NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 31

Deru suara mesin mobil dinas terdengar menderu dari luar rumah, menandakan Hugo telah tiba. Asia yang mendengarnya langsung bergegas melangkah menuju pintu depan untuk menyambut.

Di ruang tengah, Jenny yang tadinya hendak berdiri untuk menyambut papanya mendadak mengurungkan niat. Melihat keperdulian Asia yang cekatan, bibirnya menipis. Dengan raut wajah yang kembali mendingin, Jenny memilih untuk kembali duduk di sofa tanpa bersuara.

Sementara itu di teras depan, Asia menyambut kedatangan Hugo dengan sopan.

"Selamat sore," sapa Asia ramah namun tetap menjaga batas profesionalnya.

"Sore," balas Hugo singkat. Suaranya terdengar berat dan letih.

Asia langsung melangkah mendekat, mengulurkan tangan menyentuh pegangan kursi roda hidrolik itu, lalu perlahan mendorongnya masuk melewati pintu depan. Meski dalam hati kurang setuju dan menyukai kemandiriannya diusik, Hugo memilih diam dan membiarkannya—tubuhnya terlalu lelah untuk sekadar bersikap defensif.

Mendorong kursi roda itu sampai ke ruang tengah, kedatangan mereka disambut oleh Nyonya Malinda yang sudah menunggu di sana dengan senyum hangat seorang ibu.

"Kamu sudah datang, Hugo?" panggil Nyonya Malinda lembut, menyambut putra sulungnya yang baru saja didorong masuk oleh Asia.

Wajah Nyonya Malinda menatap Hugo penuh keprihatinan saat menyadari raut pucat dan keletihan yang sangat jelas tercetak di wajah putranya.

"Iya, Bu," jawab Hugo pelan, suaranya terdengar lemah dan agak serak.

Dari arah kamar Nero, bocah kecil itu berlari kencang menuju ke arah papanya dengan wajah berbinar.

"Papaaa!" panggil Nero gembira.

"Hati-hati ..." Nyonya Malinda memberi nasehat lembut. Beliau melonjak kaget melihat cucunya berlari tanpa melihat jalan.

Nero langsung menghentikan langkahnya tepat di samping kursi roda Hugo. "Aku mau mainan!"

"Mainan?" ulang Hugo dengan alis terangkat tipis.

"Ya. Aku mau beli mainan baru," rengek Nero sambil memegangi tumpuan tangan kursi roda papanya.

"Kenapa mainan terus? Mainanmu kan sudah banyak," Nyonya Malinda memberi nasihat, mencoba memoles pengertian pada cucunya agar tidak terlalu konsumtif.

"Enggak mau! Aku mau beli mainan!" teriak Nero, tidak mau kalah.

Hugo menghela napas panjang, mengelus rambut putra kecilnya itu dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Iya ... kalau ada waktu, nanti Papa belikan mainan."

"Aku sama Tante Asia saja belinya!" potong Nero cepat, menunjuk Asia yang baru saja kembali dari arah dapur membawa cangkir.

Hugo menatap Nero sejenak, lalu mengangguk tipis. "Baiklah."

Di sudut sofa, Jenny yang sejak tadi menyaksikan interaksi itu melirik tajam ke arah papa dan Asia. Bibirnya menipis. Dia merasa cemburu dan marah melihat kedamaian itu, karena baginya posisi ibunya seolah-olah mulai tergantikan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Jenny langsung berdiri dan berjalan menuju kamarnya di lantai atas.

Asia yang memperhatikan dari samping menatap punggung Jenny yang menghilang di balik tangga. Jenny bahkan sama sekali tidak menyapa papanya sejak pria itu pulang.

Pasti dia merasa aku memonopoli Pak Hugo sendiri, batin Asia prihatin. Lain kali, aku harus coba ajak dia ngobrol bersama-sama.

"Aku ke kamar dulu, Bu," pamit Hugo.

"Iya," sahut Nyonya Malinda.

Ketika Asia melangkah mendekat dan hendak membantunya mendorong kursi roda, Hugo dengan cepat menahan pergerakannya.

"Biar aku ke kamar sendiri. Kamu di sini saja," kata Hugo tegas. Pria itu menolak dibantu, memegang kontrol hidrolik kursi rodanya sendiri, lalu bergerak menuju kamarnya.

Nyonya Malinda memperhatikan raut wajah putranya yang tampak begitu letih saat melintas tadi. Ia lalu menoleh pada menantunya.

