Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Hadiah Kecil untuk Ibu
Udara fajar di pinggiran luar Kota Gusu masih berselimut kabut tipis saat Gu Jue dan Gu Yu kecil melangkah meninggalkan gerbang dinding batu rumah halaman sewaan mereka. Di pelataran tengah rumah tadi, Shen Liya masih tertidur pulih dengan nyenyak, ditemani oleh Lan Xi yang mengawasi pintu kamarnya dengan kesetiaan penuh dari balik samaran pakaian pelayan katun hijaunya.
Tujuan perjalanan ayah dan anak pagi ini adalah Tebing Awan Jatuh, sebuah area perbukitan batu yang curam di perbatasan luar kota yang jarang dijamah oleh manusia biasa karena jalurnya yang licik dan dipenuhi binatang liar fana.
Gu Jue melangkah dengan kecepatan konstan yang stabil. Jubah rami abu-abu kasarnya tampak menyatu dengan warna kabut pagi, sementara di bahu tegapnya tergantung sebuah keranjang anyaman bambu kosong. Di sampingnya, Gu Yu kecil melompat-lompat lincah melompati akar pohon tumbang dengan riang. Di punggung kecilnya, sebilah pedang kayu pusaka yang telah disegel energi iblis ayahnya tersampir kokoh, melambangkan identitas ciliknya sebagai pelindung ibunya.
"Pria dingin, bunga jenis apa yang begitu penting hingga kita harus berjalan sejauh ini sebelum pasar kain kota dibuka?" tanya Gu Yu kecil, sepasang mata sehitam tintanya mendongak menatap profil samping wajah tegas Gu Jue.
"Nama tanamannya adalah Bunga Sukma Tenang," jawab Gu Jue datar, suaranya yang rendah dan dalam terdengar sangat tenang membelah kesunyian bukit.
"Kelopaknya hanya mekar di sela-sela batu tebing curam yang menghadap ke arah timur tepat saat embun fajar pertama menguap. Ekstrak dari bunga itu adalah bahan esensial yang kuberitahukan kemarin; ia memiliki kemampuan untuk memperkuat esensi darah fana ibumu agar dadanya tidak kembali sesak saat udara kota memburuk."
Mendengar kata "untuk Ibu", kilatan keseriusan dan kedewasaan cilik seketika mengeras di wajah tampan Gu Yu. Bocah tujuh tahun itu merapatkan cengkeraman tangannya pada tali buntalan pedang kayunya. Baginya, apa pun yang berkaitan dengan kesembuhan ibunya adalah titah tertinggi yang menuntut kepatuhan mutlak tanpa bantahan.
Setelah menyusuri tanjakan batu yang licik selama hampir satu jam, keduanya akhirnya tiba di puncak Tebing Awan Jatuh. Di hadapan mereka, hamparan jurang dalam yang diselimuti lautan kabut putih membentang luas, memancarkan pemandangan alam fana yang teramat megah sekaligus mengerikan bagi mata manusia biasa yang takut ketinggian.
Gu Jue menghentikan langkah kakinya tepat di bibir tebing curam. Sepasang mata sehitam malam miliknya menyipit tajam menatap ke bawah, mengunci pandangannya pada sekelompok bunga kecil berwarna biru muda pucat yang tumbuh subur di sela-sela retakan batu tebing, sekitar sepuluh meter di bawah tepi jurang.
"Bunganya ada di sana," tunjuk Gu Jue pendek menggunakan pisau kecil obatnya.
Gu Yu kecil melangkah maju, ikut menengok ke bawah tebing dengan berani tanpa seulas rasa takut sedikit pun. Aliran darah iblis murni di dalam tubuh sang pangeran cilik memberinya ketahanan mental yang mengerikan terhadap rasa ngeri ruang hampa.
"Jalur batunya sangat licik dan sempit, pria dingin. Jika manusia biasa yang turun, mereka pasti akan tergelincir jatuh menjadi bubur daging," komentar Gu Yu kecil dengan analisis cerdasnya yang datar, sebuah tabiat yang meniru mutlak cara bicara ketus Gu Jue.
