Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.
Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tina Sudah Setuju
“Kamu sudah bangun?” tanya Darmawan sambil terkekeh pelan.
“Idih, ya sudah dong! Masa anak perawan bangun siang?” cetus Rina. “Lagipula aku memang terbiasa bangun pagi untuk membelikan sarapan buat Ibu,” jelas Rina kemudian.
“Oh, kamu tinggal bersama ibumu?”
“Perasaan aku sudah pernah cerita, deh...”
“Enggak, ah. Belum,” sahut Darma berusaha mengingat. Namun, Rina memilih untuk langsung mengalihkan pembicaraan.
“Tadi di depan ada tukang bubur, tidak sih?”
“Ada. Yuk, sekalian aku juga mau beli. Nanti aku ikut naik ke atas buat bertemu ibumu.”
Wah! Rina tersenyum makin lebar. Ia melangkah keluar dari area apartemen, lalu membeli tiga porsi bubur ayam sebelum kembali menuju unitnya.
Darmawan terlihat begitu sabar menemani. Dengan santai, pria itu berjalan di samping Rina menuju lift.
“Beneran ini mau ketemu Ibuku?” tanya Rina riang.
“Iya, aku juga mau kenalan sama ibumu. Masa cuma kenal sama anaknya saja?”
Mendengar perkataan Mas Darma yang begitu santun, Rina merasa hatinya kian berbunga-bunga.
Ia lalu membuka pintu unitnya. Di dalam, Tina, ibunya sedang duduk santai di sofa menunggu kepulangan sang putri.
“Sudah pulang?” tanya Tina pada putrinya.
“Sudah, Bu.”
“Eh, ini siapa?” tanya sang ibu dengan mata berbinar saat melihat sosok pria tampan yang berdiri di samping Rina.
“Halo, Ibu. Saya Darmawan, temannya Rina.” Darma mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Aduh, ada tamu... Ayo masuk, masuk! Silakan duduk,” sambut Tina ramah.
“Iya, Bu. Ini saya sekalian numpang sarapan,” ucap Darmawan basa-basi sopan.
“Iya, mangga... Kok Rina tidak pernah cerita ya kalau punya teman ganteng begini?” terkekeh Tina mencoba mencairkan suasana dan akrab dengan teman putrinya.
Rina kali ini sama sekali tidak merasa sebel dengan lelucon ibunya. Ia justru dengan telaten menyiapkan mangkuk sarapan untuk Tina dan Darmawan yang tengah berbincang di ruang tamu.
Sarapan pagi itu terasa begitu hangat dan penuh canda tawa. Rina merasa bisa langsung akrab dengan pria tampan berambut klimis tersebut. Sementara Tina, ibunya, tampak sangat mudah menerima kehadiran Darmawan.
Jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi saat Darmawan akhirnya bangkit dari sofa. “Ibu, Rina, saya pamit dulu ya. Sudah waktunya balik kerja.”
“Oh iya, Mas Darma. Terima kasih banyak ya sudah mau mampir,” ucap sang ibu sambil melangkah bersama Darmawan menuju pintu keluar.
“Ibu! Kok Ibu yang berdiri duluan, sih?” protes Rina bercanda lalu terkekeh.
“Ya namanya tamu agung, harus buru-buru diantar dong, ya kan, Mas?” kekeh Tina membuat Rina kembali tersenyum lebar.
Tentu saja pemandangan hangat ini tidak akan mungkin Rina dapatkan jika pria yang ada di depannya adalah Om Adrian, suami orang yang sempat dekat dengannya.
Terlebih lagi, Om Adrian sudah tua dan tidak sesegar Darmawan yang usianya mungkin sebaya dengan Rina.
Setelah Darmawan pergi, Rina kembali ke meja kerjanya. Ia mulai mencatat pesanan yang masuk ke ponselnya. Sementara Tina masih saja tersenyum-senyum sendiri di pojokan ruang tamu.
“Kenapa tersenyum begitu, Bu?” tanya Rina, yang sebenarnya sudah bisa menebak isi hati ibunya.
“Ibu senang kamu sudah menemukan teman di sini. Ya... kita kan tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan, tapi paling tidak kamu sudah mau mulai membuka hati.”
“Bener, Bu. Aku memang sudah membuka hati. Tidak mau lagi fokus ke Jakarta, di Bandung saja rasanya sudah bagus.”
“Kelihatannya Darma pria yang baik.”
“Ya semoga saja, Bu. Aku juga belum kenal dekat dengan Darma, baru ketemu sekali di tempat kerjanya kemarin.”
