Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia apa yang di sembunyikan?
Resepsionis itu mendengarkan nada sambung intercom selama beberapa detik. Rindu mengepalkan tangannya di balik tas, menahan gemuruh di dadanya yang makin menjadi-jadi. Setiap detik terasa bagai perhitungan menuju eksekusi.
"Halo, selamat malam, Pak Arsen," suara resepsionis terdengar memecah kesunyian di meja lobi.
"Mohon maaf mengganggu waktunya. Di lobi ada seorang tamu wanita yang ingin bertemu dengan Bapak. Beliau menyampaikan sudah ada janji dengan Bapak."
Petugas itu mendengarkan jawaban dari seberang telepon. Matanya sempat melirik Rindu sekilas, membuat buku-buku jari Rindu makin dingin dan memucat.
"Baik, Pak. Terima kasih. Selamat malam."
Resepsionis itu meletakkan kembali gagang telepon, lalu menatap Rindu dengan raut wajah serba salah.
"Mohon maaf sekali, Bu. Pak Arsen menyampaikan bahwa beliau tidak memiliki janji bertemu dengan siapa pun malam ini. Beliau juga berpesan agar tidak ada tamu yang diizinkan naik ke unitnya."
Brak.
Kata-kata itu menghantam ulu hati Rindu bagai pukulan keras. Harapan kecil bahwa semua ini hanya kesalahpahaman seketika musnah tak berbekas.
"Bu? Ibu tidak apa-apa?" tanya resepsionis itu, menyadari perubahan drastis pada wajah Rindu yang mendadak pucat pasi.
Rindu memaksakan sebuah senyuman tipis yang terasa begitu getir. Ia mengangguk pelan.
"Ah... begitu ya. Mungkin saya salah jadwal atau salah gedung. Terima kasih banyak, Mbak."
Tanpa menunggu balasan resepsionis, Rindu membalikkan badan dan melangkah pergi. Kakinya terasa begitu berat dan lemas, seolah-olah lantai marmer yang mengilap di bawahnya dapat runtuh kapan saja.
Ia berjalan menembus pintu kaca otomatis, kembali ke remangnya area parkir basement. Di sana, di dekat pilar beton tempatnya bersembunyi tadi, Rindu menyandarkan tubuhnya yang gemetar.
Di atas sana, di salah satu unit apartemen mewah itu, suaminya sedang menikmati kebohongan yang dirancangnya dengan rapi.
Logika pemikiran Rindu bergerak cepat, merangkai setiap detail kecil menjadi sebuah kesimpulan yang masuk akal.
Di apartemen semewah ini, dengan sistem keamanan berlapis dan standar privasi yang teramat ketat, seorang tamu biasa tidak akan pernah mendapatkan perlakuan semudah itu.
Seorang tamu harus melewati prosedur yang berbelit-belit, melapor ke meja depan, menunjukkan kartu identitas, dan menunggu konfirmasi dari penghuni unit sebelum diizinkan melangkah lebih jauh.
Resepsionis tidak akan begitu saja menyapa seseorang secara langsung, menyebut namanya dengan santun, apalagi menyerahkan sesuatu tanpa banyak tanya, kecuali jika orang itu memiliki otoritas penuh di tempat tersebut.
Fakta bahwa sang resepsionis berbicara langsung pada Arsen tanpa sedikit pun keraguan adalah sebuah petunjuk besar.
Tatapan akrab dan gestur hormat dari staf itu menegaskan satu hal, Arsen bukan sekadar pengunjung yang sesekali lewat. Pria itu sudah sangat familier di mata mereka.
Artinya, hanya ada dua kemungkinan yang paling masuk akal dalam kepala Rindu. Pertama, unit apartemen itu memang terdaftar resmi atas nama Arsen.
Kedua, meskipun menggunakan nama lain, Arsen adalah penghuni tetap yang saban hari keluar-masuk melewati lobi tersebut. Tidak mungkin seorang tamu biasa menikmati kebebasan dan pengakuan sekelas itu.
Dada Rindu berdesir hangat sekaligus waswas. Setiap potongan puzzle kini mulai menyatu, membentuk gambaran yang makin jelas.
Arsen tidak bisa lagi mengelak atau menyembunyikan rahasianya. Langkah pria itu, gesturnya, dan cara staf apartemen memperlakukannya telah membocorkan kebenaran yang selama ini tersimpan rapat. Rindu tersenyum tipis dalam hati, menyadari bahwa dugaannya tak lagi sekadar spekulasi kosong.
Apartemen itu bahkan tidak pernah sekali pun tersebut di bibir Arsen, tetapi tempat ini sama sekali luput dari narasi yang biasa ia bagikan.
