JUARA 1 LOMBA NOVELTOON "YANG MUDA YANG BERCINTA"
Demi bisa menghindari akhir cerita tragis, Tara - yang kini jiwanya merasuki tubuh antagonis gemuk Elona Locke dalam webtoon "Cerita Hati" - memutuskan untuk mengakhiri pertunangan dengan Louis Vandyke dan pergi dari ibu kota.
Tara alias Elona memilih tinggal di wilayah kekuasaan keluarganya, Kota Armelin. Demi mencegah kebangkrutan Locke, gadis itu memanfaatkan seluruh pengetahuan yang ia miliki dari berbagai buku di dunia modern. Tara mengetahui, bahwa ia bisa mengalihfungsikan lahan bekas galian tambang di kota tersebut, menjadi pertanian tanaman kedelai!
Apakah Tara berhasil membangkitkan keterpurukan Kota Armelin berkat usaha dan kecerdasannya? Lalu, mungkinkah ia menemukan cinta yang baru bagi tokoh Elona Locke setelahnya?
Original writing by @author_ryby
Covert art by @fuheechi_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Undangan
Beberapa hari sebelumnya.
"Art, apa benar cukup begini saja?"
Elona bertanya pada lelaki di hadapannya. Saat ini mereka berdua tengah berada di halaman mansion kediaman Locke, di waktu yang sangat pagi-pagi sekali, saat bahkan matahari pun belum terbit. Mereka berdua, dibantu para pelayan, telah selesai membuat 20 liter susu kedelai. Susu sebanyak itu dimasukkan ke dalam dua buah drum kayu dengan keran di bagian bawah masing-masing.
Art dan Elona serta segelintir pelayan telah begadang untuk membuat susu-susu ini. Mereka sedang berada di halaman mansion Locke sekarang guna mengangkut kedua drum tersebut ke atas gerobak sapi.
"Iya, cukup begini saja." jawab Art seraya membantu sang pengemudi gerobak mengangkut sebuah drum.
"Tapi, kamu mau melakukan tes pasar untuk kalangan bangsawan di mana?" tanya Elona penasaran. Gadis itu terlihat bingung sekali, karena Art berniat ingin membantunya, tapi dia tidak memberikan rincian sedikitpun.
"Nanti kuberitahu kalau semuanya sudah beres. Yang jelas, hasil tesnya nanti sangat bisa dipercaya." jelas lelaki itu sambil tersenyum.
"Oke..." Elona berusaha untuk memahaminya. "Apa aku juga tidak perlu tandatangan kontrak atau semacamnya?"
"Tidak usah, itu nanti saja. Kalau pihak kafe tertarik untuk menjual produk buatanmu, nanti pasti akan dibuatkan surat kontrak." ujar Art. Lalu dia bersiap untuk naik ke bagian belakang gerobak sapi.
"Kafe?" Elona bertanya tak mengerti.
"Err, iya. Kafe. Aku mengenal pemiliknya, hehe." sahut Art.
"Untuk sekarang, anggap saja titip produk contoh gratisan, seperti tes pasar pada warga tempo hari." lanjutnya. Elona pun mengangguk. Dan setelah itu Art pun pergi sembari mengarahkan jalan pada si pengemudi.
*****
Beberapa hari setelah pamit pada Elona untuk melakukan tes pasar, kini Art alias Arthur, tengah berada di ruang kerja di kediamannya, sambil memegang hasil laporan keuangan kafe Satu Sesapan milik keluarganya. Tertera di sana kalau penjualan susu kedelai buatan Elona tidak sebaik perkiraannya.
"Kenapa bisa begini?" tanya Arthur tidak mengerti.
"Nah, sudah Ibu katakan, kan?!" Ibunya Nania Eckart, beranjak dari kursi kerjanya dan menghampiri anaknya, lalu menyerahkan secarik kertas lagi pada putranya.
"Itu yang dicatat oleh Hansen, tentang pesan dan kesan pelanggan, setiap kali ada yang memesan susu kedelaimu itu." kata ibunya.
Art meraih kertas tersebut dan perlahan membacanya. Tertera di sana, kalau para bangsawan memuji minuman susu kedelai tersebut dan mengatakan enak, tapi mereka enggan meminumnya lagi begitu mereka mendengar susu tersebut terbuat dari kedelai. Ditambah lagi dengan harga yang murah, bahkan lebih murah daripada susu sapi.
