Lily terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak bahagia. Dante tidak pernah mencintainya. Dante menikahi Lily hanya untuk membayar hutang Budi orang tuanya kepada orang tua Lily.
Namun sebuah kecelakaan membuat keadaan berubah. Dante didiagnosa menderita cedera otak parah yang membuatnya kehilangan ingatan jangka pendek.
Dante hanya mengingat apa yang terjadi hari ini, lalu setelah dia tertidur dia akan melupakan semua. Begitu setiap harinya.
Inilah kesempatan bagi Lily untuk membuat suaminya bisa menerima dan mencintainya sepenuh hati.
Inilah kesempatan bagi Dante untuk memperbaiki kesalahan besar yang telah dia perbuat.
Namun, kehidupan tidak semudah itu untuk memberi mereka kebahagiaan.
berhasilkah mereka membangun Rumah tangga bahagia atau bahkan perceraian adalah jalan terbaik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tata Tetott, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Buku Harian Dante - 2
Cara ini berhasil. Tadi pagi, saat aku terbangun dari tidur, dalam keadaan bingung dan bertanya-tanya juga dengan disertai rasa sakit di kepala dan kaki, aku menemukan buku ini di atas nakas. Sengaja kutulis dengan huruf kapital sebuah tulisan di sampul depan buku "BUKU DANTE - BACA INI SAAT BANGUN TIDUR". Kalimat provokatif yang mau tak mau menarik minatku untuk membuka dan membaca buku itu.
Terkejut, itulah yang aku rasakan saat membuka dan membaca apa yang kutulis di buku itu. Aku yakin benar tulisan itu memang tulisanku, di bagian bawah juga terdapat parafku.
Ingin menangis rasanya saat menyadari bahwa kini aku bukanlah diriku yang dulu. Aku cacat, aku hilang ingatan, aku kehilangan banyak memori masa laluku. Bahkan aku lupa bahwa aku telah menikah dengan perempuan bernama Lily.
Siapa itu Lily?
Di halaman sebelumnya aku menuliskan aku juga tidak mengingatnya, juga tidak bertemu dengannya kemarin.
Sungguh, keadaan ini sangat membingungkan.
"Loe harus terbiasa dengan ini, Te, setidaknya ini lebih baik daripada loe nggak ingat sama sekali tentang apa yang loe lakuin kemarin. Jadi, tetap menulis setiap hari, oke. Gue yakin cepat atau lambat ingatan loe bakal pulih lagi. Dan saat ingatan loe udah pulih dan loe membaca kembali buku ini, loe akan tahu gimana perjuangan loe bertahan hidup dengan yaa sebut saja kecacatan loe ini, dan loe akan ingat siapa saja yang berjasa, yang selalu ada buat loe dalam keadaan loe sekarang ini," Pesan Revan padaku pagi itu saat aku mempertanyakan lagi tentang keadaanku padanya--sekedar untuk meyakinkan.
Maka, kutulislah lagi buku ini malam ini, dan akan kutulis lagi malam esok dan malam berikutnya dan berikutnya dan berikutnya lagi sampai ingatanku pulih.
Hal penting harus ditulis dengan huruf tebal, kan? Begitu yang kubaca pada tulisanku di halaman sebelumnya.
Di halaman sebelumnya aku menulis jika Revan telah menemaniku sejak dua hari sebelumnya--sabtu dan minggu--saat Lily harus pergi ke rumah orang tuanya untuk menjenguk ayahnya yang juga mengalami kecelakaan. Hari ini adalah hari Senin, Revan tidak bisa lagi seharian menemaniku, dia harus bekerja, dia orang sibuk, aku ingat itu.
"Gue pengin banget nemenin loe selama Lily belum pulang, Te, tapi gimana ya? Gue juga enggak bisa ninggalin kantor," keluhnya.
"Ya udah loe, balik aja, gue enggak pa-pa kok, tenang aja. Ada Bi Aluh sama Pak Anang juga di sini," ucapku.
"Beneran enggak pa-pa?" tanya Revan.
"Iya," jawabku.
"Tapi loe jangan lupa minum obat loe, ya," kata Revan lagi.
"Iya, gue pasti minum kok, tenang aja, gue enggak bakalan ngamuk lagi kalo Bi Aluh nyuruh gue minum obat." Aku berusaha meyakinkannya.
"Kalo ada apa-apa minta Bi Aluh buat hubungin gue," pesan Revan.
"Iya, pasti," ucapku.
Setelah selesai sarapan pagi dan memastikan aku meminum obat pagi hariku, Revan bersiap untuk meninggalkan rumah ini. Sebelumnya dia menuliskan nomernya di secarik kertas dan menyerahkannya pada Bi Aluh, Revan berpesan jika ada apa-apa Bi Aluh harus segera menghubunginya.
Kenapa Bi Aluh? Kenapa tidak aku saja langsung yang menghubunginya? Itu karena aku tidak memegang ponsel. Sepertinya ponselku ikut hancur dalan tabrakan waktu itu dan sampai sekarang aku belum membeli yang baru.
***
Revan pergi, rumah menjadi sepi. Karena bosan, aku meminta Bi Aluh untuk mendorong kursi rodaku ke ruang keluarga. Aku ingin menonton TV.