"Asia, tolong antarkan segelas air hangat ke kamar Hugo, ya. Dia kelihatan capek sekali hari ini. Itu membuatnya rileks," minta Nyonya Malinda lembut.

"Baik, Ibu," jawab Asia patuh.

Hugo menekan tombol kontrol pada lengan kursi roda hidroliknya, meluncur pelan melewati ruang tengah.

Begitu masuk ke dalam kamar, Hugo bahkan tidak sempat mendorong pintunya hingga tertutup rapat. Fokus utamanya hanya satu. Mencapai sisi tempat tidur dan meluruskan punggungnya yang tegang.

****

Dengan nampan berisi gelas air hangat di tangannya, Asia melangkah menuju kamar Hugo.

Setibanya di depan pintu, Asia melihat daun pintu kamar itu ternyata terbuka sedikit. Saat hendak mengetuk pintu untuk memberi tahu keberadaannya sebelum masuk, langkah Asia terhenti. Tangannya menggantung di udara.

Lewat celah pintu yang sedikit terbuka itu, matanya menangkap sesuatu di dalam kamar yang membuat niatnya tertahan.

Terdengar suara pergeseran kursi roda dan helaan napas yang amat berat.

Asia melihat Hugo sedang terduduk di kursi rodanya. Pria itu memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa tenaga. Tangannya yang lemas berusaha mengurai tali sepatu, tapi rasa lelah yang menumpuk membuat persendiannya kaku. Hugo tertahan dalam posisi membungkuk yang serba salah, napasnya terdengar semakin berat karena frustrasi pada tubuhnya sendiri.

Dia sempat bimbang untuk masuk dan membantu. Dia tahu betul bagaimana keras kepalanya Hugo dan betapa tingginya gengsi pria itu jika dibantu. Namun, rasa kemanusiaannya jauh lebih tinggi daripada rasa sungkannya. Ia tidak tega melihat Hugo bersusah payah sendirian.

Setelah mengetuk pintu dua kali, Asia perlahan mendorong daun pintu yang sedikit terbuka itu.

Tok! Tok!

"Ya," sahut Hugo singkat dari dalam kamar, suaranya terdengar berat dan lelah.

Asia melangkah masuk dan melihat Hugo yang masih terduduk di kursi rodanya. Pria itu tampak masih kesulitan dan bersusah payah membuka tali sepatunya sendiri, napasnya terdengar semakin berat karena kelelahan.

Hugo menoleh ke arah Asia yang datang. Ia menghentikan gerakannya yang tadi tampak kesusahan melepas sepatu. Pria itu menegakkan punggungnya, mencoba bersikap biasa dan menyembunyikan rasa lelahnya di depan Asia.

Asia mendekat perlahan lalu meletakkan nampan berisi cangkir tersebut di atas meja samping tempat tidur.

"Aku membawa air hangat. Kata Ibu, ini bisa membantu meringankan tubuh yang lelah," ucap Asia pelan dan sopan.

Hugo sempat melirik cangkir itu sejenak, lalu kembali memfokuskan perhatiannya pada tali sepatunya yang masih sulit ia lepaskan.

"Ya, letakkan di meja," kata Hugo pendek.

Asia meletakkan nampan di atas meja, namun ia kembali menoleh ke arah Hugo.

"Tidak langsung diminum? Ini masih hangat, kalau nanti diminum sudah dingin, khasiatnya bisa berkurang," ujar Asia mengingatkan.

Hugo menatap gelas berisi air hangat di atas nampan itu sejenak. Efek rasa lelah di tubuhnya membuat saran Asia terasa masuk akal.

"Ya. Bawa ke sini," pinta Hugo akhirnya.

Asia mengambil nampan lalu mendekati Hugo. Ia merendahkan posisi nampan tersebut agar mudah dijangkau dari kursi roda. Hugo mengulurkan tangan dan mengambil gelas itu dengan mudah, lalu meneguknya perlahan sampai tersisa separuh.

Benar kata Asia. Sensasi hangat yang mengalir di tenggorokannya perlahan membuat tubuh Hugo merasa sedikit lebih rileks.

1
Hartati Tati
jangan baper Hugo ... kamu yg pasang tembok tinggi 🤣🤣
Hartati Tati
banyak banyak update jangan sampai lupa 🤣🤣🤣🤣
English Lesson
bagus 👍🏻👍🏻
Lina Marali
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!