"Biar aku saja yang turun mengambilnya. Tubuh kecilku jauh lebih ringan dan luwes untuk merayap di sela batu itu."
Gu Jue menoleh, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata hitam putranya yang dipenuhi binar tekad berbakti yang teramat pekat. Di bawah topeng manusianya sebagai tabib rami abu-abu, Mo Jue sang Raja Iblis merasakan secercah rasa hangat dan kebanggaan yang teramat masif bergolak halus di dalam dadanya yang sedingin es abadi.
Anaknya tidak hanya cerdas dan memiliki potensi sihir campuran yang mengerikan, melainkan juga memikul ketetapan hati seorang petarung yang menolak untuk bersembunyi di balik punggung orang dewasa jika ada tugas yang harus diselesaikan demi wanita mereka.
Namun, Gu Jue tetap menjaga ekspresi wajahnya agar tampak acuh tak acuh. "Turunlah jika kau merasa pedang kayumu bisa menahan berat tubuhmu saat batu tebing itu retak, Bocah. Ingat teknik penyaluran tenaga yang kuajarkan kemarin di halaman dapur."
"Aku tidak akan mengecewakanmu, pria dingin," jawab Gu Yu kecil dengan seulas senyuman sinis kecil yang sangat licik di bibirnya.
Bocah berusia tujuh tahun itu melepaskan keranjang anyaman bambu kecilnya, meletakkannya di dekat kaki Gu Jue. Dengan satu gerakan lincah yang sangat presisi, Gu Yu melompat turun dari bibir tebing, tangan kecilnya mencengkeram tonjolan batu pertama dengan sangat kokoh. Tubuh mungilnya merayap turun menyusuri dinding tebing yang curam bak seekor macan tutul cilik yang sedang berburu di tengah kabut pegunungan fana.
Gu Jue berdiri tegak di bibir tebing, melipat kedua tangannya di depan dada sembari terus mengawasi setiap pergerakan anaknya dari atas. Meskipun penampilannya terlihat sangat santai dan tidak peduli, tangan kanan sang Raja Iblis sebenarnya telah tersimpan siaga di balik lipatan jubah raminya, memusatkan hawa dingin kegelapan tak kasat mata di ujung jemarinya. Jika ada sekerat batu tebing saja yang runtuh di bawah kaki Gu Yu, Gu Jue akan langsung merobek sekat dimensi ruang tersebut untuk menangkap tubuh putranya dalam sekejap mata.
Prak!
Suara retakan batu kecil terdengar renyah saat kaki kiri Gu Yu menginjak tumpukan tanah tebing yang rapuh. Tubuh kecilnya sempat limbung sedikit di udara di atas jurang yang dalam.
Di dalam lubuk batinnya yang paling dalam, Gu Yu tidak panik. Ia menarik napas dalam-dalam melalui perut, menyalurkan sisa-sisa energi campuran hangat-dingin di dalam tubuhnya menuju ke ujung-ujung jemari kaki dan tangannya, meniru cara ayahnya menetralkan ledakan pedang baja tempo hari di hutan bambu.
Seketika itu juga, cengkeraman tangannya di dinding batu menjadi sepuluh kali lipat lebih kokoh, mengunci posisi tubuhnya kembali stabil tanpa cela.
Dengan ketekunan yang luar biasa besar, Gu Yu akhirnya berhasil mencapai retakan batu tempat Bunga Sukma Tenang tumbuh. Tangan kecilnya dengan sangat hati-hati memetik lima tangkai bunga biru muda pucat tersebut bersama akarnya, memastikannya tidak rusak sedikit pun, lalu memasukkannya dengan rapi ke dalam kantung kain di pinggang jubah raminya.
"Aku berhasil memetiknya, pria dingin!" seru Gu Yu kecil dari bawah tebing, wajah tampannya memancarkan binar kebahagiaan cilik yang tidak bisa disembunyikan saat mendongak menatap ayahnya.
"Naiklah sebelum matahari pagi membakar kelopak bunga itu di tanganmu," jawab Gu Jue dari atas, suaranya tetap terdengar datar namun dipenuhi oleh sekerat kelembutan tersembunyi yang teramat pekat.
