Atas dorongan nenek Ari menikah lagi dengan Dilla wanita pilihan nenek. Namira rela dimadu karena belum bisa memberikan keturunan untuk Ari. Bahkan, pernikahan itu berlangsung di depan matanya.
Kehadiran Dilla merubah rumah tangga mereka, sejak hari itu Namira berbagi cinta dengan madunya, meskipun Ari berusaha berlaku adil namun tetap saja menyisahkan luka di hati kedua istrinya.
Bukan hanya cinta Ari yang berusaha dipertahankan, gelar seorang ibu dari bayi yang lucupun menjadi rebutan.
Sampai kapan Namira dan Dilla tinggal di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Pergi
Usia Arya sudah menginjak dua bulan. Bayi itu menjadi pusat perhatian semua orang di Villa.
"Besok kalau Papa pulang, kita ajak liburan, ya? Biar nggak terlalu sibuk sama pekerjaan," ucap Namira sembari menimang Arya.
"Liburan ke mana?" Ari datang tiba-tiba membawa banyak hadiah dan mainan untuk Arya.
"Kamu udah datang, Mas? Katanya minggu depan?" Namira mencium punggung tangan Ari.
"Aku nggak bisa menahan rindu." Ari mencium pipi Namira dan Arya. "Mau liburan ke mana, sih?"
"Kemana aja," jawab Namira.
"Tapi Arya masih terlalu kecil, sayang. Dia juga belum ngerti apa-apa. Nanti saja kalau sudah lebih besar dari ini."
"Janji ya, kamu jangan sibuk terus. Aku udah lama loh ninggalin butik. Masa sih kamu kerja terus!"
"Iya, aku janji. Nanti kita liburan sekeluarga."
Ari dan Namira bercengkrama di ruang ke luarga, sesekali tertawa membahas has kecil yang dianggap lucu. Tawa mereka terdengar renyah sampai di telinga Dilla.
Dari lantai dua Dilla memerhatikan semuanya, menyaksikan keharmonisan dan kemesraan Namira dan suaminya. Bahkan, Arya yang sudah berpindah tangan itu pun tidak luput dari pantauan Dilla. Suaminya itu terlihat sangat menyayangi Arya. Akhirnya Dilla mengurungkan niat untuk bergabung dan kembali ke kamarnya.
Di dalam kamar, Dilla melihat-lihat berbagai koleksi perhiasan yang selama ini diberikan Ari untuknya. Semua masih utuh bahkan sebagain masih belum pernah dipakai. Dilla merasa hidupnya sangat beruntung, mendapatkan cinta dari suami kaya yang mampu membiayai hidupnya sampai selamanya, mendapatkan cinta dan perlakuan baik dari Namira sebagai istri pertama suaminya. Tapi, ntah kenapa dirinya masih merasa hampa, seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati.
"Dilla...."
Dilla menoleh ke sumber suara, dilihatnya Ari sudah masuk ke dalam kamar.
"Kapan datangnya, Mas?" tanya Dilla pura-pura tidak tahu.
"Belum lama." Ari duduk di samping Dilla. "Aku nggak pernah lihat kamu pakai ini." Ari menunjuk kalung yang dipegang Dilla.
"Kamu nggak suka? Atau mau yang lain?" tawar Ari.
"Nggak, Mas. Semua ini udah cukup," tolak Dilla.
"Setelah melahirkan, aku nggak pernah kasih hadiah lagi untuk kamu. Kamu mau apa? Rumah? Mobil? Sebutkan mau apa?" Ari menyisipkan rambut di belakang telinga Dilla, membuatnya leluasa menatap wajah Dilla.
"Kamu janji akan kabulkan permintaanku?" Dilla menggenggam tangan Ari.
"Iya, kamu nggak percaya sama aku?"
Dilla berfikir sejenak. "Aku mau liburan, Mas."
Ari tersenyum. "Liburan? Yakin?"
Dilla mengangguk.
"Ya sudah, nanti kita liburan sama-sama."
"Nggak mau, aku mau sendiri aja," rengek Dilla.
Kening Ari mengkerut memikirkan permintaan Dilla.
"Mas janji mau kabulkan permintaanku, ini. Selama hamil dan melahirkan aku nggak pernah liburan. Aku bosan di Villa terus, Mas."
Ari menggaruk pangkal hidungnya.
"Boleh, ya. Mas...."
"Mau ke mana?" tanya Ari.
"Kemana aja."
"Aku temenin, ya."
"Mas Ari kan baru sampai, masa mau pergi lagi nanti siapa yang nemenin mbak Namira dan Arya? Aku pergi sendirian aja, ya Mas...."
"Nggak aku kasih ijin kalau nggak ada tempat tujuan." Ari membuang muka.
Dengan kedua tangannya Dilla merengkuh wajah Ari hingga kembali melihatnya.
"Sebenarnya, aku mau ke Bali, Mas. Nggak lama kok cuma 5 hari aja."
"Bali? 5 hari?" Ari semakin resah karena Dilla akan pergi sendirian.
"Iya, kamu udah janji mau ngijinin loh. Cuma ini permintaanku...."
Ari diam dan berpikir.
"Ya sudah, cuma 5 hari setelah itu kamu pulang ke sini. Kalau nggak aku sendiri yang jemput."
