengelus pucuk kepala Aira, bahkan berulang kali menciumi pucuk kepala itu.
bukannya tidur, Aira malah merubah posisi mereka, membawa Ibrahim yang berada di dalam dekapannya. Menyembunyikan wajah sang suami di bagian dada.
"Mas yang tidur, tidurlah," ucap Aira pula, ia terus mengelus kepala hingga punggung sang suami.
Dan Ibrahim pun semakin memeluk erat tubuh sang istri. Saat ia memejamkan mata air mata itu kembali jatuh.
Aira memang selalu seperti ini, memperlakukannya dengan baik dan begitu tulus. Dan bodohnya Ibrahim selalu menyangkal itu.
Maafkan aku Aira, maafkan aku, aku telah membunuh anak kita, maaf aku. Batin Ibrahim.
Dan Aira yang merasa pelukan sang suami semakin erat iapun mengukir senyumnya. Bersyukur rumah tangga ini lagi-lagi bisa kembali diselamatkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore harinya pak Basir dan ibu Rachel kembali datang untuk menjenguk Aira, mereka pun membawa bingkisan sebagai buah tangan.
Ibu Rachel duduk di samping Aira dengan menggendong Yusuf di kedua tangannya. Sementara Ibrahim dan pak Basir duduk di sofa, sofa yang letaknya cukup jauh dari ranjang Aira, namun masih bisa saling melihat.
"Aira, bagaimana keadaanmu? apa masih ada yang terasa sakit?" tanya ibu Rachel penuh dengan perhatian.
Sebelum menjawab pun Aira tersenyum kecil, bertemu dengan ibu Rachel membuatnya teringat akan sang ibu di kampung, kasih sayang tulus itu begitu jelas ia rasakan.
"Alhamdulilah sudah lebih baik Bu, tadi pagi pinggulku nyeri sekali, tapi setelah diberi obat sekarang nyerinya berkurang," jelas Aira apa adanya.
Ibu Rachel yang mendengar jawaban Aira itupun mengerutkan dahinya. Nyeri di pinggul? istirahat bed rest? dan Aira yang mengalami pendarahan?
Apa Aira keguguran? tapi kenapa Ibrahim hanya mengatakan jika Aira kelelahan? Batin ibu Rachel. Iapun sama seperti yang lain, yang merasa curiga dengan perubahan Ibrahim.
"Apa suamimu memperlakukanmu dengan baik?" tanya ibu Rachel lagi dan senyum dibibir Aira terlihat semakin lebar. Ia bahkan menganggukkan kepalanya pula.
"Iya Bu, mas Ibra memperlakukanku dengan baik, bahkan sangat baik."
"Alhamdulilah," sahut ibu Rachel. Di satu sisi ia ingin bertanya lebih, ingin memperjelas semua dugaannya, namun disisi lain iapun sangat bersyukur saat melihat senyum Aira yang kembali muncul.
Kebahagiaan seorang istri memanglah dari suaminya sendiri, dan itulah yang kini sedang dialami oleh Aira.
Ibrahim dan pak Basir pun terlibat pembicaraan serius. Tentang perusahaan dan pembatalan gugatan cerai Ibrahim.
Gugatan yang lagi-lagi kembali di gagalkan.
"Pernikahan itu bukan sebuah permainan Tuan, yang jika anda ingin mengakhirinya maka harus berakhir, dan juga sebaliknya," ucap pak Basir, dia memberanikan diri untuk menasehati sang Tuan. Tuan yang pak Basir tahu betul tidak akan mau mendengarkan ucapannya.
"Maafkan aku pak Basir, kali ini aku tidak akan merubah keputusanku lagi. Selamanya Aira akan tetap jadi istriku, selamanya aku akan tetap mempertahankan rumah tangga ini dan memperlakukan Aira dengan baik," jelas Ibrahim.
Sebuah penjelasan yang juga membuat pak Basir tercengang, baru kali ini ia mendengar Ibrahim yang mengucapkan kata maaf.
Saking terkejutnya bahkan pak Basir menatap lekat wajah Ibrahim untuk melihat sebuah kebohongan di sana.
Namun dari raut wajah itu yang ia temukan hanyalah ketulusan dan juga penyesalan.
"Alhamdulilah," ucap pak Basir kemudian.
lanjut judul lainnya 🥰