Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kacau yang Terjadi
Dara tersentak. Jantungnya berpacu kencang. Ia harus melakukan sesuatu sebelum penyamarannya terbongkar. Ia punya dua pilihan: melarikan diri, atau menyerang sekarang juga sebelum Oliver bisa bereaksi lebih jauh.
"Ada apa, Sir?" tanya Dara, suaranya tetap dijaga agar tenang, meski tangannya di bawah baki mulai gemetar hebat memegang pisau kecil yang ia selipkan di balik sarung tangan karet.
Oliver melangkah maju. Ia tidak menjawab, melainkan terus menatap mata suster itu dengan tajam, mencoba mencari iris mata yang selama ini ia ingat sebagai musuh bebuyutannya. Dara berusaha menunduk, namun Oliver sudah berdiri tepat di depannya.
Dara merasa keringat dingin mengucur di punggungnya. Ia tahu, satu gerakan salah, ia akan tertangkap. Namun, ia tidak akan membiarkan kesempatan ini hilang. Dengan satu gerakan cepat, ia membuang baki ke arah Oliver untuk mengalihkan perhatian, lalu mencoba menghujamkan jarum suntik berisi pelumpuh saraf itu langsung ke arah leher Anjani.
"Anjani, menunduk!" teriak Oliver.
Anjani tersentak dan jatuh ke samping. Jarum itu meleset hanya beberapa milimeter dari kulit Anjani. Oliver dengan sigap menangkap pergelangan tangan Dara, memelintirnya hingga ia mengerang kesakitan. Namun, Dara adalah seorang petarung yang nekat. Ia menggunakan sisa kekuatannya untuk menendang tulang kering Oliver dan mencoba melarikan diri lagi menuju tangga darurat.
"Kejar dia!" teriak Oliver kepada tim keamanannya yang baru saja berlari dari arah lorong lain.
Dara berlari sekuat tenaga, napasnya tersengal-sengal. Ia berhasil mencapai pintu darurat sebelum petugas keamanan sempat menutup akses. Ia menghilang ke dalam kegelapan tangga, meninggalkan sebuah kegagalan yang memilukan.
Anjani bangkit berdiri, tubuhnya gemetar melihat jarum suntik yang jatuh ke lantai. Cairan bening itu membasahi marmer, mengeluarkan aroma kimia yang tajam. Ia sadar, nyawanya baru saja terancam oleh orang yang sama yang hampir membunuh ayahnya.
"Dia... dia Dara, bukan?" suara Anjani bergetar.
Oliver menatap pintu tangga yang tertutup rapat, rahangnya mengeras. "Dia tidak akan bisa keluar dari rumah sakit ini hidup-hidup, Anjani. Aku sendiri yang akan memastikannya."
Di balik pintu tangga darurat, Dara terengah-engah, memegang bahunya yang sakit akibat pelintiran Oliver. Ia tertawa lagi, tawa yang penuh dengan sisa-sisa kewarasan yang semakin menipis. "Kau tidak bisa menangkapku, Oliver! Aku akan terus datang, sampai kau sendiri yang memohon untuk mengakhiri hidup kalian!"
Pertarungan di rumah sakit itu telah berubah menjadi perburuan nyawa yang sebenarnya. Tidak ada lagi aturan, tidak ada lagi rasa kasihan. Hanya ada satu yang bisa keluar sebagai pemenang, dan Dara telah bersumpah bahwa pemenang itu haruslah dirinya, dengan cara apa pun yang diperlukan.
****
Kegelapan malam di rumah sakit seketika terkoyak oleh suara gemuruh yang begitu dahsyat, disusul oleh dentuman kedua yang lebih keras lagi. BOOM! Lantai tempat Anjani dan Oliver berdiri berguncang hebat hingga lampu-lampu langit-langit berayun liar dan beberapa di antaranya pecah, menghujani lantai dengan pecahan kaca. Asap tebal berwarna abu-abu pekat langsung merayap masuk ke koridor, membawa aroma belerang dan besi yang terbakar.
Anjani memekik, refleks mendekap dadanya. Ia tidak memikirkan keselamatannya sendiri; pikirannya langsung melompat ke ruang ICU tempat ayahnya, Pak Santo, sedang berjuang antara hidup dan mati.
"Ayah!" teriak Anjani, hendak berlari menuju ruang ICU yang berada di sisi utara gedung
Oliver dengan sigap mencekal lengan Anjani, menariknya kembali ke arah yang berlawanan dari sumber ledakan. "Tetap di belakangku, Anjani! Tim keamanan sudah mengamankan area ICU, ayahmu aman di sana!" suara Oliver terdengar seperti komando militer, tegas dan tak terbantahkan meski di tengah kekacauan yang luar biasa.
