NovelToon NovelToon
Kawin Lari

Kawin Lari

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Duda / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 5
Nama Author: Chida

Ketika kenyataan tak seindah bayangan...

Mampukah Radit, sosok lelaki yang sudah berstatus duda dan Jenna, gadis yang selalu merasa dirinya terkekang dalam menentukan pilihan hidup mampu melawan restu yang bahkan enggan menghampiri.

Atau terus berjuang hingga titik darah penghabisan.

Atau berlari demi cinta mereka yang tak lagi mampu dipisahkan.


"Kenapa harus datang jika hanya memberi luka, kenapa hadir jika selalu memberi perih"
~Jenna~


"The girl who make my world like a rainbow"
~Radit~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan maaf

"Aku juga takut ...," ujar Radit. "Kalo aku jujur sama kamu, kamu bakal pergi dari aku."

Jenna menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, hatinya masih belum bisa menerima kebohongan yang Radit lakukan, apapun itu alasannya.

"Aku pinjem kamar mandinya, Mas." Jenna berdiri dari tempat duduknya, melewati Radit yang masih terduduk di sana.

Jenna menatap wajahnya, riasannya sudah mulai tak tertata. Kebaya ini harusnya membuat dia terlihat cantik, tapi mengapa malah terlihat kacau. Jenna membenarkan letak bross yang berada di dadanya, dia rapikan kembali rambutnya. Setelah di rasa cukup olehnya, Jenna keluar dari kamar mandi itu.

Radit masih duduk di sana, dengan kedua tangannya lelaki itu seakan sedang menjambaki rambutnya, terlihat frustasi. Namun, tak ada yang bisa Jenna lakukan, dia sudah terlanjur kecewa.

"Mas ... antar aku pulang," ujar Jenna.

"Pulang?" tanya Radit tak percaya.

Secepat itu Jenna memutuskan untuk pulang, sedangkan Radit belum mendengar satu kata pun dari Jenna untuk memaafkannya.

"Iya, pulang ... kalo gak bisa anter gak papa, aku pesan lewat aplikasi aja." Jenna meraih ponselnya di atas meja.

"Gak ... biar aku antar," jawab Radit cepat.

Radit tak bisa melakukan apa-apa, selain ini satu-satunya cara untuk meyakinkan Jenna.

"Kamu gak mau ngasih aku satu kesempatan lagi, Na?" tanyanya sebelum membuka pintu rumahnya.

Jenna hanya terdiam, berjalan melewati Radit dan membuka gagang pintu, keluar lebih dulu meninggalkan Radit tanpa jawaban.

"Makasih, Mas," ucap Jenna ketika mobil itu berhenti di depan rumahnya.

"Na ...."

"Sebaiknya cepat pergi, di rumah masih rame saudara-saudara ... gak enak di liat orang," ujar Jenna sebelum turun. Dengan berat hati Jenna mengatakan hal itu pada Radit.

Radit hanya mengangguk, lalu pergi meninggalkan Jenna dengan hati perih.

...----------------...

Siang itu, Jenna seperti biasa bekerja menghadapi beberapa komplain customer dan segala yang berhubungan dengan pekerjaannya. Customer terakhir baru saja selesai berbincang-bincang dengannya, mata Jenna tak sengaja menangkap sosok Radit duduk di kursi antrian. Radit tersenyum, namun Jenna tak menanggapi.

Nomor antrian kembali memanggil customer berikutnya, Jenna kira antrian customer nya sudah selesai namun Radit melangkah ke arahnya.

"Selama Siang, ada yang bisa saya bantu?" Jenna menangkup kedua tangannya, layaknya menyambut customer seperti biasa.

"Ada banget," jawab Radit. "Mbak bisa bantu saya menyampaikan maaf saya pada pacar saya? namanya Masayu Jenna Aulia ... tolong bilang ke dia, saya Radit minta maaf dengan sungguh-sungguh," ujar Radit menatap mata Jenna.

"Maaf, mungkin Bapak bisa sampaikan sendiri, tugas saya di sini membantu klien perihal perbankan bukan percintaan." Jenna tersenyum samar.

"Gak papa Mbak ... kalo gitu, tolong berikan ini aja buat pacar saya Mbak," ujar Radit memberikan secarik kertas pada Jenna.

Jenna menerima kertas yang di berikan Radit, menoleh ke kanan atau pun kiri, hanya Lala yang melihatnya dengan tersenyum.

Maafin aku ... please

I love you, Na

Hanya dua kalimat dan itu membuat Jenna kembali tersenyum.

