NovelToon NovelToon
Mantan Ratu Pembunuh

Mantan Ratu Pembunuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Joice 758

Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.

Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Perisai Tanpa Pedang

Hari-hari berlalu begitu tenang di Karimun, seolah alam pun ikut merayakan kehadiran Bayu di tengah mereka. Setiap pagi, sinar matahari menyelinap lembut melalui celah daun kelapa, menyentuh wajah mungil Bayu yang terlelap di ayunan anyaman bambu buatan tangan Dika. Udara yang biasanya hanya berbau garam dan hutan, kini bercampur dengan wangi sabun bayi, susu hangat, dan aroma masakan harian yang selalu mengundang selera.

Laras kini jarang mengenakan pakaian gelap yang dulu selalu ia pakai. Kini ia lebih sering mengenakan kebaya sederhana berwarna cerah, rambutnya dikepang longgar, dan di pinggangnya tak lagi tergantung belati tajam—kini yang selalu ia peluk adalah Bayu. Meski begitu, tatapan matanya tetap tajam dan waspada, namun kini bukan lagi waspada untuk membunuh, melainkan untuk melindungi segala hal yang ia cintai.

Dika seolah menemukan makna hidup yang baru. Pagi-pagi sekali ia sudah bangun, menyiapkan air hangat untuk mandi Laras, memastikan kayu bakar sudah tersedia, hingga pergi ke kebun untuk memetik sayuran segar. Ia bahkan belajar meracik jamu penyembuh luka pasca melahirkan dari Bibi Sari, tak pernah sekalipun mengeluh lelah.

“Kau istirahatlah, Sayang,” kata Dika pelan saat melihat Laras berusaha bangun untuk merapikan selimut Bayu. “Biarkan aku yang mengurus semuanya hari ini. Kau butuh pemulihan.”

Laras tersenyum lembut, menyentuh pipi suaminya. “Aku sudah jauh lebih kuat, Dika. Cukup dengan melihat kalian berdua, rasa lelahku hilang seketika.”

Raka pun tak mau kalah. Ia kini menjadi pelindung setia di sekeliling rumah. Setiap ada pedagang asing atau orang tak dikenal lewat, ia selalu memastikan niat mereka baik. Ia juga mulai mengajarkan anak-anak desa cara bertahan hidup yang benar: memanjat pohon dengan aman, mengenali tanaman beracun, hingga cara menjaga keselamatan keluarga tanpa harus berkelahi. Banyak warga yang kagum melihat perubahan Raka—dari pemuda yang hilang arah menjadi sosok yang bijaksana dan bertanggung jawab.

Namun kedamaian itu tidak berlangsung selamanya tanpa gangguan. Tepat dua minggu setelah kelahiran Bayu, berita buruk datang dari arah utara.

Seorang utusan tiba dengan napas terengah-engah, membawa kabar bahwa sekelompok sisa pengikut pamannya raja yang dulu masih bersembunyi, mengetahui bahwa Laras telah memulihkan nama baik keluarganya. Mereka merasa terancam jika kebenaran semakin tersebar luas, dan berniat datang ke Karimun untuk menghabisi Laras dan keluarganya—sebelum kekuasaan mereka benar-benar runtuh.

Mendengar berita itu, suasana rumah seketika berubah hening. Bibi Sari memeluk Bayu erat-erat, wajahnya pucat. Dika mengepalkan tangannya kuat, sementara Raka langsung berdiri tegak, siap siaga.

“Biarkan aku yang menghadapi mereka,” ucap Raka tegas. “Kau dan Kakak tetap di sini bersama Bayu.”

Laras menggeleng pelan. Ia berdiri perlahan, menyelimuti dirinya dengan kain tebal, lalu menatap mereka semua dengan tatapan yang tak bisa diganggu gugat. “Mereka datang untukku. Jika kalian menghadapi mereka sendirian, mereka akan mencari cara lain untuk menyerang saat lengah. Aku harus ada di sana.”

“Tapi kau baru saja melahirkan, Laras!” potong Dika cemas. “Kau belum pulih sepenuhnya.”

“Kekuatanku bukan lagi pada tubuhku semata,” jawab Laras tenang namun tegas. “Kekuatanku ada pada janji yang kuucapkan pada ayahku, pada janjiku melindungi kalian semua. Aku bukan lagi Ratu Pembunuh yang haus darah, tapi aku juga bukan wanita yang akan diam saja saat orang-orang kucintai terancam.”