Suasana rumah sakit berubah menjadi mimpi buruk. Pasien-pasien yang bisa berjalan berlarian dengan panik, perawat dan dokter berteriak memberikan instruksi, sementara alarm kebakaran meraung-raung, menciptakan simfoni ketakutan yang mencekam. Listrik di beberapa bagian gedung padam, menyisakan cahaya remang-remang dari lampu darurat yang berkelip merah.
****
Dara Mitha Dahayu, sang arsitek kehancuran ini, tidak lagi peduli pada penyamaran. Di tengah asap yang mengepul di lantai bawah—tepatnya di area gudang logistik dan ruang genset utama—ia berdiri dengan seringai yang tak terlukiskan. Ia baru saja meledakkan sistem kelistrikan utama rumah sakit sebagai pengalih perhatian besar-besaran agar ia bisa menghilang.
"Nikmati kekacauan ini, Anjani," bisiknya di balik masker yang sudah lusuh. Ia melemparkan sisa alat peledak yang ia rangkai secara primitif ke dalam lubang ventilasi, memicu dentuman susulan yang memastikan kepanikan akan berlangsung lebih lama.
Dara tahu bahwa saat Oliver sibuk mengamankan Anjani, fokus pria itu akan terpecah. Dan itulah celah yang ia butuhkan. Dengan gesit, ia melompat melalui celah dinding yang jebol akibat ledakan, menuju jalur evakuasi bawah tanah yang jarang diketahui orang. Ia tidak lagi mencari Anjani untuk saat ini; ia mencari cara untuk benar-benar menghilang sebelum Oliver benar-benar memburunya seperti buruan hutan.
Di koridor utama, Oliver menatap sekeliling dengan mata yang tajam seperti elang. Ia menyadari ledakan ini bukan serangan untuk membunuh secara langsung, melainkan taktik untuk menciptakan chaos.
****
"Julian!" teriak Oliver melalui earpiece-nya.
"Lockdown seluruh area rumah sakit! Jangan biarkan satu pun orang keluar, terutama yang berpakaian tenaga medis! Dara bergerak di bawah tanah!"
"Siap, Sir! Kami sudah mengepung semua titik evakuasi!"
Anjani, meski masih terguncang, mencoba memaksakan diri untuk tetap tegak. Ia melihat ke arah ruang ICU yang masih terkunci rapat oleh tim keamanan Oliver. "Dia ingin kita lengah, Oliver. Dia ingin kita sibuk menolong orang lain sementara dia lari."
"Dia tidak akan lari jauh," jawab Oliver dingin. Ia mengeluarkan pistol dari balik jasnya—sesuatu yang sangat jarang ia lakukan, menunjukkan betapa seriusnya ancaman ini. "Anjani, kau harus masuk ke ruang aman yang sudah disiapkan di dalam ICU. Jangan keluar sampai aku datang menjemputmu."
Anjani mengangguk, menyadari bahwa kehadirannya di koridor hanya akan menjadi beban bagi Oliver yang harus berhadapan dengan wanita gila itu. Dengan dibantu oleh dua orang pengawal pribadi Oliver, Anjani dibawa masuk ke ruang steril ICU. Dari balik kaca tebal, ia bisa melihat ayahnya yang masih terbaring dengan berbagai alat bantu napas yang berdetak teratur. Syukurlah, dinding beton yang tebal melindungi sisi gedung itu dari kerusakan parah.
****
Sementara itu, di lorong-lorong gelap rumah sakit yang kini dipenuhi asap, Oliver bergerak dengan ketenangan yang menakutkan. Ia menelusuri jejak-jejak perusakan yang ditinggalkan Dara. Setiap langkahnya penuh perhitungan. Ia menemukan sebuah bekas jarum suntik dan sobekan kain seragam perawat di dekat tangga darurat.
Dara, di sisi lain, merasa dirinya sudah berada di depan pintu keluar di lantai bawah. Namun, saat ia hendak mendorong pintu keluar menuju parkiran, ia melihat deretan mobil hitam dengan logo Jones Group sudah memblokir setiap inci akses jalan. Oliver tidak main-main. Ia telah memblokade rumah sakit itu seolah-olah itu adalah benteng yang harus dipertahankan.
Dara terkekeh kecil, napasnya tersengal. "Kau pikir kau bisa mengurungku di sini, Oliver?"