Radit memberikan satu kertas lagi pada Jenna.

Bisa ijin gak? alasan sakit? please ... aku tunggu di luar ....

Mata Jenna terbelalak, dan dia menulis balasan.

Ide gile

Radit membalas.

Aku tunggu

Radit tersenyum dan beranjak dari duduknya lalu mengucapkan terimakasih pada Jenna layaknya customer yang sudah menyelesaikan urusan perbankannya.

Orang gila batin Jenna.

Satu jam berlalu, Jenna sudah membereskan semua file-file di komputer maupun berkas-berkas di mejanya. Satu pesan masuk di gawainya, membuatnya mengalihkan matanya ke gawai itu.

"Aku masih nunggu kamu di depan ... please Na, keluar sekarang ... aku sudah mengering karena panas di luar sini." Diakhiri emoticon berwajah sedih.

"Astaga," gerutu Jenna.

Pesan kembali masuk dari Radit.

"Na ... please."

"Ya ampun, Mas ... ada-ada aja sih," gumam Jenna melihat ke ruangan atasannya.

"Aku masuk jemput kamu."

Gila ... pikiran Jenna sudah terbang kemana-mana, bagaimana jika benar Radit yang datang menjemputnya. Dengan perasaan kesal, Jenna akhirnya memasukkan satu per satu perlengkapannya ke dalam tas. Dia melangkah menuju ruangan atasannya, meminta ijin untuk pulang lebih dulu dengan alasan kepentingan keluarga.

"Na ... mau kemana?" tanya Lala.

"La, bisa tolongin aku kan?" Lala mengangguk. "Nanti kamu balik sama Abang, bilang Abang aku ada masalah masukin data customer ya, jadi agak ribet ... bisa ya La."

"Kamu kenapa?"

"Pokoknya bilang gitu ya, ada orang stress di depan lagi nunggu aku ... La, makasih." Jenna memberikan kecupan tertiup angin pada Lala.

"Orang stress di temuin?" Lala terkekeh.

Jenna keluar dari kantornya, melangkah menuju mobil Radit. Lelaki itu menunggunya di dalam, wajah Jenna masih belum terlihat senyum.

"Hai ...." Radit tersenyum geli melihat kekasihnya yang akhirnya mengalah untuk bertemu dengannya.

Satu minggu dalam keadaan saling diam, tak saling menghubungi, saat bertemu membicarakannya masih di selimuti emosi. Tapi kali ini Radit bertekad meluluhkan hati gadis itu dengan usaha maksimal.

"Laper gak?" tanya Radit.

"Gak."

"Udah makan?" tanya Radit dan Jenna menjawab dengan anggukan.

"Mau ngomong apa?" tanya Jenna.

"Gak ada ... aku gak mau ngomong apa-apa, cuma pengen ketemu kamu."

Jenna terdiam, mobil berhenti di depan coffee shop Radit.

"Turun yuk ... aku laper."

Radit lebih dulu turun meninggalkan Jenna di dalam, Jenna menghentakkan kakinya, tahu begini seharusnya dia biarkan Radit mengering menunggunya tadi. Radit menunggunya di depan pintu masuk, Jenna belum juga turun.

Radit kembali melangkah ke mobil, membuka pintu mobil untuk Jenna. "Ayo, turun," ujarnya.

Jenna keluar dari mobil, "ternyata kalo ngambek lama," ujar Radit yang mendapatkan tatapan tajam dari gadis itu.

"Bud, pesenan yang gue chat ke lo bawa ke atas ya ...," titah Radit pada Budi.

"Ke atas kemana Bos? kan ada tiga tempat di situ," ujar Budi bertanya polos pada Radit.

"Tempat gue tidur," jawab Radit sedikit berbisik melirik kepada Jenna.

"Siap, Bos."

Radit masih menggenggam tangan gadis itu, Jenna mengikutinya dari belakang. Mereka menuju kamar tempat Radit beristirahat di lantai tiga.

"Kenapa gak di roof top?" tanya Jenna.

"Panas, Na ... satu jam aku panas-panasan nunggu, sampe sini mau panas-panasan lagi."

Ketukan di pintu, membuat Jenna menjauh dari pintu, mempersilahkan Budi meletakkan makanan mereka di atas meja.

"Kalo ada yang cari gue, bilang gak ada Bud," titah Radit.

"Siap, Bos."