"Memangnya apa yang salah dengan kedelai?" Art bertanya dengan gusar.
Mendengar hal itu, Nania menghela nafas dan berkata, "Karena kedelai adalah makanan rakyat biasa. Para bangsawan tidak akan mau disamakan seperti rakyat kebanyakan di luar sana."
"Ah..." Arthur kehabisan kata-kata. Ia jadi berpikir bagaimana sebaiknya melaporkan hal ini pada Elona tanpa membuatnya murung.
"Elona pasti sedih mendengar hal ini..." gumamnya.
"Siapa? Elona? Apa hubungannya susu kedelai ini dengan gadis itu?" ibunya bertanya. Arthur sudah tidak bisa berkelit lagi.
"Err... Elona yang membuat susu kedelai ini, Bu." jawab Arthur. Mata ibunya langsung terbelalak.
"Apa? Calon menantuku yang membuatnya?!" Nania setengah berteriak. Mendengar hal itu, wajah Arthur langsung memerah.
"Calon menan... kami belum sampai ke arah sana!" jawab Arthur malu.
"Elona Locke yang menemukan minuman enak ini?" tanya Nania. Arthur pun mengangguk.
"Iya, katanya kalau menjual kacang kedelai mentah, keuntungannya tidak dapat memodali siklus panen kedua. Makanya dia berpikir untuk membuat produk makanan dari kacang kedelai tersebut, lalu menjualnya." jelas Arthur panjang lebar.
Nania menyipitkan matanya. "Oh, gadis pintar. Lalu, apa lagi selain susu kedelai?"
"Katanya ada banyak yang bisa dibuatnya, cuma yang lainnya perlu modal yang lebih besar lagi. Hanya susu kedelai ini yang modalnya kecil dan mudah dibuatnya."
Nania berpikir sejenak, "Kalau begitu, kita harus membuat citra susu kedelai di kafe kita menjadi eksklusif. Supaya para bangsawan itu mau membelinya dengan harga berapapun yang kita tawarkan."
"Hmm... sepertinya Ibu perlu bicara dengan kekasihmu itu. Ibu akan menulis surat padanya, untuk mengundangnya minum teh di sore hari bersamaku." ucap Nania, lalu kembali ke meja kerjanya dan mengambil secarik kertas linen dari laci meja.
Mendengar hal itu, Arthur langsung panik, "Apa?! Apa harus sampai mengundangnya segala?"
"Tentu. Walaupun dia itu kekasihmu, tapi ini urusan kafe kita. Urusan bisnis. Ibu ingin bicara langsung padanya." ucap Nania tenang sambil menulis.
"Apa tidak bisa lewat aku saja menyampaikannya? Kenapa harus sampai diundang kesini, sih?" Arthur semakin gelisah. Dan ibunya semakin jengkel mendengarnya.
"Kau ini kenapa, sih?! Dia kan kekasihmu juga, lalu apa salahnya kalau aku ingin menemuinya?!"
"Sudah kubilang, aku belum sampai sana dengannya!!" Arthur berteriak dengan wajah memerah.
"Lalu mau sampai kapan kalian mengarah ke sana? Kamu sudah menyatakan cintamu, kan?"
"Um... itu..." Arthur tergagap menjawabnya. David yang sedari tadi diam di sudut ruangan langsung maju ke depan meja sang nyonya besar.
"Bukan hanya belum menyatakan cintanya, Nyonya, tapi Nona Elona bahkan tidak mengetahui identitas Tuan Muda yang sebenarnya." ucap David tanpa rasa bersalah. Arthur langsung menoleh dengan kesal.
"David! Mulutmu itu tidak bisa ditutup, ya?!"
"Ya ya ya..." sahut sekretarisnya itu sambil melengos pergi. Kemudian, David mundur lagi ke sudut ruangan, seolah kehadirannya barusan hanya untuk mengganggu Arthur.
Mendengar apa yang diucapkan sekretaris putranya itu, Nania langsung kaget, "Apa?! Apa maksud ucapan David tadi? Elona tidak tahu kalau kau adalah Arthur Eckart?"
