No Plagiat ❌
Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.
Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.
Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Valerie menghilang
Begitu pintu kamar mandi tertutup, Valerie tak lagi mampu menahan semuanya.
Tubuhnya perlahan merosot hingga terduduk di lantai kamar mandi. Air dari shower terus mengguyur tubuhnya, membasahi rambut, dan wajah, sementara isak tangisnya semakin tak terbendung. Valerie memeluk lututnya sendiri meratapi nasib buruk yang menimpanya.
Dinginnya air tak mampu menghapus luka yang memenuhi hatinya, isak tangisnya pecah. Ia memegangi kepalanya erat-erat, berkali-kali menggeleng sambil menangis sesenggukan. Napasnya memburu, tubuhnya gemetar, sementara rasa sesak di dadanya seolah tak memberi ruang untuk bernapas.
“Kenapa...”
“Kenapa semua ini terjadi padaku...?”
“Kenapa aku mau menandatangani kontrak pernikahan itu?”
“Kenapa setelah kepergian Ayah dan Ibu, seolah kebahagiaan ku juga ikut terkubur bersamanya?”
“Kenapa semua orang yang aku cintai meninggalkanku?”
“Kenapa aku ditinggal sendirian?”
Penyesalan memenuhi benaknya. Berkali-kali ia menyalahkan dirinya sendiri karena telah menyetujui tinggal di mansion itu. Tempat yang semula ia kira akan menjadi awal kehidupan baru, justru meninggalkan luka yang begitu dalam.
Setelah cukup lama menangis, Valerie membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, terlihat wajahnya pucat. Mata indahnya membengkak dan memerah akibat tangisan semalaman.
Dengan tangan yang masih gemetar, ia merias wajahnya setipis mungkin, berusaha menyamarkan jejak kesedihan yang tak mungkin benar-benar hilang. Namun saat menatap dirinya sekali lagi, air matanya kembali jatuh.
Ia tersenyum pahit.
“Aku kasihan denganmu, Valerie...”
“Hidupmu hancur karena keputusan yang kamu ambil sendiri!”
“Kamu tidak punya siapa-siapa lagi!”
“Bahkan sekedar melanjutkan hidup pun, kamu tetap terlihat hina.”
Valerie mengusap air mata untuk terakhir kalinya, ia melangkah keluar dari kamarnya. Langkahnya pelan dan tertatih. Pandangannya kosong, seolah ia berjalan tanpa mengetahui ke mana harus pergi.
Saat hampir tiba di gerbang mansion, Pak Boby yang sedang mengelap mobil melihatnya melangkah keluar.
“Nona Muda!”
Pak Boby segera berlari menghampiri Valerie.
“Nona... tunggu!”
Ia memanggil berkali-kali, tetapi Valerie sama sekali tidak menoleh. Barulah ketika Pak Boby berdiri tepat di hadapannya, langkah Valerie terhenti.
Ia mengangkat wajahnya perlahan, tatapannya kosong. Tidak ada sapaan, tidak ada senyuman, bahkan tidak ada respons sedikit pun.
Melihat kondisi Valerie, Pak Boby langsung diliputi rasa khawatir.
“Nona Muda... mau ke mana? Biar saya antar?”
Valerie tetap diam.
“Ini masih terlalu pagi, setidaknya sarapan dulu. Perut kosong tidak baik untuk kesehatan Nona.”
Valerie masih tidak menjawab.
Pak Boby mengamati wajah Valerie dengan saksama. Wajah pucat, mata sembap, dan sorot mata yang kehilangan cahaya membuat hatinya tidak tenang.
“Permisi, Nona Muda.”
“Tolong tunggu saya sebentar, ya.”
Dengan hati-hati ia menuntun Valerie menuju kursi taman. Valerie menurut tanpa perlawanan, lalu duduk mematung seperti boneka yang kehilangan jiwanya.
“Jangan ke mana-mana.”
“Saya akan segera kembali.”