Setelah Budi pergi dari ruangan itu, Radit dengan lahapnya menyantap makanannya. Lelaki itu benar-benar kelaparan, Jenna melihatnya ikut menelan salivanya karena seperti merasakan lapar yang sama.

"Mau?"

"Gak.

"Tapi kayaknya mau," ujar Radit menggoda.

"Gak ... Mas, buruan ini mo ngomong apa?" Jenna benar-benar kesal melihat Radit.

"Duduk dulu," ujar Radit lalu meneguk air putihnya hingga habis.

"Sini, duduk dulu." Radit menepuk sisi tempat tidur di sebelahnya.

"Gak ... aku berdiri aja."

"Jangan keras, Na ... duduk sini dulu." Radit meraih tangan gadis itu.

"Aku udah duduk, kamu mau ngomong apa?" Jenna menatap manik mata lelaki itu.

"Pertama, aku minta maaf atas kebohongan aku gak jujur sama kamu ... sungguh-sungguh aku minta maaf," ujarnya. "Tolong maafin aku ... aku melakukannya karena menunggu waktu yang tepat buat bicara sama kamu tentang status aku, tapi ternyata Chila datang dengan caranya agar aku bicara jujur ke kamu."

Radit membenarkan posisi duduk Jenna agar menghadap padanya.

"Kedua, aku mau kejelasan tentang hubungan kita," ujarnya yang membuat Jenna mengangkat wajahnya.

Radit harus melakukan ini, jika memang kemungkinan terburuk Jenna tidak bisa menerimanya karena status seorang duda dan memiliki seorang putri.

"Na, jawab ... apapun jawaban kamu aku terima ... aku ikhlas," ujar Radit menggenggam tangan gadis itu.

Jenna menghela napas, dua pertanyaan Radit yang harus Jenna jawab. Satu permintaan maaf dan satu lagi kejelasan hubungan mereka.

"Oke ... yang pertama, aku maafin kamu ... kebohongan yang kamu lakukan, aku bisa maklumi mungkin hanya masalah waktu untuk kamu jujur sama aku, kamu duda kamu punya anak, gak ada yang bisa menyalahkan itu ... sudah jalannya seperti itu, aku hanya butuh waktu kemarin untuk mencerna segalanya," ujar Jenna.

"Makasih, Na." Radit tersenyum, dia tahu Jenna pasti akan memaafkannya, hanya butuh waktu untuk gadis itu menerima keadaan. "Yang kedua?" tanya Radit.

Jenna terdiam, "kalo yang kedua ... aku—"

**enjoy reading 😘

bantu Chida dengan like dan komen kesayangan 😘

n.b : jika terdapat banyak typo di setiap part maapkeeuunn yes, typo kadang bikin gagal keren 😌**

1
Wiwik Roviyantini
kpn mulai up cerita terbaru kk
Maryati Subur92
AQ ikut deg deg kan
Aisya
part ini ak nangis malem malem 😭😭
Agus Tina
Baca ini sudah ketiga kalinya ... nggak bosen. Suka ceritanya .... Pak Sofyan sosok ayah yg baik dan bijaksana banget ...
Dewa Nara
gak ada kota bangka Thor, karena bangka itu nama pulau. adanya kota Pangkal Pinang, Mentok, dsb.
Chida: oh iya kota Pangkal Pinang .. makasih ya
total 1 replies
Ulil Baba
jangan pernah berhenti untuk mencintai KU
dalem banget artinya
Ulil Baba
wong gendeng 😤😤 semremet Karo mbok e
Ulil Baba
yaa Allah serius kak nangis nyesek banget,, konyol ku lagi mata masih merah habis nangis ada kurir paket datang,,,ambyar deeehh
T.N
Luar biasa
Ulil Baba
bacanya ikut senyum senyum
Vivo Smart
Budi emang anak baik kek dibuku buku pelajaran
Vivo Smart
duda emang udah lebih berani ya
Vivo Smart
kok diajarin boong Jenna nya Dit
Vivo Smart
aku sudah punya anak dua, tapi masih suka banget kalau dicium
Vivo Smart
waaahhh... kasih pak Manto tips Na. oke banget dia padahal belum dibriefing
Vivo Smart
Radit duda kan
Vivo Smart
kadang cinta datang tanpa menunggu kesiapan Mas.
Pun patah hati, sering datang tanpa aba aba
Vivo Smart
akbar nggak tegas jadi laki
Vivo Smart
Emang Abang nggak kemana-mana Bang?
May Keisya
diajarin ya mas😂..itu senjata dia wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!