“Paling tidak dia terlihat sopan. Tapi pastikan dulu, ya... Dia suami orang atau bukan? Kalau suami orang, jangan ya, Nak.”
Deg!
Rina merasa seperti tertampar oleh perkataan ibunya. Momen itu makin menyadarkannya bahwa pilihannya untuk melupakan Om Adrian pria kaya yang berstatus suami orang adalah keputusan yang sangat tepat. Ibunya tentu tidak akan pernah merestuinya.
“Iya, benar, Bu. Semoga dia bukan suami orang,” ulang Rina penuh harapan dalam hati.
Kring
Sebuah pesan masuk ke ponsel Rina.
“Siapa Rin?” tanya Tina lugu.
“Eh, Ini, Bu. Darmawan. Katanya dia mau ngajak aku jalan-jalan sore.”
“Wah, bagus, dong. Udah, iyain aja.” sambut Ibu begitu bahagia.
Sore harinya, ponsel Rina bergetar menampilkan nama Darmawan di layarnya.
Pria itu menepati janjinya untuk mengajak Rina keluar menikmati suasana sore Kota Bandung.
Rina tampil anggun dengan pakaian terbaiknya. Saat turun ke lantai bawah, Darmawan sudah menyambutnya dengan senyuman hangat di dalam sebuah mobil sedan hitam yang bersih dan harum.
Perjalanan sore itu terasa begitu menyenangkan. Darmawan membawanya menyusuri jalanan kota menuju sebuah restoran mewah berkonsep fine dining yang megah di kawasan Bandung utara.
Rina sempat tertegun saat melangkah masuk ke dalam restoran tersebut. Lampu gantung kristal yang mewah, alunan musik klasik yang lembut, serta penataan meja yang elegan membuat Rina sadar bahwa tempat ini bukanlah rumah makan biasa. Harganya pasti fantastis.
“Mas Darma, kita makan di sini?” bisik Rina sedikit canggung.
“Iya, Rina. Sekali-kali menikmati suasana yang berbeda, kan tidak ada salahnya,” sahut Darmawan santai sambil menarikkan kursi untuk Rina.
Perlakuan manis itu membuat Rina merasa sangat dihargai. Hatinya kian berbunga-bunga. Pria di hadapannya ini tidak hanya tampan dan sopan, tetapi juga sangat mapan.
Pelayan kemudian menyajikan hidangan steak berkualitas tinggi dan minuman segar di meja mereka. Suasana kencan sore itu terasa sangat sempurna, dipenuhi perbincangan hangat dan tawa kecil dari keduanya.
Namun, di tengah-tengah santap malam mereka, tatapan Darmawan mendadak terhenti pada sosok wanita paruh baya yang baru saja melangkah masuk ke dalam area restoran bersama beberapa rekannya.
“Eh, sebentar ya, Rina,” pamit Darmawan sambil mengusap bibirnya dengan serbet kertas. “Aku melihat seseorang yang kukenal. Aku mau menyapa sebentar.”
“Oh, iya, Mas. Silakan,” balas Rina ramah.
Darmawan berdiri lalu melangkah mendekati meja tempat wanita paruh baya anggun itu duduk. Dari kejauhan, Rina memperhatikan bagaimana Darmawan menyapa wanita itu dengan sangat sopan, bahkan sempat menyalami tangannya penuh hormat.
Tak butuh waktu lama, Darmawan kembali ke mejanya dengan raut wajah berbinar dan senyum mengembang.
Ia mendaratkan kembali duduknya di hadapan Rina, lalu meminum sedikit air putihnya dengan santai.
“Siapa, Mas? Kolega bisnis?” tanya Rina penasaran, mencoba mencairkan suasana.
Darmawan menyunggingkan senyum tipis. “Bukan. Itu tadi dosen S2-ku waktu kuliah. Beliau sangat dihormati di kampus. Namanya Ibu Profesor Eliza.”
Deg!
Mendengar nama itu terucap dari mulut Darmawan, seketika seluruh darah di tubuh Rina rasanya berhenti mengalir.
Wajah Rina yang tadinya berseri-seri dalam sekejap berubah menjadi pucat pasi. Tangannya yang sedang memegang garpu mendadak gemetaran hebat hingga garpu itu hampir terlepas dari genggamannya.
Profesor Eliza...
Nama itu bukanlah nama asing bagi Rina. Wanita paruh baya yang baru saja disapa Darmawan dengan penuh hormat itu adalah istri sah dari Om Adrian, pria beristri yang selama ini berusaha Rina lupakan.