Malam itu, mereka tidak bersiap untuk perang besar. Laras meminta Raka dan Arga mengumpulkan para pemuda desa yang kini sudah dilatih bela diri dasar. Ia tidak memerintahkan mereka untuk menyerang, melainkan untuk menjaga batas desa dan mengamankan jalan masuk.

“Jangan melukai mereka jika masih bisa dihindari,” pesan Laras pada mereka. “Biarkan mereka melihat bahwa di sini kita hidup bersatu, dan ancaman tak akan membuat kita terpecah. Jika mereka mengangkat senjata, barulah kita bertahan.”

Dini hari buta, terdengar suara langkah kaki bergegas dari arah hutan. Kelompok musuh itu ternyata berjumlah belasan orang, membawa senjata tajam dan tampak berniat menyerbu masuk tanpa ampun. Namun saat mereka tiba di lapangan terbuka di depan rumah Laras, mereka tertegun.

Laras berdiri di teras, diterangi cahaya obor yang berkelap-kelip. Di sampingnya berdiri Dika dengan tenang, di belakangnya ada Raka, Arga, Bibi Sari, dan puluhan warga desa yang berdiri tegak melindungi rumah itu—bukan dengan senjata perang, melainkan dengan cangkul, parang kebun, dan keberanian yang tak tergoyahkan.

“Kalian mencari aku?” suara Laras terdengar lantang namun tenang, membelah keheningan malam. “Aku ada di sini. Tapi ketahuilah, kalian tidak sedang menghadapi satu orang saja. Kalian menghadapi seluruh desa yang kini menjadi keluargaku.”

Pemimpin kelompok itu tertawa sinis. “Kau mungkin sudah dimaafkan raja, tapi bagi kami kau tetaplah pengkhianat yang merampas hak kami! Serbu!”

Beberapa orang bergegas maju, namun warga desa dengan sigap membentuk barisan pelindung. Terjadi perkelahian yang sengit namun sebentar. Raka bergerak lincah melumpuhkan lawan tanpa melukai parah, Dika melindungi warga yang tersudut, sementara Arga mengatur strategi agar tak ada yang terluka.

Laras hanya berdiri diam di tempatnya, menatap pemimpin kelompok itu lekat-lekat. Saat akhirnya pemimpin itu maju mendekatinya dengan belati terhunus, Laras tidak mundur selangkah pun. Ia hanya berkata pelan namun tegas:

“Dulu kau mungkin mengira kekuasaan didapat dari kekerasan. Lihatlah sekelilingmu. Kekuasaan sejati adalah saat orang-orang rela berdiri di sampingmu bukan karena takut, tapi karena cinta. Kau datang membawa dendam, aku datang membawa damai. Siapa yang sebenarnya lebih kuat?”

Kata-kata itu seolah meruntuhkan amarah yang meledak-ledak pada pemimpin itu. Tangannya gemetar, belati itu terjatuh ke tanah. Ia sadar, mereka tidak akan pernah bisa mengalahkan ikatan persaudaraan yang begitu kuat.

Saat fajar mulai menyingsing, suasana sudah tenang kembali. Sisa-sisa kelompok musuh itu menyerah, sebagian memilih pergi membawa kesadaran baru, sebagian lagi meminta maaf dan berjanji tak akan mengganggu lagi.

Matahari pagi itu terasa begitu hangat menyapa wajah mereka semua. Laras kembali ke dalam rumah, meraih Bayu yang kini terbangun dengan tangisan halus. Ia mencium kening putranya, lalu menatap Dika yang duduk di sampingnya dengan senyum lega.

“Kita berhasil,” bisik Dika.

“Kita baru saja memulainya,” jawab Laras lembut. “Masih banyak hal baik yang harus kita bangun di sini.”

Hari-hari berikutnya kembali berjalan damai, namun kini terasa lebih kuat. Berita tentang kebaikan hati Laras dan kedamaian di Karimun tersebar hingga ke kerajaan-kerajaan sekitar. Banyak orang yang datang bukan untuk berperang, melainkan untuk belajar hidup rukun dan saling melindungi.

Laras tahu, kisahnya sebagai pembunuh sudah usai. Kini ia memulai babak baru sebagai istri, ibu, saudari, dan pelindung yang memegang teguh kasih sayang. Dan di tengah angin laut Karimun yang terus berhembus, ia tahu—selama mereka berjalan bersama, tak ada badai yang tak bisa mereka hadapi.

 

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!