Dilla sumringah. "Makasih, Mas...." Dilla memeluk Ari sangat erat, ia tertawa senang hingga tanpa terasa meneteskan air mata. "Kamu dan Mbak Namira memang orang baik, Mas," ucap Dilla lirih.
"Kamu nangis?" tanya Ari.
"Nggak, ini air mata bahagia. Bahagia karena sudah mengenal kalian."
Dilla melepaskan pelukannya. "Pesankan tiket untukku, Mas. Kalau bisa penerbangan besok pagi. Aku mau siap-siap dulu."
"Yakin mau pergi sendirian?" tanya Ari ingin mastikan lagi.
"Iya...."
Akhirnya Ari memesankan tiket via online untuk Dilla liburan ke Bali seorang diri.
***
Ari masih terlelap di samping Dilla, sementara Dilla tidak bisa tidur. Mereka benar-benar tidur dalam arti yang sesungguhnya tanpa melakukan kontak fisik. Ari tampak kelelahan karena sehabis melakukan perjalanan dari kota harus memesankan tiket dan membantunya mengepak pakain ke dalam koper. Dilla memandang wajah Ari yang tampak teduh, pria ini sudah banyak mengubah hidup dan pandangannya. Dari Ari juga ia bisa merasakan cinta yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Setelah puas memandang wajah Ari, Dilla mengambil secarik kertas dan pena dari dalam laci meja riasnya, ia duduk dan mulai mencurahkan semua isi hati, menggoreskan tinta hingga membentuk beberapa kalimat di sana.
Keesokan harinya.
Masih pagi buta Dilla mengelilingi Villa yang sudah lebih satu tahun ini menjadi tempat tinggalnya. Di tempat ini banyak kenangan yang tercipta antara dirinya, Ari, Namira, nenek dan Arya. Dilla seakan merekam setiap sudut ruangan itu. Kemudian, ia kembali ke kamar dan melihat Arya.
"Anakku...."
"Mama sangat sayang sama kamu."
"Sayang seperti Papa dan mama Namira."
"Sayang yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata."
"Tidak ada yang bisa Mama Dilla tinggalkan untukmu. Tapi, doa Mama selalu menyertaimu, Nak. Mama yakin, kamu menjadi anak yang bisa dibanggakan. Maafkan Mama belum bisa menjadi Mama yang baik untuk kamu."
Dilla mendekap dan mencium Arya.
***
"Kamu mau ke mana? Kenapa bawa koper sebesar itu?" Namira terkejut melihat Dilla menarik kopernya ke lantai dasar.
"Aku mau liburan ke Bali, Mbak," jawab Dilla.
"Liburan ke Bali? Kok mendadak?"
"Sebenarnya ini udah lama aku rencanakan, tapi belum aku bilang sama Mbak. Tiketku juga udah dipesan, kok."
"Kamu jangan aneh-aneh ya, Dill. Kamu baru melahirkan, loh."
"Cuma sebentar, Mbak. Lima hari aja."
"Lima hari kamu bilang sebentar? Kamu nggak boleh pergi," ucap Namira.
Dilla berusaha membujuk dan meyakinkan Namira agar mengijinkannya pergi. Akhirnya dengan berat hati Namira melepaskan Dilla.
"Ingat, ya cuma 5 hari," ucap Namira sembari memeluk Dilla.
Dilla mengangguk dan mengelus punggung Namira. "Nitip Arya, Mbak. Aku pergi...." Suara Dilla terdengar lirih.
"Jangan khawatir soal Arya. Nikmati liburanmu, Dil."
Dilla pun bergantian memeluk Ari. "Aku pergi," ucapnya lagi.
"Hati-hati di sana. Ingat cuma lima hari." Ari memperingatkannya lagi.
Dilla tersenyum dan mengangguk. Lalu mencium Arya. "Mama pergi, Nak...."
Supir sudah menunggu di mobil dan akhirnya tiba waktunya Dilla untuk pergi meninggalkan Villa beserta orang-orang di dalamnya.
Namira dan Ari terlihat sedih melepaskan kepergian Dilla yang katanya hanya pergi selama 5 hari.
***
🙄: Thor, kenapa nggak Namira aja yang pergi dalam keadaan hamil biar Ari menyesal?
😆: Itu udah di novel sebelah.
😤 :Kenapa nggak Namira yang pergi terus menikah sama laki-laki lain?
🙈 :Itu udah di novel sebelah.
😖 :Kenapa Ari menang banyak? Kenapa nggak dihukum?
🙈 :Itu udah di novel sebelah.
😏 : Thor, jawab yang betul, atau kita gelud?
🤕 : Ampon... Kesalahan Ari menurut Namira nggak terlalu fatal, Ari nggak selingkuh, Ari menikah karena ijin Namira, Ari membagi cinta karena hatinya dibolak-balikkan Sang Pemilik hati dan kehidupan. (Versi otor jan hujad hihihi.)
😎 : Otor mau jadi Namira?
😭 :Nggak mau, ku menangissssssss.
😣 : Ini cerita siapa, thor?
🙃: Coba perhatikan sekitar kita ada yang seperti ini.
🤔 : Hmmm, Dilla kapan pulang?
😎: Setelah lima hari.
🤔 : Thor isi suratnya apa?
😎: Isinya SURATMAN hihii✌
🙂: Thor, Crazy up,yuk biar cepat tamat.
🤕🤕🤕
makasih kak thor dalam penulisan nya 😘😘