Jika Arsen memang pemilik resmi atau penghuni tetap di sana, mengapa ia harus merahasiakannya begitu rapat dari Rindu?
Kejanggalan itu mulai membelit pikiran Rindu, menumbuhkan rasa curiga yang makin sulit diredam. Sebuah tempat yang disembunyikan dengan teramat rapi biasanya tidak hanya menyimpan perabotan mewah, melainkan rahasia besar yang sengaja dikunci rapat.
Apa sebenarnya yang sedang Arsen tutupi? Kehidupan seperti apa yang ia jalani ketika pintu apartemen itu tertutup rapat dari dunia luar?
Apakah ada sisi lain dari Arsen yang selama ini sama sekali tak tersentuh olehnya?
Namun, hal yang paling menusuk dada Rindu adalah misteri tentang sosok di dalam unit tersebut.
Siapa yang sedang ditemui Arsen di sana? Apakah ada seseorang yang begitu penting hingga harus disembunyikan dari semua orang, termasuk Rindu?
Rangkaian spekulasi itu terus berputar, menciptakan ketegangan yang membuat napas Rindu terasa berat.
Setiap kemungkinan membayangkan skenario yang kian berisiko. Namun, Rindu sadar ia telah melangkah terlalu jauh untuk berbalik arah.
Rindu tahu, melangkah pergi saat ini hanya akan menyisakan teka-teki yang terus menggerogoti pikirannya.
Mundur bukan lagi pilihan. Pada akhirnya, ia cuma punya satu keputusan yang realistis, menunggu sampai Arsen keluar dari tempat itu.
Ya, hanya itu satu-satunya cara untuk mendapatkan jawaban langsung tanpa perlu menerka-nerka dalam ketidakpastian.
Dengan langkah mantap namun hati-hati, Rindu memutuskan untuk bertahan. Ia memilih sudut yang paling aman, sebuah area yang tidak terlalu mencolok, namun memberikan sudut pandang yang cukup jelas ke arah akses keluar.
Di sana, Rindu menyandarkan tubuhnya yang mulai terasa letih, meski pikirannya tetap bekerja ekstra keras. Setiap detik yang berlalu terasa jauh lebih lambat dari biasanya.
Ketegangan yang membungkus dadanya membuat ritme napasnya tak beraturan.
Matanya terus tertuju pada pintu elevator dan lorong utama. Setiap kali terdengar langkah kaki atau gemerincing kunci dari kejauhan, jantungnya berdegup kencang, memompa ketakutan sekaligus keberanian yang campur aduk.
Bagaimana jika Arsen tak kunjung keluar hingga larut malam? Bagaimana jika Arsen keluar bersama seseorang?
Rangkaian kemungkinan buruk terus bermunculan, menguji daya tahan mentalnya di tengah kesunyian yang menekan.
Namun, Rindu menolak untuk goyah. Rasa ingin tahu yang teramat besar mengalahkan seluruh rasa lelah dan cemas yang menyerangnya.
Ia sudah bertaruh sejauh ini, mengumpulkan potongan demi potongan kecurigaan yang makin nyata. Kini, ia hanya perlu sedikit lagi kesabaran.
Rindu menghela napas panjang, mengepalkan kedua tangannya erat-erat, dan menetapkan hatinya untuk terus menunggu di sana, sampai Arsen benar-benar menampakkan diri.
Dua jam, tiga jam berlalu dalam kesunyian yang menyiksa, hingga getaran nyaring dari ponsel di genggamannya membuat Rindu tersentak kaget. Layar ponsel yang menyala terang menampilkan satu nama, Mama Ratna.
Seketika, ingatan Rindu terlempar kembali pada tujuan utamanya sore ini. Ah, dia benar-benar lupa! Bukankah alasan awalnya keluar rumah adalah pergi ke supermarket karena ibu mertuanya itu secara khusus meminta dibuatkan sop iga untuk makan malam?
Keinginan Ratna yang biasanya harus segera dituruti itu mendadak menguap begitu saja dari kepalanya, tergeser oleh rahasia Arsen yang jauh lebih mendesak.
Namun, situasi di depan matanya saat ini tidak memungkinkan untuk goyah. Jika ia mengangkat telepon itu, fokusnya akan terpecah. Arsen bisa keluar kapan saja, dan Rindu tidak boleh melewatkan detik paling krusial ini.
Tanpa ragu, Rindu mengabaikan panggilan tersebut. Jarinya dengan cepat menekan tombol daya, mematikan ponselnya sepenuhnya hingga layar berubah menjadi gelap gulita.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