Terbelenggu dalam pernikahan yang tidak diinginkan, mampukah pernikahan itu bertahan?
Bagaimana bila yang selalu berjuang justru menyerah saat keduanya sudah disatukan dalam ikatan suci pernikahan?
“Cinta kita seperti garis lurus. Bukan segitiga atau bahkan persegi. Aku mencintai kamu, kamu mencintai dia dan dia mencintai orang lain. Lurus kan?” ucap Yuki dengan tatapan nanar, air mata yang mulai merembes tertahan di pelupuk mata. “Akan lucu dan baru menjadi bangun datar segi empat bila sosok yang mencintai aku nyatanya dicintai orang yang kamu cintai.”
“Di kisah ini tidak ada aku, hanya kamu dan kita. Bukankah kita berarti aku dan kamu? Tapi mengapa kisah kita berbeda?” Ucapan lewat suara bergetar Yuki mampu menohok lawan bicaranya, membungkam bibir yang tiba-tiba beku dengan lidah yang kelu.
Ini adalah cerita klise antara pejuang dan penolak hadirnya cinta.
*
*
*
SPIN OFF Aara Bukan Lara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Parfum Pasaran
“Yuki..?!” Teriak Elza mengejutkan Yuki yang hampir tertidur dalam posisi duduk selonjoran di lantai.
“Kenapa Kak?” Tanya Yuki dengan suara tergagap, kesadarannya baru terkumpul separuh. Sisanya jelas masih melayang di angan-angan.
Yuki ingin tidur melepas penat setelah hampir seharian di kampus, namun niatnya itu terhalangi kewajiban sebagai pekerja yang terikat tanggung jawab. Belum lagi kemarin malam Yuki harus bergadang menyelesaikan tugas setelah pulang dari restoran, benar-benar melelahkan.
“Kamu dipanggil Bos Keven tuh.” Ucap Elza pada Yuki yang diakhiri dengan menyipitkan mata, menelisik dalam pada Yuki yang terus berusaha mengumpulkan nyawa.
“Gak buat masalah lagi kan?” Lanjut Elza mengimbuhi ujarannya sambil melipat tangan di depan dada.
“Hari ini aku belum berulah Kak, gak mungkin buat masalah. Lagi pula sebenarnya aku gak pernah kok bikin masalah. Cuma waktu dan kondisi kadang berkhianat, makanya seolah-olah aku itu bikin ulah lagi.” Seloroh Yuki panjang lebar, menutup mulutnya sejenak yang menguap lebar.
“Iya terserah kamu lah, yang penting itu udah ditunggu sama Bos di ruangannya.” Ucap Elza pasrah, berteman dalam waktu singkat dengan Yuki sudah membuat Elza hafal bagaimana tabiat Yuki jika sudah mulai membuka mulutnya.
“Ish, kan menyita waktu gara-gara kebanyakan ngobrol sama Kakak.” Gerutu Yuki sewot, beranjak dari duduknya dan menepuk pelan celana bagian belakang, mengibaskan debu-debu atau bahkan kotoran yang mungkin menempel.
“Kamu yang bawel dari tadi.” Memutar bola matanya malas, Elza berlalu dari hadapan Yuki. Ia ingin melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
“Iya deh, ya udah aku tinggal dulu ya Kak.” Ucap Yuki yang masih berjalan di belakang Elza. Mempercepat langkahnya yang sepersekian detik kemudian sudah menyalip dan meninggalkan Elza. Melesat layaknya sambaran petir, Yuki kini sudah berdiri di depan pintu kayu polos berwarna coklat tua.
Tok.
Tok.
Tok.
“Permisi..” Ucap Yuki lumayan kuat, berharap sosok di balik pintu langsung mendengar suaranya.
Menghentikan jemari yang sibuk menari di atas keyboard, Keven memundurkan kursinya. “Masuk!” Teriak Keven tidak kalah nyaringnya dengan suara Yuki yang menyapa indera pendengarannya.
Ceklek.
Menyembulkan kepala terlebih dahulu, Yuki mengintip ke dalam ruangan Keven. Tampak jelas di dalamnya ada meja lain yang tentu menjadi milik Saka.
“Ada apa Mas? Kangen ya?” Tanya Yuki kepedean dan mengesampingkan urat malunya.
“Jaket mu.” Ucap Keven singkat, mengabaikan pertanyaan genit yang Yuki sampaikan.
Sebuah kantong kertas menggantung dari tangan Keven yang terulur. Sejenak aroma wangi bunga semerbak menguar, mengetuk pelan penciuman Yuki yang terang-terangan langsung menarik nafas panjang, menghirup dalam-dalam aroma yang mulanya tercium samar.
“Ini pakai pewangi yang sama kayak punya Mas ya?” Tanya Yuki sambil mengeluarkan jaket yang pernah ia paksakan agar Keven gunakan.
“Eh? Kok wanginya beda. Ini sih persis baju ku yang biasa di laundry.” Ucap Yuki lagi dengan dahi mengerut halus. Memandang Keven yang kembali sibuk melanjutkan analisis perkembangan restoran miliknya.