Aku menonton TV sendirian, duduk di kursi roda, aku tidak meminta bantuan Bi Aluh atau Pak Anang untuk memindahkanku ke sofa. Di sisi lain ruangan aku menyadari bahwa mereka sedang memperhatikanku datau mengawasi jika terjadi apa-apa denganku atau takut jika aku mengamuk, tapi aku tidak akan mengamuk. Aku sudah tahu kondisiku dan aku belajar untuk menerima juga terbiasa dengan ini semua.
Cukup lama aku terdiam duduk sendiri menonton TV sampai aku merasa bosan. Sampai akhirnya terdengar suara ketukan pintu. Bi Aluh yang sebelumnya berdiri mengintip di balik partisi pembatas ruang keluarga dan ruang tamu akhirnya memunculkan diri, beliau berjalan melewati ruang keluarga menuju pintu depan.
Aku tidak bisa begitu melihat siapa yang datang saat Bi Aluh sudah membuka pintu karena memang ruang tamu dan pintu masuk tidak begitu kelihatan dari tempatku duduk. Lalu aku mencoba mengayuh roda di kursiku perlahan, tanganku cukup kuat untuk melakukan itu.
Saat aku maju beberapa meter, aku bisa melihat pintu terbuka, seorang perempuan berambut panjang terikat, berbadan kecil, berwajah cantik masuk dan menyapa Bi Aluh sambil tersenyum. Senyum yang terlukis dari bibir mungil kemerahan itu sangat manis. Aku tidak pernah melihat senyum semanis itu.
"Neng Lily sudah pulang, syukurlah," seru Bi Aluh pada gadis itu.
"Lily?!" Refleks aku mengulang nama yang di ucapkan Bi Aluh barusan. Jadi dia LiLy? Lily istriku?
Rupanya, suaraku cukup terdengar olehnya hingga membuat dia menoleh kearahku dengan ekspresi yang sulit ku mengerti, seperti ekspresi terkejut, atau entahlah.
...
Suasana menjadi sunyi dengan diselimuti kecanggungan. Lily masih menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan dan ada apa denganku? Kenapa jantungku berdegup lebih cepat daripada sebelumnya....
Lily berjalan ke arahku. Rasanya seperti film drama dengan adegan slow motion yang dramatis, seolah hentakan langkah kaki Lily terdengar jelas di telingaku.
"Apa kabar?" sapanya saat dia berada satu meter di depanku.
"Hi Lily, kabarku baik, kamu apa kabar?" ucapku agak canggung.
Lily menatapku dengan tatapan yang lebih aneh daripada sebelumnya. Alisnya bertaut dengan bibi sedikit membuka. Dia diam dengan ekspresi itu untuk beberapa lama.
"Ah ya, bagaimana kabar Papahmu? Apa beliau baik-baik saja?" tanyaku lagi.
Lily langsung berlutut di depanku mensejajarkan tingginya dengan aku yang sedang duduk di kursi roda. Matanya membulat dan intens menatapku, bibirnya terbuka dan sedikit bergerak, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu. Kutunggu hingga beberapa saat namun tak ada satu katapun keluar dari bibir indahnya itu.
Lucunya, setelah menatap mata hitamnya, tiba-tiba aku juga kehilangan kata atau bibirku kelu untuk berucap.
Banyak sekali kata yang ingin sampaikan dan tanyakan padanya tapi aku tak bisa merealisasikan semua itu. Ada apa denganku?
Apakah karena aku terpesona dengan Lily?
Apakah aku di masa lalu juga seterpesona ini dengannya?
Lily juga tak banyak bicara seharian, ekspresinya sepanjang hari seperti ekspresi shock yang malah membuatnya terlihat berkali lipat lebih menggemaskan.
Ah, ya, Bi Aluh benar, ternyata masakan Lily memang lezat. Meski dia tak banyak bicara hari ini, tapi dia tetap menyediakan makan untukku, menyiapkan obat-obatan untukku dan membantu mendorong kursi rodaku kesana-kemari.
Saat aku menulis ini, alu bersiap untuk tidur, aku tidur sendiri malam ini. Aku sempat bertanya pada Lily kenap dia tidur di kamar lain. Dia bilang, untuk sementara waktu kami harus tidur terpisah demi menjaga kualitas tidurku.
"Aku kalau tidur tidak bisa diam, Mas. Aku takut mencederai, lebih baik mas tidur sendiri untuk sementara waktu." ucapnya.
"Tapi, kemarin Revan tidur bersamaku, aku baik-baik saja."
"Mungkin cara revan tidur Dan caraku tidur berbeda."
"Bagaimana caramu tidur?"
"Bar-bar, mungkin, semacam itulah."
"Oh,"
"Hhmm ...." Lily bergumam.
"Apa kita akan tidur bersama kalau alu sudah sembuh?" tanyaku.
"Ya, begitulah. Hehee ...," ucapnya sambil tertawa.
Kurasa sampai di sini duku untuk hari ini. Aku ngantuk sekali.
^^^Ardante,^^^
^^^Penderita Anterograde Amnesia.^^^