Proses merayap naik terbukti jauh lebih mudah bagi sang pangeran cilik. Dalam waktu kurang dari beberapa menit, Gu Yu telah melompat kembali ke atas hamparan tanah datar puncak tebing, berdiri tegak di samping Gu Jue dengan napas yang sedikit memburu namun wajahnya bersih dari seulas rasa lelah. Ia buru-buru merobek kantung kainnya, memamerkan lima tangkai bunga spiritual langka tersebut di depan wajah Gu Jue.
"Hadiah kecil untuk Ibu... ini akan memastikan Ibu tidak kembali batuk darah saat kita berjalan-jalan di pasar malam besok, kan?" ujar Gu Yu kecil, suaranya terdengar sangat tegas, memancarkan wibawa pelindung cilik yang kian matang.
Gu Jue menurunkan pandangannya, mengambil satu tangkai bunga tersebut untuk diperiksa dengan teliti, sebelum akhirnya tangan kanannya yang besar bergerak maju, meletakkannya di atas pucuk kepala Gu Yu dan mengelus rambut hitam lebat putranya dengan gerakan yang teramat pelan, cermat, dan penuh kasih sayang seorang ayah kandung.
"Kau melakukan tugasmu dengan sangat baik, Yu'er," ujar Gu Jue, memanggil nama asli putranya dengan nada suara yang mendadak terasa sangat berat, dalam, dan dipenuhi oleh seluruh kehangatan emosional yang selama delapan tahun ini terkunci di dalam lubuk jiwanya.
" Ibumu akan sangat bangga melihat hadiah kecil ini dari tanganmu sendiri."
Gu Yu kecil kembali terpaku kaku menerima sentuhan elusan dari ayahnya. Namun, kedamaian emosional di antara ayah dan anak itu mendadak terusik oleh suara cicitan manja dari dalam keranjang obat.
Xiao Bai, yang sejak tadi meringkuk diam karena takut menatap wajah dingin Gu Jue, perlahan-lahan menyembulkan kepala berbulu putihnya dari balik jalinan bambu keranjang.
Harimau kecil itu mengendus-endus ujung jubah rami Gu Jue, sebelum akhirnya ia dengan sangat berani melompat keluar, mendarat di atas batu lalu menjatuhkan tubuh kecilnya telentang di depan sepatu Gu Jue seolah sedang mengemis perhatian.
Gu Jue menatap anak harimau yang sedang bertingkah konyol itu dengan pandangan mata hitam yang datar. Ia tidak menendangnya, melainkan menggunakan ujung pisau obatnya untuk mencolek pelan perut buncit Xiao Bai, membuat harimau kecil itu mengeong riang.
"Bawa kucing manja ini, Yu'er. Jalur perbukitan ini mulai terasa panas karena matahari," kata Gu Jue acuh tak acuh ...
Di bawah siraman matahari pagi Tebing Awan Jatuh, ikatan batin spiritual yang kaku antara sang Raja Iblis dan sang pangeran cilik kini telah mengkristal menjadi sebuah jalinan rasa hormat absolut yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh badai mana pun di tiga alam kelak.
"Mari kita pulang ke rumah halaman, pria dingin. Bibi Ah Xi pasti sedang sibuk merusak perabot dapur lagi jika kita terlambat kembali," celetuk Gu Yu kecil dengan tawa kecilnya yang renyah, buru-buru mengambil kembali keranjang anyaman bambunya.
Gu Jue tersenyum tipis, sebuah guratan senyuman tulus yang sangat langka mekar di wajah tampannya saat ia berbalik memimpin jalan turun menyusuri setapak perbukitan fana.
Sandiwara sebagai ayah tabib dan murid kecil telah mengunci sebuah komitmen emosional yang teramat pekat di antara mereka berdua, membentengi kehidupan manis keluarga kecil rahasia mereka dari amarah langit atas, tanpa pernah disadari oleh ketiganya bahwa di kaki bukit sana, bayangan konspirasi dari sisa-sisa dua sekte besar manusia fana lainnya saat ini perlahan-lahan mulai bergerak mengintai jalur kepulangan mereka menuju arah rumah halaman baru Kota Gusu kelak.