Pak Boby bergegas memasuki mansion, langkahnya semakin cepat hingga tiba di ruang makan. Di sana, Damian sedang menikmati sarapannya seorang diri.
“Tuan Muda,” panggilnya dengan wajah cemas. “Nona Valerie terlihat tidak baik.”
“Wajahnya pucat, matanya sembap, dan sejak tadi dia tidak mengatakan sepatah kata pun.”
“Tuan tolong cek keadaannya sebentar?”
Damian tetap melanjutkan sarapannya tanpa mengangkat kepala.
“Aku sedang sarapan.”
Pak Boby terdiam.
“Kalau memang dia ingin pergi, antarkan saja.”
“Tapi, Tuan...”
“Valerie sudah dewasa.”
Damian akhirnya mengangkat pandangannya.
“Dia tahu apa yang sedang dia lakukan.”
Nada suaranya begitu datar, tanpa sedikit pun rasa khawatir.
Pak Boby hanya mampu menghela napas pelan. Entah apa yang telah terjadi semalam, tetapi ia dapat merasakan ada sesuatu yang berubah di antara keduanya.
Tanpa membuang waktu, ia kembali berlari ke halaman taman. Namun sesampainya di sana, kursi tempat Valerie duduk telah kosong.
“Astaga, aku melakukan kesalahan...”
Pak Boby menoleh ke segala arah, memanggil Valerie. Namun tidak ada jawaban. Ia segera berlari menuju area parkir, di sana kosong. Ia keluar hingga ke gerbang mansion, bahkan menyusuri tepi jalan raya sambil memanggil nama Valerie berkali-kali.
Tetap tidak ada.
Dengan napas tersengal, Pak Boby kembali memasuki mansion.
“Tuan Muda!”
Dengan panik pak Boby berusaha mengatakan situasinya.
“Nona Valerie sudah pergi.”
“Saya mencarinya ke seluruh halaman, tetapi tidak menemukannya.”
Damian hanya melirik sekilas.
“Aku tidak punya banyak waktu.”
Ia mengambil dokumen dan laptop yang telah dipersiapkan di atas meja. Lalu melangkah keluar, tanpa rasa khawatir diwajahnya.
“Donny.”
“Ya, Tuan Muda.”
“Berangkat.”
Damian melangkah keluar dan masuk ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian, mobil hitam itu perlahan meninggalkan mansion.
Pak Boby memandang kepergian mobil tersebut dengan hati yang semakin gelisah. Tanpa berpikir panjang, ia segera mengambil kunci mobilnya sendiri.
“Nona, anda pergi kemana?”
Mobilnya melaju menuju kampus. Sesampainya di sana, Pak Boby menemui dua sahabat Valerie, Ariana dan Rachel.
“Permisi Nona Ariana dan Nona Rachel.”
“Apa Nona Valerie hari ini datang kekampus?”
Keduanya saling berpandangan.
“Tidak, Pak.”
“Kami tidak melihatnya, malahan kami pikir Valerie sedang libur?”
Hati Pak Boby semakin tidak tenang, ia melanjutkan pencarian ke kafe favorit Valerie. Tetap tidak ada. Ke perpustakaan yang sering dikunjungi Valerie, namun hasilnya tetap sama. Ke pemakaman, siapa tau Valerie mengunjungi makam orang tuanya lagi. Sayangnya tetap tidak ada. Tempat terakhir yang ia datangi adalah rumah lama Valerie. Tapi pintu rumah terkunci rapat, dan tidak ada tanda-tanda seseorang berada di dalam.
Pak Boby memejamkan mata sejenak, ia mulai kehabisan tempat untuk mencari. Akhirnya, ia mengambil sebuah keputusan besar.
“Aku harus menemui Nyonya Besar.”
Ia tahu tindakannya mungkin akan membuat Damian marah. Namun dibandingkan menerima amarah itu, ia jauh lebih takut jika terjadi sesuatu pada Valerie.