"Eh, i-iya... dia hanya tahu kalau aku adalah pemuda desa bernama Art..." jawabnya putranya.
"Kalau begitu, bisa sekalian kuperkenalkan kalian, kan? Pasti dia akan langsung jatuh cinta padamu begitu tahu kau adalah anggota keluarga Eckart, sang calon duke." ucap Nania tersenyum sumringah, yang langsung dicegah oleh putranya.
"Jangan, Bu! Elona itu tidak seperti gadis-gadis lain! Bukannya jatuh cinta, dia malah akan membenciku nanti!"
"Membencimu?" Nania bertanya tak mengerti. Arthur pun langsung menjelaskan segalanya. Tentang pertemuannya denagn Elona Locke pertama kali di danau, tentang bagaimana gadis itu tidak mengenalinya, tentang sifat keras kepalanya, dan tentang penyakit psikologis yang dideritanya.
"Kalau sampai Elona tahu identitasku dari orang lain, aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya nanti." Arthur menutup penjelasan.
"Hoo... hahahah!!" Nania tertawa terbahak-bahak setelah mendengar penjelasan putranya. "Kasihan sekali anakku ini, jatuh cinta justru pada gadis yang tidak mengenal identitasnya!"
"Ibu berisik!!" Arthur setengah berteriak dengan wajah malu.
"Ya, baiklah. Ibu akan tetap mengundangnya untuk minum teh bersama. Tapi ibu tidak akan membahas tentangmu, oke?"
"Oke!"
*****
Sehari setelahnya di kediaman Locke. Elona cukup kaget mendengar penjelasan dari Arthur tentang tes pasar di kalangan bangsawannya yang tidak begitu berhasil. Namun gadis itu lebih terperanjat lagi begitu menerima surat undangan minum teh bersama dari lelaki tersebut.
"Ini... Nania Eckart mengundangku minum teh bersama? Duchess Nania Eckart??"
"Iya," jawab Arthur singkat.
"Ini... aku tidak salah baca kan? Art, kenapa kamu bisa mengantarkan surat ini untukku?"
"Ah, itu... karena aku melakukan tes pasar dengan meletakkan produkmu sebagai menu baru di kafe Satu Sesapan." lelaki itu menjelaskan. Elona semakin terperanjat mendengar nama kafe tersebut.
"Kafe Satu Sesapan?! Kafe yang terkenal itu, yang nomor satu di seluruh negeri?!!"
"Err, iya."
"Kau melakukan tes pasar di sana? Kenapa tidak bilang!!" Elona terlihat gusar. "Aku hanya mengemas susu-susu itu dengan drum kayu jelek biasa! Kalau tahu akan dipasarkan di sana, aku bisa lebih mempercantiknya lagi!"
"Sudahlah, itu tidak terlalu penting." ujar Arthur santai. Elona memukul dadanya begitu mendengar lelaki itu tidak menggubris perkataannya dengan serius.
"Jangan santai begitu! Ini soal kesan pertama! Kamu telah menghancurkannya, ah!"
Arthur pun mengelak dengan sedikit kesakitan, "Aduh! Iya, iya, maaf!! Tapi tidak masalah kan? Buktinya si pemilik kafenya sendiri sekarang mengundangmu untuk bertemu!"
"Tapi, bagaimana caranya kamu bisa melakukan tes pasar di kafe seterkenal itu?" tanya Elona lagi.
"Eh, itu... aku kenal dekat dengan keluarga Eckart cukup lama, jadi aku bisa melakukannya." Arthur kembali berkelit. Elona jadi semakin bingung.
"Kenal dekat?"
"Aahh... ayahku dulu pernah bekerja di kediaman Eckart sebagai penjaga kuda. Iya, itu!" Arthur kembali berbohong, sambil meminta maaf pada ayahnya dalam hati.
"O-oh..." Elona menganggukkan kepala. Sejujurnya ia masih bingung dengan penjelasan lelaki di hadapannya itu.
Sejak kapan anak penjaga kuda bisa memiliki ijin menambahkan menu baru ke kafe milik keluarga bangsawan?
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan terlalu sulit!" Arthur mencegah Elona supaya tidak berpikir untuk menyelidikinya. "Yang penting adalah, nanti sore datanglah ke lokasi yang ada dalam surat. Bersiap-siaplah, oke?"
*****