“Mas Keven?” Sapa Yuki yang tiba-tiba sudah berada di sisi kanan Keven. Terperanjat kaget dan hampir saja mengumpat Keven pada sosok Yuki yang lebih meresahkan dibandingkan roh gentayangan.
Mengangkat tangan kiri dalam posisi lurus mengarah pada pintu, Keven mengusir Yuki, tidak ketinggalan ia juga memberikan tatapan mata yang sinis. “Pintu keluar di sana!”
“Tau kok. Nanti aku juga keluar. Tapi ini pewangi nya beneran gak sama dengan yang Mas pakai?” Tanya Yuki yang masih tidak puas dengan aroma jaketnya yang berbeda dengan milik Keven.
Yuki pikir jaketnya yang dikembalikan akan menguarkan aroma maskulin yang mewah, nyatanya hanya bau parfum pasaran yang biasa saja. Sungguh sangat pelit Keven ini, begitu batin Yuki.
Ceklek.
“Loh, ada Yuki.” Ucap Saka yang baru saja masuk ke dalam ruangan yang ia gunakan bersama Keven. Tampak di situ Keven dengan raut wajah kesal dan Yuki yang tersenyum ceria. Sudah seperti badai musim dingin yang bersanding dengan peri musim semi.
Keduanya layaknya kutup selatan dan kutup utara yang saling berjauhan, namun akan saling tarik menarik dan menempel erat tidak ingin terpisahkan bila menjadi sebuah magnet. Itulah penampakan yang tergambar di pelupuk mata Saka, suasana dingin yang manis.
“Ngapain kalian berduaan di sini? Jam kerja loh..” Ucap Saka seolah ditujukan pada Keven dan Yuki. Nyatanya pertanyaan itu sengaja diucapkan untuk menggoda Keven yang semakin memasang ekspresi muram.
“Mas Keven kembalikan jaket yang kemarin itu Mas.” Ucap Yuki cepat, ia berjalan menghampiri Saka yang sudah duduk di kursi kebesarannya. “Kayaknya pakai laundry express nih, belum juga 3 hari udah keluar dari antrian. Selesai dicuci, setrika, lipat.”
“Mas Saka suka kopi?” Ucap Yuki lagi, bertanya saat netranya menangkap secangkir kopi susu yang baru Saka letakkan. Uap panasnya masih mengepul tipis.
“Suka. Keven juga suka banget kopi susu. Tapi selera dia agak manis.” Ucap Saka mengiyakan sambil menyebutkan selera Keven.
“Manis? Kirain Mas Keven yang suka marah doyan yang pahit-pahit.” Terkekeh Yuki yang rupanya selama ini salah menerka selera Keven. Tanpa ragu ia dengan lantang mencibir Keven, tepat di depan mata Keven. Benar-benar gila.
“Berisik!” Desis Keven kesal. Jarinya mengetik dengan brutal sembarangan. Menyalurkan emosi yang sesaat sudah membludak.
“Marah lagi itu?” Gumam Yuki pada Saka, telapak tangannya bergerak menghalau gerak bibirnya terlihat oleh Keven. Meski sebenarnya percuma, karena suara lirih Yuki juga masih bisa tertangkap pendengaran Keven.
“Ya udah ya Mas Saka, aku permisi. Mau lanjut melayani pelanggan aja. Hati-hati Mas sama yang lagi marah.” Ucap Yuki pada Saka dengan suara bergumam yang sengaja sedikit dikeraskan. Tentu agar Keven mendengarkannya.
“Iya, lanjut sana.” Ucap Saka sambil menatap pada Keven dengan tertawaan kecil.
Berjalan santai ke arah pintu keluar, Yuki membalikkan badan, menatap Keven yang sekilas meliriknya. Kesempatan itu tidak Yuki sia-siakan untuk mengerling genit pada Keven yang tampak bergidik ngeri.
“Keluar kamu!” Usir Keven galak pada Yuki yang sekali lagi mengerling manja diakhiri menjulurkan lidah. Tampaknya Yuki lupa bahwa dirinya baru saja bertindak terlalu jauh pada salah satu Bos tempatnya bekerja.
Jika saja Yuki merupakan orang yang benar-benar mencari uang dari pekerjaannya, bisa dipastikan dirinya tidak akan bertindak sejauh itu. Sayangnya tujuan Yuki bisa bekerja di restoran itu meski hanya sebagai pramusaji adalah untuk bisa menggapai hati sosok yang sudah membuatnya jatuh cinta.
Berlalu dengan langkah riang dan senyum merekah, Yuki memeluk erat jaket yang mungkin akan Yuki museum kan sejenak di dalam lemari gantungnya. Lumayan aroma parfum yang kuat bisa menyebar pada baju-bajunya yang lain.
Ralat. Bukan itu maksud asli hati Yuki. Tapi ia ingin sedikit mengenang jaket yang pernah Keven kenakan itu, meski hanya sebatas menutup dada dan sebagian bahunya saja.
...****************...
*
*
*
Masih abu-abu?