Mobilnya segera melaju menuju kediaman keluarga Robert. Sesampainya di sana, Pak Boby turun hampir berlari. Para pelayan yang melihat wajahnya yang pucat langsung mempersilahkannya masuk.
Di ruang keluarga, Nyonya Margaretha sedang berbincang santai bersama putranya, Harrison, dan menantunya, Jennifer. Melihat Pak Boby datang dengan napas memburu dan wajah penuh kepanikan, Nyonya Margaretha segera berdiri.
“Boby?”
“Ada apa? Kenapa wajahmu sepucat itu?”
Pak Boby menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Nyonya Besar... sepertinya tadi pagi Tuan Damian dan Nona Valerie bertengkar.”
Alis Margaretha langsung berkerut.
“Saat saya melihat Nona Valerie keluar dari mansion, kondisinya sangat tidak baik. Wajahnya pucat, matanya sembap, dan tatapannya kosong. Saya sudah menawarkan diri untuk mengantarnya ke mana pun beliau ingin pergi, tetapi Nona Valerie menolak.”
Pak Boby menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
“Saya kemudian masuk untuk meminta Tuan Damian melihat keadaan Nona Valerie. Namun beliau menolak. Tuan Damian mengatakan Nona Valerie sudah dewasa dan tahu apa yang sedang dilakukannya.”
Ruangan tiba-tiba menjadi hening.
“Saat saya kembali ke taman... Nona Valerie sudah menghilang. Saya langsung mencarinya ke seluruh area mansion, lalu ke kampus, kafe langganannya, taman kota, perpustakaan, hingga rumah lamanya. Tapi... saya tidak berhasil menemukannya.”
Suara Pak Boby mulai bergetar.
“Saya benar-benar minta maaf, Nyonya Besar. Saya lalai menjaga Nona Valerie.”
Margaretha masih terdiam, tetapi sorot matanya mulai berubah tajam. Lalu perlahan ia kembali berbicara.
“Boby!”
“Selama ini kamu tidak pernah melaporkan apapun kepadaku?”
“Aku pikir, Valerie hidup dengan baik bersama Damian.”
Pak Boby kembali menundukkan kepalanya.
“Maaf Nyonya Besar...”
“Saya benar-benar minta maaf.”
“Karena Nona Valerie memohon kepada saya untuk tidak mengatakan apa pun. Beliau juga meminta saya menutup mulut mengenai apa pun yang terjadi di mansion.”
“Saya tahu tugas saya adalah melindungi dan menjaga Nona Valerie atas perintah Nyonya Besar. Namun setiap kali saya ingin melapor, Nona Valerie selalu berkata bahwa ia tidak ingin membuat keluarga semakin khawatir atau memperbesar masalah.”
Semua orang menatapnya.
Pak Boby mengembuskan napas berat.
“Sebenarnya beberapa terakhir ini...”
“Beberapa kali Nona Olivia datang ke mansion ketika Tuan Damian berada di rumah. Saya sebenarnya ingin melaporkan semuanya kepada Nyonya Besar.”
Harrison melangkah mendekat, terlihat kekhawatiran diwajahnya.
“Lalu kenapa kamu tetap diam?”
Harrison menghela napas panjang.
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Pak Boby.
“Karena saya ingin menjaga perasaan Nona Muda, saya memilih menuruti permintaannya. Saya pikir itu adalah keputusan yang benar. Tapi sekarang... saya justru menyesalinya.”
Mendengar pengakuan itu, Margaretha mengepalkan kedua tangannya erat. Wajahnya memerah menahan amarah yang sejak tadi berusaha ia kendalikan.
“Cukup.”
Suaranya terdengar dingin, tetapi penuh tekanan.
Harrison segera berdiri di samping ibunya, khawatir emosi wanita itu semakin tak terkendali.
“Ibu...”
Sementara itu, Jennifer hanya bisa menatap Pak Boby dengan wajah pucat.
“Kalau sampai terjadi sesuatu pada Valerie.”
“Aku tidak akan memafkan Damian!”